Bintitan dan Kalazion pada Anak: Beda Keduanya dan Kenapa Bisa Berulang
Benjolan di kelopak mata anak biasanya memicu dua reaksi di rumah. Orang tua menebak penyebabnya dari kebiasaan si anak, lalu mencoba memencetnya. Keduanya jarang membantu.
Sekelompok peneliti di Jepang menelusuri siapa yang paling sering mengalami keluhan ini lewat basis data klaim asuransi kesehatan nasional negara itu, yang mencakup lebih dari 95 persen klaim medis di sana. Menyisir 1.104.078 tindakan sepanjang 2014 sampai 2022, mereka menemukan puncak tindakan untuk bintitan berada di kelompok usia 10 sampai 14 tahun, yaitu 102,4 per 100.000 anak per tahun pada perempuan dan 82,9 pada laki-laki. Angka itu lebih tinggi daripada kelompok usia dewasa mana pun dalam data mereka. Hasilnya terbit di jurnal Ophthalmology Science pada 2026.
Bintitan adalah persoalan anak-anak. Dan meski keluhannya muncul di mata, akar masalahnya duduk di kulit tepi kelopak.
Dua Benjolan dengan Nama yang Sering Ditukar
Hordeolum, yang di Indonesia lebih dikenal sebagai bintitan atau timbilan, adalah infeksi bakteri akut pada kelenjar di tepi kelopak mata. Kumannya paling sering Staphylococcus aureus, bakteri yang sama yang berperan pada bisul dan impetigo. Munculnya cepat, dalam hitungan satu sampai dua hari, dan anak mengeluh sakit.
Kalazion terbentuk lewat jalur berbeda. Kelenjar minyak di dalam kelopak, namanya kelenjar Meibom, tersumbat. Minyaknya tidak bisa keluar, menumpuk di dalam jaringan, dan tubuh membungkusnya sebagai benjolan peradangan yang tidak terinfeksi. Tumbuhnya pelan, kadang berminggu-minggu, dan biasanya tidak nyeri.
Survei terhadap 80 anggota Korean Society of Ophthalmic Plastic and Reconstructive Surgery yang dijalankan Desember 2024 dan terbit di Korean Journal of Ophthalmology 2025 menanyakan hal sederhana kepada para dokter mata: apa yang mereka pakai untuk membedakan keduanya. Jawaban terbanyak adalah tiga hal yang sama, yaitu kemerahan, pembengkakan, dan nyeri.
Jadi patokan di rumah pun bisa sesederhana itu. Benjolan yang merah menyala, hangat, dan membuat anak menghindar saat disentuh mengarah ke bintitan. Benjolan yang bulat, kenyal, sewarna kulit, dan tidak dikeluhkan sakit mengarah ke kalazion. Bengkak mendadak pada kelopak yang tidak berbentuk benjolan berbatas tegas adalah gambaran lain lagi, dan pembedanya diulas terpisah di artikel angioedema pada anak.
Bedanya menentukan penanganannya. Bintitan sering butuh antibiotik. Kalazion tidak, karena tidak ada kuman yang perlu dibunuh di sana.
Kelenjar yang Tersumbat Itu Kelenjar Minyak Kulit
Bagian yang jarang dijelaskan kepada orang tua: kelenjar Meibom adalah kelenjar sebasea, kelompok yang sama dengan kelenjar minyak di kulit kepala dan wajah. Isinya lipid, dan lipid itu punya titik leleh. Ketika komposisinya berubah menjadi lebih padat, salurannya lebih mudah mampat.
Karena itu daftar faktor yang memudahkan kalazion terbaca seperti daftar masalah kulit, bukan masalah mata: peradangan menahun di tepi kelopak, kebersihan kelopak yang kurang, dan dermatitis seboroik. Anak yang punya dermatitis seboroik infantil atau riwayat cradle cap yang berat berada di kelompok yang sama.
Anak dengan eksim kelopak mata juga lebih rentan lewat jalur lain, yaitu gosokan. Mata yang gatal digosok berkali-kali sehari, dan gosokan itu memindahkan bakteri dari tangan ke tepi kelopak sekaligus melukai lapisan pelindung kulit yang di area ini memang paling tipis di seluruh tubuh.
Soal Kebiasaan Mengintip
Di banyak keluarga Indonesia, bintitan dibaca sebagai hukuman atas kebiasaan mengintip. Kepercayaan ini bertahan karena waktunya sering cocok. Bintitan paling banyak menyerang anak usia sekolah, usia yang sama ketika anak sedang paling sering ditegur soal batas privasi orang lain.
Mekanismenya sendiri tidak menyisakan ruang untuk itu. Yang menyumbat kelenjar adalah minyak, dan yang menginfeksinya adalah bakteri yang berpindah dari jari ke tepi kelopak.
