Impetigo Pada Bayi: Infeksi Bakteri yang Sering Dikira Eksim, dan Cara Membedakannya
Impetigo adalah salah satu infeksi kulit bakteri paling umum pada bayi dan balita di bawah lima tahun. American Academy of Dermatology memperkirakan kondisi ini menyumbang sekitar 10 persen dari semua kunjungan dermatologi pediatrik di klinik tropis. Yang sering bikin orang tua kebingungan, lukanya kerap disangka eksim atau gigitan serangga sampai akhirnya menyebar dan butuh antibiotik.
Impetigo disebabkan oleh dua jenis bakteri utama: Staphylococcus aureus dan Streptococcus pyogenes. Kedua bakteri ini sebenarnya hidup damai di permukaan kulit dan saluran napas atas pada banyak orang sehat. Masalah baru muncul saat skin barrier bayi rusak karena garukan, ruam eksim, gigitan nyamuk, atau luka kecil, lalu bakteri ini masuk ke lapisan dalam epidermis dan berkembang biak.
Data dari Centers for Disease Control and Prevention (CDC) Amerika tahun 2024 menyebut prevalensi impetigo di iklim tropis dua sampai tiga kali lebih tinggi dibanding iklim subtropis. Kelembaban tinggi, suhu panas, dan keringat berlebih menciptakan kondisi ideal buat pertumbuhan bakteri. Di Indonesia, kasus impetigo cenderung naik di musim peralihan dan saat anak-anak banyak beraktivitas di luar rumah.
Dua Bentuk Klinis yang Perlu Dikenali
Dokter spesialis kulit anak di RS Cipto Mangunkusumo Jakarta menjelaskan dua bentuk klinis impetigo yang paling sering ditemui pada bayi Indonesia.
Bentuk pertama disebut impetigo non-bulosa atau impetigo crustosa. Diawali bintik merah kecil, lalu berubah jadi lepuh tipis berisi cairan kuning bening, dan pecah dalam hitungan jam meninggalkan kerak madu khas yang berwarna kuning kecokelatan. Kerak ini lengket dan susah dibersihkan dengan air biasa. Lokasi favoritnya adalah sekitar hidung, mulut, dan area popok.
Bentuk kedua adalah impetigo bulosa, lebih umum pada bayi di bawah dua tahun. Lepuhnya lebih besar, berisi cairan kuning, dan bisa mencapai diameter 1 sampai 2 cm sebelum pecah. Setelah pecah, kulit di dalamnya tampak merah mengkilap, mirip luka bakar superfisial. Lokasinya sering di lipatan paha, ketiak, dan leher.
"Yang membedakan impetigo dari eksim, lepuh impetigo selalu berisi cairan dan punya kerak madu yang spesifik. Eksim itu kering, gatal, dan tidak bernanah kecuali sudah ada infeksi sekunder. Kalau ibu lihat kerak kuning di sekitar hidung atau mulut bayi, hampir pasti itu impetigo, bukan eksim," kata dokter spesialis kulit anak senior tersebut.
Perbedaan dengan Eksim, Gigitan Serangga, dan Cacar
Banyak ibu salah menduga karena gejala awal impetigo cukup mirip kondisi lain. Berikut perbandingan singkat:
Eksim biasanya gatal hebat, kulit kering bersisik, dan tersebar simetris di pipi, lutut, dan siku. Tidak ada cairan bening yang keluar kecuali sudah digaruk berat. Permukaan kulitnya kasar, bukan bercairan.
Gigitan serangga muncul tunggal atau berkelompok di area kulit terbuka. Ada bekas tusukan kecil di tengah, dan gatalnya hilang dalam 24 sampai 48 jam tanpa intervensi. Tidak menyebar ke area lain dengan cepat.
Cacar air (varicella) disertai demam dan ruam yang muncul bertahap di seluruh tubuh dalam 3 sampai 5 hari. Lepuhnya berisi cairan jernih, lalu mengeras jadi keropeng cokelat. Penyebabnya virus, bukan bakteri.
Impetigo menyebar cepat (24 sampai 72 jam bisa muncul di lokasi baru karena bayi menyentuh lukanya lalu memegang area lain), kerak khasnya berwarna kuning madu, dan tidak selalu disertai demam. Kalau demam tinggi muncul, itu tanda infeksi sudah lebih serius dan perlu evaluasi dokter.
Tatalaksana Standar dan Kapan Butuh Antibiotik
Pedoman Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) 2024 menyebut impetigo lokal yang hanya 1 sampai 2 lesi kecil masih bisa diatasi dengan perawatan topikal. Cairan kompres dingin dengan air matang yang sudah didiamkan sekitar 15 menit di lesi membantu melunakkan kerak. Lalu dibersihkan perlahan dengan kain kasa lembut, dan dioleskan salep antiseptik yang diresepkan dokter.
