7x Ceramide Formulated in Germany • Gentle care for sensitive skin, all ages

Baby Care7 menit2026-08-21

Chikungunya pada Bayi: Lepuh di Kulit dan Bercak Menghitam Setelah Demam Turun

Ruam chikungunya pada bayi bisa berbentuk lepuh, lalu menyisakan bercak menghitam setelah demam turun. Kenali bedanya dengan DBD dan kapan harus ke dokter.

Chikungunya pada Bayi: Lepuh di Kulit dan Bercak Menghitam Setelah Demam Turun

Kementerian Kesehatan mencatat kenaikan tajam kasus suspek chikungunya sepanjang sembilan minggu pertama 2025, dengan angka yang jauh melampaui periode yang sama pada 2023 dan 2024. Lima provinsi dengan laporan tertinggi adalah Jawa Barat dengan 6.674 kasus, Jawa Tengah 3.388, Jawa Timur 2.903, Sumatera Utara 1.074, dan Banten 838.

Menurut Kepala Biro Komunikasi dan Informasi Publik Kementerian Kesehatan Aji Muhawarman dalam keterangannya pada Senin (11/8/2025), kenaikan tersebut mengikuti pola musim.

"Hal ini sejalan dengan pola musim penghujan di Indonesia sehingga perlu diwaspadai adanya kenaikan kasus pada minggu mendatang," kata Aji.

Chikungunya dikenal luas sebagai penyakit nyeri sendi. Pada bayi, keluhan itulah yang paling sulit dibaca orang tua, karena bayi tidak bisa menunjukkan sendi mana yang sakit. Yang lebih dulu terlihat biasanya kulitnya, dan gambarannya berbeda dari yang muncul pada orang dewasa.

Pada orang dewasa muncul bercak, pada bayi bisa berupa lepuh

Organisasi Kesehatan Dunia menyebut masa inkubasi chikungunya berkisar 4 sampai 8 hari setelah gigitan nyamuk, dengan rentang 2 sampai 12 hari. Gejalanya diawali demam mendadak yang kerap disertai nyeri sendi hebat, bengkak sendi, nyeri otot, sakit kepala, mual, lemas, dan ruam.

Ruam pada orang dewasa umumnya berbentuk makulopapular, yaitu bercak merah datar bercampur bintil kecil yang menonjol. Pada bayi, laporan klinis menunjukkan bentuk yang lain.

Jurnal Indian Dermatology Online Journal edisi 2014 memuat kasus bayi berusia 6 bulan yang datang dengan demam. Ruam muncul pada hari ketiga demam, awalnya hanya kemerahan. Pada hari keempat, kemerahan itu berubah menjadi lepuh dan gelembung berisi cairan yang lemas permukaannya, berwarna gelap, tersebar di badan dan area selangkangan lalu menyebar ke lengan dan tungkai. Wajah dan bagian dalam mulut tidak ikut terkena.

Pemeriksaan serologi pada hari keenam demam menunjukkan antibodi IgM chikungunya positif. Bayi tersebut mendapat perawatan penunjang berupa parasetamol, demamnya reda pada hari ketujuh, lepuhnya mulai mengelupas pada hari keenam, dan kulitnya kembali normal tanpa sisa perubahan warna pada hari kesepuluh.

Penulis kasus itu menutup laporannya dengan satu pesan untuk kalangan medis: chikungunya perlu masuk daftar pertimbangan pada bayi yang demam disertai ruam melepuh.

Kenapa lepuh ini sering disangka hal lain

Kulit bayi yang melepuh saat demam mengarahkan dugaan orang tua ke beberapa kemungkinan yang lebih akrab. Sebagian mengira anaknya tersiram air panas tanpa sepengetahuan pengasuh. Sebagian lagi menduga infeksi kulit karena bakteri.

Dugaan itu masuk akal, karena beberapa kondisi kulit pada bayi memang menghasilkan gambaran serupa. Kulit yang melepuh luas lalu mengelupas seperti tersiram air panas adalah ciri sindrom kulit melepuh akibat bakteri Staphylococcus, sedangkan lepuh berisi cairan pada bayi baru lahir juga bisa berasal dari impetigo bulosa.

Ketiganya membutuhkan penanganan yang berbeda, dan pembedanya tidak bisa ditetapkan dari foto atau dari pengamatan di rumah. Riwayat demam, pola penyebaran lepuh, dan pemeriksaan darah yang menentukan.

