Bau Badan Dini pada Anak: Bromhidrosis, Normal atau Tanda Pubertas Dini?
Banyak orang tua kaget saat memeluk anaknya yang baru pulang main, lalu mencium aroma ketiak yang mirip bau badan remaja. Padahal usia anak baru 5 atau 6 tahun. Pertanyaan pertama yang muncul biasanya sama: ini wajar atau ada yang salah?
Dalam dunia medis, bau badan yang menyengat disebut bromhidrosis. Pada anak usia pra-pubertas, kondisi ini memang lebih sering dilaporkan beberapa tahun terakhir. American Academy of Pediatrics mencatat bahwa tanda-tanda kematangan awal pada anak, termasuk bau badan, mulai muncul lebih dini dibanding generasi sebelumnya. Sebagian besar kasusnya tidak berbahaya. Tapi ada pola tertentu yang memang perlu dibawa ke dokter.
Kenapa Anak Kecil Bisa Bau Badan?
Kulit manusia punya dua jenis kelenjar keringat. Kelenjar ekrin tersebar di hampir seluruh tubuh dan mengeluarkan keringat encer yang fungsinya mendinginkan badan. Keringat ini hampir tidak berbau.
Yang menimbulkan bau adalah kelenjar apokrin, yang terkonsentrasi di ketiak, area selangkangan, dan sekitar puting. Kelenjar apokrin mengeluarkan cairan yang lebih pekat, mengandung lemak dan protein. Cairan itu sendiri sebenarnya tidak berbau saat keluar dari pori.
Baunya muncul setelah bakteri alami di permukaan kulit, terutama dari kelompok Corynebacterium dan Staphylococcus, memecah lemak dan protein tadi menjadi senyawa asam yang menyengat. Jadi bau badan itu hasil kerja sama antara keringat apokrin dan bakteri kulit, bukan karena keringatnya kotor.
Pada bayi dan anak kecil, kelenjar apokrin biasanya masih "tidur". Kelenjar ini umumnya baru aktif saat hormon androgen meningkat menjelang pubertas. Kalau kelenjar apokrin seorang anak aktif lebih awal, bau badan bisa muncul lebih cepat dari yang diperkirakan orang tua.
Apa yang Masih Normal di Usia Tertentu?
Bau badan ringan pada anak usia sekolah dasar tidak selalu berarti ada masalah hormon. Beberapa skenario berikut umumnya tergolong wajar:
Bau muncul hanya setelah aktif bergerak
Anak yang habis berlari, main bola, atau berkeringat di siang panas lalu sedikit berbau ketiak, tapi baunya hilang setelah mandi, biasanya tidak perlu dikhawatirkan. Ini soal keringat dan bakteri, bukan soal pubertas.
Tidak ada tanda kematangan fisik lain
Selama tinggi badan anak tumbuh sesuai kurva normal, belum ada rambut di area kemaluan atau ketiak, dan tidak ada perubahan pada payudara atau testis, bau badan ringan sendirian cenderung bukan sinyal pubertas dini.
Faktor makanan dan kebersihan
Makanan tertentu seperti bawang putih, bawang merah, jengkol, petai, dan rempah kuat bisa mengubah aroma keringat untuk sementara. Begitu juga anak yang jarang ganti baju atau baju lembap kena keringat seharian. Aroma jenis ini hilang dengan mandi rutin dan baju bersih.
Penelitian dari jurnal pediatri menunjukkan bahwa pada banyak anak, bau badan ringan adalah bagian dari proses tubuh yang disebut adrenarche, yaitu saat kelenjar adrenal mulai memproduksi hormon androgen lemah. Adrenarche bisa terjadi sekitar usia 6 sampai 8 tahun dan sering memunculkan bau badan, sedikit jerawat, atau kulit lebih berminyak, tanpa berarti pubertas sungguhan sudah dimulai.
Kapan Bau Badan Jadi Tanda yang Perlu Dicurigai?
Yang membuat dokter waspada bukan bau badannya sendiri, melainkan bau badan yang datang bersama tanda kematangan fisik lain di usia terlalu muda. Pubertas dini, atau precocious puberty, didefinisikan sebagai munculnya tanda pubertas sebelum usia 8 tahun pada anak perempuan dan sebelum 9 tahun pada anak laki-laki.
Para ahli endokrin anak menyarankan orang tua memperhatikan kombinasi berikut:
- Bau badan disertai tumbuhnya rambut di area kemaluan atau ketiak
- Payudara mulai membesar pada anak perempuan sebelum usia 8 tahun
- Testis atau penis membesar pada anak laki-laki sebelum usia 9 tahun
- Tinggi badan melonjak jauh lebih cepat dari teman sebaya
- Jerawat yang cukup banyak di wajah pada anak usia dini
- Keputihan atau menstruasi pada anak perempuan yang masih sangat muda
Kalau bau badan berdiri sendiri, kemungkinan besar tergolong jinak. Kalau muncul bareng satu atau lebih tanda di atas, itulah saat untuk periksa ke dokter, idealnya ke spesialis endokrin anak. Pubertas yang datang terlalu cepat perlu dievaluasi karena bisa memengaruhi tinggi badan akhir anak dan kadang berkaitan dengan kondisi lain yang mendasarinya.
