Anak Digigit Temannya di Daycare: Kapan Perlu ke Dokter
Gigitan antar-anak adalah insiden yang paling sering dicatat di buku laporan tempat penitipan anak, dan hampir selalu jadi kabar yang bikin orang tua panik saat menjemput. Padahal keseriusannya ditentukan satu hal yang bisa dicek dalam sepuluh detik: apakah kulitnya robek.
Angkanya menjelaskan kenapa. Studi kohort Garrard dan kawan-kawan yang terbit di American Journal of Diseases of Children mengikuti 224 anak di satu tempat penitipan selama setahun. Sebanyak 104 anak (46 persen) mengalami total 347 insiden gigitan, dengan laju 1,5 gigitan per 100 hari-anak kehadiran.
Studi lain oleh Solomons dan Elardo mengikuti 133 anak selama 3,5 tahun dan mencatat 66 anak (50 persen) pernah digigit, dengan total 224 kejadian. Dari 224 gigitan itu, hanya 4 atau sekitar 2 persen yang sampai merobek kulit.
Jadi mayoritas besar kejadian berhenti di bekas merah dan tangisan. Sisanya yang kecil itulah yang punya aturan penanganan sendiri, dan aturannya berbeda dari luka lecet biasa.
Kenapa Balita Menggigit, dan Kenapa Selalu di Penitipan
Menggigit adalah perilaku perkembangan yang lazim pada usia 16 sampai 30 bulan. Anak di rentang ini sudah punya keinginan yang kuat tapi kosakatanya belum cukup untuk menyampaikannya. Saat mainan direbut atau ruang geraknya terdesak, mulut jadi alat yang paling cepat dipakai.
Ruang penitipan memperbesar peluangnya karena kepadatan. American Academy of Pediatrics menempatkan menggigit sebagai perilaku yang umum pada anak kecil dan biasanya tidak menimbulkan masalah penyakit menular yang serius. Pernyataan Canadian Paediatric Society bahkan memperkirakan, pada tempat penitipan dengan 60 anak berusia di bawah tiga tahun, kejadian menggigit mendekati satu episode per hari.
Laju tertinggi pada kedua studi di atas sama-sama ada di kelompok batita, dan sebagian besar luka mengenai lengan serta wajah.
Gigitan Tertutup dan Kenapa Mulut Lebih Kotor dari Dugaan
Gigitan anak ke anak masuk kategori occlusional bite, yaitu gigitan dengan gigi mengatup pada permukaan kulit. Di literatur medis, luka jenis ini pada anak umumnya dangkal dan jarang berkembang jadi infeksi.
Yang perlu dipahami orang tua adalah alasan mengapa sisa 2 persen itu diperlakukan lebih hati-hati daripada lutut yang terkelupas. Mulut manusia membawa campuran bakteri aerob dan anaerob, termasuk Eikenella corrodens, Staphylococcus aureus, dan streptokokus alfa-hemolitik. Saat gigi menembus kulit, bakteri itu terdorong ke jaringan yang lebih dalam lewat lubang sempit yang menutup cepat di permukaan. Secara keseluruhan, sekitar 10 sampai 15 persen luka gigitan manusia berkembang menjadi infeksi.
Lokasi juga menentukan. Gigitan di tangan punya risiko infeksi lebih tinggi dibanding lokasi lain karena di bawah kulit punggung tangan langsung ada selubung tendon dan kapsul sendi, dengan jaringan penyangga yang tipis.
Kalau Kulitnya Tidak Robek
Penanganannya sederhana dan berhenti di rumah. Cuci area dengan sabun dan air, tempelkan kompres dingin pada bagian yang memar, lalu tenangkan anak. Tidak perlu antiseptik, tidak perlu antibiotik, tidak perlu ke dokter.
Bekas gigitan tanpa luka terbuka akan melewati siklus memar seperti benturan lain, berubah dari merah ke keunguan lalu kekuningan dalam beberapa hari. Kalau memar pada anak terasa terlalu mudah muncul atau lama hilang, pola itu dibahas terpisah di artikel tentang kulit bayi yang mudah lebam.
