writer: kiki
SLS dan SLES dalam Sabun Bayi: Apakah Bahan Pembuat Busa Ini Aman untuk Kulit Sensitif?
Sabun bayi yang berbusa banyak sering jadi favorit karena terasa "bersih" saat dipakai. Tapi bahan yang menghasilkan busa itu — sodium lauryl sulfate dan turunannya — termasuk salah satu yang paling sering disalahkan saat kulit bayi tiba-tiba kering atau iritasi.
Mira (31), ibu dari bayi perempuan berusia 4 bulan di Surabaya, sempat panik saat kulit anaknya yang sebelumnya mulus tiba-tiba berubah jadi kasar dan kemerahan di area dada serta punggung. Dia baru ganti sabun bayi seminggu sebelumnya, mengikuti rekomendasi dari grup ibu-ibu di Instagram. "Sabunnya berbusa banyak banget, jadi saya pikir lebih bersih. Eh ternyata anak saya alergi," ceritanya.
Kasus seperti Mira tidak jarang terjadi. Data Klinik Kulit Anak RSAB Harapan Kita Jakarta tahun 2025 mencatat sekitar 18 persen kunjungan pediatrik dermatologi terkait dermatitis iritan kontak akibat surfaktan dalam produk perawatan harian, dengan SLS dan SLES sebagai dua bahan yang paling sering diidentifikasi sebagai penyebab.
Apa Itu SLS dan SLES
Sodium lauryl sulfate (SLS) dan sodium laureth sulfate (SLES) adalah surfaktan anionik yang berfungsi sebagai pembersih dan pembuat busa dalam sabun, sampo, dan pembersih wajah. Keduanya berasal dari kelapa atau kelapa sawit, tapi melalui proses kimia yang menghasilkan struktur molekul yang sangat efektif mengikat minyak dan kotoran untuk dilepaskan dari permukaan.
Menurut dr Aris Adityo Martapantja, SpKK, Konsultan Dermatologi Anak dari RS Hermina Bekasi, perbedaan SLS dan SLES penting untuk dipahami orang tua:
"SLES adalah hasil etoksilasi dari SLS, yang membuat molekulnya lebih besar dan lebih lembut. SLES masih bisa menimbulkan iritasi tapi level iritasinya lebih rendah dibanding SLS murni. Tapi keduanya tetap surfaktan yang bisa merusak skin barrier kalau dipakai pada kulit yang sangat sensitif atau frequently," ujar dr Aris.
Mekanisme SLS Mempengaruhi Kulit Bayi
Untuk memahami kenapa SLS bisa menyebabkan iritasi, penting mengerti struktur skin barrier bayi. Lapisan terluar kulit bayi (stratum corneum) dilapisi oleh campuran ceramide, asam lemak, dan kolesterol yang membentuk barrier kedap air.
SLS bekerja dengan cara yang sangat efektif: molekulnya mengikat lemak, termasuk lipid yang menjaga skin barrier. Pada penggunaan berlebihan atau pada kulit yang sudah tipis (seperti kulit bayi yang skin barrier-nya 30 persen lebih tipis dari kulit dewasa), SLS dapat menghilangkan lipid pelindung lebih cepat dari kemampuan kulit untuk regenerasi.
Hasilnya adalah kulit yang terasa "bersih" sesaat setelah mandi, tapi mengering, gatal, dan rentan iritasi dalam beberapa jam berikutnya.
Studi Konsentrasi SLS pada Produk Bayi
Riset yang sering dirujuk dalam komunitas dermatologi pediatrik adalah studi dari Cosmetic Ingredient Review (CIR) Panel tahun 2023 yang menganalisis 156 produk sabun dan sampo bayi yang beredar di pasar global.
Temuan menarik dari studi ini:
- 32 persen produk yang berlabel "untuk bayi" mengandung SLS dengan konsentrasi 5-15 persen
- 41 persen mengandung SLES dengan konsentrasi 8-20 persen
- 27 persen menggunakan surfaktan alternatif lebih lembut (seperti coco glucoside atau sodium cocoyl isethionate)
- Produk berlabel "tear-free" tidak otomatis bebas SLS atau SLES
Konsentrasi SLS di atas 5 persen pada produk yang dipakai harian di kulit bayi dianggap berisiko menyebabkan kekeringan kumulatif dalam 2-4 minggu pemakaian rutin.
