Cat Wajah dan Face Painting Anak: Amankah untuk Kulit dan Cara Cek BPOM
Setiap musim ulang tahun, karnaval sekolah, dan Halloween, stan face painting jadi salah satu yang paling ramai diserbu anak-anak. Wajah dicat jadi harimau, kupu-kupu, atau tokoh kartun favorit dalam hitungan menit. Yang jarang ditanya orang tua di antrean panjang itu: cat apa yang sebenarnya dioleskan ke wajah anak mereka.
Pertanyaan itu bukan tanpa dasar. Sebuah pengujian oleh Campaign for Safe Cosmetics di Amerika Serikat menemukan seluruh dari 10 produk face paint anak yang populer mengandung timbal (lead) dalam kadar terdeteksi, dan sebagian di antaranya juga mengandung nikel, kobalt, serta kadmium. Padahal produk-produk itu dijual sebagai cat wajah anak, bukan cat kerajinan biasa. Persoalan makin serius ketika yang dipakai justru cat yang memang tidak pernah dirancang untuk kulit.
"Cat" untuk Wajah Tidak Semuanya Sama
Di lapangan, istilah "cat wajah" dipakai untuk dua hal yang jauh berbeda. Yang pertama adalah face paint kelas kosmetik, yaitu produk yang diformulasikan khusus untuk dioleskan ke kulit dan sudah melewati penilaian keamanan. Yang kedua, dan ini yang berbahaya, adalah cat non-kosmetik seperti cat poster, cat air, atau cat akrilik yang dipakai untuk menggambar di wajah karena warnanya menarik dan harganya murah.
Cat akrilik dan cat poster adalah produk seni, bukan produk kulit. Kandungannya bisa mencakup formaldehida, amonia, dan logam berat yang tidak pernah diuji untuk kontak langsung dengan kulit manusia. Label "non-toxic" pada cat kerajinan sering disalahartikan. Klaim itu berlaku untuk penggunaan sebagai alat gambar, misalnya aman kalau tidak sengaja tertelan sedikit oleh anak saat melukis. Klaim itu tidak berarti aman dioleskan ke wajah dan didiamkan berjam-jam.
Ada satu masalah teknis yang sering luput. Cat akrilik bersifat tahan air begitu mengering. Untuk melepasnya dari kulit, orang cenderung menggosok keras atau memakai pelarut, dan proses itulah yang merusak lapisan pelindung kulit anak.
Bahan yang Perlu Diwaspadai
Pada produk cat wajah yang beredar bebas, beberapa kelompok bahan paling sering dikaitkan dengan reaksi kulit:
- Pewarna azo dan turunan amina aromatik. Kelompok pewarna ini, termasuk paraphenylenediamine (PPD) yang dikenal dari pewarna rambut dan tato henna hitam, tercatat sebagai penyebab dermatitis kontak alergi. Data North American Contact Dermatitis Group menunjukkan wajah adalah lokasi reaksi paling umum, yaitu sekitar 25 persen kasus. Pewarna azo bisa saling bereaksi silang, sehingga anak yang pernah alergi pada satu produk berisiko bereaksi pada produk lain dengan pewarna sejenis.
- Pengawet. Cat yang berbahan dasar air membutuhkan pengawet agar tidak ditumbuhi jamur dan bakteri. Sebagian pengawet, terutama dari golongan pelepas formaldehida, tergolong pemicu iritasi dan alergi pada kulit sensitif.
- Logam pada glitter. Glitter tidak masuk daftar bahan pewarna yang disetujui FDA untuk kosmetik. Glitter kerajinan umumnya terbuat dari logam atau plastik berlapis logam, dengan tepi tajam berukuran mikro. Selain berisiko mengiritasi, serpihan glitter yang jatuh dekat mata bisa menggores permukaan bola mata.
Area Mata dan Mulut Paling Rawan
FDA memberi aturan lebih ketat untuk area sekitar mata. Bahan pewarna yang diizinkan untuk pemakaian umum belum tentu boleh dipakai di area mata, kecuali izinnya menyebut hal itu secara spesifik. Alasannya, kulit kelopak mata sangat tipis dan mata sendiri gampang teriritasi oleh partikel asing.
Area mulut punya risiko berbeda. Cat yang dioleskan di sekitar bibir hampir pasti akan ikut tertelan sedikit demi sedikit lewat air liur atau saat anak makan. Untuk area ini, hanya bahan yang aman kalau tertelan dalam jumlah kecil yang layak dipakai. Cat kerajinan jelas tidak memenuhi syarat itu.
