7x Ceramide Formulated in Germany • Gentle care for sensitive skin, all ages

Baby Care6 menit2026-06-26

Incontinentia Pigmenti pada Bayi Baru Lahir: Lepuh Berpola yang Sering Disangka Infeksi

Incontinentia pigmenti bikin lepuh berpola garis Blaschko pada bayi baru lahir, sering disangka infeksi atau eksim. Kenali fase ruam dan kapan ke dokter.

Incontinentia Pigmenti pada Bayi Baru Lahir: Lepuh Berpola yang Sering Disangka Infeksi

Wulan (29), ibu dari bayi perempuan berusia 5 hari di Bandung, sempat panik saat melihat lepuh-lepuh kecil berbaris rapi di sepanjang lengan dan kaki anaknya. Lepuhnya tidak acak. Pola garisnya jelas, seperti mengikuti alur tertentu di kulit. Dokter di klinik pertama sempat menduga itu infeksi virus, lalu sempat juga disebut eksim.

Setelah dirujuk ke dokter spesialis kulit anak dan menjalani beberapa pemeriksaan, jawabannya ternyata berbeda dari dua dugaan awal tadi. Anaknya mengalami incontinentia pigmenti, sebuah kelainan genetik langka yang punya pola sangat khas di kulit. Kasus seperti Wulan tidak banyak, tapi cukup sering bikin salah arah di awal karena tampilannya memang mirip masalah kulit bayi yang umum.

Apa Itu Incontinentia Pigmenti?

Incontinentia pigmenti, kadang disebut sindrom Bloch-Sulzberger, adalah kelainan genetik langka yang memengaruhi kulit dan beberapa organ lain. Penyebabnya adalah mutasi pada gen IKBKG (dulu dikenal sebagai gen NEMO), yang sifatnya X-linked dominant.

Karena letak gennya di kromosom X, kondisi ini hampir selalu muncul pada bayi perempuan. Pada bayi laki-laki, mutasi yang sama umumnya tidak memungkinkan kehamilan bertahan, sehingga yang lahir dan menunjukkan gejala mayoritas adalah anak perempuan. Ini salah satu ciri yang membantu dokter membedakannya dari kondisi kulit lain.

Yang penting dipahami orang tua: ini bukan masalah kebersihan, bukan akibat salah pakai produk skincare, dan bukan menular. Ini kondisi bawaan yang sudah ada sejak gen terbentuk, dan diagnosisnya harus lewat dokter, bukan ditebak sendiri di rumah.

Kenapa Lepuhnya Mengikuti Garis Blaschko

Ciri paling khas dari incontinentia pigmenti adalah polanya. Ruam dan lepuhnya tidak tersebar acak, melainkan mengikuti pola garis yang disebut garis Blaschko.

Garis Blaschko adalah jalur tak kasat mata yang terbentuk saat sel-sel kulit bergerak dan menyebar selama bayi masih dalam kandungan. Garis ini berbentuk pusaran di badan, garis lurus memanjang di lengan dan kaki, serta pola melengkung di kepala. Pada kulit normal, garis ini tidak terlihat sama sekali. Tapi pada kondisi genetik tertentu seperti incontinentia pigmenti, ruam justru muncul persis di sepanjang jalur tersebut, sehingga membentuk garis atau pusaran yang rapi.

Pola berbaris inilah yang sering jadi petunjuk pertama bagi dokter kulit. Infeksi biasa atau alergi jarang membentuk garis seserapi itu.

Empat Fase Ruam yang Berubah Seiring Waktu

Salah satu hal yang bikin orang tua bingung, tampilan kulit pada incontinentia pigmenti berubah-ubah seiring bayi tumbuh. Berdasarkan literatur medis, ada 4 fase yang umumnya berurutan, meski tidak setiap anak melewati semuanya dengan jelas.

  • Fase 1, vesikular (lepuh). Muncul saat lahir atau dalam beberapa minggu pertama. Kulit tampak merah dengan lepuh berisi cairan yang berbaris mengikuti garis Blaschko, paling sering di lengan, kaki, dan badan. Fase inilah yang paling sering disangka infeksi.
  • Fase 2, verukosa (seperti kutil). Beberapa minggu sampai bulan setelahnya, lepuh mereda dan berganti jadi tonjolan kasar menyerupai kutil, masih di jalur garis yang sama.
  • Fase 3, hiperpigmentasi. Muncul guratan atau pusaran berwarna lebih gelap, sering digambarkan seperti pola marmer. Fase ini bisa bertahan sampai usia anak-anak dan biasanya memudar menjelang dewasa.
  • Fase 4, hipopigmentasi atau atrofi. Kulit jadi tampak lebih pucat, garis tipis tanpa rambut, kadang permukaannya sedikit menipis. Fase ini umumnya baru terlihat saat remaja atau dewasa muda.

Karena tampilannya berubah, foto kulit bayi dari waktu ke waktu sangat membantu dokter saat evaluasi.

Kenapa Sering Disangka Infeksi atau Eksim

Di fase awal, lepuh berisi cairan di kulit bayi baru lahir memang mudah dikira infeksi virus, termasuk herpes simpleks pada neonatus. Laporan medis pun mencatat kasus incontinentia pigmenti yang sempat salah didiagnosis sebagai infeksi herpes di awal. Sementara fase merah dan bersisiknya bisa menyerupai eksim atau dermatitis.

