Eritrasma pada Anak: Bercak Cokelat di Lipatan Kulit yang Sering Disangka Kurap
Bercak cokelat kemerahan di lipatan paha atau ketiak anak hampir selalu dibaca sebagai kurap. Krim antijamur pun jadi langkah pertama yang diambil orang tua, dan pada banyak kasus krim itu memang menolong. Pada sebagian kasus lain, bercaknya diam saja selama berminggu-minggu. Tidak membaik, tidak memburuk. Orang tua lalu mengira mereknya kurang kuat, ganti merek, dan hasilnya tetap sama.
Salah satu penyebab bercak yang tidak merespon antijamur adalah eritrasma, infeksi permukaan kulit oleh bakteri bernama Corynebacterium minutissimum. Bakteri ini sebenarnya penghuni normal kulit manusia. Ia baru menimbulkan masalah ketika lipatan kulit berada dalam kondisi hangat, lembap, dan tertutup dalam waktu lama, situasi yang di Indonesia berlaku hampir sepanjang tahun.
Bakteri, Bukan Jamur
Perbedaan ini yang menentukan apakah pengobatan akan bekerja atau tidak. Kurap disebabkan jamur golongan dermatofita, dan krim antijamur seperti mikonazol atau ketokonazol dirancang untuk merusak dinding sel jamur. Eritrasma disebabkan bakteri, dan dinding sel bakteri punya struktur yang sama sekali berbeda.
Menurut dokter spesialis kulit dan kelamin dr. Ratih Prameswari, Sp.KK, kesalahan diagnosis pada kasus ini sangat umum terjadi karena kedua kondisi memilih lokasi yang mirip:
"Eritrasma dan tinea cruris sama-sama muncul di lipatan paha, dan sekilas dua-duanya bercak kecokelatan. Bedanya ada di karakter bercaknya kalau diperhatikan dari dekat. Kalau seorang anak sudah dua sampai tiga minggu pakai krim antijamur dan bercaknya sama sekali tidak bergerak, itu sinyal bahwa diagnosisnya perlu ditinjau ulang, bukan sinyal bahwa krimnya kurang kuat," ujar dr. Ratih.
Pada anak-anak, eritrasma paling sering muncul di lipatan paha, ketiak, sela-sela jari kaki, dan di lipatan leher bayi yang berpipi tembam. Sela jari kaki keempat dan kelima termasuk lokasi favorit karena celahnya paling sempit dan paling jarang kering sempurna setelah mandi.
Lampu Wood dan Warna Merah Koral
Petunjuk diagnostik paling khas dari eritrasma adalah cahaya yang keluar dari kulit sendiri. Corynebacterium minutissimum memproduksi senyawa bernama porfirin, khususnya koproporfirin III, sebagai hasil metabolismenya. Ketika kulit disinari lampu Wood, yaitu lampu ultraviolet gelombang panjang yang dipakai di klinik kulit, porfirin ini berpendar dengan warna merah koral atau merah muda terang.
Jamur penyebab kurap tidak menghasilkan pendaran semacam itu. Pemeriksaannya cepat, tidak sakit, dan tidak perlu mengambil sampel apa pun. Ruangan dikondisikan gelap, lampu diarahkan ke bercak, lalu warnanya dibaca.
Ada satu catatan penting yang perlu diketahui orang tua sebelum ke dokter. Porfirin larut dalam air dan mudah terangkat bersama sabun, sehingga area yang baru saja dibersihkan bisa gagal berpendar meskipun eritrasmanya ada. dr. Ratih menyebut ini penyebab hasil pemeriksaan yang membingungkan:
"Kalau anak baru saja mandi atau areanya baru diseka dengan tisu basah sebelum diperiksa, pendarannya bisa hilang sementara. Jadi kalau memang sudah ada rencana kontrol ke dokter kulit hari itu, sebaiknya area lipatan tidak digosok sabun dulu di pagi harinya," ujar dr. Ratih.
Membedakan dari Kurap
Perbedaan antara eritrasma dan tinea cruris bisa dibaca dari bentuk bercaknya, dan orang tua sebenarnya bisa ikut mengamati sebelum berkonsultasi.
Tepi bercak
Kurap punya tepi yang aktif dan menonjol. Pinggirannya terasa sedikit timbul saat diraba, sering bersisik, dan kadang ada bintil-bintil kecil di garis tepinya. Bagian tengahnya cenderung lebih bersih dibanding pinggirannya, sehingga membentuk pola seperti cincin. Eritrasma tidak punya tepi seperti itu. Bercaknya rata dengan kulit sekitar, batasnya jelas tapi tidak menonjol, dan tidak ada garis aktif yang seolah merambat keluar.
Warna dan tekstur permukaan
Eritrasma memberi warna cokelat kemerahan yang cukup merata di seluruh bercak. Permukaannya terlihat berkerut halus, mirip kertas tisu tipis yang sedikit lecek, dengan sisik yang sangat halus dan mudah lepas. Kurap warnanya lebih tidak rata dan sisiknya lebih kasar.
Rasa gatal
Kurap biasanya gatal, kadang sampai membuat anak menggaruk sampai lecet. Eritrasma justru sering tidak gatal sama sekali, atau gatalnya sangat ringan. Anak dengan bercak lebar di lipatan paha yang sama sekali tidak mengeluh gatal adalah gambaran yang lebih condong ke eritrasma.
