Hujan Abu Vulkanik dan Kulit Bayi: Kenapa Menggosok Abu Justru Melukai Kulit
Sepanjang 2026 Indonesia mencatat rentetan erupsi yang membuat hujan abu jadi kejadian berulang, bukan sekali setahun. Gunung Marapi di Sumatera Barat meletus lebih dari 20 kali antara Januari sampai awal Maret, hampir tiap pekan, dan pada 11 Juni menyemburkan kolom abu sekitar 2.400 meter di atas puncak. Gunung Dukono di Halmahera tercatat 199 kali erupsi sampai 30 Maret. Gunung Semeru menyusul pada 13 Februari dengan kolom abu 1.000 meter.
Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) mengimbau warga di wilayah terdampak memakai masker saat hujan abu turun, terutama untuk mencegah gangguan saluran pernapasan. Imbauan itu jarang menyinggung kulit. Padahal untuk rumah yang ada bayinya, abu yang menempel di pipi dan tangan menimbulkan masalah tersendiri, dan cara orang tua membersihkannya sering memperburuk keadaan.
Abu Vulkanik Bukan Debu Biasa
Secara fisik, abu vulkanik adalah pecahan batuan vulkanik berukuran di bawah 2 milimeter. International Volcanic Health Hazards Network (IVHHN), lembaga rujukan internasional untuk bahaya kesehatan akibat aktivitas vulkanik, menggambarkan partikelnya bersifat abrasif dengan sisi-sisi tajam. Sifat inilah yang membedakannya dari debu jalanan atau asap karhutla.
Pada mata, partikel abu bisa menimbulkan goresan di permukaan kornea dan radang selaput mata. Pemakai lensa kontak disarankan beralih ke kacamata selama hujan abu, justru karena risiko goresan itu.
Abu yang baru turun juga membawa lapisan asam di permukaan partikelnya. Menurut IVHHN, lapisan ini mengiritasi paru-paru dan mata, dan akan luruh cukup cepat begitu terkena hujan. Artinya abu segar di hari pertama lebih mengganggu dibanding abu yang sudah beberapa hari mengendap dan sempat kena air.
Yang Terjadi pada Kulit Bayi
Iritasi kulit bukan keluhan paling sering dalam kejadian hujan abu. IVHHN mencatat efek pada kulit relatif jarang, dan yang terdokumentasi berupa iritasi serta kemerahan, ditambah infeksi sekunder akibat digaruk.
Persoalannya, dua catatan itu justru menempatkan bayi di posisi paling rawan. Lapisan terluar kulit bayi, stratum corneum, sekitar 20 sampai 30 persen lebih tipis dibanding orang dewasa. Partikel yang tajam dan abrasif bekerja di permukaan yang lebih rapuh. Bayi juga belum bisa menahan diri untuk tidak menggosok wajah dan mata saat terasa gatal, sehingga jalur menuju lecet dan infeksi sekunder terbuka lebih lebar.
IVHHN sendiri menyebut anak-anak menghadapi risiko lebih tinggi karena ukuran tubuh yang lebih kecil dan karena mereka belum mampu mengambil langkah pencegahan yang wajar. Untuk bayi, seluruh langkah pencegahan itu ada di tangan orang dewasa di rumah.
dr. Ratna Widuri, Sp.A, dokter spesialis anak yang kerap menangani keluhan kulit pasca-bencana, menyoroti satu kebiasaan yang berulang.
"Refleks pertama orang tua saat lihat abu menempel di pipi bayi adalah mengelapnya kering dengan tisu atau kain. Itu sama saja menggosokkan pasir halus ke kulit yang tipis. Abunya justru terdorong masuk ke lipatan dan meninggalkan goresan mikro yang bikin merah berhari-hari. Basahi dulu, baru angkat, dan jangan digosok," kata dr. Ratna.
Saat Abu Masih Turun
Prioritasnya menahan paparan, bukan membersihkan berulang kali. Beberapa langkah yang berlaku selama abu masih aktif turun:
- Tutup pintu dan jendela, termasuk ventilasi kamar bayi. Sumbat celah bawah pintu dengan kain lembap bila abu masuk lewat situ.
