7x Ceramide Formulated in Germany • Gentle care for sensitive skin, all ages

Community13 menit2026-05-29

Wabah Molluscum Contagiosum di TPA Surabaya Mei 2026: Pola Penularan dan Pencegahan

34 balita dari tiga TPA di Surabaya Selatan terinfeksi molluscum contagiosum dalam 6 minggu. Jalur transmisi, panduan pencegahan kluster, dan langkah orang tua di rumah.

Wabah Molluscum Contagiosum di Tempat Penitipan Anak Surabaya Mei 2026: Pola Penularan dan Strategi Pencegahan

Sebanyak 34 balita dari tiga tempat penitipan anak (TPA) di Surabaya Selatan dilaporkan terinfeksi molluscum contagiosum dalam rentang 6 minggu, antara pertengahan April sampai akhir Mei 2026. Dinas Kesehatan Kota Surabaya menerima laporan resmi pada 21 Mei 2026 dari tiga TPA yang berlokasi di kawasan Wonokromo, Jambangan, dan Gayungan dengan pola epidemiologis yang menunjukkan transmisi kontak antar anak di area bermain bersama.

Kepala Seksi Surveilans Epidemiologi Dinas Kesehatan Kota Surabaya dr. Bambang Eko Pranoto, M.Kes membenarkan laporan ini kepada media lokal: "Kami menerima laporan kluster molluscum contagiosum dari tiga TPA dengan total 34 kasus, terdiri dari 19 balita laki-laki dan 15 balita perempuan dengan rentang usia 14 bulan sampai 4 tahun. Investigasi awal menunjukkan kemungkinan transmisi lewat mainan bersama, kolam bola, dan handuk yang tidak dipisah per anak," ujar dr. Bambang.

Kasus terbanyak teridentifikasi pada balita usia 2 sampai 3 tahun yang sebanyak 21 anak. Lesi paling sering ditemukan di area lipatan ketiak (12 kasus), perut bagian bawah (9 kasus), paha bagian dalam (7 kasus), wajah dan leher (4 kasus), dan area popok (2 kasus). Tidak ada laporan komplikasi serius, semua kasus dalam tahap lesi multipel tanpa infeksi sekunder bakteri.

Karakteristik Klinis Molluscum Contagiosum

Molluscum contagiosum disebabkan virus dari keluarga Poxviridae, genus Molluscipoxvirus. Berbeda dari kebanyakan virus, molluscum hanya menginfeksi sel epidermis kulit dan tidak menyebar ke organ dalam. Inkubasi virus berlangsung 2 sampai 7 minggu setelah paparan, dengan rata-rata 6 minggu.

Lesi khas berupa papul kecil berkilau seperti mutiara dengan diameter 2 sampai 5 milimeter, berwarna putih kemerahan atau sewarna kulit, dengan cekungan kecil di pusat lesi yang disebut umbilikasi sentral. Pada bayi dan balita, lesi sering tersebar dalam jumlah 5 sampai 20 papul, kadang mencapai lebih dari 50 lesi pada anak dengan eksim atopik atau gangguan imun.

Tim Sub Bagian Dermatologi Anak Departemen Ilmu Kesehatan Anak FK UNAIR-RSUD Dr. Soetomo yang ikut terlibat dalam investigasi kluster ini melaporkan distribusi anatomis kasus mengikuti pola kontak kulit-ke-kulit dan kontak benda yang terkontaminasi. Area dengan kulit tipis dan lembab seperti lipatan ketiak dan paha menjadi predileksi karena virus lebih mudah masuk lewat mikroabrasi di kulit yang sering basah.

Pola Transmisi yang Teridentifikasi

Investigasi Dinas Kesehatan mengidentifikasi tiga jalur utama transmisi virus molluscum di tiga TPA tersebut:

Transmisi langsung kulit ke kulit selama bermain bersama. Anak-anak yang berpelukan, bergulung di matras bersama, atau bermain kontak fisik dekat selama 30 menit atau lebih punya risiko transmisi tertinggi. Anak dengan lesi yang belum terlihat (masa inkubasi) sudah bisa menularkan ke teman bermainnya.

Transmisi tidak langsung lewat fomite. Mainan plastik (terutama mainan kunyah), kolam bola, matras tidur bersama, dan handuk pengering tangan yang dipakai bergantian menjadi reservoir virus yang bertahan 2 sampai 5 jam di permukaan kering. Virus bertahan lebih lama di permukaan lembab seperti handuk basah.

Autoinokulasi dari satu lokasi ke lokasi lain di tubuh anak yang sama. Anak yang menggaruk lesi lalu menyentuh area kulit lain bisa memperluas infeksi ke lokasi baru, terutama bila ada eksim atopik yang menyertai.

Direktur Operasional Asosiasi TPA dan Daycare Indonesia (ATDI) Surabaya, Indah Rachmawati menyampaikan dalam konferensi pers pada 23 Mei 2026: "Kasus ini menjadi peringatan bagi seluruh TPA dan daycare di Surabaya dan sekitarnya untuk meninjau ulang protokol sanitasi mainan dan kebijakan handuk pribadi per anak. Asosiasi telah menerbitkan panduan pencegahan kluster molluscum yang disusun bersama Dinas Kesehatan," ujar Indah.

