7x Ceramide Formulated in Germany • Gentle care for sensitive skin, all ages

Baby Care6 menit2026-08-20

Kapur Barus di Lemari Baju Bayi: Risiko Naftalena pada Kulit dan Sel Darah

Baju bayi yang disimpan bersama kapur barus bisa memicu iritasi kulit dan, pada bayi tertentu, hemolisis. Penjelasan dan cara menanganinya.

Kapur Barus di Lemari Baju Bayi: Risiko Naftalena pada Kulit dan Sel Darah

Poisons Information Monograph yang disusun International Programme on Chemical Safety mencatat satu kalimat yang jarang sampai ke orang tua: reaksi sistemik berupa penyakit kuning dan hemolisis pernah terjadi setelah bayi dipakaikan pakaian yang disimpan bersama kapur barus naftalena.

Kalimat itu menggambarkan kebiasaan yang biasa di rumah tangga Indonesia. Perlengkapan bayi disiapkan jauh sebelum hari kelahiran, dicuci, dilipat, lalu disimpan berbulan-bulan di lemari bersama beberapa butir kapur barus supaya tidak apek dan bebas ngengat. Begitu bayi lahir, baju itu dikeluarkan dan langsung dipakai.

Yang berpindah dari lemari ke kulit bayi bukan hanya aromanya.

Satu nama pasaran, bahan yang berbeda-beda

Istilah kapur barus di Indonesia dipakai untuk beberapa produk yang isinya tidak sama.

Kapur barus alami berasal dari getah pohon kamper dan sudah dipakai berabad-abad sebagai pengharum. Sementara itu, bola-bola putih murah yang beredar luas hari ini umumnya sintetis. National Pesticide Information Center menyebut produk semacam ini mengandung naftalena atau paradiklorobenzena dalam konsentrasi yang sangat tinggi sebagai bahan aktifnya.

Perbedaannya menentukan, dan satu-satunya cara mengetahuinya ada di label kemasan. Produk yang dijual eceran tanpa kemasan, tanpa daftar bahan, dan tanpa nomor izin edar tidak memberi orang tua informasi apa pun untuk menilai isinya. Untuk keperluan lemari baju bayi, produk tanpa label lebih aman diperlakukan sebagai produk yang isinya belum diketahui.

Mekanisme perpindahannya ke serat kain

Kapur barus bekerja dengan menyublim. Bahan padatnya berubah langsung menjadi gas tanpa melewati fase cair, dan gas itulah yang mematikan ngengat.

Cara pakai yang dirancang untuk produk ini menuntut wadah tertutup rapat. NPIC menjelaskan bahwa kapur barus dimaksudkan untuk digunakan di dalam wadah kedap udara supaya uapnya terperangkap. Uap yang terkumpul di ruang tertutup itulah yang membunuh ngengat di dalamnya. Lembaga yang sama mencatat, bila kapur barus dipakai di ruang terbuka, uapnya bisa membahayakan orang yang menghirupnya.

Lemari pakaian rumahan hampir tidak pernah kedap udara. Pintunya dibuka setiap hari, ada celah di engselnya, dan udara di dalamnya bertukar dengan udara kamar. Uap yang seharusnya terkurung justru menyebar, mengendap, dan terserap ke dalam serat kain yang tersimpan di sana selama berbulan-bulan. Kain katun bayi yang lembut dan berpori menyerapnya dengan baik.

Kain itu kemudian menempel ke kulit bayi sepanjang hari, di seluruh permukaan tubuh yang tertutup baju.

Bentuk reaksinya di kulit

Monograf IPCS menyatakan naftalena menyebabkan iritasi kulit, dan pada orang yang sudah tersensitisasi dapat menimbulkan dermatitis berat.

Pada bayi, reaksinya muncul sebagai kemerahan, kulit kering bersisik, dan rasa gatal yang membuatnya rewel serta menggesek-gesekkan badan ke alas tidur. Tampilannya menyerupai eksim, dan di sinilah banyak orang tua kehilangan jejak penyebabnya. Pelembap ditambah, sabun diganti, produk perawatan dicoba satu per satu, sementara sumbernya masih tersimpan rapi di dalam lemari.

Ada pola sebaran yang bisa membantu membedakan. Iritasi dari bahan yang menempel di kain cenderung mengikuti area yang tertutup pakaian dan merata di sana, termasuk punggung, dada, dan perut. Eksim bayi lebih sering muncul di pipi serta lipatan siku dan lutut. Petunjuk lain datang dari waktu: ruam yang membaik saat bayi memakai baju yang baru dibeli lalu kambuh setiap kali dipakaikan baju simpanan mengarah ke isi lemari, bukan ke kulitnya.