Kebiasaan yang perlu dikoreksi memang ada, hanya saja bukan yang itu. Tangan yang tidak dicuci, kebiasaan mengucek mata, handuk muka yang dipakai bergantian sekeluarga, dan sarung bantal yang jarang diganti adalah rute yang sesungguhnya. Menegur anak karena mengintip tidak menurunkan risiko bintitan. Mengajari anak berhenti mengucek mata, iya.
Kompres Hangat dan Takaran yang Benar
Kompres hangat bekerja dengan mencairkan lipid yang membeku di saluran kelenjar sehingga sumbatannya bisa terdorong keluar. Takarannya yang sering dilewatkan. Panduan American Academy of Ophthalmology yang terbit di EyeNet Magazine edisi September 2015 menyebut 10 menit, empat kali sehari. Untuk penyakit tepi kelopak pada anak, ulasan penyakit AAO menyarankan 10 sampai 15 menit, dua sampai empat kali sehari.
Dua menit sambil menonton televisi tidak masuk hitungan. Kain harus dihangatkan ulang begitu suhunya turun, karena setelah dingin kain itu hanya menempel tanpa melelehkan apa pun.
Hasilnya perlu diharapkan secara wajar. Dalam sebuah uji acak yang dikutip AAO, kompres hangat saja menuntaskan kalazion pada 46 persen pasien dalam tiga minggu, dibandingkan 84 persen pada kelompok yang disuntik triamsinolon intralesi. Separuhnya selesai sendiri, separuhnya tidak, dan tiga minggu adalah rentang waktu yang wajar sebelum menilai ulang.
Pada anak, para dokter memang cenderung menunggu lebih lama. Dalam survei Korea tadi, 81,4 persen responden yang membedakan penanganan anak dan dewasa menyatakan mereka memperpanjang terapi konservatif dan menunda tindakan bedah pada pasien anak. Untuk bintitan, 77,6 persen menjalankan terapi non-bedah selama 5 sampai 14 hari lebih dulu, dengan rata-rata 12,8 hari sebelum mempertimbangkan insisi. Alasannya masuk akal: tindakan pada anak kecil sering menuntut bius umum, dan sebagian besar kasus tidak memerlukannya.
Kalau Berulang, Periksa Kulit Kelopaknya
Kekambuhan kalazion pada anak dilaporkan berkisar 17 sampai 67 persen, rentang yang dirangkum dalam ulasan Review of Ophthalmology tertanggal 10 November 2021. Rentangnya lebar, tapi ujung atasnya cukup tinggi untuk membuat pengulangan bukan hal yang mengejutkan.
Bintitan atau kalazion yang datang berkali-kali menandakan tepi kelopaknya memang meradang menahun, kondisi yang disebut blefaritis. Pada anak, bentuk yang lebih beratnya punya nama sendiri, yaitu blefarokeratokonjungtivitis, dan inilah bagian yang membuat pengulangan perlu ditanggapi serius.
Menurut ulasan penyakit American Academy of Ophthalmology, kondisi ini biasanya mulai pada usia 3 sampai 5 tahun, tetapi diagnosisnya rata-rata tertunda 1 sampai 3 tahun karena keluhannya dibaca sebagai bintitan biasa yang kebetulan sering kambuh. Porsinya tidak kecil, yaitu 12 sampai 15 persen dari rujukan ke dokter mata anak. Keterlibatan kornea dilaporkan bervariasi antar studi, dari 5 sampai 81 persen, dengan kemungkinan kekeruhan dan jaringan parut di kornea yang bisa menetap.
Pada anak yang tidak mengalami infeksi ulang, kalazion non-infeksi dilaporkan bisa bertahan 10 sampai 12 bulan. Benjolan yang tidak juga hilang setelah berbulan-bulan karena itu bukan tanda kompresnya gagal, melainkan tanda kondisinya perlu dinilai dokter.
Perawatan hariannya sendiri sederhana. AAO menyarankan pembersihan kelopak dan bulu mata setiap hari dengan sampo bayi yang lembut, dilakukan bersama kompres hangat. Sampo yang dipakai adalah sampo bayi biasa yang diencerkan, jenis yang tidak pedih di mata, diusapkan pelan di garis bulu mata dengan kapas atau ujung jari, lalu dibilas.
Yang Sebaiknya Tidak Dilakukan
Memencet benjolan adalah kesalahan yang paling sering dan paling mahal. Kelopak mata punya aliran pembuluh darah yang bersambung ke rongga di belakangnya, sehingga infeksi yang diperas berisiko menyebar ke jaringan yang jauh lebih sulit ditangani.
Salep antibiotik sisa resep lama juga bukan jalan pintas. Untuk kalazion tidak ada gunanya karena tidak ada infeksi di sana, dan dalam survei Korea hanya 26,3 persen dokter mata yang meresepkan salep antibiotik untuk kalazion.
