Eksim di Belakang Telinga Bayi yang Sering Disangka Infeksi atau Jamur
Dinda (29), ibu dari bayi laki-laki usia tujuh bulan di Bekasi, sempat panik saat menemukan kulit di lipatan belakang daun telinga anaknya retak, basah, dan mengelupas. Awalnya ia mengira itu jamur karena area tersebut lembap dan agak berbau, lalu sempat membeli krim antijamur tanpa resep. Beberapa hari kemudian muncul kerak berwarna kuning keemasan di tepi retakan, dan kondisinya makin meradang. Setelah diperiksa, ternyata akar masalahnya bukan jamur, melainkan eksim di lipatan telinga yang belakangan terkena infeksi bakteri sekunder. Kasus seperti Dinda termasuk sering terjadi, karena belakang telinga memang salah satu titik klasik eksim yang paling gampang disalahartikan.
Lipatan di belakang daun telinga adalah salah satu lokasi paling sering terlewat saat orang tua mengoles pelembap atau membersihkan bayi. Area ini tertutup, jarang terlihat, dan kerap baru ketahuan bermasalah setelah sudah retak atau merembes. Padahal dalam dunia dermatologi anak, retakan di lipatan telinga punya makna khusus.
Kenapa Belakang Telinga Jadi Titik Klasik Eksim
Lipatan di bawah dan di belakang daun telinga adalah lingkungan yang sangat khas: dua permukaan kulit saling bersentuhan, lembap karena keringat dan air mandi yang terjebak, serta sering bergesekan saat bayi menggeleng, tidur miring, atau saat daun telinganya tertekuk. Kombinasi lembap plus gesekan ini melemahkan lapisan pelindung kulit, dan di kulit yang memang punya kecenderungan eksim, di situlah peradangan paling mudah pecah.
Yang menarik, retakan di area telinga ini bukan sekadar masalah lokal. Penelitian yang dimuat di jurnal Acta Dermato-Venereologica menemukan retakan di lipatan bawah telinga (infra-auricular fissure) muncul pada sekitar 81,8% pasien dermatitis atopik, dan pada kelompok dengan eksim berat angkanya mencapai 98%. Karena itu para ahli kulit kerap menjadikan retakan di lipatan telinga sebagai penanda di samping tempat tidur untuk membantu menilai apakah seorang anak punya dermatitis atopik dan seberapa berat kondisinya.
Menurut dokter spesialis kulit anak dr. Rangga Wisesa, SpKK, pola ini sering disalahpahami orang tua. "Banyak yang datang yakin anaknya kena jamur atau telinganya kotor, padahal yang terjadi adalah eksim di lipatan yang lembap. Kulit di situ tipis, sering basah, dan terus bergesek, jadi barrier-nya gampang jebol. Begitu retak dan dibiarkan terbuka, bakteri di permukaan kulit punya pintu masuk," ujar dr. Rangga.
Tampilan Khas dan Tanda Infeksi Sekunder
Pada tahap awal, eksim di belakang telinga biasanya tampak sebagai kulit kemerahan, kering, bersisik, dan ada garis retakan halus tepat di lipatan. Bayi mungkin sering menggosok atau menarik telinganya karena gatal. Bila terus tergaruk atau dibiarkan lembap, retakan bisa melebar, basah, dan merembes cairan bening.
Tanda yang perlu diwaspadai adalah munculnya kerak berwarna kuning keemasan, mirip warna madu, di sekitar retakan. Kerak seperti ini menurut Cleveland Clinic adalah ciri khas impetigo, infeksi kulit yang umumnya disebabkan bakteri Staphylococcus aureus. Pada kulit eksim, bakteri ini memang mudah berkembang. Sebuah studi pada pasien dengan retakan lipatan telinga menemukan Staphylococcus aureus berhasil dibiakkan dari cairan yang merembes pada 12 dari 14 pasien. Jadi eksim membuka jalan, lalu bakteri datang menumpang di luka yang terbuka.
Eksim, Impetigo, Jamur, atau Seboroik
Empat kondisi ini bisa sama-sama muncul di sekitar telinga, dan membedakannya menentukan arah perawatan.
- Eksim (dermatitis atopik): kulit kering, retak di lipatan, gatal, sering kambuh, dan biasanya ada riwayat alergi di keluarga. Tidak selalu basah pada tahap awal.
- Impetigo (infeksi bakteri): ditandai luka yang merembes lalu mengering menjadi kerak kuning keemasan. Menular, dan kerap menumpang di atas kulit eksim yang sudah retak.
