writer: sari
Ruam Merah di Punggung Kaki Anak yang Mengikuti Pola Sandal, Sering Disangka Eksim atau Kutu Air
Ruam gatal di punggung kaki anak biasanya langsung dibaca sebagai eksim. Kalau letaknya dekat jari, dugaan pertama sering berpindah ke kutu air. Kedua tebakan itu wajar, karena keduanya memang umum pada anak. Yang jarang terpikirkan adalah kemungkinan ketiga: kulit anak sedang bereaksi terhadap bahan sepatu atau sandal yang ia pakai hampir setiap hari.
Kondisi ini disebut dermatitis kontak alergi. Kulit menganggap salah satu bahan pada alas kaki sebagai zat asing, lalu memunculkan peradangan di titik tempat bahan itu menempel. Reaksinya termasuk tipe lambat, yang dalam istilah medis disebut hipersensitivitas tipe IV. Artinya ruam tidak muncul saat itu juga, melainkan sekitar satu sampai tiga hari setelah kulit bersentuhan dengan pemicunya. Jeda inilah yang membuat orang tua sulit menghubungkan ruam dengan sepatu, karena anak terlihat baik-baik saja saat memakainya dan baru gatal keesokan atau lusa harinya.
Petunjuk Utamanya Ada di Pola Ruam
Ada satu ciri yang membedakan dermatitis kontak dari hampir semua kondisi kulit kaki lain, dan orang tua bisa mengamatinya sendiri di rumah. Ruamnya mengikuti bentuk alas kaki.
Pada anak yang alergi bahan sepatu, kemerahan muncul di punggung kaki dan jari-jari bagian atas, persis di area yang tertutup dan tertekan sepatu. Pada pemakai sandal jepit, ruamnya membentuk garis di sela ibu jari dan jari kedua, lalu menjalar mengikuti jalur tali yang melintang di punggung kaki. Kalau pola kemerahan di kaki anak bisa ditumpuk pas dengan bentuk sandalnya, petunjuk itu sudah cukup kuat.
Menurut dokter spesialis kulit dan kelamin dr. Larasati Widhi, Sp.D.V.E., pola inilah yang paling sering terlewat:
"Kesalahan yang sering saya temui, orang tua fokus ke jenis ruamnya, merah atau bersisik atau melenting, padahal kunci diagnosisnya justru di lokasi dan bentuknya. Ruam yang berhenti tepat di batas tali sandal, dan kulit di sela-sela jari yang tersembunyi justru mulus, itu gambaran khas reaksi terhadap bahan, bukan infeksi," ujar dr. Larasati.
Titik yang bebas ruam sama pentingnya dengan titik yang merah. Kulit di sela-sela jari kaki, celah sempit yang tidak bersentuhan langsung dengan tali atau bahan sepatu, biasanya tetap bersih pada dermatitis kontak. Detail ini yang nanti membedakannya dari kutu air.
Kenapa Ini Bukan Kutu Air
Kutu air, atau tinea pedis, disebabkan jamur, dan jamur punya tempat favorit yang berlawanan dengan dermatitis kontak. Jamur menyukai celah yang paling lembap dan paling jarang kering, yaitu sela-sela jari kaki, terutama antara jari keempat dan kelima. Di sanalah kutu air biasanya bermula: kulit yang basah, mengelupas, pecah-pecah, kadang berbau, sebelum akhirnya melebar.
Dermatitis kontak justru cenderung menghindari sela jari itu dan berkumpul di permukaan yang tertekan bahan. Jadi arah keduanya nyaris berkebalikan. Ruam yang terpusat di punggung kaki dengan sela jari yang mulus condong ke reaksi bahan. Kulit yang basah dan pecah di antara jari, sementara punggung kaki relatif bersih, lebih condong ke jamur.
Ada satu pegangan sederhana lagi. Kutu air lebih sering menyerang satu kaki lebih dulu atau lebih parah di satu sisi, sedangkan reaksi terhadap sepasang sepatu atau sandal biasanya muncul cukup simetris di kedua kaki, karena kedua kaki memakai bahan yang sama.
Kalau keraguan tetap ada, dokter bisa memastikan jamur dengan pemeriksaan kerokan kulit di bawah mikroskop. Pemeriksaan ini penting karena krim antijamur hanya bekerja pada infeksi jamur. Pada dermatitis kontak, krim jamur tidak menyentuh masalahnya, dan ruam akan bertahan meski krim dipakai berminggu-minggu, situasi yang sering membuat orang tua mengira obatnya kurang manjur.
Lalu Bagaimana dengan Eksim
Eksim, atau dermatitis atopik, adalah kondisi kulit menahun yang berkaitan dengan bakat alergi. Anak dengan eksim biasanya punya riwayat kulit kering dan gatal sejak bayi, sering disertai asma atau alergi hidung di keluarga, dan ruamnya muncul di banyak tempat: lipatan siku, belakang lutut, leher, pipi, tidak hanya di kaki.
