7x Ceramide Formulated in Germany • Gentle care for sensitive skin, all ages

Tips7 menit2026-07-16

Kebiasaan Menggigit Kuku pada Anak (Onikofagia): Dampak ke Kulit dan Cara Menghentikannya

Onikofagia atau kebiasaan menggigit kuku pada anak bisa memicu paronikia, kutil, dan kuku rusak. Kenali pemicunya dan cara menghentikan yang terbukti.

Kebiasaan Menggigit Kuku pada Anak (Onikofagia): Dampak ke Kulit dan Cara Menghentikannya

Seorang ibu di Bandung membawa anaknya yang berusia 8 tahun ke dokter bukan karena kukunya yang habis digigit, melainkan karena jari telunjuk anak itu bengkak dan nyeri sampai susah menulis. Kukunya sendiri sudah lama pendek sekali, hampir tidak menyisakan tepi putih. Kulit di sekeliling kuku memerah, dan di beberapa jari kulit tipis di pangkal kuku sudah hilang sama sekali.

Kebiasaan itu sudah berjalan sejak anaknya TK, dan selama bertahun-tahun keluarga menganggapnya kebiasaan buruk yang nanti hilang sendiri. Nama medisnya onikofagia. Yang sering luput dari perhatian, kebiasaan ini punya jejak nyata di kulit, bukan cuma di penampilan kuku.

Onikofagia Termasuk Kelompok Apa

Onikofagia masuk dalam kelompok yang disebut body-focused repetitive behavior atau BFRB, yaitu perilaku berulang yang diarahkan ke tubuh sendiri. Saudara terdekatnya adalah trichotillomania, kebiasaan mencabut rambut sendiri, serta kebiasaan mengelupas kulit. Mekanisme dasarnya mirip: tangan bergerak sendiri saat anak tegang, bosan, atau justru sedang konsentrasi penuh.

Angkanya jauh lebih besar dari dugaan kebanyakan orang tua. Berbagai survei menempatkan sekitar 28 sampai 33 persen anak usia 7 sampai 10 tahun sebagai penggigit kuku, dan naik lagi di masa remaja hingga sekitar 45 persen. Usia mulainya cukup dini, dengan median sekitar 5 tahun. Artinya, di satu kelas SD berisi 30 anak, kemungkinan besar ada delapan sampai sepuluh anak yang melakukannya.

Menurut dr. Anastasia Wirawan, SpKK, dokter spesialis kulit dengan minat dermatologi anak, yang membuat kondisi ini sering terlambat ditangani adalah cara orang tua memaknainya:

"Orang tua datang biasanya sudah dalam kondisi jarinya infeksi atau kukunya rusak. Padahal sebelum sampai situ, kebiasaannya sudah bertahun-tahun dianggap kenakalan saja," ujar dr. Anastasia.

Jejaknya di Kulit dan Kuku

Gigi anak adalah alat yang kasar untuk kuku. Yang rusak duluan justru bukan kukunya, melainkan kutikula, lapisan kulit tipis di pangkal kuku yang berfungsi menyegel celah antara kulit dan lempeng kuku. Begitu segel itu hilang, kuman punya pintu masuk.

Beberapa dampak yang paling sering muncul:

  • Paronikia kronis, yaitu radang pada lipatan kulit di sekitar kuku. Tandanya kemerahan, bengkak, dan nyeri di tepi kuku, kadang disertai nanah bila sudah ada infeksi bakteri. Ulasan lengkapnya ada di artikel cantengan pada kuku bayi.
  • Kutil yang berpindah-pindah. Kutil disebabkan virus HPV, dan menggigit kuku memindahkannya bolak-balik antara jari dan mulut. Bisa muncul kutil baru di jari lain, bahkan di sekitar bibir. Cara aman menanganinya dibahas di artikel kutil atau veruka pada anak.
  • Kuku yang berubah bentuk. Gigitan berulang mengganggu matriks kuku, bagian tempat kuku diproduksi. Hasilnya kuku bergelombang, bergaris, atau tumbuh tidak rata. Bila kerusakannya berlangsung lama, bentuknya bisa menetap.
  • Dasar kuku yang memendek. Kuku yang terus digigit sampai batas kulit membuat bantalannya ikut menyusut, sehingga ujung jari jadi lebih sensitif saat menyentuh benda.
  • Masalah di mulut dan gigi. Tekanan berulang bisa membuat gigi depan aus, sedikit bergeser, atau menimbulkan keluhan pada sendi rahang.

Sisi Kebersihan yang Sering Terlupakan

Bagian bawah kuku adalah salah satu tempat paling kotor di tangan. Penelitian pada anak sekolah menemukan penggigit kuku kronis lebih sering membawa Enterobacteriaceae, kelompok kuman yang asalnya dari saluran cerna, di rongga mulut mereka.

Yang relevan di Indonesia adalah cacing kremi. Telurnya menyelip di bawah kuku saat anak menggaruk, lalu ikut tertelan lewat kebiasaan menggigit kuku. Kelompok usia 5 sampai 14 tahun yang paling sering kena, dan kuku pendek serta cuci tangan yang benar termasuk langkah pencegahan yang paling sering ditekankan.

Rute jari ke mulut ini jalan dua arah. Kuman naik ke mulut, dan air liur beserta kumannya turun ke luka kecil di sekitar kuku.

Kenapa Memarahi Justru Kontraproduktif

Sulit menahan diri untuk tidak menegur, apalagi kalau sudah dilihat puluhan kali sehari. Tapi ada alasan kenapa cara itu jarang berhasil.

Anak sering tidak sadar sedang melakukannya. Tangan bergerak saat ia menonton, mengerjakan PR, atau menunggu giliran di sekolah. Menghukum perilaku yang tidak disadari hanya menciptakan rasa bersalah, tanpa memberi anak cara untuk berhenti.

