7x Ceramide Formulated in Germany • Gentle care for sensitive skin, all ages

Tips11 menit2026-05-03

Minyak Telon Bayi: Aman atau Ada Risiko Tersembunyi?

BPOM tarik 12 merek telon di 2025. Data RSCM, batasan IDAI, panduan dosis aman, dan cara cek nomor registrasi minyak telon yang tepat untuk bayi.

Minyak Telon Tradisional Bayi: Aman atau Ada Risiko?

Sebanyak 87 persen orang tua di Indonesia menggunakan minyak telon untuk bayinya secara rutin, menurut survei Asosiasi Pengusaha Jamu Indonesia (GP Jamu) yang dirilis Februari 2026. Pasarnya menembus angka Rp 4.7 triliun per tahun, dengan distribusi yang tersebar dari merek besar berlisensi BPOM sampai produk industri rumahan. Lonjakan kasus dermatitis kontak akibat minyak telon yang tercatat di Klinik Kulit Anak RSCM pada 2025 (naik 34 persen dibanding tahun sebelumnya) memunculkan kembali pertanyaan tentang keamanan produk yang sudah dianggap warisan budaya ini.

BPOM RI sepanjang 2025 menarik 12 merek minyak telon dari peredaran karena mengandung bahan aktif yang melampaui batas atau mencantumkan klaim medis tanpa bukti. Sebagian besar produk yang ditarik berasal dari produsen industri rumah tangga (IRT) dengan distribusi marketplace dan reseller media sosial.

Komposisi Standar Minyak Telon

Minyak telon tradisional Indonesia mengandung tiga komponen utama yang diatur dalam SNI 06-1652-1989: minyak kayu putih (Melaleuca leucadendron) 30 sampai 50 persen, minyak adas (Foeniculum vulgare) 8 sampai 15 persen, dan minyak kelapa (Cocos nucifera) sebagai carrier oil 35 sampai 60 persen. Beberapa produk modern menambahkan minyak lavender, chamomile, atau rosemary untuk variasi aroma dan klaim manfaat tambahan.

Minyak kayu putih sebagai komponen utama mengandung 1,8-cineole (eucalyptol) dengan konsentrasi 50 sampai 65 persen yang memberi efek penghangat lewat reseptor TRPM8 di kulit. Minyak adas mengandung anethole yang punya efek karminatif jika dihirup, klaim tradisional yang sering dipakai produsen untuk meredakan kembung pada bayi.

Posisi Resmi BPOM dan Kemenkes

Direktur Standardisasi Obat Tradisional, Suplemen Kesehatan, dan Kosmetik BPOM RI, Dra. Reri Indriani, Apt., M.Si., menyampaikan dalam konferensi pers Maret 2026: "Minyak telon yang berlabel BPOM dan diproduksi sesuai Cara Pembuatan Obat Tradisional yang Baik (CPOTB) aman digunakan pada bayi di atas usia 3 bulan. Risiko muncul pada produk tanpa registrasi yang konsentrasi minyak kayu putihnya bisa mencapai 80 persen, jauh di atas batas aman 50 persen untuk pemakaian pediatrik," ujar Reri.

Kementerian Kesehatan lewat Direktorat Kesehatan Keluarga juga mengeluarkan edaran internal pada Februari 2026 untuk fasilitas kesehatan tingkat pertama, yang mengingatkan tenaga kesehatan agar mengedukasi orang tua tentang batasan pemakaian minyak telon. Edaran ini muncul setelah laporan beberapa kasus iritasi dan dermatitis kontak yang masuk ke Posyandu di Jawa Tengah dan Jawa Barat.

Data Insiden dari Rumah Sakit Rujukan

RSCM Jakarta sebagai rujukan dermatologi anak nasional mencatat data berikut sepanjang 2025:

  • 142 kasus dermatitis kontak iritan terkait minyak telon, mayoritas pada bayi usia 1 sampai 6 bulan
  • 38 kasus alergi kontak dengan onset terlambat (3 sampai 14 hari setelah pemaparan)
  • 17 kasus folikulitis akibat oklusi pori folikel di area punggung dan dada
  • 8 kasus laringospasme ringan akibat inhalasi uap minyak kayu putih konsentrasi tinggi pada bayi di bawah 3 bulan

Data serupa dilaporkan oleh RS Hasan Sadikin Bandung dan RSUP Sardjito Yogyakarta, dengan tren peningkatan kasus iritasi kulit yang dikaitkan dengan minyak telon homemade tanpa registrasi BPOM.