Kalau Kulitnya Robek: Urutan yang Dianjurkan
Canadian Paediatric Society menetapkan urutan yang cukup spesifik untuk gigitan yang melukai kulit di lingkungan penitipan.
1. Biarkan darahnya keluar sendiri Jangan diperas atau dipencet. Perdarahan ringan yang mengalir keluar membantu membawa kontaminan dari dalam luka, sedangkan memencet justru mendorong bakteri lebih dalam dan merusak jaringan di sekitarnya.
2. Cuci dengan sabun dan air Bagian ini yang paling menentukan hasil akhirnya, dan paling sering diburu-buru. Cuci menyeluruh di bawah air mengalir, bukan sekadar diusap tisu basah.
3. Oleskan antiseptik ringan Setelah bersih dan kering, antiseptik ringan boleh dipakai. Hindari menuang alkohol langsung ke luka terbuka pada anak.
4. Jangan ditutup rapat Luka gigitan manusia pada umumnya dibiarkan sembuh secara terbuka dan tidak dijahit, justru untuk mencegah bakteri terkurung di ruang tertutup. Keputusan untuk menjahit, misalnya pada luka wajah dengan pertimbangan kosmetik, adalah wewenang dokter setelah luka dibersihkan menyeluruh.
5. Catat kejadiannya Minta pengelola mencatat waktu, lokasi luka di tubuh, dan tindakan yang sudah diberikan. Foto luka di hari kejadian sangat membantu saat membandingkan perkembangannya 24 jam kemudian.
Kapan Antibiotik Masuk Pertimbangan Dokter
Tidak semua luka gigitan yang robek butuh antibiotik. Canadian Paediatric Society menyebut antibiotik pencegahan hanya dipertimbangkan untuk gigitan yang menyebabkan kerusakan jaringan sedang sampai berat, luka tusuk yang dalam, atau gigitan di wajah, tangan, kaki, dan area kelamin yang lebih dari sekadar lecet permukaan. Mereka juga mencatat bahwa kondisi seperti ini jarang ditemui di tempat penitipan.
AAP menganjurkan konsultasi ke tenaga kesehatan anak bila kulitnya robek, karena antibiotik pencegahan bisa jadi diperlukan pada sebagian kasus. Pilihan obatnya adalah keputusan dokter, bukan sesuatu yang diambil dari sisa resep anggota keluarga yang lain.
Bawa anak ke fasilitas kesehatan pada hari kejadian bila lukanya dalam, berada di tangan atau wajah, perdarahannya sulit berhenti, atau anak enggan menggerakkan jari di dekat luka.
Status Tetanus yang Perlu Dicek
Tinjau catatan imunisasi anak setiap kali ada luka yang menembus kulit. Jadwal Ikatan Dokter Anak Indonesia memberikan penguat DTP pada usia 18 bulan dan sekali lagi pada usia 5 tahun, lalu dilanjutkan lewat program Bulan Imunisasi Anak Sekolah di jenjang SD. Buku KIA adalah tempat pertama untuk memastikan statusnya sebelum berangkat ke klinik. Pertimbangan yang sama berlaku pada jenis luka tembus lain, seperti yang dibahas di panduan anak tertusuk paku.
Soal Hepatitis dan HIV, Kekhawatiran yang Paling Sering Muncul
Canadian Paediatric Society menyatakan belum pernah ada laporan penularan HIV di tempat penitipan anak. Untuk hepatitis C, mereka juga mencatat tidak ada laporan penularan di lingkungan penitipan. Risiko penularan hepatitis B dari anak yang menggigit dinilai sangat rendah, dengan laporan yang sifatnya langka.
Jalur penularan teoretisnya memang ada, yaitu bila kulit robek dan darah bertukar, misalnya saat penggigit punya gusi berdarah atau sariawan terbuka. Karena itu penanganan khusus baru dipertimbangkan pada situasi yang jelas melibatkan pertukaran darah, dan penilaiannya dilakukan tenaga kesehatan pada hari yang sama.
