HFMD (Flu Singapura) Pada Bayi: Cara Merawat Kulit Selama Masa Penyembuhan
Lala (29), seorang ibu dari bayi 11 bulan di Bandung, awalnya kira anaknya kena cacar air karena tiba-tiba muncul bintik merah di telapak kaki dan tangan. Setelah pemeriksaan di puskesmas, diagnosis berbeda: Hand, Foot, and Mouth Disease atau HFMD, yang di Indonesia lebih dikenal sebagai flu Singapura. Kondisi ini sering muncul di musim penghujan dan bisa bikin kulit bayi pedih selama 7 sampai 10 hari.
"Anak saya nangis terus karena setiap makan kerasa sakit di mulutnya. Tangannya juga ada bintik kemerahan tapi nggak kayak cacar yang berisi cairan banyak. Saya panik, takut dia kena penyakit menular yang parah," cerita Lala dalam wawancara April 2026.
HFMD disebabkan oleh virus dari kelompok enterovirus, paling sering Coxsackievirus A16 dan Enterovirus 71. Penyakit ini sangat menular di antara anak-anak di bawah lima tahun, terutama yang ikut daycare atau punya saudara usia sekolah. Menurut Kementerian Kesehatan RI, kasus HFMD di Indonesia naik dua kali lipat sepanjang 2024 dibanding 2022, dengan puncak insiden di musim hujan dan peralihan musim.
Gejala Khas yang Membedakan dari Cacar Air
Dokter spesialis anak konsultan infeksi tropik di RS Hasan Sadikin Bandung menjelaskan ciri klinis HFMD yang membantu orang tua membedakannya dari cacar air dan ruam virus lain.
"HFMD punya pola spesifik. Ruam dan lepuh muncul terkonsentrasi di tiga area, yaitu telapak tangan, telapak kaki, dan rongga mulut. Bisa juga di bokong, terutama pada bayi yang masih pakai popok. Cacar air sebaliknya, ruamnya tersebar acak di seluruh tubuh, termasuk wajah dan kulit kepala," kata dr Tata, dr SpA(K).
Beliau menambahkan, "Lepuh HFMD juga lebih kecil dan oval, sekitar 3 sampai 7 milimeter, dengan halo merah di sekelilingnya. Cacar air lepuhnya bulat, lebih besar, dan berisi cairan jernih yang banyak."
Gejala awal yang sering muncul 1 sampai 2 hari sebelum ruam:
- Demam ringan sampai sedang, 37,5 sampai 38,5 derajat Celsius
- Bayi rewel dan nafsu makan turun
- Sakit tenggorokan dan air liur lebih banyak dari biasanya
- Bercak putih kecil di lidah atau gusi (lesi awal di mulut)
Kenapa Mulut Bayi Paling Menderita
Lesi di rongga mulut adalah penyebab utama bayi menolak makan dan minum saat HFMD. Lepuh kecil tumbuh di lidah, langit-langit, gusi, dan dinding pipi bagian dalam. Saat pecah, meninggalkan ulkus dangkal yang terasa pedih seperti sariawan ganda. Setiap kunyahan, hisapan, atau telan terasa menyakitkan, sehingga banyak bayi memilih puasa sebagian.
Risiko terbesar dari fase ini adalah dehidrasi. Karena bayi enggan minum, asupan cairan turun, dan kondisi bisa berkembang jadi dehidrasi ringan sampai sedang dalam 24 sampai 48 jam.
"Tanda dehidrasi pada bayi HFMD yang harus diwaspadai orang tua: jumlah popok basah turun jadi kurang dari 6 per hari, bibir tampak kering, mata sayu, dan saat menangis tidak ada air mata. Kalau muncul, segera ke fasilitas kesehatan," ujar dr Tata.
Perawatan Kulit untuk Ruam dan Lepuh
Karena penyebab HFMD adalah virus, tidak ada obat khusus yang memperpendek durasi sakit. Perawatan fokus pada meringankan gejala dan menjaga kulit yang melepuh tetap bersih sampai virus selesai siklus alaminya dalam 7 sampai 10 hari.
Mandi singkat dengan air hangat suam-suam kuku. Air terlalu hangat bisa memperparah gatal dan membuat lepuh lebih sensitif. Pakai sabun lembut bebas pewangi, hindari menggosok area yang melepuh, cukup siram perlahan dan tepuk-tepuk handuk untuk mengeringkan.
Pelembab tipis di area kulit yang tidak melepuh. Hindari mengoleskan krim apa pun langsung di atas lepuh yang masih utuh, karena lapisan oklusif bisa memperlambat keringnya cairan dalam lepuh. Kulit di sekitar lepuh yang kering boleh dipelembabkan dengan produk pelembab berbahan dasar ceramide atau panthenol.
Kompres dingin untuk meredakan gatal. Kain bersih yang dibasahi air dingin dan diperas, lalu ditempelkan 5 sampai 10 menit di area gatal, membantu mengurangi keinginan menggaruk. Sarung tangan kapas tipis di malam hari juga membantu mencegah bayi melukai lepuh saat tidur.