Bedanya ada di pola dan perjalanan penyakitnya. Eksim cenderung muncul di lipatan, terasa gatal, dan tidak berbaris rapi mengikuti garis tubuh. Infeksi biasanya disertai demam, kulit terasa hangat, bayi rewel, dan ruamnya menyebar tanpa pola garis. Incontinentia pigmenti punya pola berbaris yang konsisten dan berubah bertahap lewat fase-fase tadi.

Membedakan ketiganya bukan tugas orang tua di rumah. Pemeriksaan oleh dokter, kadang ditambah biopsi kulit dan tes genetik, yang memastikan diagnosisnya.

Suara Dokter

Menurut dokter spesialis dermatologi dan venereologi anak, dr. Anindya Paramita, Sp.D.V.E., pola ruam adalah kunci awal yang tidak boleh diabaikan:

"Yang paling sering bikin keliru di awal itu fase lepuhnya, karena mirip sekali dengan infeksi. Tapi begitu kita lihat lepuhnya berbaris mengikuti garis Blaschko, dan riwayatnya muncul sejak beberapa hari pertama kehidupan, kecurigaan kami langsung mengarah ke kelainan genetik. Orang tua tidak perlu menebak sendiri. Yang kami minta justru sederhana, jangan dipecahkan lepuhnya, jaga kulit tetap bersih dan lembap, lalu segera bawa ke dokter supaya bisa dievaluasi menyeluruh, termasuk mata dan kondisi tumbuh kembangnya," kata dr. Anindya.

Bukan Cuma Soal Kulit

Incontinentia pigmenti perlu dievaluasi serius karena kondisi ini bisa melibatkan organ lain di luar kulit. Yang umum dipantau dokter meliputi:

  • Mata, terutama bagian retina, yang pada sebagian anak bisa mengalami gangguan pembuluh darah dan perlu pemeriksaan dini oleh dokter spesialis mata.
  • Gigi, seperti gigi yang hilang, tumbuh tidak lengkap, atau bentuknya tidak biasa.
  • Rambut dan kuku, yang kadang ikut terpengaruh.
  • Sistem saraf pusat, yang pada sebagian kasus dikaitkan dengan kejang atau keterlambatan tumbuh kembang.

Karena cakupannya bisa luas, penanganannya biasanya melibatkan beberapa dokter sekaligus, mulai dari dokter anak, dokter kulit, sampai dokter mata. Pemeriksaan mata sejak awal jadi salah satu yang ditekankan, supaya kalau ada masalah di retina bisa ditangani lebih cepat.

Tanda yang Perlu Diwaspadai

Karena diagnosis dan penanganan sepenuhnya ranah dokter, hal terbaik yang bisa dilakukan orang tua adalah mengenali tanda yang sebaiknya bikin segera periksa. Waspadai bila bayi baru lahir menunjukkan:

  • Lepuh atau ruam yang berbaris rapi mengikuti pola garis atau pusaran di kulit, bukan tersebar acak.
  • Ruam yang berubah bentuk dari waktu ke waktu, misalnya dari lepuh menjadi tonjolan kasar lalu jadi guratan gelap.
  • Ada riwayat kondisi serupa di keluarga, terutama dari pihak ibu.
  • Disertai keluhan lain, seperti kejang, gerakan mata yang tidak biasa, atau tumbuh kembang yang terlihat tertinggal.

Tanda-tanda ini tidak otomatis berarti incontinentia pigmenti. Banyak kondisi kulit bayi yang jinak. Tapi pola berbaris yang khas adalah alasan kuat untuk minta evaluasi dokter, bukan menunggu hilang sendiri.

Kapan Harus ke Dokter

Sebaiknya segera bawa bayi ke dokter, dan minta rujukan ke dokter spesialis kulit anak, jika menemukan lepuh atau ruam berpola garis pada bayi baru lahir, terlebih bila polanya konsisten dan berubah seiring hari. Jangan menunda jika lepuh disertai demam, bayi tampak kesakitan, atau ada keluhan di mata maupun gerakannya.

Hindari memencet, memecahkan, atau mengoleskan obat apa pun ke lepuh tanpa arahan dokter. Kulit bayi baru lahir sangat tipis, dan tindakan yang salah bisa membuka jalan masuk infeksi. Diagnosis incontinentia pigmenti membutuhkan pemeriksaan medis, kadang termasuk biopsi kulit dan tes genetik, jadi peran orang tua di tahap ini adalah membawa ke dokter sedini mungkin dan menjaga kulit bayi tetap aman.


Saat menunggu jadwal pemeriksaan atau menemani si kecil melewati fase kulit yang sensitif, perawatan kulit yang lembut tetap penting, walau perawatan ini bukan pengganti penanganan dokter. Untuk area kulit yang sehat dan tidak sedang berlepuh, kelembapan yang ringan bisa membantu menjaga kenyamanan kulit bayi yang tipis. NeoCare Gentle Moisturizer Lotion dengan 7X Ceramide Formulated in Germany dibuat tanpa pewangi dan tanpa SLS, sehingga lembut untuk kulit bayi yang rapuh. Untuk kondisi seperti ini, langkah pertama selalu dokter dulu. Bila ada pertanyaan soal perawatan kulit harian si kecil, tim konsultan NeoCare siap membantu via WhatsApp.

Butuh Rekomendasi Produk?

Tim kami bisa bantu cari produk NeoCare yang paling cocok untuk kulit keluarga Anda.

Konsultasi via WhatsApp

Produk Terkait

Artikel Terkait