Lepuh pada bayi yang sedang demam, di daerah dengan kasus chikungunya yang sedang naik, adalah alasan untuk dibawa ke fasilitas kesehatan pada hari itu juga.

Bercak menghitam yang muncul justru setelah sembuh

Perubahan warna kulit adalah temuan yang paling sering dilaporkan pada chikungunya, dan paling jelas terlihat saat masa pemulihan.

American Journal of Tropical Medicine and Hygiene volume 105 nomor 3 tahun 2021 memuat kasus bayi laki-laki berusia 35 hari yang dibawa berobat karena kulitnya menghitam menyeluruh. Perubahan itu muncul 8 hari setelah demam yang berlangsung 5 hari mereda. Saat diperiksa, suhu tubuhnya sudah normal, dan kulitnya menunjukkan bercak kecokelatan sampai kehitaman yang tersebar dengan sela-sela kulit yang warnanya masih normal.

Penebalan warna paling pekat terlihat di ujung hidung dan bibir, dengan warna gelap juga menyebar sampai telapak tangan dan telapak kaki. Kecokelatan di ujung hidung inilah yang dalam literatur medis dijuluki Chik sign, atau gambaran hidung kecokelatan.

Laporan tersebut menyebut manifestasi kulit ditemukan pada 40 sampai 75 persen kasus chikungunya. Ada perbedaan pola menurut usia: penggelapan warna menyeluruh di sekujur tubuh umum ditemukan pada bayi, sementara pada orang dewasa penggelapan cenderung terkonsentrasi di area tengah wajah dan leher.

Pada bayi berusia 35 hari itu, pemeriksaan ulang seminggu kemudian menunjukkan warna kulitnya mulai memudar dan area kulit normalnya bertambah luas.

Penggelapan warna kulit setelah peradangan bukan hal yang khas chikungunya saja. Pola serupa terjadi pada bekas gigitan nyamuk yang menghitam, dan penanganannya sama-sama bertumpu pada waktu.

Bayi baru lahir punya jalur penularan sendiri

WHO menempatkan bayi baru lahir sebagai kelompok berisiko lebih tinggi, mencakup bayi yang tertular saat proses persalinan dari ibu yang sedang terinfeksi, maupun bayi yang digigit nyamuk pembawa virus pada minggu-minggu pertama setelah lahir.

Rangkaian kasus yang dimuat Journal of the Pediatric Infectious Diseases Society tahun 2024 mengikuti 60 bayi baru lahir, 58 di antaranya terkonfirmasi terpapar virus chikungunya sejak dalam kandungan. Pada ibu yang masih mengalami viremia saat melahirkan, angka penularan dari ibu ke bayi tercatat 62 persen atau 18 dari 29 kasus.

Gejala pada bayi baru lahir yang tertular sebagian besar muncul di minggu pertama kehidupan. Urutan keluhan yang paling sering dicatat:

  • Bayi kurang aktif dan lemah saat menyusu (25 persen)
  • Demam (22 persen)
  • Ruam (18 persen)
  • Gangguan napas (18 persen)
  • Kejang dan radang otak (15 persen)
  • Rewel (12 persen)

Dua keluhan teratas tidak berhubungan dengan kulit, dan justru itu yang membuatnya mudah terlewat. Bayi baru lahir yang tiba-tiba malas menyusu dan tampak lemas, di rumah dengan riwayat ibu demam menjelang persalinan, membutuhkan penilaian dokter tanpa menunggu ruamnya keluar.

Membedakannya dari demam berdarah

Chikungunya dan demam berdarah dengue disebarkan nyamuk yang sama dan sering naik pada musim yang sama, sehingga gejalanya berhimpitan.

Literatur klinis mencatat nyeri sendi sebagai pembeda paling kuat ke arah chikungunya, sementara nyeri perut, mual muntah, dan penurunan sel darah putih lebih mengarah ke dengue. Pada anak, kedua penyakit ini tampil lebih samar dibanding pada orang dewasa, sehingga pembedaan tanpa pemeriksaan laboratorium menjadi jauh lebih sulit.

Ruam demam berdarah punya perjalanannya sendiri, dengan dua ruam berbeda di dua waktu berbeda, yang dibahas terpisah pada artikel soal ruam DBD pada anak.

