7x Ceramide Formulated in Germany • Gentle care for sensitive skin, all ages

Baby Care7 menit2026-07-02

Herpes Gingivostomatitis pada Bayi: Lepuh di Mulut yang Sering Disangka Tumbuh Gigi

Lepuh di mulut, demam, dan tolak makan pada bayi sering disangka tumbuh gigi. Kenali herpes gingivostomatitis, cara membedakan, merawat, dan tanda darurat.

Herpes Gingivostomatitis pada Bayi: Lepuh di Mulut dan Demam yang Sering Disangka Tumbuh Gigi

Bercak lepuh di mulut, demam tinggi, air liur menetes terus, dan bayi menolak makan sering dikira gejala tumbuh gigi. Padahal pola seperti ini bisa jadi infeksi virus herpes pertama di rongga mulut, dan cara merawatnya berbeda.

Rania (29), ibu dari bayi 14 bulan, sempat tenang saat anaknya rewel dan ngiler banyak. "Paling tumbuh gigi," pikirnya. Tapi dua hari kemudian demam anaknya naik sampai 39 derajat, gusinya merah dan bengkak, muncul sariawan kecil-kecil di bibir dan lidah, dan si kecil menangis tiap kali disodori susu. Baru setelah dibawa ke dokter, Rania tahu itu bukan gigi yang mau tumbuh, melainkan herpes gingivostomatitis.

Kasus seperti Rania jauh lebih umum dari yang orang tua kira. Herpes gingivostomatitis adalah infeksi herpes simpleks tipe 1 (HSV-1) pertama kali di mulut, dan paling sering menyerang bayi serta balita usia sekitar 6 bulan sampai 3 tahun. Virusnya sama dengan penyebab cold sore atau sariawan lepuh di bibir orang dewasa. Bedanya, saat tubuh belum pernah kenal virus ini, reaksi pertamanya bisa jauh lebih hebat.

Kenapa Infeksi Pertama Lebih Berat

Dokter spesialis anak biasanya menjelaskan begini: begitu HSV-1 masuk untuk pertama kali, tubuh bayi belum punya antibodi terhadap virus itu. Sistem imun bereaksi keras, dan hasilnya adalah radang di seluruh gusi dan rongga mulut, bukan cuma satu dua titik.

Itulah kenapa gejalanya kelihatan berlebihan dibanding sariawan biasa. Gusi jadi merah, bengkak, dan gampang berdarah. Lepuh kecil berisi cairan muncul di lidah, bibir, langit-langit, sampai bagian dalam pipi, lalu pecah jadi luka terbuka yang perih. Demam sering datang lebih dulu satu sampai dua hari sebelum luka muncul, dan bisa cukup tinggi.

Setelah infeksi pertama ini reda, virus tidak benar-benar hilang. Ia bersembunyi di jaringan saraf dan bisa aktif lagi di kemudian hari sebagai cold sore di bibir saat anak sudah lebih besar. Kabar baiknya, kekambuhan itu biasanya jauh lebih ringan daripada serangan pertama.

Gejala yang Perlu Dikenali

Kumpulan tanda ini yang paling sering muncul pada bayi dengan herpes gingivostomatitis:

  • Demam mendadak, kadang tinggi, muncul sebelum luka terlihat
  • Gusi merah, bengkak, nyeri, dan mudah berdarah saat tersentuh
  • Lepuh kecil dan luka (sariawan) bergerombol di bibir, lidah, gusi, dan bagian dalam mulut
  • Air liur menetes lebih banyak dari biasanya karena menelan terasa sakit
  • Bayi rewel dan menolak makan atau minum
  • Bau mulut yang lebih tajam
  • Kadang kelenjar di leher terasa membesar

Yang membedakan dari sariawan biasa adalah jumlahnya yang banyak, disertai demam, dan meluas ke seluruh gusi. Sariawan tunggal tanpa demam jarang jadi herpes gingivostomatitis.