Pemicunya pun kerap berupa ketegangan. Saat anak merasa diawasi dan dipermalukan, tingkat tegangnya naik, dan dorongan menggigit ikut menguat. Beberapa laporan mencatat bahwa menyorot perilaku ini secara berlebihan pada anak kecil justru memancing perlawanan. Menggigit kuku bukan tanda anak membangkang.

Yang Menurut Bukti Lebih Membantu

Pendekatan yang paling banyak dukungan penelitiannya adalah habit reversal training, sebuah terapi perilaku yang juga dipakai untuk trichotillomania. Uji klinis acak yang membandingkannya dengan latihan memanipulasi benda menunjukkan habit reversal training memberi hasil lebih baik dalam menambah panjang kuku jangka panjang.

Intinya dua langkah. Pertama, membantu anak menyadari kapan dorongan itu datang. Kedua, menyiapkan gerakan pengganti yang aman untuk dilakukan pada momen yang sama, misalnya mengepalkan tangan selama satu menit, meremas bola kecil, atau memegang benda bertekstur.

Beberapa hal lain yang bisa dikerjakan di rumah:

  • Kenali pemicunya. Catat kapan anak paling sering menggigit. Kalau ternyata selalu saat mengerjakan PR atau menonton, situasi itu yang perlu dibantu, bukan kukunya.
  • Potong kuku pendek dan haluskan tepinya. Kuku yang rata dan mulus tidak memberi "kaitan" untuk digigit. Tepi yang menyangkut justru mengundang tangan.
  • Jaga kutikula tetap lembap. Kulit kering di sekitar kuku gampang terkelupas, dan serpihan kulit itu sering jadi awal gigitan. Kutikula yang lentur mengurangi bahan yang bisa dicabuti.
  • Pakai isyarat lembut yang disepakati bersama. Sentuhan di bahu atau kode tangan yang hanya dimengerti berdua, tanpa kata-kata di depan orang lain.
  • Beri anak alternatif saat tangannya menganggur, terutama di momen yang sudah teridentifikasi sebagai pemicu.

Soal cat kuku pahit, bukti pendukungnya campuran dan perlu dibicarakan jujur. Pada anak kecil hasilnya cenderung mengecewakan, bahkan bisa menarik perhatian anak ke perilakunya dan memicu perlawanan. Pada anak yang lebih besar dan sudah punya keinginan sendiri untuk berhenti, ada laporan bahwa cara ini membantu bila dipakai rutin dan disertai dukungan. Posisinya lebih tepat sebagai pengingat kesadaran, bukan pemutus kebiasaan, dan sebaiknya dikonsultasikan dulu untuk anak usia balita.

Perubahan perilaku juga butuh waktu. Kebiasaan sempat kembali saat anak menghadapi tekanan baru, dan itu bagian normal dari prosesnya.

Merawat Kulit di Sekitar Kuku

Karena kutikula yang rusak adalah pintu masuk kuman, menjaga kulit di area itu tetap utuh punya nilai praktis.

Oleskan pelembap ke ujung jari dan pangkal kuku setelah anak cuci tangan atau mandi, saat kulit masih sedikit lembap. Pilih produk yang lembut dan tanpa pewangi kuat, karena kulit di sekitar kuku yang sudah lecet mudah perih. Soal kenapa lapisan pelindung kulit ini penting, penjelasannya ada di artikel apa itu skin barrier.

Kalau ada kulit yang mengelupas di tepi kuku, gunting rapi dengan gunting kuku bersih. Menariknya dengan tangan atau gigi hampir selalu membawa robekan yang lebih dalam dari perkiraan.

Kapan Harus ke Dokter

Bawa anak ke dokter anak atau dokter kulit anak bila muncul salah satu tanda berikut:

  • Jari bengkak, memerah, terasa nyeri, atau keluar nanah di sekitar kuku.
  • Kuku sering berdarah, atau anak menggigit sampai luka terbuka.
  • Bentuk kuku berubah, bergelombang, atau ada bagian kuku yang lepas.
  • Muncul kutil di jari, sekitar kuku, atau di sekitar bibir.
  • Anak terlihat cemas, sulit tidur, atau menarik diri dari teman-temannya.
  • Kebiasaan ini muncul bersamaan dengan mencabut rambut atau mengelupas kulit.
  • Rasa malu sudah mulai mengganggu pergaulan atau kegiatan anak di sekolah.

Dokter perlu memastikan dulu bahwa perubahan pada kuku memang akibat gigitan, bukan kondisi kulit lain seperti infeksi jamur atau psoriasis kuku yang penanganannya berbeda. Bila diperlukan, rujukan ke psikolog anak bisa membantu, terutama saat kecemasan terlihat jelas sebagai pemicu.

Yang Perlu Diingat

Onikofagia berakar pada ketegangan, kebosanan, atau konsentrasi, dan angkanya tinggi pada anak usia sekolah. Dampaknya bukan cuma soal kuku pendek. Kutikula yang rusak membuka jalan bagi paronikia dan infeksi bakteri, kutil bisa berpindah dari jari ke mulut dan sebaliknya, dan bentuk kuku dapat berubah bila berlangsung lama.

Yang membantu adalah menyadari pemicunya, menyediakan gerakan pengganti, memotong kuku pendek dan halus, serta menjaga kulit di sekitar kuku tetap lembap dan utuh. Yang tidak membantu adalah hukuman dan rasa malu.

Butuh Rekomendasi Produk?

Tim kami bisa bantu cari produk NeoCare yang paling cocok untuk kulit keluarga Anda.

Konsultasi via WhatsApp

Produk Terkait

Artikel Terkait