Satu tanda yang tidak boleh diabaikan pada demam apa pun adalah bintik merah keunguan yang tetap terlihat saat kulit ditekan. Cara memeriksanya dibahas pada artikel soal tes gelas untuk petechiae.

Perawatan kulit selama masa pemulihan

WHO menyatakan belum ada terapi antivirus khusus untuk infeksi virus chikungunya. Penanganannya bertumpu pada peredaan gejala, termasuk penurun demam dan pereda nyeri seperti parasetamol, dengan dosis yang ditentukan dokter sesuai berat badan bayi.

Untuk kulitnya, yang bisa dikerjakan orang tua di rumah bersifat menjaga, bukan mempercepat.

Kulit yang sedang melepuh atau baru mengelupas kehilangan sebagian fungsi pelindungnya. Mandikan bayi dengan air suam-suam kuku dalam waktu singkat, gunakan pembersih tanpa pewangi, dan keringkan dengan menepuk-nepuk handuk tanpa menggosok. Lepuh yang masih utuh dibiarkan, tidak dipecahkan, karena atapnya berfungsi menutup luka di bawahnya.

Pelembap dioleskan pada kulit yang masih lembap setelah mandi, dan dilewati pada area yang sedang terbuka atau basah kecuali atas arahan dokter. Kulit yang mengelupas dibiarkan lepas sendiri.

Bercak yang menggelap setelah demam reda memudar mengikuti pergantian lapisan kulit, dan pada bayi prosesnya berjalan tanpa perlu produk pencerah. Krim pemutih tidak punya tempat pada kulit bayi, apalagi pada kulit yang baru pulih dari peradangan.

Perlindungan dari gigitan nyamuk tetap berjalan selama masa pemulihan, karena bayi yang sedang bervirus dapat menjadi sumber penularan bagi anggota keluarga lain melalui gigitan nyamuk berikutnya. Pilihan produk penolak nyamuk yang sesuai usia dibahas pada artikel soal obat nyamuk untuk bayi.

Kapan harus dibawa ke dokter

Bawa bayi ke fasilitas kesehatan bila muncul salah satu dari kondisi berikut:

  • Demam pada bayi berusia di bawah 3 bulan
  • Lepuh atau gelembung berisi cairan di kulit saat demam
  • Bintik merah keunguan yang tidak memudar saat ditekan
  • Bayi baru lahir yang lemas, malas menyusu, atau napasnya berat
  • Demam yang belum turun setelah 3 hari
  • Kejang, atau bayi sulit dibangunkan
  • Kulit yang mengelupas luas disertai bayi tampak kesakitan saat disentuh

Pemeriksaan serologi IgM pada kasus bayi 6 bulan di jurnal Indian Dermatology Online Journal baru positif pada hari keenam demam. Artinya pemeriksaan yang dilakukan terlalu dini bisa memberi hasil negatif, dan hasil negatif di hari-hari awal tidak menutup kemungkinan chikungunya.

Kementerian Kesehatan mengaitkan kenaikan kasus dengan musim hujan dan mengarahkan pencegahan pada pengendalian sarang nyamuk di lingkungan rumah. Bagi keluarga dengan bayi, pengurasan tempat penampungan air, penutupan wadah air, dan pemasangan kelambu di tempat tidur bayi mengurangi paparan pada kelompok yang paling sulit menyampaikan keluhannya sendiri.


Sumber:

  • Kementerian Kesehatan RI, keterangan Kepala Biro Komunikasi dan Informasi Publik Aji Muhawarman, 11 Agustus 2025
  • World Health Organization, lembar fakta Chikungunya
  • Indian Dermatology Online Journal, 2014, laporan kasus vesikobulosa pada bayi 6 bulan
  • American Journal of Tropical Medicine and Hygiene, 2021;105(3):547–548
  • Journal of the Pediatric Infectious Diseases Society, 2024, rangkaian kasus transmisi perinatal dan neonatal

Artikel ini bersifat informasi umum dan tidak menggantikan pemeriksaan tenaga kesehatan. Konsultasikan kondisi bayi Anda dengan dokter.

Butuh Rekomendasi Produk?

Tim kami bisa bantu cari produk NeoCare yang paling cocok untuk kulit keluarga Anda.

Konsultasi via WhatsApp

Produk Terkait

Artikel Terkait