writer: sari
Kolagen dan Kulit Bayi: Perlukah Produk Kolagen untuk Si Kecil?
Tren produk perawatan kulit dengan kandungan kolagen terus meluas, tidak hanya menyasar segmen dewasa tetapi kini merambah lini produk perawatan bayi. Di platform e-commerce Indonesia, pencarian "lotion kolagen bayi" meningkat 214 persen sepanjang 2024 menurut data internal Tokopedia yang dirilis pada Januari 2025. Namun, dokter kulit anak dan peneliti dermatologi mempertanyakan apakah tren ini didukung bukti ilmiah yang cukup untuk kelompok usia bayi.
Kolagen adalah protein struktural yang paling banyak ditemukan di kulit manusia, menyumbang sekitar 70–80 persen dari berat kering dermis. Pada bayi baru lahir, produksi kolagen endogen justru berada pada puncaknya — lebih tinggi dibanding usia mana pun dalam kehidupan manusia — yang menjelaskan mengapa kulit bayi terlihat sangat kenyal dan elastis.
Mengapa Kulit Bayi Tidak Membutuhkan Kolagen Tambahan
Penurunan produksi kolagen secara alami baru terjadi setelah usia 25 tahun pada manusia dewasa, dengan penurunan rata-rata 1–1.5 persen per tahun menurut data dari Journal of Investigative Dermatology (2023). Pada bayi, mekanisme sintesis kolagen masih beroperasi penuh dan tidak memerlukan stimulasi dari luar.
Menurut dr. Lanny Junita, SpKK, dermatologis anak dari RSIA Hermina Depok: "Produk dengan klaim kolagen untuk bayi tidak memberikan manfaat tambahan karena kulit bayi sudah memproduksi kolagen dalam jumlah optimal. Yang lebih relevan untuk bayi adalah menjaga skin barrier dengan ceramide, mempertahankan hidrasi dengan humectant, dan melindungi kulit dari iritan eksternal," ujar dr. Lanny.
Lebih lanjut, molekul kolagen dalam produk topikal memiliki ukuran yang terlalu besar untuk menembus stratum corneum — lapisan paling luar kulit. Studi dari British Journal of Dermatology (2024) mengonfirmasi bahwa kolagen hidrolisasi yang diaplikasikan secara topikal hanya bekerja di permukaan kulit sebagai humectant ringan, bukan sebagai stimulator produksi kolagen endogen.
Regulasi Klaim Kolagen di Berbagai Negara
Perbandingan antara Korea Selatan dan Indonesia menunjukkan perbedaan pendekatan regulasi yang signifikan. Di Korea, regulasi KFDA sejak 2022 membatasi klaim "kolagen" pada produk bayi kecuali didukung uji klinis yang telah diverifikasi secara independen. Di Uni Eropa, Komisi Eropa mewajibkan bukti substantiasi klaim kosmetik sejak Regulasi EU No. 655/2013.
Di Indonesia, BPOM saat ini masih menggunakan pendekatan yang lebih umum dalam verifikasi klaim kosmetik bayi. Orang tua disarankan untuk tidak semata-mata mengandalkan klaim pemasaran, melainkan melihat daftar bahan aktif yang tertera pada kemasan.
Bahan yang Benar-Benar Efektif untuk Kulit Bayi
Alih-alih kolagen, dermatologis anak merekomendasikan bahan-bahan berikut yang memiliki bukti klinis kuat untuk perawatan kulit bayi:
- Ceramide — memulihkan dan memperkuat skin barrier yang rusak akibat iritasi atau eksim
- Panthenol (Pro-Vitamin B5) — mempercepat regenerasi sel kulit dan menenangkan iritasi
- Glycerin — humectant efektif yang menarik dan mengunci kelembapan di lapisan kulit
- Niacinamide — pada konsentrasi rendah 2–5%, mendukung fungsi barrier dan mereduksi kemerahan
- Zinc oxide — perlindungan fisik terhadap iritan dan kelembapan berlebih pada kulit yang sensitif
Bahan-bahan di atas memiliki profil keamanan yang sudah lama terdokumentasi untuk bayi dan menunjukkan efektivitas yang konsisten dalam uji klinis terkontrol, berbeda dengan klaim kolagen yang sebagian besar masih bersifat pemasaran.
Maka dari itu, orang tua disarankan untuk lebih kritis dalam membaca klaim produk perawatan bayi. Jika sebuah produk mengandalkan kolagen sebagai bahan unggulan untuk bayi, pertanyaan yang tepat adalah: apa bahan aktif lain yang benar-benar bekerja di level kulit bayi dan memiliki bukti ilmiah yang mendukungnya?




