7x Ceramide Formulated in Germany • Gentle care for sensitive skin, all ages

Baby Care5 menit2026-06-09

Angular Cheilitis pada Anak: Sudut Bibir Pecah, Bukan Eksim

Angular cheilitis pada anak bikin sudut bibir luka dan pecah, sering disangka bibir kering atau eksim. Kenali penyebab, penanganan, dan kapan ke dokter.


writer: kiki

Angular Cheilitis pada Anak: Sudut Bibir Pecah dan Luka, Bukan Eksim Biasa

Rara (29), ibu dari balita 2 tahun di Bekasi, sempat bolak-balik ganti lip balm karena sudut bibir anaknya luka, merah, dan pecah-pecah sampai berdarah kalau si kecil nangis atau ngunyah. Dikira bibir kering biasa, dikasih madu, dikasih minyak kelapa, tetap nggak sembuh malah tambah perih. Ternyata yang dialami anak Rara bukan bibir kering, bukan eksim, tapi angular cheilitis, peradangan di sudut mulut yang punya pemicu dan penanganan sendiri.

Angular cheilitis, atau dalam istilah medis disebut cheilitis angularis atau perlèche, adalah peradangan dan retakan (fissure) di salah satu atau kedua sudut bibir. Pada anak, kondisi ini sering banget muncul di mereka yang masih ngiler banyak (drooling), pakai empeng, atau punya kebiasaan ngemut jari. Pedoman dermatologi anak American Academy of Dermatology (AAD) memasukkan angular cheilitis sebagai kondisi multifaktorial, artinya jarang cuma satu penyebab, biasanya kombinasi lembap berlebih plus infeksi plus faktor gizi.

Seperti Apa Angular Cheilitis Itu

Spesialis dermatologi dan venereologi anak dr. Srie Prihianti Gondokaryono, SpKK(K), PhD, dari Departemen Dermatologi dan Venereologi FK Universitas Padjadjaran-RSUP Hasan Sadikin menjelaskan tampilan khasnya:

"Angular cheilitis itu lesinya spesifik di komisura, yaitu titik pertemuan bibir atas dan bawah di sudut mulut. Awalnya kulit di situ tampak pucat dan basah karena terus-terusan kena air liur, lalu muncul retakan memanjang ke arah pipi, kemerahan, kadang berkerak atau bernanah kalau sudah ada infeksi sekunder. Yang membedakan dari bibir pecah-pecah biasa adalah lokasinya yang terpaku di sudut, bukan menyebar di seluruh permukaan bibir," ujar dr. Srie.

Pola ini yang sering bikin orang tua keliru. Bibir kering kena seluruh permukaan bibir dan terasa di tengah; angular cheilitis nempel di pojokan, simetris kiri-kanan, dan jarang sembuh cuma dengan pelembap bibir karena akar masalahnya bukan sekadar kurang lembap.

Kenapa Sering Disangka Bibir Pecah, Eksim, atau Drool Rash

Tiga kondisi ini paling sering ketuker sama angular cheilitis, padahal penanganannya beda.

Bibir pecah-pecah (chapped lips). Bibir kering kena cuaca, AC, atau kebiasaan jilat bibir. Lesinya merata di permukaan bibir, mengelupas halus, dan biasanya membaik dalam beberapa hari dengan pelembap. Kalau retakan terpaku di sudut dan nggak sembuh lebih dari seminggu walau sudah rajin dioles, itu sinyal bukan chapped lips biasa.

Eksim (dermatitis atopik). Eksim di area wajah anak biasanya menyebar di pipi, dahi, dan sekitar mulut secara luas, gatal, dan sering ada riwayat eksim di lipatan siku atau lutut. Angular cheilitis lebih terlokalisir, dominan perih ketimbang gatal, dan terpusat di komisura.

Drool rash (ruam air liur). Ruam karena ngiler memang muncul di sekitar mulut, dagu, dan leher, berupa kemerahan luas dan kasar. Tapi drool rash menyebar di seluruh area yang kena liur, sementara angular cheilitis menggumpal di sudut bibir dengan retakan yang dalam. Keduanya bisa muncul bareng pada bayi yang lagi tumbuh gigi, dan ini yang sering bikin diagnosis jadi rumit.

Pemicunya Banyak: Liur, Infeksi, dan Gizi

Inilah kenapa angular cheilitis sering bandel. Penyebabnya jarang tunggal.

Genangan air liur di sudut bibir. Anak yang banyak ngiler, pakai empeng, atau ngemut jari bikin sudut mulutnya lembap terus-terusan. Lipatan kulit di komisura jadi tempat liur menggenang, kulit melunak (maserasi), lalu retak. Retakan ini jadi pintu masuk kuman. AAD menyebut siklus lembap-retak-infeksi ini sebagai inti masalah angular cheilitis pada anak kecil.