- Jamur: infeksi jamur lebih sering di area lain dan biasanya membentuk bercak dengan tepi menonjol seperti cincin. Di lipatan telinga bayi, eksim jauh lebih umum daripada jamur, sehingga krim antijamur sering keliru sasaran.
- Dermatitis seboroik: menurut Merck Manual, pada bayi seboroik tampak sebagai sisik berminyak kekuningan di belakang telinga dan kulit kepala (cradle cap), umumnya tidak gatal dan tidak merembes. Beda dengan eksim atopik yang gatal dan kerap basah.
Perbedaan paling praktis: sisik berminyak yang tidak gatal mengarah ke seboroik, retakan kering yang gatal mengarah ke eksim, dan kerak kuning madu yang basah menandakan sudah ada infeksi bakteri yang ikut menumpang.
Kenapa Sering Kambuh
Belakang telinga punya tiga hal yang membuat eksim di situ bandel: tetap lembap karena keringat dan sisa air mandi, terus bergesek, dan paling sering terlewat saat mengoles pelembap. Selama lipatan dibiarkan basah dan barrier-nya tidak diperkuat, retakan yang sudah sembuh gampang terbuka lagi. Iklim tropis Indonesia yang panas dan memicu banyak keringat menambah beban di area tertutup ini.
Cara Merawat Lipatan Telinga di Rumah
Perawatan berpusat pada menjaga lipatan tetap bersih dan kering, lalu memperkuat kelembapan kulit di sekelilingnya. dr. Rangga menekankan urutan yang benar lebih penting daripada banyaknya produk. "Setelah mandi, keringkan betul lipatan belakang telinga dengan menepuk lembut memakai kain lembut, jangan digosok. Baru setelah benar-benar kering, oleskan pelembap tipis di kulit sekitarnya. Lipatan yang dibiarkan basah adalah penyebab nomor satu eksim telinga balik lagi," kata dr. Rangga.
Langkah yang membantu merawat dan meredakan:
- Bersihkan lipatan dengan air bersih saat mandi, lalu keringkan dengan menepuk sampai benar-benar kering
- Oleskan pelembap lembut bebas pewangi di kulit sekitar lipatan dua kali sehari untuk membantu menjaga barrier
- Untuk retakan yang basah dan terasa gatal, kompres dingin dengan kain lembut selama beberapa menit bisa membantu meredakan
- Potong kuku bayi pendek supaya garukan tidak memperparah retakan
- Pilih bantal dan alas tidur dari katun yang menyerap keringat, dan ganti rutin agar area telinga tidak lembap semalaman
- Hindari mengoles krim antijamur sendiri tanpa kepastian penyebabnya, karena di lipatan telinga bayi eksim jauh lebih umum daripada jamur
Kapan Harus ke Dokter
Sebagian besar eksim ringan di lipatan telinga membaik dengan menjaga area tetap kering dan rutin melembapkan kulit sekitarnya. Tetapi ada kondisi yang menandakan sudah waktunya diperiksa tenaga medis:
- Muncul kerak kuning keemasan, nanah, atau cairan berbau dari retakan
- Kemerahan menyebar melewati lipatan ke kulit di sekitarnya
- Bayi demam, rewel berlebihan, atau telinga tampak bengkak
- Retakan tidak membaik setelah sekitar tujuh hari perawatan rutin di rumah
- Bayi terus menarik telinga sambil menangis kesakitan, bukan sekadar gatal
Pegangan praktis untuk orang tua: begitu warna kerak berubah menjadi kuning seperti madu atau retakan mulai mengeluarkan cairan, jangan tunggu lebih dari sehari untuk konsultasi ke dokter. Tanda itu menunjukkan infeksi bakteri sekunder yang umumnya butuh penanganan khusus, bukan lagi sekadar perawatan kulit harian.
Buat bayi dengan kulit sensitif atau yang mudah eksim di area lipatan, kunci pencegahan ada pada menjaga barrier kulit tetap kuat. Produk NeoCare seperti Gentle Moisturizer Lotion dengan 7X Ceramide dari Jerman bisa jadi teman harian untuk membantu merawat kulit di sekitar lipatan telinga si kecil. Formulanya bebas pewangi, bebas SLS, dan dirancang untuk kulit yang gampang meradang. Kalau ragu apakah cocok untuk kondisi bayi, tim konsultasi NeoCare siap bantu lewat WhatsApp.



