7x Ceramide Formulated in Germany • Gentle care for sensitive skin, all ages

Science6 menit2026-06-10

Kolostrum di Skincare Bayi: Tren atau Sudah Terbukti?

Kolostrum sapi mulai masuk skincare bayi. Apa kata bukti soal manfaatnya untuk skin barrier, dan kenapa bayi alergi susu sapi perlu hati-hati.


writer: sari

Kolostrum di Skincare Bayi: Sejauh Mana Tren Ini Didukung Bukti

Selama dua tahun terakhir, kolostrum (colostrum, atau dalam istilah awam susu pertama) muncul sebagai salah satu bahan yang paling ramai dibicarakan di industri perawatan kulit global. Awalnya kolostrum dikenal sebagai suplemen oral, terutama versi kolostrum sapi (bovine colostrum). Kini bahan yang sama mulai dipasarkan dalam bentuk serum, krim, hingga produk yang diklaim aman untuk kulit bayi. Pencarian terkait colostrum skincare melonjak tajam di platform sosial seperti TikTok dan Instagram, didorong oleh narasi bahan fungsional yang dianggap mampu menutrisi kulit dari luar.

Pergeseran ini sejalan dengan tren yang lebih besar di industri kecantikan, yaitu perpindahan dari bahan sintetis ke bahan yang dianggap biologis dan alami. Pertanyaannya, apakah antusiasme ini sebanding dengan bukti ilmiahnya, terutama ketika produk diarahkan untuk kelompok paling rentan, yaitu bayi.

Apa Itu Kolostrum

Kolostrum adalah cairan yang diproduksi kelenjar susu pada hari-hari pertama setelah melahirkan, sebelum air susu matang keluar. Cairan ini kental dan kaya komponen bioaktif. Pada manusia maupun mamalia lain, kolostrum mengandung immunoglobulin (antibodi), faktor pertumbuhan (growth factor), laktoferin (lactoferrin), serta berbagai protein dan peptida yang berperan pada sistem imun bayi yang baru lahir.

Versi yang dipakai di produk perawatan kulit hampir selalu berasal dari sapi. Bovine colostrum dikumpulkan dari sapi perah pada periode awal setelah melahirkan, lalu diproses menjadi bubuk atau ekstrak. Komposisinya yang padat nutrisi inilah yang menjadi dasar klaim pemasaran, dengan asumsi bahwa molekul-molekul aktif tersebut tetap bekerja ketika dioleskan ke permukaan kulit.

Klaim Manfaat Topikal

Produsen yang memasarkan kolostrum sebagai bahan perawatan kulit umumnya menyebut tiga arah manfaat. Pertama, mendukung skin barrier atau pelindung alami kulit, dengan alasan kandungan protein dan lipidnya. Kedua, efek menenangkan atau soothing pada kulit yang sedang iritasi ringan. Ketiga, klaim regenerasi yang dikaitkan dengan kandungan growth factor, yang secara teori dapat memengaruhi proses pembaruan sel kulit.

Klaim regenerasi adalah yang paling sering muncul di konten media sosial. Faktor pertumbuhan memang dikenal berperan dalam penyembuhan luka dan pembaruan jaringan di dalam tubuh. Loncatan logika terjadi ketika peran biologis di dalam tubuh langsung dianggap berlaku sama saat molekul tersebut hanya menempel di lapisan luar kulit.

Apa Kata Bukti Ilmiah

Di sinilah jarak antara tren dan data menjadi terlihat. Sebagian besar penelitian mengenai kolostrum sapi berfokus pada penggunaan oral, misalnya untuk kesehatan saluran cerna atau pemulihan setelah aktivitas fisik. Studi yang khusus menilai pemakaian topikal pada kulit jumlahnya jauh lebih sedikit, dan banyak di antaranya masih berupa penelitian in-vitro di laboratorium atau uji berskala kecil pada orang dewasa.

Untuk kulit bayi, datanya lebih tipis lagi. Hingga kini belum ada bukti klinis berskala besar yang menunjukkan bahwa kolostrum topikal memberi manfaat yang konsisten dan aman untuk bayi. Sebagian besar klaim yang beredar bertumpu pada potensi teoretis dari kandungannya, bukan pada hasil uji yang dirancang khusus untuk populasi ini.

Menurut dokter spesialis kulit dan kelamin dr. Anindya Paramita, SpKK, soal status bukti pada bahan tren seperti ini perlu dilihat dengan jujur:

Kolostrum punya profil kandungan yang menarik secara biologis, tetapi minat ilmiah tidak otomatis sama dengan bukti klinis. Untuk pemakaian di kulit bayi, data keamanan dan manfaatnya masih sangat terbatas, sehingga bahan ini lebih tepat disebut tren yang sedang naik ketimbang bahan yang sudah terbukti kuat, ujar dr. Anindya.

Hal lain yang sering luput adalah perbedaan antara kolostrum oral dan topikal. Manfaat yang terdokumentasi pada konsumsi oral tidak bisa dipindahkan begitu saja ke produk oles. Molekul besar seperti immunoglobulin dan growth factor belum tentu mampu menembus lapisan kulit yang sehat, dan kondisi penyimpanan produk juga memengaruhi apakah komponen aktif itu masih utuh saat sampai ke konsumen.

Risiko Alergi Protein Susu Sapi

Aspek yang paling penting untuk bayi justru bukan soal efektivitas, melainkan keamanan. Kolostrum sapi adalah produk turunan susu sapi, sehingga mengandung protein susu sapi. Pada bayi dengan alergi protein susu sapi (cow's milk protein allergy), paparan terhadap protein ini berpotensi memicu reaksi, baik melalui konsumsi maupun, pada sebagian kasus, melalui kontak di kulit.

