writer: sari
Alergi Lateks pada Bayi: Dot, Empeng, Balon, Tanda dan Cara Menghindari
Lateks karet alam ada di mana-mana dalam hari-hari seorang bayi, jauh lebih banyak dari yang disadari orang tua. Dot botol susu, empeng, teether, karet elastis di popok dan celana, mainan karet, balon ulang tahun, plester luka, sampai sarung tangan medis yang dipakai perawat saat imunisasi. Semuanya bisa berasal dari getah pohon karet Hevea brasiliensis. Di Indonesia, yang termasuk produsen karet alam terbesar di dunia, alergi terhadap bahan ini justru jarang dibicarakan di ruang praktik dokter anak. Padahal reaksinya bisa berkisar dari ruam merah di sekitar mulut sampai reaksi yang mengancam nyawa.
Dua Reaksi Berbeda yang Sering Tertukar
Yang membuat topik ini membingungkan: ada dua mekanisme berbeda di balik istilah "alergi karet", dan keduanya butuh penanganan yang tidak sama.
Yang pertama adalah dermatitis kontak alergi (radang kulit yang muncul karena bersentuhan dengan bahan tertentu) tipe IV. Pemicunya bukan lateksnya, melainkan bahan kimia yang dipakai pabrik saat mengolah karet, yaitu akselerator seperti thiuram, carbamate, dan mercaptobenzothiazole. Reaksi ini lambat. Kulit baru memerah, kering, atau bersisik sekitar 24 sampai 48 jam setelah kontak. Sekitar 80 persen kasus dermatitis kontak alergi akibat sarung tangan sekali pakai berkaitan dengan akselerator ini, bukan dengan protein lateksnya.
Yang kedua adalah alergi lateks sejati, yaitu reaksi tipe I yang diperantarai antibodi IgE terhadap protein di dalam getah karet. Reaksi ini cepat, biasanya dalam hitungan menit setelah kontak, dan bisa menyebar ke seluruh tubuh. Antibodi IgE memicu sel tubuh melepaskan histamin, dan hasilnya bisa berupa biduran, bengkak, sesak, sampai anafilaksis (reaksi alergi berat yang melibatkan banyak organ sekaligus dan bisa fatal).
Jeda waktu inilah petunjuk pertama untuk orang tua. Ruam yang baru muncul dua hari setelah pakai empeng baru mengarah ke tipe IV. Bibir bengkak lima menit setelah dot masuk mulut adalah cerita yang sama sekali lain.
Di Mana Lateks Bersembunyi
Sebagian besar paparan pada bayi datang dari benda-benda yang menempel di kulit atau masuk mulut setiap hari:
- Dot botol susu dan empeng berbahan karet alam (warnanya cenderung kuning kecokelatan, bukan bening)
- Teether karet
- Karet elastis di pinggang popok, celana, dan kaus kaki
- Mainan karet, bola karet, balon
- Plester luka dan perban elastis
- Sarung tangan medis di klinik atau rumah sakit
Balon layak disorot sendiri. Sebuah studi yang mengukur kadar alergen pada berbagai produk karet menemukan balon mainan mengandung 21,5 mikrogram alergen per gram bahan, sementara produk karet harian lain hanya sampai 4,4 mikrogram per gram. Selisihnya hampir lima kali lipat. Balon juga sering ditiup, digigit, dan meletus di dekat wajah anak, yang berarti partikel lateksnya bisa terhirup. Untuk anak yang sudah tersensitisasi, balon adalah pemicu klasik.
Tanda yang Perlu Dikenali
Pada bayi, jejaknya sering paling jelas di area yang bersentuhan langsung dengan dot atau empeng. Kemerahan berbentuk cincin persis mengikuti bentuk empeng, biduran atau bentol di sekitar bibir, gatal yang membuat bayi terus menggosok wajah, dan bibir atau kelopak mata yang membengkak.
Yang membedakannya dari ruam empeng biasa: ruam gesekan akibat air liur biasanya terbatas pada kulit yang basah dan membaik saat area dikeringkan. Reaksi lateks cenderung mengikuti pola benda yang menyentuh dan datang berulang setiap kali benda itu dipakai.
"Yang sering luput adalah polanya. Orang tua datang bilang anaknya ruam di sekitar mulut, dan kami cek riwayatnya ternyata ruam itu muncul terus setiap ganti merek empeng tertentu," ujar dr. Ratna Widjaja, Sp.A, dokter spesialis anak. "Ruam yang datang dalam hitungan menit dan hilang setelah bendanya dilepas itu sinyal yang berbeda dengan ruam gesekan biasa."
Tanda eskalasi yang menandakan reaksi tidak lagi terbatas di kulit: biduran yang menyebar ke dada dan punggung, batuk atau napas berbunyi, suara serak, muntah, dan bayi yang mendadak lemas atau pucat.
Kelompok Berisiko Tinggi
Ada satu kelompok anak yang risikonya jauh di atas rata-rata: anak dengan spina bifida (kelainan bawaan di mana tulang belakang tidak menutup sempurna saat janin) dan anak yang menjalani banyak operasi sejak bayi.