Bedanya dengan dermatitis kontak terletak pada pemicu dan pola. Eksim datang dan pergi mengikuti kondisi kulit anak secara umum serta cuaca, dan sebarannya luas. Dermatitis kontak akibat alas kaki terikat pada satu lokasi yang logis, membaik saat sepatu dilepas berhari-hari, dan kambuh lagi begitu sepatu yang sama dipakai. Keterikatan pada satu benda spesifik inilah pembeda yang paling bisa dipegang.
Bahan yang Sering Jadi Pemicu
Beberapa bahan pada sepatu dan sandal anak diketahui paling sering memicu reaksi. Mengenalinya membantu orang tua menebak apa yang perlu dihindari:
- Akselerator karet pada sol, karet sandal, dan bagian elastis sepatu. Zat kimia yang dipakai untuk mematangkan karet, seperti golongan merkaptobenzotiazol, tiuram, dan karbamat, adalah pemicu yang sangat umum. Sandal jepit dan sepatu olahraga berbahan karet termasuk tersangka utama.
- Kromat pada kulit samak. Kulit yang disamak dengan krom meninggalkan sisa senyawa kalium dikromat, dan ini pemicu klasik pada sepatu kulit serta sandal berbahan kulit.
- Lem perekat yang menyatukan lapisan sepatu, khususnya jenis resin tertentu. Reaksinya sering muncul di area tempat bagian atas sepatu direkatkan ke sol.
- Pewarna tekstil pada kaus kaki dan bahan sepatu, terutama pewarna gelap pada kaus kaki sintetis yang luntur saat kaki berkeringat.
Iklim tropis memperbesar peluang reaksi. Kaki yang berkeringat dan lembap sepanjang hari membuat zat kimia dari karet, kulit samak, dan pewarna lebih mudah larut lalu menembus kulit. Anak yang memakai sepatu tertutup berjam-jam di sekolah, tanpa sempat mengeringkan kaki, berada dalam kondisi yang paling memungkinkan.
Uji Sederhana Sebelum ke Dokter
Sebelum memikirkan pemeriksaan khusus, ada langkah yang bisa dicoba orang tua di rumah, dan langkah ini sekaligus jadi petunjuk diagnostik. Hentikan pemakaian sepatu atau sandal yang dicurigai, lalu ganti dengan alas kaki lain dari bahan yang berbeda dan sudah terbukti aman untuk anak, misalnya sandal berbahan yang tidak mengandung karet olahan atau kulit samak.
Kalau ruamnya mereda dalam satu sampai dua minggu setelah sepatu diganti, lalu kembali muncul begitu sepatu lama dipakai lagi, hubungannya menjadi jelas. Pola hilang-timbul yang mengikuti pemakaian satu benda spesifik adalah bukti yang lebih meyakinkan daripada menebak dari bentuk ruam saja.
Selama masa ini, beberapa hal membantu meredakan kulit dan mencegah perburukan:
- Pilih kaus kaki katun yang menyerap keringat dan berwarna terang, ganti setiap hari
- Keringkan kaki benar-benar setelah mandi, termasuk sela jari, sebelum memakai alas kaki
- Beri kaki waktu terbuka tanpa sepatu saat di rumah supaya kulit sempat kering
- Hindari menggaruk area ruam, karena luka garukan membuka jalan bagi infeksi
Kapan Perlu Patch Test dan ke Dokter
Uji ganti alas kaki bisa memberi petunjuk, tapi ia tidak menunjukkan bahan persis mana yang jadi biang masalah. Di sinilah pemeriksaan yang disebut patch test berperan. Dokter menempelkan sederet zat uji dalam jumlah kecil di punggung anak, membiarkannya selama dua hari, lalu membaca reaksi kulit terhadap masing-masing zat. Dari situ bisa diketahui apakah pemicunya kromat, akselerator karet, atau bahan lain, sehingga keluarga tahu bahan apa yang harus benar-benar dihindari saat membeli sepatu berikutnya.
Beberapa keadaan sebaiknya membawa anak ke dokter kulit:
- Ruam yang tidak membaik setelah dua minggu meski sepatu sudah diganti dan kulit dirawat
- Ruam yang basah, bernanah, atau makin nyeri, yang bisa menandakan infeksi menumpang
- Ruam berulang di lokasi yang sama tiap kali jenis sepatu tertentu dipakai
- Kesulitan memastikan apakah ini reaksi bahan, kutu air, atau eksim
Ruam yang mengikuti pola sepatu atau tali sandal sebenarnya sedang menunjukkan sebabnya sendiri, asalkan polanya dibaca dan bukan hanya bentuk merahnya. Mengganti alas kaki lebih dulu, lalu memastikan lewat patch test bila perlu, bisa menyelesaikan masalah yang sering terlanjur diobati berminggu-minggu dengan krim jamur atau salep eksim yang memang tidak menyasar akar persoalannya.