Kulit Anak Menyerap Lebih Banyak
Kulit anak berbeda dari kulit dewasa dalam hal yang menentukan keamanan. Lapisan pelindungnya lebih tipis dan lebih mudah ditembus, sehingga zat kimia terserap lebih cepat. Berat badan anak juga lebih kecil, jadi jumlah bahan yang sama memberi dampak yang jauh lebih besar per kilogram berat tubuh dibanding pada orang dewasa. Bahan yang tergolong ringan untuk kulit orang dewasa bisa berakibat lain di wajah anak.
Menurut dokter spesialis dermatologi dan venereologi, dr. Anindita Prabaningrum, Sp.D.V.E, reaksi tidak selalu muncul di pemakaian pertama.
"Dermatitis kontak alergi bisa baru muncul setelah kulit tersensitisasi, kadang di pemakaian kedua atau ketiga. Karena itu produk yang minggu lalu tampak aman tetap perlu diwaspadai, apalagi kalau dipakai berulang di acara-acara anak," ujar dr. Anindita.
Izin Edar BPOM: Apa yang Harus Ada di Label
Di Indonesia, produk kosmetik wajib memiliki izin edar dalam bentuk notifikasi dari Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM). Face paint yang benar-benar diformulasikan untuk kulit termasuk kategori kosmetik dan seharusnya membawa nomor notifikasi itu.
Nomor notifikasi kosmetik terdiri dari dua huruf diikuti angka. Kode diawali huruf N, lalu huruf kedua menandakan kategori, misalnya NA untuk produk perawatan kulit dan NE untuk sediaan rias. Nomor ini punya belasan digit dan tercantum di kemasan resmi. Produk yang menyebut dirinya cat wajah tetapi tidak punya nomor notifikasi sama sekali, atau hanya menempelkan tulisan "BPOM" tanpa nomor yang bisa dicek, patut dicurigai.
Cara Cek BPOM, Langkah demi Langkah
Pengecekan bisa dilakukan sendiri dalam beberapa menit sebelum membeli:
- Buka situs resmi cekbpom.pom.go.id lewat browser, atau unduh aplikasi BPOM Mobile di ponsel.
- Pilih kategori pencarian, bisa berdasarkan nama produk, nomor notifikasi, atau nama pendaftar.
- Untuk kosmetik, cari nomor notifikasi yang diawali huruf N di kemasan, lalu ketik nomor itu.
- Jalankan pencarian dan cocokkan hasilnya. Nama produk, merek, dan nama pendaftar di layar harus sama persis dengan yang tertera di kemasan.
- Kalau nomor tidak ditemukan, atau datanya berbeda dari kemasan, jangan dipakai. Nomor notifikasi bisa dipinjam atau dipalsukan, jadi yang menentukan adalah kecocokan seluruh data, bukan sekadar ada tulisan resmi di label.
Patch Test Sebelum Hari Acara
Untuk produk yang sudah lolos pengecekan sekalipun, tes tempel sederhana tetap dianjurkan, terutama kalau anak punya riwayat kulit sensitif. Caranya, oleskan sedikit produk di kulit bagian dalam lengan bawah, lalu tunggu 24 sampai 48 jam. Pendekatan waktu ini sejalan dengan anjuran dermatologi untuk menguji pewarna sebelum dipakai luas. Kalau muncul kemerahan, gatal, atau bentol di titik olesan, produk itu tidak cocok dan jangan dipakai ke wajah. Idealnya patch test dilakukan beberapa hari sebelum acara, bukan pada hari yang sama.
Tanda Reaksi, Segera Hentikan
Bila selama atau setelah face painting anak menunjukkan gejala berikut, hentikan pemakaian dan bersihkan wajahnya:
- kemerahan, ruam, atau bentol di area yang dicat
- gatal, perih, atau anak terus menggosok wajah
- bengkak di sekitar mata atau bibir
- mata berair, memerah, atau anak mengeluh pedih
Reaksi ringan biasanya mereda setelah cat dibersihkan. Bila bengkak menjalar, muncul lepuh, atau anak tampak sesak, bawa ke dokter dan bawa juga kemasan produknya supaya dokter tahu bahan yang dicurigai.
Cara Membersihkan Setelah Acara
Untuk produk kosmetik berbahan dasar air, sabun bayi yang lembut dan air hangat sudah cukup mengangkat cat tanpa menggosok keras. Kapas atau kain lembut yang dibasahi lebih aman daripada menggosok dengan handuk kasar. Hindari pelarut seperti tiner atau aseton di kulit anak dengan alasan apa pun. Kalau cat sulit hilang dan butuh digosok keras atau pelarut untuk mengangkatnya, itu justru pertanda produk yang dipakai kemungkinan bukan produk kulit.
Face painting bisa jadi bagian menyenangkan dari acara anak selama produknya benar. Mengecek satu nomor notifikasi di BPOM dan menyediakan pembersih yang lembut jauh lebih murah daripada menebus akibat iritasi di wajah anak setelah pesta usai.