Suara Dokter
Menurut dokter spesialis anak konsultan endokrinologi dr. Rina Marlina, SpA(K), pemicu paling sering justru bukan penyakit serius.
"Sebagian besar anak yang dibawa ke saya karena bau badan ternyata sedang mengalami adrenarche normal, bukan pubertas dini. Bedanya jelas. Adrenarche memunculkan bau badan, kulit berminyak, kadang jerawat ringan, tapi tidak ada pembesaran payudara atau testis dan tidak ada percepatan tinggi yang ekstrem," kata dr. Rina.
Ia menambahkan satu pesan untuk orang tua. "Yang saya minta orang tua catat adalah ada tidaknya tanda lain dan kapan mulainya. Foto tinggi badan tiap beberapa bulan sangat membantu. Bau badan sendirian jarang darurat, tapi bau badan plus rambut kemaluan di usia tujuh tahun, itu wajib diperiksa," ujarnya.
Merawat Kulit dan Higiene Anak yang Mulai Berbau
Kabar baiknya, bau badan ringan pada anak paling sering bisa dikelola dengan kebiasaan sederhana di rumah:
Mandi teratur dengan sabun lembut
Mandi sekali atau dua kali sehari sudah cukup, dengan fokus membersihkan ketiak dan selangkangan. Pilih sabun yang lembut dan tidak membuat kulit kering. Menggosok terlalu keras atau pakai sabun antibakteri kuat tiap hari malah bisa merusak lapisan pelindung kulit anak dan memicu iritasi.
Keringkan ketiak sampai benar-benar kering
Bakteri penyebab bau berkembang di area lembap. Setelah mandi, pastikan ketiak dan lipatan kulit kering sebelum anak pakai baju.
Pilih bahan baju yang menyerap keringat
Katun lebih baik daripada bahan sintetis yang menahan keringat dan panas. Ganti baju setiap hari, dan segera ganti kalau anak berkeringat banyak setelah bermain.
Perhatikan pola makan
Mengurangi makanan beraroma kuat dan menjaga anak tetap cukup minum air bisa membantu meredakan aroma keringat. Anak dengan berat badan berlebih juga cenderung lebih mudah berkeringat dan berbau, sehingga menjaga berat badan ideal turut berperan.
Bolehkah Anak Pakai Deodoran?
Ini pertanyaan yang sering muncul dari orang tua, dan jawabannya tidak hitam putih. Secara umum, anak yang sudah masuk masa pra-remaja boleh memakai deodoran untuk mengurangi bau, asal produk dan caranya tepat.
Yang perlu dipahami, ada beda antara deodoran dan antiperspiran. Deodoran bekerja menutupi atau mengurangi bau dengan menekan pertumbuhan bakteri. Antiperspiran mengandung garam aluminium untuk menutup sementara saluran keringat agar produksi keringat berkurang. Untuk anak, dokter kulit umumnya lebih nyaman menyarankan deodoran biasa daripada antiperspiran kuat.
Beberapa rambu yang aman diikuti:
- Pilih produk berbahan lembut, bebas pewangi keras dan bebas alkohol berlebih, untuk mengurangi risiko iritasi pada kulit anak yang masih tipis
- Hindari memakai deodoran di kulit yang sedang lecet, baru dicukur, atau iritasi
- Coba dulu di area kecil selama beberapa hari untuk memastikan tidak ada reaksi kemerahan
- Untuk anak yang sangat muda, dahulukan mandi rutin dan baju bersih dulu sebelum buru-buru memakai deodoran
Kalau bau badan sangat mengganggu sampai membuat anak minder di sekolah, itu alasan yang masuk akal untuk konsultasi ke dokter, sekaligus memastikan tidak ada pemicu hormon di baliknya.
Kapan Harus ke Dokter
Bawa anak ke dokter, terutama spesialis endokrin anak, kalau bau badan muncul bersama tanda kematangan fisik di usia sangat dini, kalau tinggi badan melonjak tidak wajar, atau kalau orang tua melihat rambut kemaluan, pembesaran payudara, atau testis sebelum waktunya. Dokter mungkin akan memeriksa pertumbuhan, kadang melakukan rontgen usia tulang, dan bila perlu memeriksa kadar hormon.
Untuk mayoritas anak, bau badan dini adalah bab kecil dalam tumbuh kembang yang akan berlalu dengan mandi teratur dan baju bersih. Yang membedakan kasus biasa dari kasus yang perlu perhatian bukan seberapa menyengat baunya, melainkan apa saja tanda lain yang ikut muncul di sekitarnya. Mengamati anak dengan tenang, mencatat perubahan, lalu bertanya ke dokter saat ragu, sudah jadi langkah yang cukup bijak.



