writer: sari
Bayi Lahir Cesar vs Vaginal: Mikrobiom Kulit dan Risiko Eksim
Komposisi bakteri kulit bayi yang lahir lewat operasi cesar dan persalinan vaginal berbeda secara terukur pada 6 bulan pertama kehidupan. Studi besar yang dipublikasikan di The Lancet pada Mei 2023 melibatkan 596 bayi di enam negara, termasuk Indonesia, dan menemukan bayi cesar memiliki populasi Staphylococcus epidermidis 32 persen lebih rendah dan Streptococcus 18 persen lebih tinggi dibanding bayi vaginal pada hari ketiga setelah lahir.
Perbedaan ini menjadi perhatian dunia kesehatan kulit anak setelah Nature Medicine pada Februari 2024 mempublikasikan analisis lanjutan yang mengaitkan komposisi mikrobiom awal dengan risiko atopic dermatitis pada usia 12 bulan. Bayi cesar tanpa intervensi vaginal seeding menunjukkan insidensi eksim 24 persen, sementara bayi vaginal mencatat 16 persen pada kelompok yang sama.
Mengapa Mikrobiom Awal Penting
Bakteri yang pertama kali kontak dengan kulit bayi pada saat lahir membentuk koloni yang menentukan keseimbangan mikrobiom kulit untuk bulan-bulan berikutnya. Bayi vaginal terpapar bakteri Lactobacillus dan Bifidobacterium dari jalan lahir, sementara bayi cesar lebih banyak terpapar bakteri kulit ibu dan tenaga medis di ruang operasi.
Menurut Profesor Maria Gloria Dominguez-Bello, ahli mikrobiom dari Rutgers University yang memimpin studi vaginal seeding terbesar di dunia: "Mikrobiom kulit bayi yang seimbang berfungsi sebagai pelatih sistem imun. Ketika populasi bakteri komensal seperti Staphylococcus epidermidis kurang, sistem imun kulit cenderung over-reaktif terhadap iritan ringan, dan ini sering bermanifestasi sebagai eksim," tulis tim peneliti yang dipimpin Prof. Dominguez-Bello, dikutip dari Nature Medicine.
Riset dari Karolinska Institute Stockholm 2024 menambahkan dimensi baru. Tim yang dipimpin Prof. Anders Andersson menemukan bahwa perbedaan mikrobiom antara bayi cesar dan vaginal mengecil pada usia 6 bulan jika bayi mendapat ASI eksklusif minimal 4 bulan. Perbedaannya turun dari 32 persen menjadi 8 persen pada kelompok ASI eksklusif.
Implikasi untuk Perawatan Kulit Harian
Perbedaan ini bukan alasan untuk panik. Sebagian besar bayi cesar tetap tumbuh dengan kulit sehat tanpa intervensi khusus, dan persalinan cesar dilakukan karena indikasi medis yang menyelamatkan ibu dan bayi. Implikasinya lebih ke pendekatan perawatan kulit dini yang lebih hati-hati pada keluarga dengan riwayat atopi.
Rekomendasi yang muncul dari panduan European Academy of Dermatology and Venereology 2024 untuk bayi cesar:
- Tunda mandi pertama 24 jam untuk mempertahankan vernix dan kontak kulit ibu
- Prioritaskan skin-to-skin contact langsung di kamar bersalin minimal 60 menit
- Hindari produk pembersih dengan SLS atau SLES selama 6 bulan pertama
- Aplikasikan emolien BPOM yang ramah skin barrier sejak minggu pertama jika ada riwayat eksim keluarga
- Pertahankan ASI eksklusif minimal 4 bulan untuk mendukung pematangan mikrobiom
Status Vaginal Seeding
Vaginal seeding adalah praktik mengoleskan kassa berisi cairan vagina ibu ke wajah dan tubuh bayi cesar segera setelah lahir untuk meniru paparan jalan lahir. American College of Obstetricians and Gynecologists (ACOG) lewat Committee Opinion 725 yang diperbarui 2024 belum merekomendasikan praktik ini di luar setting penelitian klinis terkontrol. Alasannya, risiko transmisi patogen seperti Streptococcus grup B atau virus herpes simplex masih lebih tinggi dibanding manfaat mikrobiom yang terdokumentasi.
BPOM dan Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) sejauh ini juga belum menerbitkan rekomendasi resmi soal vaginal seeding di Indonesia. Para ahli yang dimintai pendapat menyarankan keluarga fokus pada faktor yang sudah jelas manfaatnya: ASI eksklusif, kontak kulit dini, dan menghindari antibiotik tidak perlu pada minggu pertama.
Meski begitu, perbedaan mikrobiom antara bayi cesar dan vaginal sebagian besar dapat dijembatani lewat pilihan perawatan harian yang konsisten dan dukungan ASI yang memadai pada empat hingga enam bulan pertama.