Reaksi yang Sering Muncul pada Bayi
Tidak semua bayi yang dimandikan dengan sabun mengandung SLS akan mengalami iritasi. Tapi pada bayi dengan kulit sensitif atau riwayat keluarga atopi, beberapa reaksi yang sering dilaporkan:
- Kulit kering dengan tekstur kasar dalam 1-2 minggu pemakaian rutin
- Kemerahan ringan di area lipatan (leher, ketiak, lipatan paha)
- Gatal yang bikin bayi rewel saat akan tidur
- Pengelupasan halus di permukaan kulit, terutama setelah mandi
- Dermatitis kontak dengan ruam yang lebih jelas pada kulit bayi dengan eksim atopik
Kasus yang lebih serius bisa berupa flare-up eksim atopik bagi bayi yang sudah memiliki kondisi tersebut sebelumnya.
Surfaktan Alternatif yang Lebih Ramah Kulit Bayi
Industri skincare bayi telah mengembangkan beberapa alternatif yang memberikan kemampuan membersihkan dengan iritasi yang lebih rendah:
Coco glucoside. Surfaktan non-ionik yang berasal dari kelapa dan glukosa. Sangat lembut, biasanya dipakai di produk untuk kulit sensitif. Membusa lebih sedikit dibanding SLS tapi tetap efektif membersihkan.
Sodium cocoyl isethionate. Disebut juga SCI, surfaktan dengan struktur yang sangat lembut. Sering ditemukan di sabun batang untuk kulit sensitif dan produk pembersih wajah pediatrik.
Decyl glucoside. Mirip coco glucoside, sering digunakan di sampo bayi premium. pH-nya mendekati netral, cocok untuk kulit yang sangat sensitif.
Lauryl glucoside. Surfaktan lembut yang sering dikombinasi dengan coco glucoside untuk meningkatkan kemampuan membusa tanpa memperbesar potensi iritasi.
Cara Membaca Label dengan Benar
Untuk orang tua yang ingin menghindari atau mengurangi paparan SLS pada bayi, beberapa hal perlu diperhatikan saat membaca label:
Perhatikan urutan ingredient list. Bahan yang dicantumkan di posisi 3-5 pertama adalah komponen mayor formula. Kalau SLS atau SLES ada di posisi tersebut, konsentrasinya tinggi.
Klaim "natural" atau "organic" tidak otomatis berarti bebas SLS. Banyak produk natural yang masih menggunakan SLES karena efektivitas pembersihannya yang baik.
Klaim "hypoallergenic" juga tidak diatur secara ketat di Indonesia. Verifikasi dengan membaca daftar bahan tetap merupakan langkah yang lebih dapat diandalkan.
Cari produk dengan label "SLS-free" atau "sulfate-free" yang biasanya menggunakan surfaktan alternatif yang lebih lembut.
Kapan Harus Konsultasi Dokter
Beberapa tanda yang menunjukkan reaksi terhadap SLS sudah cukup serius dan butuh evaluasi dokter:
- Ruam yang menyebar lebih dari 5 hari setelah berhenti pakai produk yang dicurigai
- Kulit pecah-pecah dengan cairan bening keluar
- Bayi tidak bisa tidur karena gatal
- Riwayat eksim yang flare-up secara signifikan setelah ganti sabun
Pada kasus seperti ini, dokter kulit anak dapat melakukan patch test untuk memastikan bahan spesifik penyebab dan merekomendasikan formulasi pengganti yang sesuai.
Yang Perlu Diingat
Pemakaian sabun yang mengandung SLS pada bayi tidak otomatis berbahaya, terutama kalau pemakaian sesekali pada bayi dengan skin barrier yang sehat. Yang menjadi perhatian adalah pemakaian rutin harian pada bayi dengan kulit sensitif atau riwayat keluarga atopi.
Untuk pemakaian harian, surfaktan alternatif yang lebih lembut memberikan kemampuan membersihkan yang cukup tanpa menggerus skin barrier yang masih dalam fase maturasi. Membaca daftar bahan dan memahami konsentrasi relatif setiap surfaktan membantu orang tua memilih produk yang sesuai kondisi spesifik kulit anaknya.
Konsultasi dengan dokter kulit anak juga membantu menentukan apakah reaksi yang muncul terkait surfaktan tertentu atau penyebab lain yang perlu pendekatan berbeda.