Untuk lesi yang lebih dari 2, menyebar di beberapa area tubuh, atau sudah berkulit kerak luas, antibiotik topikal seperti mupirocin atau retapamulin biasanya jadi lini pertama. Pemakaian 2 sampai 3 kali sehari selama 5 sampai 7 hari umumnya membersihkan infeksi.
Antibiotik oral (sefaleksin atau klindamisin) diresepkan kalau:
- Lebih dari 5 lesi tersebar di area berbeda
- Ada tanda infeksi sistemik seperti demam di atas 38,5 derajat Celsius
- Lesi tidak membaik dengan antibiotik topikal setelah 3 hari
- Bayi punya kondisi imun lemah atau riwayat eksim luas
Resistensi bakteri jadi perhatian global. Studi yang diterbitkan jurnal Pediatric Dermatology 2023 mencatat sekitar 15 sampai 20 persen kasus impetigo di Asia Tenggara sudah menunjukkan resistensi terhadap mupirocin generasi lama. Dokter biasanya akan memilih antibiotik berdasarkan pola resistensi lokal.
Pencegahan Lewat Perawatan Kulit Harian
Karena impetigo butuh kerusakan skin barrier untuk masuk, perawatan kulit yang menjaga barrier tetap utuh adalah pencegahan paling efektif. Beberapa langkah praktis yang direkomendasikan dokter kulit anak:
Pangkas kuku bayi pendek dan halus setiap 3 sampai 5 hari, supaya garukan tidak melukai kulit. Untuk bayi yang sering menggaruk karena eksim, sarung tangan kapas tipis di malam hari membantu meminimalkan trauma.
Mandi 1 kali sehari dengan sabun lembut pH netral, lalu keringkan dengan menepuk-nepuk handuk, jangan digosok. Pemberian pelembab segera setelah mandi (dalam 3 menit pertama saat kulit masih lembap) mengunci kelembapan dan memperkuat barrier.
Cuci tangan keluarga dan pengasuh sebelum menyentuh bayi, terutama setelah pulang dari luar rumah atau memegang hewan peliharaan. Bakteri penyebab impetigo paling sering ditularkan via kontak langsung.
Pisahkan handuk, baju, dan tempat tidur bayi yang sedang impetigo dari anggota keluarga lain, cuci dengan air panas di atas 60 derajat Celsius selama masa pengobatan. Studi WHO Western Pacific Region tahun 2024 menemukan transmisi intra-keluarga adalah jalur penularan paling tinggi di rumah tangga padat.
Tanda Komplikasi yang Membutuhkan Rujukan Segera
Walaupun impetigo umumnya jinak dan sembuh dalam 7 sampai 10 hari, ada komplikasi langka yang harus diwaspadai:
Selulitis (infeksi yang menyebar ke lapisan kulit yang lebih dalam), ditandai kulit merah, bengkak, hangat, dan nyeri saat disentuh. Bayi tampak rewel berlebihan dan bisa menolak menyusu.
Limfadenitis (pembesaran kelenjar getah bening di sekitar area lesi), biasanya di leher atau lipatan paha. Benjolan ini lunak dan bisa nyeri.
Glomerulonefritis pasca-streptokokus, komplikasi ginjal langka yang muncul 2 sampai 6 minggu setelah infeksi streptokokus berat. Ditandai urin warna teh dan bengkak di kelopak mata atau kaki. Insidennya rendah (di bawah 1 persen) tapi serius dan butuh penanganan rumah sakit.
Demam tinggi yang muncul setelah pengobatan dimulai juga tanda bahwa bakteri mungkin resisten terhadap antibiotik yang dipakai, atau ada infeksi paralel yang belum teridentifikasi.
Kapan Bayi Boleh Kembali ke Daycare atau Aktivitas Sosial
Pedoman American Academy of Pediatrics dan IDAI sepakat: bayi dengan impetigo aktif sebaiknya tetap di rumah sampai 24 jam setelah memulai antibiotik (oral atau topikal yang efektif), atau sampai semua lesi sudah berkerak dan kering. Penularan paling tinggi di fase lepuh basah dan kerak madu yang masih lengket.
Untuk bayi yang sudah masuk daycare, beri tahu pengasuh dan minta agar handuk dan mainan bayi yang sedang dirawat dipisahkan. Banyak daycare di Jakarta dan kota besar sudah punya protokol screening untuk impetigo, jadi komunikasi terbuka membantu mencegah outbreak kecil.
Pemulihan total ditandai hilangnya semua kerak, kulit yang sembuh tampak lebih muda dan kadang sedikit lebih terang dari area sekitarnya. Bekas ini biasanya hilang dalam 2 sampai 4 minggu tanpa intervensi tambahan.
Perawatan kulit bayi yang konsisten setelah pemulihan jadi tabungan pencegahan jangka panjang. Pelembab berbahan ceramide atau panthenol membantu barrier tetap kuat, sehingga risiko impetigo berulang berkurang secara berarti di tahun-tahun pertama kehidupan.



