7x Ceramide Formulated in Germany • Gentle care for sensitive skin, all ages

Baby Care6 menit2026-06-09

Dermatitis Perioral pada Anak: Ruam Sekitar Mulut Bukan Eksim

Dermatitis perioral pada anak sering disangka eksim. Kenali bedanya, kaitannya dengan krim steroid berlebih, dan cara penanganan yang tepat.

Dermatitis Perioral pada Anak: Ruam di Sekitar Mulut yang Sering Disangka Eksim

Dewi (32), ibu dari anak berusia 3 tahun di Bandung, sudah hampir dua bulan mengoleskan krim hidrokortison ke ruam merah di sekitar mulut anaknya. Setiap kali krim itu dipakai, kemerahannya memang mereda satu-dua hari. Tapi begitu dihentikan, ruamnya balik lagi, kadang malah lebih parah dari sebelumnya, dengan bintik-bintik kecil yang menyebar ke lipatan hidung.

Setelah konsultasi ke dokter kulit, jawabannya bikin Dewi kaget: ruam itu bukan eksim, dan justru krim hidrokortison yang ia andalkan selama ini yang memperburuk kondisinya. Anaknya mengalami dermatitis perioral, dan dalam banyak kasus seperti ini, steroid topikal adalah penyebabnya, bukan obatnya.

Kondisi ini lebih sering terjadi dari yang disadari orang tua. Dermatitis perioral termasuk kondisi kulit yang kerap salah didiagnosis, karena tampilannya mirip eksim, ruam air liur, bahkan jerawat. Salah kaprah ini berbahaya, karena penanganan yang keliru, terutama pemakaian steroid berulang, bisa membuatnya menetap berbulan-bulan.

Apa Itu Dermatitis Perioral dan Bagaimana Tampilannya

Dermatitis perioral adalah erupsi papulopustular, yaitu munculnya bintik-bintik kecil padat (papula) dan bintik berisi nanah halus (pustula) di sekitar mulut. Pada anak, ruam ini juga bisa muncul di lipatan hidung dan di sekitar mata, sehingga sebagian dokter menyebutnya dermatitis periorificial untuk mencakup ketiga area itu.

Ada satu ciri khas yang sangat membantu membedakannya. Dermatitis perioral hampir selalu menyisakan zona bersih selebar beberapa milimeter tepat di pinggir bibir, area yang disebut vermilion border. Jadi kulit persis di tepi bibir tampak normal, sementara ruamnya berkumpul sedikit lebih jauh dari situ. Pola "cincin yang menyisakan pinggir bibir" ini jarang ditemukan pada eksim biasa.

Menurut American Academy of Dermatology, kondisi ini lebih sering menyerang perempuan dewasa muda, tapi pada anak-anak distribusinya lebih merata antara laki-laki dan perempuan. Kulit yang terdampak biasanya terasa agak perih atau seperti terbakar, bukan gatal hebat seperti pada eksim.

Kenapa Sering Tertukar dengan Eksim dan Ruam Air Liur

Tiga kondisi ini sama-sama muncul di area wajah bawah, jadi wajar kalau orang tua bingung. Bedanya ada di mekanisme dan pola.

  • Eksim (dermatitis atopik): dominan rasa gatal, kulit kering bersisik, sering juga muncul di lipatan siku dan belakang lutut, dan biasanya ada riwayat alergi di keluarga. Eksim tidak menyisakan zona bersih di pinggir bibir.
  • Ruam air liur (drool rash): muncul pada bayi fase tumbuh gigi, dipicu enzim dalam saliva yang mengiritasi kulit, berupa kemerahan merata di dagu dan sekitar mulut tanpa papula bernanah. Drool rash membaik begitu paparan air liur dikurangi.
  • Dermatitis perioral: papula dan pustula yang menyebar, menyisakan vermilion border, terasa perih, dan punya kaitan kuat dengan riwayat pemakaian steroid.

Letak masalahnya, ketiganya kerap diberi penanganan yang sama: krim steroid ringan yang dijual bebas. Untuk eksim, steroid memang membantu. Untuk dermatitis perioral, justru kebalikannya.

Dr. Srie Prihianti Gondokaryono, SpKK(K), PhD, dokter spesialis dermatologi dan venereologi anak, menjelaskan kenapa salah diagnosis di sini berisiko:

"Banyak orang tua datang ke kami setelah berbulan-bulan memakai steroid topikal karena dikira eksim yang membandel. Padahal pada dermatitis perioral, steroid memberi efek perbaikan semu di awal, lalu ketergantungan. Begitu dihentikan, ruamnya kambuh lebih hebat, dan siklus ini terus berputar sampai steroidnya benar-benar disetop," ujar dr. Srie.

Akar Masalahnya: Penggunaan Steroid yang Berlebihan

Inilah bagian yang paling sering luput dari perhatian orang tua. Salah satu pemicu utama dermatitis perioral pada anak adalah pemakaian kortikosteroid topikal, dan istilah medisnya bahkan spesifik: steroid-induced perioral dermatitis.

Pola yang dialami Dewi tadi adalah gambaran klasiknya. Anak punya ruam ringan di sekitar mulut, orang tua mengoleskan krim hidrokortison yang ada di kotak obat. Ruam mereda, lalu kambuh saat krim dihentikan. Orang tua menyimpulkan krimnya manjur dan terus memakainya. Tanpa sadar, justru pemakaian berulang itu yang membuat ruamnya menetap dan menyebar.