Angkanya konsisten di berbagai penelitian. Prevalensi alergi lateks pada pasien spina bifida berkisar 20 sampai 67 persen, jauh dibanding populasi umum. Penyebabnya paparan berulang dan intens terhadap produk karet lewat operasi, pemeriksaan, kateter, dan penanganan kandung kemih sejak usia sangat dini. Pada anak tanpa spina bifida sekalipun, riwayat operasi berulang tetap menaikkan risiko. Lima kali operasi saja sudah cukup untuk meningkatkan kemungkinan alergi lateks yang bermakna secara klinis.
Kalau si kecil masuk kelompok ini, informasikan ke setiap dokter dan rumah sakit sebelum tindakan apa pun.
Kaitannya dengan Buah: Latex-Fruit Syndrome
Protein dalam getah karet punya struktur yang mirip dengan protein di beberapa buah dan kacang, terutama kelompok yang disebut class I chitinase. Tubuh yang sudah mengenali protein lateks bisa salah mengenali protein buah sebagai ancaman yang sama. Fenomena ini disebut latex-fruit syndrome.
Empat yang paling sering terlibat adalah pisang, alpukat, kiwi, dan chestnut (kacang kastanye, sejenis kacang berkulit keras yang jarang di Indonesia tapi muncul di produk impor). Sekitar 30 sampai 50 persen orang dengan alergi lateks juga bereaksi terhadap salah satu buah tersebut, meski tidak semuanya sekaligus. Kentang dan tomat juga tercatat dalam beberapa penelitian.
Kaitan ini berlaku dua arah. Bayi yang pernah bereaksi terhadap pisang atau alpukat pantas diperiksa lebih teliti sebelum diberi empeng lateks.
Mengganti ke Bahan Non-Lateks
Untuk dot dan empeng, silikon adalah gantinya. Silikon bening, tidak berbau, dan tidak mengandung protein karet alam maupun akselerator kimia. Karet alam berwarna kekuningan dan lama-lama menggelap, jadi warna adalah cara cepat membedakannya di rak toko.
Saat membaca kemasan, cari tulisan "latex-free", "bebas lateks", atau "100% silicone". Produk bayi dari karet alam tidak diwajibkan mencantumkan kadar proteinnya, jadi label "hypoallergenic" saja belum cukup menjamin. Untuk teether, pilih silikon food-grade. Untuk popok dan celana, cari karet elastis berbahan spandex atau elastane. Ganti balon lateks dengan balon foil untuk acara ulang tahun.
Jangan Berhenti di Ganti Produk
Godaan terbesar setelah membaca artikel seperti ini adalah membuang semua barang karet di rumah lalu menganggap urusan selesai. Langkah itu belum cukup.
Ruam di sekitar mulut punya banyak kemungkinan penyebab, dan menebak sendiri berisiko. Kalau tebakannya keliru, penyebab yang sebenarnya tidak pernah tertangani. Kalau tebakannya benar tapi tidak terdokumentasi, tidak ada catatan medis yang melindungi si kecil saat suatu hari ia butuh operasi. Dokter punya alat untuk memastikan: pemeriksaan IgE spesifik lateks lewat darah untuk reaksi tipe I, dan patch test (uji tempel di kulit) untuk tipe IV terhadap akselerator karet.
Sambil menunggu jadwal periksa, rawat kulit yang teriritasi dengan cara paling sederhana. Bersihkan area sekitar mulut dengan air biasa, tepuk kering dengan handuk lembut tanpa digosok, dan oleskan pelembap tanpa pewangi untuk membantu skin barrier (lapisan pelindung terluar kulit) pulih. Hindari sabun keras dan tisu basah beralkohol di area yang sedang meradang.
Kapan Harus ke Dokter
Segera bawa si kecil ke fasilitas kesehatan terdekat jika muncul:
- Bibir, lidah, atau kelopak mata membengkak setelah kontak dengan benda karet
- Biduran yang menyebar cepat ke luar area kontak
- Napas berbunyi, sesak, batuk terus-menerus, atau suara serak mendadak
- Muntah atau diare bersamaan dengan ruam
- Bayi tampak lemas, pucat, dingin, atau sulit dibangunkan (tanda anafilaksis, kondisi gawat darurat)
Jadwalkan konsultasi, meski tidak darurat, jika:
- Ruam berulang di area yang sama setiap kali benda karet tertentu dipakai
- Ruam muncul 1 sampai 2 hari setelah kontak dan tidak jelas sebabnya
- Si kecil punya riwayat spina bifida atau operasi berulang
- Ada riwayat reaksi terhadap pisang, alpukat, atau kiwi
Alergi lateks pada bayi tidak sering terjadi, tapi bukan alasan untuk mengabaikan polanya. Yang paling berguna dilakukan orang tua adalah mencatat: benda apa yang menyentuh kulit, berapa lama jeda sampai ruam muncul, dan apakah kejadiannya berulang. Catatan sederhana itu sering lebih membantu dokter daripada foto ruamnya sendiri. Untuk kulit yang sedang iritasi di sekitar mulut, NeoCare Gentle Moisturizer Lotion dengan 7X Ceramide dari Jerman diformulasikan untuk membantu memperkuat skin barrier yang melemah, dan aman dipakai dari bayi sampai dewasa. Kalau masih ragu soal produk mana yang cocok selama masa investigasi, tim NeoCare bisa dihubungi lewat WhatsApp.