Bedanya dengan Tumbuh Gigi, HFMD, dan Sariawan Biasa

Keempatnya bisa sama-sama bikin bayi rewel dan ngiler, tapi penanganannya berbeda.

Tumbuh gigi. Gusi memang bisa bengkak dan bayi ngiler, tapi tumbuh gigi tidak menimbulkan lepuh atau luka bergerombol di dalam mulut. Demam pada tumbuh gigi, kalau ada, umumnya ringan (di bawah 38 derajat) dan tidak sampai bikin bayi menolak minum total. Rasa gatal dan ruam di sekitar mulut akibat air liur juga umum, dan ini dibahas terpisah di artikel kulit gatal saat tumbuh gigi serta cara merawat ruam air liur saat tumbuh gigi.

HFMD (flu Singapura). Sama-sama virus, sama-sama bikin luka di mulut. Bedanya, HFMD biasanya juga memunculkan bintik atau lepuh di telapak tangan, telapak kaki, dan kadang area popok. Herpes gingivostomatitis terpusat di mulut dan gusi, jarang di tangan atau kaki. Perawatan kulit selama HFMD diulas di artikel HFMD flu Singapura pada bayi.

Sariawan biasa (aftosa). Umumnya cuma satu atau dua luka, tanpa demam tinggi, dan gusi tidak meradang menyeluruh. Kalau lukanya banyak, ada demam, dan gusi bengkak merah, arahnya lebih ke infeksi virus, bukan sariawan biasa.

Kalau ragu membedakan, jangan menebak sendiri. Dokter bisa memastikan lewat pemeriksaan langsung, dan artikel kapan harus ke dokter kulit untuk anak bisa membantu menimbang kapan waktunya periksa.

Perawatan di Rumah untuk Kenyamanan Bayi

Herpes gingivostomatitis pada bayi yang sehat umumnya sembuh sendiri dalam sekitar 7 sampai 14 hari. Fokus perawatan di rumah bukan membasmi virus, melainkan menjaga bayi tetap terhidrasi dan nyaman selama masa penyembuhan. Beberapa langkah yang biasa disarankan:

  • Utamakan cairan. Beri ASI atau susu lebih sering dalam porsi kecil. Untuk anak yang sudah makan, air putih dingin, susu dingin, atau es loli buah tanpa rasa asam sering lebih mudah diterima
  • Hindari makanan asam, asin, pedas, atau yang keras dan kasar karena memperih luka. Pilih tekstur lembut dan suhu dingin atau sejuk
  • Untuk demam dan nyeri, penurun panas yang sesuai usia dan berat badan bisa membantu bayi mau minum lagi. Ikuti dosis pada kemasan atau anjuran dokter
  • Rawat kulit di sekitar mulut. Air liur berlebih dan luka bisa membuat kulit sekitar bibir lecet dan kering. Jaga area itu tetap bersih, tepuk lembut sampai kering, lalu oleskan pelembap ringan atau salep pelindung. Bibir yang kering dan mengelupas juga bisa dirawat seperti dijelaskan di artikel bibir bayi kering mengelupas
  • Jangan memaksa bayi makan banyak. Selama ia tetap minum dan popoknya masih basah beberapa kali sehari, kebutuhan cairannya biasanya masih terjaga

Kalau dokter menilai perlu, ia mungkin meresepkan obat antivirus, terutama bila infeksinya berat atau bayi punya kondisi khusus. Keputusan itu ada di tangan dokter, jadi jangan memberi obat antivirus atas inisiatif sendiri.

Jangan Cium Bayi Sembarangan: Sisi Pencegahan yang Sering Terlewat

HSV-1 menular lewat kontak air liur dan kulit, termasuk dari ciuman. Orang dewasa yang sedang punya cold sore, lepuh, atau bahkan tanpa gejala terlihat bisa menularkan virusnya ke bayi lewat cium pipi atau bibir.