Kelompok yang perlu lebih berhati-hati adalah bayi dengan riwayat eksim atau dermatitis atopik. Pada kulit yang barrier-nya sudah terganggu, protein asing lebih mudah menembus dan berinteraksi dengan sistem imun, sehingga risiko sensitisasi menjadi perhatian tersendiri di kalangan dokter anak dan alergi.

Menurut dokter spesialis anak konsultan alergi dr. Raka Wibisana, SpA, orang tua dari bayi atopik sebaiknya tidak mencoba bahan ini tanpa pertimbangan matang:

Pada bayi yang memang alergi susu sapi atau punya kulit sangat sensitif, mengoleskan produk berbasis kolostrum sapi membawa risiko yang tidak sebanding dengan manfaat yang belum terbukti. Lebih bijak memilih bahan dengan rekam jejak keamanan yang sudah panjang, ujar dr. Raka.

Dorongan Media Sosial

Tren kolostrum di skincare sebagian besar tumbuh dari ruang yang tidak terlalu ketat soal verifikasi, yaitu konten kreator dan iklan media sosial. Narasi bahan eksklusif yang langka dan padat nutrisi cocok untuk format video pendek, dan sering dibingkai seolah kebaruan bahan setara dengan keunggulan. Pola serupa pernah terlihat pada bahan tren sebelumnya, ketika perhatian publik datang lebih cepat daripada data pendukungnya.

Di pasar yang lebih matang seperti Amerika Serikat dan beberapa negara Eropa, badan pengawas dan asosiasi dermatologi cenderung menekankan pentingnya membedakan klaim pemasaran dari bukti yang sudah ditinjau sejawat. Untuk produk yang menyasar bayi, kehati-hatian itu biasanya berlapis, mengingat data keamanan pada populasi ini memang lebih sulit dikumpulkan.

Konteks BPOM dan Indonesia

Di Indonesia, setiap produk perawatan kulit yang beredar wajib memiliki notifikasi dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM). Notifikasi ini menandakan produk telah didaftarkan dan memenuhi persyaratan dasar peredaran kosmetik. Untuk bahan yang berstatus tren seperti kolostrum, langkah paling praktis bagi orang tua adalah memeriksa nomor notifikasi produk melalui kanal resmi BPOM sebelum membeli.

Perlu dicatat bahwa notifikasi BPOM berlaku untuk produk sebagai kosmetik, bukan sebagai pernyataan bahwa suatu bahan terbukti memberi manfaat tertentu. Produk kosmetik diposisikan untuk merawat dan menjaga kulit, bukan untuk mengobati. Klaim yang terdengar seperti pengobatan, atau yang menjanjikan hasil berlebihan pada kulit bayi, sebaiknya dibaca dengan skeptis terlepas dari sepopuler apa bahannya.

Bahan dengan Rekam Jejak Lebih Kuat

Untuk tujuan utama perawatan kulit bayi, yaitu menjaga dan memperkuat skin barrier, beberapa bahan sudah memiliki dukungan data yang jauh lebih mapan dibanding kolostrum. Bahan-bahan ini lazim direkomendasikan untuk kulit sensitif maupun kulit cenderung eksim.

  • Ceramide (ceramide atau seramida): komponen alami lapisan kulit yang membantu mengunci kelembapan dan memperkuat pelindung kulit.
  • Glycerin (glycerin atau gliserin): humektan yang menarik dan menahan air di lapisan kulit, dengan rekam keamanan yang sangat panjang.
  • Panthenol (panthenol atau provitamin B5): membantu menenangkan kulit dan mendukung kelembapan.
  • Colloidal oatmeal (colloidal oatmeal atau oat koloidal): dikenal membantu meredakan rasa gatal dan iritasi ringan pada kulit sensitif.

Kombinasi bahan-bahan ini menjadi dasar banyak produk pelembap yang direkomendasikan untuk bayi dan kulit atopik, justru karena profil keamanannya sudah teruji lintas waktu dan lintas populasi.

Kapan Harus Konsultasi ke Dokter

Sebelum mencoba produk dengan bahan tren pada bayi, konsultasi dengan dokter anak atau dokter spesialis kulit dianjurkan, terutama jika bayi memiliki riwayat alergi susu sapi, eksim, atau kulit yang mudah bereaksi. Bila muncul kemerahan, bengkak, ruam yang meluas, atau gangguan napas setelah pemakaian produk apa pun, pemakaian perlu segera dihentikan dan kondisi bayi diperiksa oleh tenaga medis. Untuk kulit bayi yang sehat sekalipun, uji pemakaian pada area kecil lebih dahulu adalah langkah yang masuk akal.


NeoCare memilih fokus pada bahan dengan rekam jejak yang lebih kuat untuk menjaga skin barrier kulit bayi, seperti ceramide, glycerin, dan panthenol. Produk NeoCare telah melalui uji dermatologis, terdaftar dan ternotifikasi BPOM, serta dirancang untuk rentang kulit dari bayi baru lahir hingga kulit dewasa sensitif, tanpa menyertakan bahan aktif yang masih sebatas tren.

Untuk diskusi memilih produk yang sesuai dengan kondisi kulit si kecil, tim NeoCare dapat dihubungi melalui WhatsApp.

Butuh Rekomendasi Produk?

Tim kami bisa bantu cari produk NeoCare yang paling cocok untuk kulit keluarga Anda.

Konsultasi via WhatsApp

Produk Terkait

Artikel Terkait