Tanda Infeksi yang Tidak Boleh Ditunggu
Perhatikan luka selama 48 jam pertama. Bawa ke dokter bila muncul bengkak yang bertambah setelah 24 sampai 48 jam, nyeri yang justru meningkat, keluar nanah, demam, atau anak menolak menggunakan bagian tubuh yang tergigit.
Kemerahan yang menjalar keluar dari tepi luka termasuk tanda yang perlu dinilai cepat. Menandai batas kemerahan dengan pulpen dan mencatat jamnya membuat perkembangannya terukur, cara yang juga dipakai pada selulitis pada anak. Luka terbuka di lingkungan penitipan juga bisa jadi pintu masuk impetigo, yang penularannya cepat di antara anak seusia.
Merawat Bekasnya Setelah Sembuh
Setelah fase akut lewat, urusannya berpindah ke kulit. Jaga area tetap lembap sesuai anjuran dokter dan cegah anak mengelupas koreng yang terbentuk, karena koreng yang dicungkil berulang membuat warnanya lebih gelap saat sembuh.
Kulit baru juga sangat mudah menggelap kalau terkena matahari, sehingga menutupnya dengan pakaian selama beberapa bulan pertama lebih praktis daripada mengandalkan tabir surya. Untuk luka yang cukup dalam, bekasnya berpeluang menebal dan gatal setelah beberapa minggu, dan pola itu dijelaskan di artikel tentang keloid dan bekas luka pada anak.
Sisi Sosialnya di Tempat Penitipan
AAP menganjurkan pengelola memberitahu orang tua kedua anak tanpa membuka identitas masing-masing kepada keluarga yang lain. Anak yang digigit diberi pertolongan pertama, sedangkan anak yang menggigit diarahkan ulang perilakunya tanpa hukuman, dengan didorong menyampaikan keinginannya lewat kata-kata.
Pemulangan anak dari penitipan hanya dianjurkan bila gigitannya merobek kulit atau perdarahannya berkepanjangan sehingga butuh penanganan tenaga kesehatan. Bila perilaku menggigit tetap berlanjut setelah strategi pengalihan dijalankan konsisten selama 3 sampai 4 minggu, AAP menyarankan mencari bantuan profesional.
Menuntut pengelola memindahkan anak yang menggigit jarang menyelesaikan akar masalahnya, karena perilaku ini melekat pada tahap usia, bukan pada satu anak tertentu.
Pertanyaan yang Sering Diajukan
Bekas gigitan anak terlihat jelas berbentuk gigi tapi kulitnya utuh. Perlu ke dokter? Tidak perlu. Cuci dengan sabun dan air, kompres dingin untuk memarnya, dan pantau selama dua hari. Bentuk lengkung gigi yang terlihat jelas menandakan tekanannya cukup kuat, tapi selama tidak ada kulit yang terbuka, penanganannya berhenti di rumah.
Anak saya yang menggigit. Apakah dia berisiko tertular sesuatu? Risiko mengalir dua arah, dan besarnya tetap sangat rendah di lingkungan penitipan. Bila ada darah dari anak yang digigit masuk ke mulutnya, sampaikan kejadiannya saat berkonsultasi agar dinilai langsung.
Boleh langsung diolesi antibiotik krim dari apotek? Untuk luka gigitan yang robek, pemeriksaan lebih dulu lebih tepat daripada mengoles krim sendiri. Krim bisa menutupi tanda infeksi awal yang justru ingin dipantau dalam 48 jam pertama, dan kebutuhan antibiotik pada luka gigitan dinilai dari kedalaman serta lokasinya.
Apa bedanya dengan digigit hewan? Penilaian rabies tidak berlaku pada gigitan antar-manusia, sehingga urgensinya berbeda. Prosedur pencucian dan pemantauan infeksi bakterinya mirip, dan untuk gigitan hewan pembahasannya ada di panduan anak digigit anjing atau dicakar kucing.
Perlu dicatat, artikel ini bersifat informasi umum dan tidak menggantikan pemeriksaan langsung. Untuk gigitan yang merobek kulit anak, penilaian tenaga kesehatan tetap diperlukan pada hari kejadian.