Hindari pakaian ketat dan bahan sintetis. Pakai katun longgar yang menyerap keringat. Lepuh di lipatan paha atau bokong rentan iritasi kalau bersentuhan dengan popok ketat atau celana berlapis nilon.
Membantu Bayi Tetap Makan dan Minum
Karena rongga mulut adalah sumber utama nyeri, strategi makan-minum perlu disesuaikan:
Berikan cairan dingin atau suhu ruangan, hindari yang panas. Susu yang didinginkan sebentar di kulkas, kuah sup yang sudah dingin, atau es loli buatan rumah dari ASI atau air putih beku.
Hindari makanan asin, asam, dan pedas yang memperburuk perih ulkus. Buah seperti jeruk, nanas, dan tomat sementara dihindari.
Pilih tekstur lembut, hampir cair. Bubur encer, puree pisang, yoghurt, dan custard suam-suam jadi pilihan yang lebih mudah ditelan.
Pakai sedotan kalau bayi sudah cukup besar untuk memakainya. Sedotan membantu cairan langsung masuk ke tenggorokan tanpa terlalu banyak menyentuh ulkus di lidah.
Untuk bayi di bawah 6 bulan yang masih ASI eksklusif, susui lebih sering dengan durasi pendek. Posisi football hold (bayi di samping ibu) kadang lebih nyaman karena tekanan di mulut lebih ringan.
Pencegahan Penularan di Rumah dan Daycare
Virus HFMD menyebar lewat tetesan air liur (saat bayi batuk atau bersin), kontak langsung dengan cairan lepuh, dan feses bayi yang masih bisa mengandung virus sampai beberapa minggu setelah sembuh.
Bayi sebaiknya diisolasi dari saudara dan teman selama:
- 7 hari sejak munculnya ruam, atau
- Sampai semua lepuh sudah mengering dan tidak ada lagi yang baru muncul
Cuci tangan dengan sabun dan air mengalir setelah ganti popok dan setelah membersihkan air liur bayi. Hand sanitizer berbasis alkohol kurang efektif terhadap enterovirus, jadi sabun adalah pilihan utama menurut rekomendasi CDC dan WHO.
Mainan, dot, dan permukaan yang sering disentuh bayi sebaiknya dibersihkan dengan air sabun atau disinfektan rumah tangga setiap hari selama masa sakit. Mesin cuci dengan air panas di atas 60 derajat Celsius cukup untuk pakaian.
Kapan Harus ke Rumah Sakit
Sebagian besar bayi HFMD sembuh di rumah tanpa komplikasi. Lala sendiri menggambarkan anaknya melewati puncak sakit di hari ke-3 sampai ke-5, lalu mulai membaik di hari ke-7.
Tapi ada beberapa tanda yang menunjukkan kebutuhan evaluasi medis segera:
Demam tinggi di atas 39 derajat Celsius selama lebih dari 3 hari, terutama kalau tidak turun dengan paracetamol sesuai dosis berat badan.
Tanda dehidrasi sedang sampai berat: tidak BAK lebih dari 8 jam, lethargic atau sulit dibangunkan, ubun-ubun cekung, denyut nadi cepat.
Gejala neurologis: kejang, kelemahan mendadak di salah satu sisi tubuh, kekakuan leher, atau perubahan kesadaran. Walau langka, Enterovirus 71 bisa menyebabkan komplikasi serius seperti meningoensefalitis pada sebagian kecil kasus.
Lepuh yang berubah warna jadi merah marak, bengkak, dan keluar cairan kuning kehijauan. Ini tanda infeksi bakteri sekunder yang butuh antibiotik.
Setelah Sembuh: Perawatan Kulit Lanjutan
Kulit di area bekas lepuh biasanya tampak sedikit lebih terang atau gelap dari sekitarnya selama 2 sampai 4 minggu, lalu kembali normal sendiri. Kuku jari tangan dan kaki bayi yang sempat terkena HFMD juga bisa lepas (onikomadesis) sekitar 4 sampai 8 minggu setelah sembuh. Kondisi ini terlihat menakutkan tapi sebenarnya normal: kuku baru tumbuh dari pangkalnya dan menggantikan kuku lama dalam 2 sampai 3 bulan.
Pelembab harian dengan ceramide atau colloidal oatmeal membantu skin barrier pulih lebih cepat. Hindari produk berkandungan retinol, AHA, atau pewangi kuat selama 2 minggu pertama pemulihan.
Bayi yang sudah pernah HFMD bisa terkena lagi karena ada banyak strain enterovirus yang berbeda. Imunitas hanya terbentuk terhadap strain spesifik yang menyerang. Karena itu pencegahan jangka panjang lewat kebersihan tangan dan ventilasi rumah tetap relevan, terutama menjelang musim hujan saat insiden HFMD biasanya melonjak.