Krim steroid yang dibeli sendiri untuk kulit kelopak berisiko menipiskan kulit yang memang sudah paling tipis, dan pertimbangan pemakaiannya diulas terpisah di artikel krim hidrokortison untuk eksim bayi.
Satu catatan obat yang perlu diketahui orang tua: antibiotik golongan tetrasiklin, yang lazim dipakai pada blefaritis dewasa, dihindari pada anak karena memengaruhi pembentukan gigi dan tulang. AAO menyebut eritromisin sebagai pilihan untuk anak di bawah 8 tahun. Resepnya tetap urusan dokter.
Ramuan tetes tradisional dan air rebusan daun untuk membasuh mata sebaiknya tidak dipakai. Mata yang tepi kelopaknya sedang meradang tidak butuh tambahan partikel asing.
Kapan Perlu Diperiksakan
Sebagian besar bintitan pecah dan mengering sendiri dalam satu sampai dua minggu dengan kompres hangat yang benar. Beberapa keadaan tidak menunggu selama itu:
- Bengkak meluas ke seluruh kelopak, pipi, atau sekitar hidung, apalagi jika anak demam
- Anak sulit membuka mata, bola matanya tampak menonjol, atau gerakan matanya terbatas
- Benjolan besar sampai menutup sebagian pupil, karena pada anak kecil hal ini bisa mengganggu perkembangan penglihatan
- Penglihatan menurun, mata sangat silau, atau anak terus-menerus menutup satu mata
- Bintitan atau kalazion datang berulang dalam beberapa bulan, atau benjolannya menetap lebih dari empat sampai enam minggu
Untuk keluhan yang berulang, pemeriksaan sebaiknya mencakup kulitnya, bukan hanya matanya. Konsultasi ke dokter kulit anak berguna ketika ada dermatitis seboroik atau eksim yang belum tertangani, karena selama tepi kelopaknya masih meradang, benjolannya akan terus datang lagi. Keluhan mata berair dan berkerak yang berbeda gambarannya dibahas di artikel mata belekan bayi.
Pertanyaan yang Sering Diajukan
Apakah bintitan menular ke anak lain?
Benjolannya sendiri tidak berpindah, tetapi bakteri penyebabnya bisa. Handuk muka, sarung bantal, dan alat rias mata sebaiknya tidak dipakai bergantian selama masih ada keluhan.
Bintitan anak saya sudah pecah sendiri, apa masih perlu ke dokter?
Kalau nanahnya keluar lalu bengkaknya surut dalam beberapa hari dan anak tidak mengeluh sakit lagi, umumnya cukup diteruskan dengan menjaga kebersihan kelopak. Pemeriksaan diperlukan jika bengkaknya kembali, keluar cairan terus-menerus, atau muncul benjolan baru di sebelahnya.
Berapa lama kalazion pada anak baru hilang?
Sekitar separuh kasus tuntas dalam tiga minggu dengan kompres hangat. Sisanya lebih lama, dan pada anak yang tidak mengalami infeksi ulang, laporan menyebut kalazion non-infeksi dapat bertahan 10 sampai 12 bulan sebelum menyusut.
Anak saya sering bintitan padahal sudah rajin cuci tangan, apa lagi yang bisa dilakukan?
Tambahkan pembersihan tepi kelopak setiap hari dengan sampo bayi yang diencerkan, dan periksa apakah ada ketombe atau kulit bersisik di alis dan kulit kepalanya. Kulit kepala berminyak yang berkerak sering berjalan bersama tepi kelopak yang meradang, dan merawat keduanya sekaligus memberi hasil yang lebih tahan lama.
Benjolan di kelopak mata anak memang hampir selalu jinak dan hampir selalu selesai. Yang layak diubah adalah tempat orang tua mencari penyebabnya. Bukan pada apa yang dilihat anak, melainkan pada apa yang menempel di tangannya dan seberapa bersih tepi kelopaknya dirawat setiap hari.
Referensi:
- Sex Differences and Age Distributions in Invasive Treatments for Chalazion and Hordeolum in Japan: A 9-Year Nationwide Claims Study. Ophthalmology Science, 2026. Data National Database of Health Insurance Claims Jepang 2014-2022.
- Management Practice for Hordeolum and Chalazion: A Survey of the Korean Society of Ophthalmic Plastic and Reconstructive Surgery (KSOPRS) Members. Korean Journal of Ophthalmology, 2025;39(3). Survei Desember 2024, 80 responden.
- Elsayed MA, Al Kahtani S. Chalazion Management: Evidence and Questions. EyeNet Magazine, American Academy of Ophthalmology, September 2015.
- Pediatric Eyelid Margin Disease: Blepharokeratoconjunctivitis and Chalazia. Disease Review, American Academy of Ophthalmology.
- Al-Lozi A, Prakalapakorn SG. How to Manage Pediatric MGD. Review of Ophthalmology, 10 November 2021.