Untuk bayi yang lebih besar, herpes gingivostomatitis memang tidak berbahaya dan sembuh sendiri. Tapi pada bayi baru lahir, terutama di bawah 28 hari, ceritanya sangat berbeda. Sistem imun neonatus belum matang, dan infeksi HSV pada usia ini (disebut herpes neonatal) tergolong gawat karena bisa menyebar ke mata, otak, dan organ dalam.

Karena itu aturannya sederhana: siapa pun yang sedang punya luka lepuh di bibir sebaiknya tidak mencium bayi, apalagi newborn. Cuci tangan sebelum menggendong, dan jangan berbagi sendok, dot, atau membersihkan empeng dengan air liur sendiri. Prinsip serupa berlaku untuk hal-hal yang menempel di kulit bayi dari orang dewasa, seperti dibahas di artikel parfum ibu menempel di kulit bayi.

Ada juga kondisi yang lebih jarang tapi serius, yaitu ketika virus herpes menginfeksi kulit bayi yang sedang eksim. Tandanya bisa mirip eksim yang tiba-tiba memburuk dengan luka lepuh, dan ini dibahas di artikel eczema herpeticum pada bayi. Pola serupa juga muncul pada infeksi virus lain seperti cacar air, yang perawatan kulitnya diulas di cacar air pada bayi.

Kapan Harus ke IGD atau Dokter

Sebagian besar kasus bisa dirawat di rumah, tapi ada tanda bahaya yang tidak boleh ditunda. Segera bawa bayi ke IGD atau dokter jika:

  • Bayi berusia di bawah 28 hari dan muncul lepuh, luka, atau demam apa pun. Pada newborn, ini selalu darurat
  • Ada tanda dehidrasi: popok kering lebih dari 6 sampai 8 jam, mulut dan bibir kering, menangis tanpa air mata, mata atau ubun-ubun cekung, atau bayi lemas
  • Bayi benar-benar menolak minum dan tampak makin lesu
  • Lepuh atau luka muncul di dekat atau di dalam mata
  • Bayi sangat mengantuk, sulit dibangunkan, lemas berlebihan, atau kejang
  • Demam tinggi yang tidak turun, atau demam pada bayi di bawah 3 bulan
  • Luka meluas, bernanah, atau kulit di sekitarnya makin merah dan bengkak (tanda infeksi bakteri tambahan)

Dehidrasi adalah komplikasi paling umum pada bayi dengan herpes gingivostomatitis, justru karena mulutnya sakit sehingga malas minum. Jadi jumlah cairan yang masuk dan popok yang basah adalah dua hal yang paling perlu dipantau di rumah.

Yang Perlu Diingat

Herpes gingivostomatitis adalah infeksi HSV-1 pertama di mulut yang khas pada bayi dan balita, dengan pola lepuh bergerombol, gusi bengkak merah, demam, ngiler, dan menolak makan. Karena tumpang tindih dengan tumbuh gigi, HFMD, dan sariawan biasa, kondisi ini sering salah dikenali, padahal jumlah luka yang banyak disertai demam dan gusi meradang adalah petunjuk pentingnya.

Pada bayi yang sehat dan bukan newborn, penyakit ini biasanya sembuh sendiri dalam satu sampai dua minggu, dan tugas orang tua adalah menjaga bayi tetap terhidrasi, meredakan nyeri, dan merawat kulit di sekitar mulut. Sisi pencegahannya sederhana tapi sering dilupakan: jangan biarkan orang dengan cold sore mencium bayi, terutama newborn, karena herpes neonatal tergolong gawat. Untuk newborn di bawah 28 hari dengan lepuh apa pun, tanda dehidrasi, keterlibatan mata, atau bayi yang lesu, jangan menunda, langsung cari pertolongan medis.

Butuh Rekomendasi Produk?

Tim kami bisa bantu cari produk NeoCare yang paling cocok untuk kulit keluarga Anda.

Konsultasi via WhatsApp

Produk Terkait

Artikel Terkait