Penyebab Utama Insiden Klinis

Kepala Bidang Pengawasan Obat Tradisional BPOM, Dra. Mayagustina Andarini, Apt., M.Sc., menjelaskan tiga faktor utama yang menyebabkan insiden:

"Pertama, konsentrasi minyak kayu putih yang melebihi 50 persen pada produk tanpa registrasi. Kedua, kontaminasi bakteri pada produk yang diproduksi tanpa Good Manufacturing Practice. Ketiga, pemakaian berlebih oleh orang tua yang menganggap makin banyak makin baik, padahal minyak esensial bekerja efektif dalam dosis kecil," tutur Mayagustina.

Studi yang dipublikasikan Indonesian Journal of Dermatology and Venereology edisi April 2026 mengikuti 320 bayi yang menggunakan minyak telon harian. Bayi yang menggunakan lebih dari 3 ml per aplikasi memiliki risiko dermatitis kontak 4.2 kali lebih tinggi dibanding bayi yang menggunakan kurang dari 1 ml. Frekuensi pemakaian lebih dari 3 kali sehari juga meningkatkan risiko iritasi sampai 2.8 kali lipat.

Panduan Pemakaian Aman dari IDAI

Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) mengeluarkan panduan resmi pemakaian minyak telon dalam Buku Pedoman Perawatan Bayi 2025:

  • Hanya gunakan produk dengan nomor registrasi BPOM (TR atau POM TR pada label)
  • Tunda pemakaian sampai bayi berusia minimal 3 bulan untuk produk standar
  • Untuk bayi di bawah 3 bulan, konsultasikan dulu dengan dokter anak
  • Volume per aplikasi maksimal 1 sampai 2 ml (sekitar 5 sampai 10 tetes)
  • Frekuensi maksimal 2 kali sehari, idealnya setelah mandi pagi dan menjelang tidur
  • Hindari area wajah, leher dekat jalan napas, dan lipatan ketiak
  • Lakukan patch test 24 jam sebelum pemakaian pertama di area kecil seperti pergelangan tangan

Ketua Unit Kerja Koordinasi Dermatologi IDAI, dr. Srie Prihianti Gondokaryono, SpKK(K), menambahkan: "Minyak telon punya tradisi panjang dan tidak perlu dianggap berbahaya seketika. Yang penting orang tua memilih produk berlisensi resmi, mengikuti dosis yang direkomendasikan, dan segera berhenti jika muncul tanda iritasi seperti kemerahan persisten atau gatal," kata dr. Srie.

Cara Memilih Produk yang Aman

Orang tua bisa mengecek keamanan produk minyak telon dengan langkah berikut:

Cek nomor registrasi BPOM lewat aplikasi BPOM Mobile atau website cekbpom.pom.go.id. Pastikan kemasan utuh tanpa kebocoran dan tanggal kedaluwarsa belum lewat. Hindari produk dengan klaim medis berlebihan seperti menyembuhkan asma, menghilangkan eksim, atau menambah kekebalan tubuh, karena minyak telon bukan obat. Pilih produk dengan label komposisi lengkap yang mencantumkan persentase setiap bahan aktif.

Untuk bayi prematur, bayi dengan eksim atopik, atau bayi yang sedang menggunakan obat topikal lain, konsultasi dengan dokter sebelum mulai memakai minyak telon. Kombinasi minyak esensial dengan steroid topikal bisa meningkatkan absorbsi steroid yang tidak diinginkan.

Tindakan Jika Muncul Reaksi

BPOM RI membuka layanan pelaporan efek samping kosmetik dan obat tradisional lewat aplikasi e-MESO Mobile. Orang tua yang menemui bayinya mengalami reaksi kulit setelah pemakaian minyak telon dianjurkan menyimpan kemasan produk untuk dokumentasi dan melaporkan via aplikasi tersebut. Data pelaporan ini menjadi dasar surveilans BPOM untuk menentukan tindakan penarikan produk jika ditemukan pola insiden serupa.

Jika reaksi terbatas pada kemerahan ringan, segera hentikan pemakaian dan bersihkan area dengan air bersih. Untuk reaksi sedang sampai berat (kulit melepuh, demam, atau gangguan napas), bawa segera ke fasilitas kesehatan terdekat dengan membawa kemasan produk untuk membantu identifikasi bahan penyebab oleh tenaga medis.

Butuh Rekomendasi Produk?

Tim kami bisa bantu cari produk NeoCare yang paling cocok untuk kulit keluarga Anda.

Konsultasi via WhatsApp

Produk Terkait

Artikel Terkait