Infeksi jamur atau bakteri. Begitu kulit retak, dua biang kerok paling umum masuk: jamur Candida albicans dan bakteri Staphylococcus aureus. Literatur dermatologi anak mencatat Candida sebagai penyebab tersering pada anak yang pakai empeng atau habis pakai antibiotik. Kalau sudut bibir tampak putih kemerahan dan basah, biasanya arahnya Candida; kalau berkerak madu kekuningan, curiga Staph.

Kekurangan gizi. Defisiensi zat besi, zinc, vitamin B kompleks, terutama riboflavin (B2), B6, dan B12, sudah lama dikaitkan dengan angular cheilitis yang berulang. Konsensus gizi-dermatologi menyebut angular cheilitis sebagai salah satu tanda klinis awal defisiensi riboflavin dan zat besi. Pada anak Indonesia yang pola makannya kurang variasi atau yang anemia, kondisi ini bisa kambuh terus walau sudut bibirnya rajin diobati.

Karena pemicunya tumpang tindih, kadang anak butuh penanganan beberapa lapis sekaligus, bukan cuma salep di permukaan.

Penanganan dan Memutus Siklus Lembap

Prinsip penanganannya: keringkan, lindungi, obati infeksi kalau ada, dan benahi gizi. Langkah praktis yang biasa disarankan dokter:

Kurangi sumber liur menggenang. Kalau anak masih pakai empeng dan sudah cukup umur untuk disapih dari empeng, ini momen baik untuk mulai mengurangi. Lap sudut mulut anak dengan lembut setiap habis makan atau ngiler banyak, jangan digosok keras.

Pakai salep barrier. Oleskan salep pelindung berbahan petrolatum atau zinc oxide di sudut bibir, terutama sebelum tidur dan setelah dibersihkan. Salep barrier ini mencegah liur meresap ke kulit yang sudah retak, memberi kesempatan kulit menyembuh.

Obati infeksinya kalau memang ada. Kalau dokter menemukan tanda Candida, biasanya diresepkan krim antijamur seperti nystatin atau clotrimazole. Kalau ada infeksi bakteri, krim antibiotik seperti mupirocin. Salep kombinasi antijamur-antibakteri-antiradang kadang dipakai untuk kasus yang belum jelas penyebabnya, tapi pemakaiannya tetap harus atas resep dokter, bukan tebak-tebakan sendiri.

Benahi asupan gizi. Kalau angular cheilitis sering kambuh, dokter mungkin cek kadar zat besi dan menyarankan perbaikan menu. Sumber riboflavin dan B kompleks gampang didapat dari telur, hati ayam, susu, sayuran hijau, dan kacang-kacangan. Untuk anak yang anemia, suplementasi zat besi biasanya jadi bagian dari penanganan.

Yang sering kelewat: salep saja nggak cukup kalau siklus lembapnya nggak diputus. Banyak anak yang sudut bibirnya membaik beberapa hari, lalu kambuh lagi karena empeng dan liurnya tetap menggenang di situ. Memutus sumber lembap sama pentingnya dengan mengobati lukanya.

Kapan Harus ke Dokter

Beberapa kondisi yang sebaiknya bikin orang tua bawa anak ke dokter, jangan ditunda:

Sudut bibir luka dan nggak membaik dalam 1 sampai 2 minggu walau sudah dioles salep barrier dan dijaga kering.

Muncul nanah, kerak kuning tebal, bengkak, atau anak demam, karena ini tanda infeksi yang butuh obat resep.

Angular cheilitis kambuh berulang dalam beberapa bulan, yang bisa jadi petunjuk ada defisiensi gizi atau anemia yang belum ketahuan.

Anak tampak pucat, lemas, kurang nafsu makan, atau berat badannya seret, kombinasi yang mengarah ke kemungkinan kurang zat besi.

Lesinya menyebar lebih luas dari sudut bibir, gatal hebat, atau ada riwayat eksim, supaya dokter bisa pastikan ini angular cheilitis murni atau bercampur kondisi kulit lain.

Sudut bibir anak yang luka memang kelihatan sepele, tapi kalau dibiarkan bisa bikin si kecil rewel, susah makan, dan lukanya jadi pintu infeksi. Kabar baiknya, sebagian besar angular cheilitis pada anak sembuh penuh begitu pemicunya ditemukan dan ditangani sesuai akar masalahnya. Kalau ragu apakah ini bibir kering biasa atau angular cheilitis, lebih aman konsultasi ke dokter spesialis anak atau dokter kulit daripada terus coba-coba pelembap sendiri di rumah.

Butuh Rekomendasi Produk?

Tim kami bisa bantu cari produk NeoCare yang paling cocok untuk kulit keluarga Anda.

Konsultasi via WhatsApp

Produk Terkait

Artikel Terkait