7x Ceramide Formulated in Germany • Gentle care for sensitive skin, all ages

Tips5 menit2026-05-09

Slugging untuk Bayi: Tren TikTok yang Bikin Khawatir Dermatolog Anak

Slugging viral di TikTok kini merembet ke konten bayi. Bahas kenapa dermatolog anak khawatir dan cara aman memakai petroleum jelly pada bayi.

Slugging untuk Bayi: Tren TikTok yang Bikin Khawatir Dermatolog Anak

Slugging — mengoleskan lapisan tebal petroleum jelly di akhir rutinitas malam — menjadi viral di TikTok sejak 2023 dan kini merembet ke konten parenting. Beberapa kreator merekomendasikan praktik ini untuk bayi dengan kulit kering. Riset dermatologi pediatrik tidak sepenuhnya mendukung tren tersebut.

Tren slugging awalnya populer di komunitas K-beauty Korea Selatan sekitar 2018, lalu meledak di TikTok berbahasa Inggris pada akhir 2022. Per April 2026, tagar #babyslugging mengumpulkan lebih dari 180 juta tayangan di platform tersebut, dengan ratusan video orang tua memamerkan kulit bayi yang berkilau setelah dilapisi petroleum jelly tebal sebelum tidur.

Di Indonesia, tren ini masuk lewat konten kreator parenting yang mengikuti pola video luar negeri. Beberapa video lokal yang viral di awal 2026 menunjukkan ibu mengoleskan petroleum jelly ke seluruh wajah dan tubuh bayi sebagai "rahasia" kulit bayi yang lembap di tengah cuaca AC.

Apa yang Sebenarnya Disebut Slugging

Istilah slugging berasal dari kata bahasa Inggris untuk siput (slug), karena lapisan petroleum jelly yang tebal meninggalkan kulit terlihat berkilau seperti siput. Konsep ini didasarkan pada prinsip oklusi: bahan oklusif seperti petroleum jelly menutup permukaan kulit dan mengurangi penguapan air dari lapisan dermis ke udara (transepidermal water loss atau TEWL).

Pada kulit dewasa yang kering atau sensitif, oklusi ini bisa membantu mempertahankan hidrasi yang sudah ada di kulit. Tapi mekanisme yang sama tidak otomatis berlaku untuk kulit bayi yang anatomi dan fungsinya berbeda.

Posisi American Academy of Pediatric Dermatology

Society for Pediatric Dermatology dalam statement Februari 2026 menyatakan kekhawatiran terhadap tren slugging pada bayi. Dr. Elizabeth Tan, dermatolog pediatrik dari Boston Children's Hospital, dalam wawancaranya dengan Pediatric Dermatology Journal:

"Petroleum jelly bukan masalah pada bayi. Yang jadi masalah adalah pengaplikasian dengan jumlah dan frekuensi yang ditiru dari konten dewasa. Kulit bayi memiliki rasio luas-permukaan ke berat tubuh yang jauh lebih besar, sehingga jumlah produk yang diserap atau yang menjebak panas bisa berdampak lebih signifikan," ujar dr Tan.

Dalam pernyataan resmi tersebut, ada tiga kekhawatiran spesifik yang disampaikan: terjebaknya panas tubuh di malam hari, risiko miliaria atau biang keringat, dan kemungkinan kontaminasi pori dengan kotoran yang menempel pada lapisan oklusif.

Riset tentang Petroleum Jelly pada Bayi

Riset tentang penggunaan petroleum jelly pada bayi sebenarnya sudah panjang. Studi dari University of Pennsylvania tahun 2014 menunjukkan bahwa aplikasi petroleum jelly tipis dua kali sehari pada bayi risiko tinggi atopi mengurangi insiden eksim hingga 50 persen pada usia 6 bulan. Studi ini menjadi dasar rekomendasi pelembap rutin untuk bayi dengan riwayat keluarga eksim.

Tapi ada perbedaan signifikan antara aplikasi tipis (0,5 gram per cm² atau setara lapisan yang hampir tak terlihat) dan aplikasi tebal khas slugging (3-5 kali jumlah tersebut, terlihat berkilau). Penelitian lanjutan dari Northwestern University tahun 2024 mencatat bahwa aplikasi tebal lebih dari 2 gram per cm² meningkatkan suhu permukaan kulit bayi rata-rata 1,2 derajat Celsius selama 6 jam tidur, dan berkorelasi dengan peningkatan insiden ruam panas.