Kecepatan meluas
Kurap cenderung melebar relatif cepat dan pola cincinnya membesar dari minggu ke minggu. Eritrasma lebih tenang, bertahan di ukuran yang sama untuk waktu lama.
Lalu Bagaimana dengan Intertrigo?
Intertrigo adalah kandidat ketiga yang sering tertukar, dan penyebabnya sederhana: gesekan kulit dengan kulit ditambah kelembapan yang terperangkap. Tidak ada infeksi yang jadi biang utama, meskipun jamur atau bakteri bisa menumpang belakangan.
Gambarannya berbeda dari eritrasma. Intertrigo tampak merah menyala, basah, kadang mengkilap, dan pada kasus berat permukaannya bisa lecet sampai anak menangis ketika area itu disentuh atau dibersihkan. Warnanya merah, bukan cokelat. Batasnya juga tidak setegas eritrasma, dan bentuknya sering mengikuti garis lipatan persis seperti cerminan, karena dua permukaan kulit yang bergesekan sama-sama teriritasi.
Eritrasma justru jarang menimbulkan nyeri. Anak biasanya tidak sadar bercaknya ada sampai orang tua yang menemukannya saat memakaikan baju.
Kenapa Iklim Indonesia Membuatnya Relevan
Faktor risiko eritrasma hampir semuanya berhubungan dengan kelembapan yang terjebak di kulit:
- Suhu dan kelembapan udara tinggi, yang membuat keringat lebih lambat menguap
- Keringat berlebih, terutama pada anak yang aktif bergerak sepanjang hari
- Berat badan berlebih, yang menciptakan lipatan lebih dalam dan lebih rapat
- Pakaian ketat, bahan sintetis yang tidak menyerap, dan popok yang dipakai berjam-jam
- Kaus kaki dan sepatu tertutup yang dipakai seharian di sekolah tanpa sempat kering
- Kebiasaan mengeringkan lipatan dengan buru-buru setelah mandi
Kombinasi udara tropis, anak yang berkeringat, dan lipatan kulit yang tertutup rapat menjelaskan kenapa kondisi ini punya tempat yang nyata di Indonesia, walaupun namanya jarang disebut dibanding kurap dan biang keringat.
Penanganan Datang dari Dua Arah
Karena penyebabnya bakteri, pengobatan yang tepat adalah antibiotik, dan pemilihannya sepenuhnya wewenang dokter. Yang biasa dipakai adalah antibiotik topikal seperti eritromisin atau klindamisin dalam bentuk krim atau larutan. Pada kasus yang luas, berulang, atau muncul di banyak lipatan sekaligus, dokter kadang mempertimbangkan antibiotik minum. Keputusan itu memerlukan penimbangan dosis sesuai berat badan anak dan evaluasi kondisi lain yang mungkin menyertai, sehingga tidak bisa dijalankan sendiri di rumah dengan sisa obat dari resep lama.
Bagian kedua justru yang menentukan hasil jangka panjang, dan ini pekerjaan keluarga di rumah. Antibiotik membunuh bakterinya, tapi lipatan yang tetap lembap akan mengundangnya kembali. Beberapa langkah yang biasa direkomendasikan:
- Keringkan setiap lipatan dengan menepuk handuk lembut sampai benar-benar kering setelah mandi, termasuk sela jari kaki
- Buka lipatan paha dan leher bayi satu per satu saat mengeringkan, jangan hanya menyeka permukaan luarnya
- Pilih pakaian katun yang longgar dan menyerap keringat, hindari bahan sintetis yang menempel
- Ganti popok lebih sering dan beri jeda beberapa menit tanpa popok saat mengganti
- Ganti kaus kaki setiap hari, dan pastikan sepatu sempat kering sebelum dipakai lagi
- Untuk anak dengan berat badan berlebih, konsultasi gizi menjadi bagian dari solusi kulitnya
Kambuhnya Punya Alasan
Eritrasma yang datang lagi beberapa bulan setelah sembuh biasanya bukan tanda antibiotiknya gagal. Bakterinya memang tidak pernah benar-benar pergi dari kulit siapa pun, dan ia hanya menunggu kondisi yang cocok untuk tumbuh berlebih lagi. Kalau lipatan kulit anak kembali ke pola lama yang lembap dan tertutup sepanjang hari, bercaknya akan kembali dengan pola yang sama pula.
Kapan Perlu ke Dokter
Beberapa situasi yang sebaiknya dibawa ke dokter kulit untuk pemeriksaan lampu Wood:
- Bercak di lipatan yang tidak berubah setelah dua sampai tiga minggu pemakaian krim antijamur
- Bercak cokelat rata tanpa tepi menonjol dan tanpa gatal di lipatan paha, ketiak, atau leher
- Bercak yang hilang lalu muncul lagi di lokasi yang sama berulang kali
- Kulit sela jari kaki yang mengelupas dan berkerut menetap pada anak usia sekolah
- Bercak lipatan pada anak dengan berat badan berlebih atau riwayat diabetes di keluarga
Bercak cokelat di lipatan kulit anak bukan kondisi yang perlu ditebak dari layar ponsel. Pemeriksaan lampu Wood di klinik hanya butuh beberapa menit dan bisa langsung membedakan tiga kemungkinan yang penanganannya berbeda total, sehingga anak tidak menghabiskan berbulan-bulan dengan obat yang memang tidak dirancang untuk masalahnya.



