7x Ceramide Formulated in Germany • Gentle care for sensitive skin, all ages

Baby Care7 menit2026-07-05

Herpes Zoster (Cacar Api) pada Anak: Beda dengan Cacar Air

Herpes zoster atau cacar api bisa terjadi pada anak. Kenali bedanya dengan cacar air, cara merawat lesi, dan tanda bahaya yang perlu penanganan.

Herpes Zoster (Cacar Api) pada Anak: Beda dengan Cacar Air

Banyak orang tua mengira herpes zoster hanya menyerang lansia. Kenyataannya, anak yang pernah kena cacar air, atau bahkan yang sudah divaksinasi varisela, tetap bisa mengalaminya. Di Indonesia kondisi ini punya banyak nama lokal: cacar api, dampa, cacar ular, sampai cacar ranti di beberapa daerah. Semua merujuk pada penyakit yang sama, dan semuanya bikin bingung karena mirip dengan cacar air padahal mekanismenya berbeda jauh.

Herpes zoster adalah reaktivasi virus varicella-zoster, virus yang sama yang menyebabkan cacar air. Setelah anak sembuh dari cacar air, virusnya tidak benar-benar hilang. Ia tidur di simpul saraf dekat tulang belakang. Ketika daya tahan tubuh menurun, virus itu bisa bangun kembali dan menjalar di sepanjang satu jalur saraf ke permukaan kulit. Data American Academy of Pediatrics (AAP) menyebutkan herpes zoster pada anak memang jauh lebih jarang dibanding pada orang dewasa, tetapi kasusnya nyata dan sering luput dari dugaan awal.

Kenapa Anak Bisa Kena Cacar Api

Ada beberapa kelompok anak yang risikonya lebih tinggi dari rata-rata. Pemahaman soal ini penting supaya orang tua tidak menganggap diagnosisnya mustahil.

Anak yang kena cacar air di usia sangat muda, terutama di bawah satu tahun atau bahkan saat masih dalam kandungan lewat infeksi ibu, punya risiko lebih besar mengalami zoster di kemudian hari. Sistem imun bayi yang belum matang saat pertama kali bertemu virus membuat kekebalannya terhadap reaktivasi kurang kuat.

Kelompok kedua adalah anak dengan gangguan sistem imun. Anak yang sedang menjalani kemoterapi, mengonsumsi obat penekan imun jangka panjang, atau punya penyakit yang melemahkan kekebalan, lebih rentan virusnya bangun kembali. Pada kelompok ini herpes zoster bisa muncul lebih luas dan lebih berat, sehingga butuh penanganan dokter secepatnya.

Anak yang pernah divaksin varisela pun secara teori masih bisa kena, karena vaksin menggunakan virus hidup yang dilemahkan. Untungnya, penelitian yang dirujuk WHO menunjukkan risiko zoster pada anak yang divaksin justru lebih rendah dibanding anak yang kena cacar air secara alami. Vaksinasi tetap menurunkan angka, bukan menaikkannya.

Ciri Khas yang Membedakan: Pita di Satu Sisi Tubuh

Inilah kunci yang membedakan cacar api dari cacar air. Herpes zoster mengikuti satu jalur saraf, yang dalam istilah medis disebut dermatom. Akibatnya, ruamnya muncul sebagai pita atau garis lepuhan berkelompok di satu sisi tubuh saja, dan tidak melewati garis tengah tubuh.

Lepuhan kecil berisi cairan itu tumbuh bergerombol di atas kulit yang kemerahan, biasanya di dada, punggung, perut, atau wajah, mengikuti bentuk pita yang cukup rapi. Karena mengikuti satu saraf, ruam berhenti di garis tengah tubuh, misalnya di tengah dada atau tengah punggung, dan tidak menyeberang ke sisi seberang.

Panduan Perhimpunan Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin Indonesia (PERDOSKI) menekankan pola distribusi satu sisi yang tidak melewati garis tengah ini sebagai penanda utama herpes zoster. Pola inilah yang paling membantu membedakannya dari cacar air.

Ada Nyeri atau Kesemutan Sebelum Ruam Muncul

Sebelum lepuhan muncul, banyak anak mengeluh ada yang tidak enak di area kulit tertentu selama satu sampai tiga hari. Rasanya bisa berupa nyeri, gatal, panas seperti terbakar, atau kesemutan di satu sisi tubuh. Fase awal ini disebut prodromal.

Pada anak yang belum lancar bercerita, tanda ini sering terlewat. Orang tua baru sadar setelah lepuhannya keluar. Kalau anak tiba-tiba rewel sambil memegangi satu area, lalu satu sampai tiga hari kemudian muncul ruam pita di tempat yang sama, pola waktu itu sangat khas untuk cacar api.

Beda Cacar Api vs Cacar Air

Karena keduanya berasal dari virus yang sama, orang tua sering tertukar. Padahal sebaran dan perjalanannya berbeda:

  • Sebaran ruam. Cacar air muncul tersebar di seluruh tubuh, dari kepala, badan, sampai kaki, tanpa pola khusus. Cacar api terkumpul dalam satu pita di satu sisi tubuh dan tidak melewati garis tengah.
  • Jumlah dan tahapan. Pada cacar air, bintik, lepuhan, dan koreng bisa muncul bersamaan dalam berbagai tahap. Pada cacar api, lepuhan dalam satu kelompok cenderung seragam tahapannya.
  • Waktu kejadian. Cacar air adalah infeksi pertama kali. Cacar api adalah kebangkitan virus lama pada anak yang sudah pernah kena cacar air atau divaksin.
  • Nyeri. Cacar air lebih sering gatal. Cacar api sering diawali nyeri atau kesemutan sebelum ruamnya muncul.
  • Penularan. Cacar air menular lewat udara dan sentuhan. Cacar api hanya menular lewat kontak dengan cairan lepuhan, dan tidak menyebar lewat udara selama belum ada koreng.