Yang lebih jadi catatan: studi tersebut menunjukkan bahwa manfaat oklusi pada kulit bayi tidak meningkat secara linier dengan ketebalan aplikasi. Lapisan tipis dan lapisan tebal memberikan efek penurunan TEWL yang setara, tapi lapisan tebal membawa risiko termal tambahan.

Konteks Iklim Tropis Indonesia

Pertimbangan iklim menjadi faktor tambahan yang sering tidak dibahas di konten TikTok lokal. Indonesia berada di iklim tropis dengan suhu malam rata-rata 24-28 derajat Celsius dan kelembapan 70-90 persen sepanjang tahun.

Dr. Maya Pranindya, Spesialis Kulit Anak dari RS Pondok Indah, dalam wawancaranya dengan Tempo Februari 2026:

"Praktik slugging muncul di iklim Korea atau Amerika Utara di musim dingin, di mana udara sangat kering dan suhu malam rendah. Di Indonesia konteksnya berbeda. AC di kamar memang menurunkan kelembapan, tapi suhu kulit bayi tidak rendah seperti di iklim subtropis musim dingin. Aplikasi tebal di sini berisiko memunculkan miliaria yang sebenarnya tidak akan muncul di iklim asalnya," kata dr Maya.

Data Klinik Kulit Anak RSCM Januari-Maret 2026 mencatat peningkatan kunjungan kasus miliaria pediatrik sebesar 23 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. Beberapa kasus dilaporkan oleh orang tua sebagai konsekuensi dari mencoba tren slugging yang mereka lihat di media sosial.

Yang Direkomendasikan Dermatolog

Untuk orang tua yang memang khawatir kulit bayi kering karena AC malam, beberapa pendekatan yang direkomendasikan dermatolog pediatrik:

Aplikasi pelembap dengan ceramide atau petroleum jelly dengan jumlah secukupnya, bukan tebal. Ukuran rujukan: setengah ruas jari telunjuk dewasa untuk seluruh wajah dan leher bayi. Ini setara sekitar 0,5 gram, jumlah yang sudah cukup untuk efek oklusi tanpa risiko termal.

Penggunaan humidifier di kamar bayi dengan target kelembapan 50-60 persen lebih efektif menjaga hidrasi kulit dibanding aplikasi pelembap tebal. Solusi lingkungan mengatasi penyebab kering, sementara aplikasi tebal hanya mengatasi gejala dengan biaya termal.

Pengaturan suhu AC di 24-26 derajat Celsius alih-alih lebih rendah. Suhu yang terlalu dingin mempercepat penguapan air dari kulit dan mendorong orang tua melapisi pelembap berlebihan sebagai kompensasi.

Pelembap yang diformulasikan untuk bayi tropis biasanya kombinasi humektan (gliserin, hyaluronic acid) dengan oklusif moderat (squalane, sweet almond oil) alih-alih oklusif berat seperti petroleum jelly murni.

Yang Disorot Tim Edukasi BPOM

BPOM dalam edukasi konsumen Maret 2026 mencatat bahwa konten media sosial yang merekomendasikan praktik dermatologi tertentu untuk bayi tidak melalui proses verifikasi profesional. Tim edukasi mengingatkan orang tua untuk memverifikasi rekomendasi dengan dokter anak atau dokter kulit, bukan dengan jumlah tayangan atau jumlah engagement di platform.

Petroleum jelly sendiri tetap merupakan bahan yang aman dan terdaftar BPOM untuk produk skincare bayi, dengan catatan bahwa keamanan bahan tidak otomatis sama dengan keamanan praktik aplikasi tertentu.

Yang Perlu Diingat

Slugging sebagai konsep dermatologi orang dewasa di iklim subtropis musim dingin tidak otomatis bisa diadaptasi untuk kulit bayi di iklim tropis. Manfaat oklusi yang ingin dicapai bisa diraih dengan aplikasi tipis tanpa risiko termal yang menyertainya.

Untuk kulit bayi yang kering karena AC, kombinasi pelembap rutin yang diaplikasikan dengan jumlah tepat plus pengaturan kelembapan kamar memberikan hasil yang lebih konsisten dan aman dibanding tren visual yang viral di platform media sosial.

Sebelum mengadopsi praktik baru yang dilihat di media sosial untuk bayi, konsultasi dengan dokter anak atau dokter kulit anak tetap menjadi langkah yang membantu menyaring antara tren yang berbasis bukti dan tren yang sekadar viral.

Butuh Rekomendasi Produk?

Tim kami bisa bantu cari produk NeoCare yang paling cocok untuk kulit keluarga Anda.

Konsultasi via WhatsApp

Produk Terkait

Artikel Terkait