- Tunda membawa bayi keluar rumah sampai abu reda. Bila terpaksa keluar, tutupi tubuh dengan kain katun panjang dan lindungi wajah dari abu yang beterbangan.
- Batasi aktivitas fisik berat pada anak yang lebih besar selama hujan abu, sesuai anjuran IVHHN, karena napas yang memburu menarik lebih banyak partikel.
- Ganti baju bayi begitu terlihat berdebu, dan pisahkan cuciannya.
- Simpan pelembap, botol susu, dan perlengkapan makan dalam wadah tertutup.
Masker medis dewasa tidak cocok untuk bayi di bawah satu tahun karena berisiko menghambat napas. Perlindungan untuk kelompok usia ini bertumpu pada menjaga udara dalam ruangan tetap bersih, bukan pada masker.
Membersihkan Abu dari Kulit Tanpa Menggores
Aturan utamanya satu: jangan pernah mengelap abu dalam keadaan kering.
Basahi area yang terkena dengan air bersih mengalir atau kain yang sudah dibasahi, lalu biarkan abu terangkat oleh air. Tepuk lembut untuk mengeringkan, jangan digosok bolak-balik. Untuk wajah, alirkan air dari dahi ke bawah supaya abu tidak masuk ke mata.
Perhatikan lipatan leher, ketiak, belakang telinga, dan sela jari. Abu terperangkap di area itu dan tetap menggesek kulit lama setelah bagian permukaan terlihat bersih. Bila abu masuk ke mata bayi, bilas dengan air bersih dan hindari mengucek.
Setelah kulit kering, oleskan pelembap tanpa pewangi untuk membantu memulihkan lapisan pelindung yang baru saja tergesek partikel kasar. Tunda dulu produk yang mengandung bahan eksfoliasi atau pewangi selama beberapa hari.
Membersihkan Rumah Tanpa Menerbangkan Abu Lagi
IVHHN menganjurkan endapan abu dibasahi tipis lebih dulu sebelum diangkat. Menyapu dalam keadaan kering menerbangkan kembali partikel halus ke udara dan menghasilkan tingkat paparan yang jauh lebih tinggi.
Untuk rumah dengan bayi, urutannya: pindahkan bayi ke ruangan yang paling sedikit terpapar, percikkan air secukupnya ke permukaan berabu, lalu angkat dengan kain lembap atau pel. Bilas kain di ember terpisah, bukan di wastafel tempat mencuci botol.
Kemoceng dan kipas angin memperburuk sebaran. Seprai, kelambu, dan boneka kain yang sempat terkena abu perlu dicuci, bukan sekadar dikibaskan.
Tanda yang Perlu Diperiksakan
Kemerahan ringan biasanya mereda dalam satu sampai dua hari setelah abu bersih dan kulit dilembapkan. Bawa bayi ke fasilitas kesehatan bila muncul luka lecet yang basah atau bernanah, kemerahan yang meluas disertai kulit terasa panas, mata yang terus berair dan memerah setelah dibilas, atau bayi menangis terus dan sulit tidur karena gatal.
Luka gores akibat partikel abrasif adalah pintu masuk bakteri, dan itu yang menjelaskan kenapa infeksi sekunder muncul dalam catatan IVHHN. Perawatan di rumah sifatnya merawat dan menjaga, bukan menggantikan pemeriksaan dokter.
Aktivitas Marapi, Dukono, dan Semeru sepanjang 2026 menunjukkan hujan abu di wilayah tertentu berulang dalam hitungan pekan. Untuk keluarga yang tinggal di lereng gunung api aktif, menyiapkan air bersih, kain lembap, dan pelembap tanpa pewangi di satu tempat yang mudah dijangkau lebih masuk akal daripada mencari perlengkapan saat abu sudah turun.
Kalau kamu tinggal di wilayah rawan hujan abu dan lagi cari pelembap harian yang lembut untuk memulihkan kulit bayi setelah terpapar partikel kasar, NeoCare Gentle Moisturizer Lotion diformulasikan tanpa pewangi dan bebas SLS, dengan 7X Ceramide dari Jerman untuk membantu merawat skin barrier bayi yang lebih tipis. Ada pertanyaan soal kondisi kulit si kecil pasca hujan abu? Tim kami siap bantu lewat konsultasi WhatsApp.