Merawat Lepuhan dan Mencegah Infeksi Bakteri

Kulit yang melepuh adalah pintu masuk bakteri. Tujuan utama perawatan di rumah adalah menjaga area itu bersih dan kering supaya tidak terjadi infeksi sekunder. Data AAP mencatat infeksi bakteri pada bekas lepuhan adalah komplikasi kulit yang paling sering pada anak.

Beberapa langkah perawatan yang biasa disarankan dokter kulit anak:

  • Bersihkan area dengan air dan sabun lembut, lalu tepuk kering pelan pakai kain bersih. Jangan digosok.
  • Tutup lepuhan yang sudah pecah dengan kasa steril yang longgar untuk mengurangi gesekan dan risiko anak menggaruk.
  • Potong kuku anak dan pakaikan baju longgar berbahan katun supaya lepuhan tidak tergesek.
  • Untuk rasa gatal, kompres dingin atau losion yang direkomendasikan dokter bisa membantu. Hindari salep bebas tanpa anjuran, apalagi yang mengandung steroid.

Satu hal yang penting: jangan pernah memecahkan lepuhan dengan sengaja. Cairan di dalamnya mengandung virus aktif dan bisa menulari orang lain. Lepuhan yang dipecah juga membuka jalan bagi bakteri, memperlambat penyembuhan, dan menaikkan risiko bekas luka. Biarkan lepuhan mengering dan menjadi koreng dengan sendirinya, biasanya dalam tujuh sampai sepuluh hari.

Soal Penularan

Anak dengan herpes zoster bisa menularkan virus varicella-zoster ke orang di sekitarnya yang belum pernah kena cacar air dan belum divaksin. Bedanya, mereka tertular sebagai cacar air, bukan langsung sebagai cacar api.

Penularan cacar api tidak lewat udara seperti cacar air, melainkan lewat kontak langsung dengan cairan lepuhan. Selama lepuhan masih basah dan belum semuanya menjadi koreng, anak sebaiknya menjauh dari bayi kecil, ibu hamil yang belum pernah kena cacar air, dan orang dengan sistem imun lemah. Setelah semua lepuhan mengering menjadi koreng, risiko penularannya hilang.

Mitos Cacar Ular yang Melingkar

Di banyak daerah beredar cerita bahwa "cacar ular kalau ketemu ujungnya, bisa mematikan." Kekhawatiran ini bisa dipahami, karena bentuk pita ruamnya memang seperti ular yang melingkari tubuh. Tapi anggapan itu keliru.

Ruam herpes zoster hanya mengikuti satu jalur saraf di satu sisi tubuh, dan secara anatomi tidak mungkin melingkari tubuh secara utuh sampai kedua ujungnya bertemu. Yang orang lihat sebagai "dua ujung yang hampir bertemu" sebenarnya adalah satu pita saraf yang membentang dari punggung ke depan dada di sisi yang sama. Angka kematian pada herpes zoster tidak ada hubungannya dengan ujung ruam yang bertemu. Bahaya sebenarnya datang dari komplikasi, seperti infeksi bakteri berat atau zoster yang menyerang area mata. Jadi yang perlu diwaspadai adalah lokasi dan kondisi anaknya, bukan apakah pitanya melingkar penuh.

Obat Antivirus dan Kapan Harus ke Dokter

Herpes zoster pada anak sebaiknya selalu diperiksa dokter untuk memastikan diagnosis dan menilai perlu tidaknya obat antivirus. Obat seperti acyclovir hanya diberikan lewat resep dokter, dan paling efektif kalau dimulai dalam 72 jam pertama sejak ruam muncul. Orang tua tidak dianjurkan membeli sendiri karena dosisnya dihitung berdasarkan berat badan anak dan kondisi ginjalnya.

Ada satu kondisi yang tergolong gawat darurat: ketika ruam muncul di sekitar mata, dahi, atau ujung hidung. Ini bisa menandakan herpes zoster ophthalmicus, yaitu keterlibatan saraf mata yang berisiko mengganggu penglihatan permanen kalau terlambat ditangani. Kondisi ini harus dibawa ke dokter mata pada hari yang sama.

Bawa anak segera ke fasilitas kesehatan bila muncul tanda berikut:

  • Lepuhan muncul dekat mata, dahi, atau ujung hidung.
  • Anak mengeluh nyeri hebat yang tidak reda dengan pereda nyeri biasa.
  • Anak sedang menjalani kemoterapi, minum obat penekan imun, atau punya gangguan sistem kekebalan.
  • Muncul tanda infeksi sekunder, seperti nanah, area yang makin merah dan bengkak, atau demam yang naik.
  • Ruam menyebar cepat ke banyak bagian tubuh, yang bisa menandakan penyebaran tidak khas pada anak dengan imun lemah.

Kabar baiknya, sebagian besar anak dengan herpes zoster sembuh tanpa masalah berarti asalkan lepuhannya dirawat dengan benar dan tidak dipecahkan. Yang paling menentukan bukan mitos soal ular melingkar, melainkan seberapa cepat orang tua mengenali polanya dan membawa anak ke dokter saat tanda bahaya muncul.

Butuh Rekomendasi Produk?

Tim kami bisa bantu cari produk NeoCare yang paling cocok untuk kulit keluarga Anda.

Konsultasi via WhatsApp

Produk Terkait

Artikel Terkait