Steroid yang lebih kuat memperparah risikonya. Steroid berfluorinasi (fluorinated), yang potensinya lebih tinggi dari hidrokortison biasa, dikaitkan dengan kasus yang lebih berat. Bukan cuma krim. Steroid hirup (inhaled steroid) dari inhaler asma, atau steroid semprot hidung untuk alergi, juga bisa memicu dermatitis perioral di area mulut dan hidung tempat obat itu mengendap.

Beberapa faktor lain yang sering disebut dalam literatur dermatologi anak:

  • Krim wajah yang terlalu oklusif atau berlapis-lapis di area mulut
  • Pasta gigi berfluorida tinggi pada sebagian anak yang sensitif
  • Paparan kosmetik atau produk dewasa yang dipakai ikut-ikutan ke anak
  • Faktor hormonal dan mikroorganisme kulit seperti ragi Malassezia dan bakteri Fusobacterium

Yang perlu digarisbawahi, satu hidrokortison sesekali untuk indikasi yang benar bukan masalah. Yang jadi pemicu adalah pemakaian berulang tanpa diagnosis yang jelas, apalagi di area sekitar mulut anak.

Pendekatan Pengobatan: Setop Steroid Dulu

Penanganan dermatitis perioral punya prinsip yang kadang terasa berlawanan dengan intuisi orang tua: hentikan steroidnya, walaupun pada awalnya ruam akan terlihat memburuk.

Pendekatan ini dikenal sebagai zero therapy. Semua krim steroid dihentikan total, produk wajah yang tidak perlu disingkirkan, dan kulit dibiarkan dengan perawatan seminimal mungkin. Orang tua wajib tahu satu hal sebelum memulai: dalam satu sampai dua minggu pertama setelah steroid disetop, ruam biasanya kambuh dulu, fenomena yang disebut flare rebound. Ini bukan tanda kondisinya makin parah, melainkan bagian dari proses lepas dari ketergantungan steroid. Banyak orang tua menyerah di titik ini dan kembali memakai krim, lalu siklusnya terulang.

Untuk kasus ringan, dokter biasanya cukup mengandalkan zero therapy plus pelembap lembut tanpa pewangi untuk menjaga skin barrier. Untuk kasus sedang sampai berat, antibiotik dengan efek antiinflamasi sering ditambahkan. Pilihan yang umum dalam pedoman dermatologi anak:

  • Metronidazole topikal, biasanya bentuk gel atau krim, untuk kasus ringan sampai sedang
  • Eritromisin topikal sebagai alternatif yang relatif aman untuk anak
  • Antibiotik oral seperti eritromisin untuk kasus yang lebih luas atau membandel, dengan dosis yang ditentukan dokter

Antibiotik di sini bukan karena ada infeksi yang harus dibasmi, tapi karena obat golongan ini punya efek meredakan peradangan pada kulit. Karena itu pemilihan dan dosisnya harus lewat dokter, bukan beli sendiri di apotek.

Konteks Indonesia dan Kapan Harus ke Dokter

Di Indonesia, krim kortikosteroid ringan relatif mudah didapat, dan banyak beredar krim racikan atau krim "abal-abal" yang diam-diam mengandung steroid kuat tanpa pelabelan jelas. BPOM berulang kali memperingatkan soal kosmetik dan krim ilegal yang mengandung steroid berbahaya. Untuk anak, risiko ini lebih besar karena kulit mereka lebih tipis dan menyerap bahan aktif lebih cepat daripada kulit dewasa.

Kebiasaan menebak diagnosis sendiri dan mengoleskan krim yang "kebetulan ada di rumah" inilah yang sering memulai lingkaran dermatitis perioral. Pesannya sederhana: ruam menetap di sekitar mulut anak yang tidak juga sembuh sebaiknya diperiksa, bukan dicoba-coba diobati sendiri.

Segera bawa anak ke dokter kulit atau dokter anak jika menemukan kondisi berikut:

  • Ruam di sekitar mulut atau hidung yang tidak sembuh setelah 2 minggu
  • Ruam yang justru kambuh setiap kali krim tertentu dihentikan
  • Muncul bintik-bintik berisi nanah yang menyebar ke pipi atau sekitar mata
  • Anak mengeluh perih atau kulitnya terasa terbakar
  • Riwayat pemakaian krim steroid, inhaler, atau semprot hidung sebelum ruam muncul

Pemulihan dermatitis perioral memang butuh kesabaran, kadang sampai beberapa minggu hingga ruamnya benar-benar bersih. Tapi dengan diagnosis yang tepat dan keberanian untuk berhenti dari siklus steroid, sebagian besar anak pulih sempurna tanpa bekas.


Memahami beda antara eksim, ruam air liur, dan dermatitis perioral bisa menyelamatkan kulit si kecil dari penanganan yang keliru. NeoCare Gentle Moisturizer Lotion dengan 7X Ceramide Formulated in Germany diformulasikan ringan dan bebas pewangi untuk menjaga skin barrier kulit anak yang sensitif. Punya pertanyaan soal kondisi kulit si kecil yang lebih spesifik? Tim NeoCare siap konsultasi via WhatsApp, gratis dan tanpa kewajiban beli produk.

Butuh Rekomendasi Produk?

Tim kami bisa bantu cari produk NeoCare yang paling cocok untuk kulit keluarga Anda.

Konsultasi via WhatsApp

Produk Terkait

Artikel Terkait