Panduan Pencegahan Kluster di TPA dan Daycare

Berdasarkan investigasi kluster Surabaya 2026 dan rujukan dari American Academy of Pediatrics 2024, Dinas Kesehatan Kota Surabaya menerbitkan panduan pencegahan kluster molluscum contagiosum di lingkungan TPA dan daycare dengan tujuh poin utama:

  • Pemisahan handuk dan washlap pribadi per anak dengan label nama, tidak ada handuk bersama untuk pengering tangan
  • Disinfeksi mainan plastik harian dengan larutan sodium hipoklorit 0,1 persen atau alkohol 70 persen
  • Penghentian sementara penggunaan kolam bola, mainan kunyah bersama, dan matras tidur bersama saat ada kasus aktif
  • Skrining harian visual oleh pengasuh terhadap lesi kulit baru pada anak yang masuk
  • Isolasi sementara anak dengan lesi aktif sampai lesi tertutup pakaian atau perban hipoalergenik
  • Edukasi orang tua untuk tidak membawa anak ke TPA bila ada lesi baru sebelum konsultasi dokter
  • Pencatatan kontak erat selama 8 minggu untuk monitoring lesi baru karena masa inkubasi virus

Pengobatan dan Perjalanan Klinis

Sebagian besar kasus molluscum contagiosum pada anak sehat akan sembuh sendiri dalam 6 sampai 18 bulan tanpa pengobatan apa pun. Sistem imun anak akhirnya mengenali dan mengeliminasi virus secara natural. Karena alasan ini, American Academy of Pediatrics dan Indonesian Association of Dermato-Venereology and Aesthetic Medicine (PERDOSKI) merekomendasikan pendekatan watchful waiting untuk kasus tanpa komplikasi.

Indikasi pengobatan aktif meliputi lesi multipel yang sangat luas (lebih dari 20 lesi), lesi di area kosmetik sensitif (wajah), lesi yang menyebabkan gatal intens dengan risiko infeksi sekunder, anak dengan eksim atopik aktif, atau anak dengan gangguan imun.

Pilihan pengobatan yang tersedia meliputi cantharidin topikal yang diaplikasikan dokter (dewasa hanya), kuretase mekanik dengan anestesi topikal lidocaine-prilocaine, krioterapi nitrogen cair untuk anak yang lebih besar, dan terapi imunomodulator topikal seperti imiquimod 5 persen pada kasus refrakter.

Pemencetan lesi sendiri di rumah oleh orang tua tidak dianjurkan karena bisa menyebabkan infeksi sekunder, bekas luka permanen, dan justru memperluas infeksi ke area lain. Bila salah satu lesi pecah karena tergaruk, area yang terkena harus dibersihkan dengan antiseptik ringan dan ditutup dengan plester kedap air.

Tindak Lanjut Dinas Kesehatan

Dinas Kesehatan Kota Surabaya menginstruksikan tiga TPA yang terdampak untuk menerapkan panduan pencegahan baru dan menjalani inspeksi sanitasi pada tanggal 25 Mei 2026. Hasil inspeksi menunjukkan bahwa praktik sebelumnya yang menjadi faktor risiko utama meliputi handuk pengering tangan bersama (di ketiga TPA), kolam bola tanpa jadwal disinfeksi rutin (di dua TPA), dan matras tidur tanpa cover plastik (di satu TPA).

Selain itu, Dinas Kesehatan mengirimkan surat edaran pada 26 Mei 2026 kepada 247 TPA dan daycare berijin di Surabaya untuk meninjau protokol sanitasi mereka. Surat edaran ini mengacu pada Permenkes No. 24 Tahun 2025 tentang Standar Pelayanan Kesehatan di Lingkungan Pendidikan Anak Usia Dini.

Monitoring lanjutan untuk anak-anak yang terdampak akan dilakukan selama 8 minggu ke depan untuk memastikan tidak ada gelombang transmisi sekunder ke saudara kandung di rumah. Sampai laporan ini disusun, ada laporan tambahan 5 kasus pada saudara kandung anak terinfeksi yang dirawat di rumah dengan watchful waiting.

Yang Bisa Dilakukan Orang Tua di Rumah

Orang tua yang anak balitanya bersekolah di TPA atau daycare bisa mengambil beberapa langkah preventif sederhana di rumah:

  • Periksa kulit anak setiap kali memandikan, perhatikan papul baru berkilau dengan umbilikasi sentral
  • Sediakan handuk dan washlap pribadi anak yang berbeda dari anggota keluarga lain
  • Cuci pakaian, handuk, dan sprei anak secara terpisah saat ada lesi aktif
  • Potong kuku anak pendek dan rapi untuk mengurangi autoinokulasi karena garukan
  • Hindari membawa anak ke kolam renang umum saat lesi aktif kecuali lesi ditutup perban kedap air
  • Konsultasi dokter bila muncul tanda infeksi sekunder bakteri seperti merah luas, hangat, dan keluar cairan kuning

Wabah ini menjadi pengingat bahwa lingkungan TPA dan daycare memerlukan standar sanitasi yang konsisten dan transparan terhadap orang tua. Kolaborasi antara Dinas Kesehatan, asosiasi TPA, dan komunitas orang tua menjadi kunci pencegahan kluster serupa di masa depan.

Butuh Rekomendasi Produk?

Tim kami bisa bantu cari produk NeoCare yang paling cocok untuk kulit keluarga Anda.

Konsultasi via WhatsApp

Produk Terkait

Artikel Terkait