Folikulitis Bayi: Jerawat Tubuh yang Sering Disangka Biang Keringat
Rina (29), seorang ibu dari bayi laki-laki berusia 5 bulan di Bandung, mengira bintik-bintik kemerahan di punggung anaknya cuma biang keringat biasa. Tiga hari kemudian, bintiknya berubah jadi pustula kecil berisi nanah dan bayinya mulai rewel saat dipakaikan baju. Setelah pemeriksaan di RSAB Harapan Kita, diagnosisnya bukan miliaria, melainkan folikulitis bakterial.
Kasus seperti Rina cukup sering ditemui di praktik dermatologi anak Indonesia, terutama saat musim pancaroba. Banyak orang tua mengira bintik di punggung dan lengan bayi adalah biang keringat, padahal bisa jadi infeksi folikel rambut yang membutuhkan penanganan berbeda. Salah diagnosis di rumah sering memperparah kondisi karena bayi terus dipakaikan bedak yang justru menyumbat folikel.
Apa Itu Folikulitis dan Mengapa Bayi Rentan
Folikulitis adalah peradangan pada folikel rambut yang biasanya disebabkan oleh infeksi bakteri Staphylococcus aureus, jamur Malassezia, atau iritasi mekanis dari gesekan baju. Pada bayi, folikulitis paling sering muncul di area dengan banyak folikel rambut halus seperti punggung, bahu, paha, dan kulit kepala.
Menurut Dr. dr. Wresti Indriatmi, SpKK(K), M.Epid, dokter spesialis dermatologi anak dari RSCM Jakarta: "Folikel rambut bayi punya struktur yang lebih dangkal dibanding orang dewasa, sehingga bakteri lebih mudah masuk dan menimbulkan infeksi. Iklim tropis Indonesia dengan kelembapan tinggi mempercepat pertumbuhan bakteri di permukaan kulit, terutama jika bayi sering berkeringat dan tidak segera dimandikan," ujar dr. Wresti.
Tanda yang Membedakan dari Biang Keringat
Banyak orang tua bingung membedakan folikulitis dengan miliaria (biang keringat) karena keduanya tampak sebagai bintik merah kecil di area yang sering berkeringat. Beberapa ciri khas yang membantu membedakan:
Folikulitis biasanya menunjukkan pustula putih atau kuning kecil di tengah kemerahan, dengan satu rambut halus terlihat di pusat lesi. Ukurannya sekitar 1 sampai 4 milimeter dan terasa nyeri saat disentuh. Bayi sering rewel saat baju yang menutupi area tersebut digesek atau ditekan.
Biang keringat (miliaria rubra) lebih kecil, sekitar 1 sampai 2 milimeter, tidak berisi nanah, dan tidak terasa nyeri. Lesinya muncul berkelompok rapat di area lipatan dan biasanya hilang sendiri dalam 2 sampai 3 hari setelah suhu lingkungan diturunkan.
Faktor Risiko yang Memperburuk Folikulitis
Beberapa kondisi memperparah risiko folikulitis pada bayi:
- Pemakaian bedak tabur tebal yang menyumbat pori folikel
- Baju berbahan sintetis ketat yang menahan keringat di kulit
- Pemakaian minyak telon berlebih tanpa dibersihkan setelah berkeringat
- Mandi air sangat hangat yang merusak lapisan asam mantel kulit
- Kontak dengan handuk atau seprai yang sudah terkontaminasi bakteri
Data dari poliklinik kulit anak RS Sardjito Yogyakarta tahun 2025 mencatat 38 persen kasus folikulitis bayi terkait pemakaian baju berbahan polyester ketat selama lebih dari 6 jam tanpa diganti.
Penanganan yang Direkomendasikan Dokter
Untuk folikulitis ringan tanpa demam atau penyebaran luas, beberapa langkah awal bisa dilakukan di rumah. Mandikan bayi dengan sabun lembut pH 5.5 dua kali sehari, ganti baju setiap kali bayi berkeringat, dan hindari pemakaian bedak tabur di area yang sedang meradang.
Menurut dr. Wresti lagi: "Jika lesi tidak membaik dalam 3 hari atau muncul demam, kemerahan meluas, dan pustula bertambah banyak, orang tua harus segera konsultasi ke dokter. Folikulitis bakterial yang dibiarkan bisa berkembang menjadi furunkel atau bisul yang membutuhkan antibiotik oral," ucap dr. Wresti.
Dokter biasanya meresepkan salep antibiotik topikal seperti mupirocin 2 persen atau asam fusidat untuk kasus terlokalisasi. Untuk infeksi yang lebih luas atau kambuh-kambuhan, antibiotik oral dan kultur bakteri kadang dibutuhkan untuk menentukan jenis kuman penyebab.
Tindakan Pencegahan Harian
Pencegahan folikulitis pada bayi berfokus pada menjaga kulit tetap kering dan bersih:
Pilih baju berbahan katun longgar yang menyerap keringat. Ganti baju maksimal 4 jam sekali jika cuaca panas. Hindari penggunaan minyak atau krim oklusif tebal di area dengan banyak folikel rambut seperti punggung dan paha. Cuci handuk bayi setiap 2 hari dengan deterjen tanpa pewangi dan keringkan di bawah sinar matahari langsung untuk mengurangi koloni bakteri.
Jika bayi tidur dengan AC, atur suhu ruangan di 24 sampai 26 derajat Celsius dan gunakan humidifier untuk menjaga kelembapan udara di 50 sampai 60 persen. Suhu yang terlalu dingin bisa membuat kulit bayi kering dan rentan iritasi, sementara terlalu hangat memicu keringat berlebih yang jadi media tumbuh bakteri.
Kapan Harus Konsultasi Dokter
Konsultasi segera dibutuhkan jika muncul tanda berikut:
- Demam di atas 38 derajat Celsius
- Pustula menyebar ke area baru dalam 24 jam
- Lesi membesar lebih dari 5 milimeter dengan dasar keras
- Bayi tampak sangat rewel atau menolak menyusu
- Muncul cairan kuning keruh atau bau tidak sedap dari lesi
Kasus folikulitis pada bayi di bawah 3 bulan harus selalu dievaluasi dokter karena sistem imunnya masih berkembang dan risiko infeksi sistemik lebih tinggi. Jangan menggunakan antibiotik topikal sisa pemakaian sebelumnya tanpa rekomendasi dokter karena bisa memicu resistensi bakteri.