Kelompok bayi yang menanggung risiko paling besar

Di luar kulit, naftalena bekerja sebagai zat oksidatif yang merusak sel darah merah.

IPCS mencatat hemolisis lebih mungkin terjadi pada individu dengan defisiensi glucose-6-phosphate dehydrogenase yang diturunkan, serta pada penderita anemia sel sabit dan pembawa sifatnya. Defisiensi G6PD adalah kelainan enzim bawaan yang membuat sel darah merah rapuh terhadap tekanan oksidatif. Selama tidak ada pemicunya, anak dengan kondisi ini umumnya tumbuh tanpa keluhan.

Angkanya menjadikan ini urusan regional, bukan kasus langka. Tinjauan yang dimuat di jurnal Tropical Medicine and Infectious Disease menyebut prevalensi defisiensi G6PD mendekati atau melebihi 5 persen di seluruh kawasan Asia Pasifik.

Persoalan berikutnya menyangkut siapa yang tahu status anaknya. Tinjauan yang sama mencatat program skrining bayi baru lahir untuk defisiensi G6PD belum diterapkan di Indonesia. Beberapa rumah sakit swasta melakukannya, sementara sebagian lain baru memeriksa bila ada indikasi kuning yang tidak fisiologis. Artinya, sebagian besar orang tua Indonesia tidak mengetahui apakah bayinya termasuk kelompok rentan, dan baru mengetahuinya ketika reaksi sudah berlangsung.

Tanda yang perlu direspons cepat berbeda dari sekadar masalah kulit: kulit dan bagian putih mata menguning, air seni berwarna gelap seperti teh, bayi terlihat pucat, lemas, dan menyusu jauh lebih sedikit dari biasanya. Kondisi ini menuntut pemeriksaan medis segera, bukan pengamatan di rumah.

Aroma bukan alat ukur paparan

Banyak orang tua memakai penciuman sebagai patokan. Selama baju tidak lagi berbau menyengat, baju itu dianggap aman.

Lembar informasi Agency for Toxic Substances and Disease Registry edisi April 2025 menutup asumsi tersebut. Dokumen itu menyatakan efek kesehatan dapat terjadi pada kadar di udara yang tidak bisa Anda cium.

Indera penciuman juga cepat menyesuaikan diri. Orang yang tinggal di rumah dengan lemari berkapur barus berhenti mencium aromanya dalam hitungan menit, sementara tamu yang baru masuk langsung menyadarinya. Hidung penghuni rumah bukan alat yang bisa diandalkan untuk menilai kadar paparan di dalamnya.

Dari sisi klasifikasi bahaya jangka panjang, ATSDR mencatat naftalena digolongkan International Agency for Research on Cancer sebagai kemungkinan karsinogen bagi manusia, dan oleh Departemen Kesehatan dan Layanan Kemanusiaan Amerika Serikat sebagai zat yang secara wajar diperkirakan bersifat karsinogenik.

Penanganan lemari yang sudah terlanjur

ATSDR memberikan dua arahan yang bisa langsung dijalankan.

Pertama, selimut atau pakaian yang disimpan bersama naftalena perlu diangin-anginkan di luar ruangan dan dicuci sebelum dipakai. Untuk perlengkapan bayi, ini berarti seluruh isi lemari diperlakukan sama, termasuk bedong, selimut, sarung tangan, topi, dan alas tidur yang jarang ikut dicuci karena terlihat bersih.

Menjemur di ruang terbuka mendahului mencuci, karena bahan yang menyublim akan menguap lebih dulu ke udara bebas dan tidak berpindah ke pakaian lain di dalam mesin cuci. Setelah diangin-anginkan sehari penuh, barulah dicuci dengan deterjen yang biasa dipakai untuk baju bayi.

Kedua, bila produk semacam ini tetap digunakan di rumah untuk keperluan lain, ATSDR menyebut kapur barus perlu dijauhkan dari jangkauan anak dan ditempatkan dalam wadah yang mencegah uapnya keluar. Lemari pakaian, laci, dan kolong tempat tidur di kamar bayi tidak memenuhi syarat itu.

Untuk menjaga pakaian simpanan tetap kering dan tidak apek, kelembapan adalah sasaran yang lebih tepat daripada uap pestisida. Silica gel dalam kemasan tertutup menyerap uap air tanpa melepas gas ke serat kain. Pakaian yang benar-benar kering sebelum disimpan, wadah yang tertutup, dan penjemuran berkala beberapa bulan sekali menyelesaikan sebagian besar persoalan bau dan ngengat pada lemari rumah tangga.

Baju lungsuran dan barang titipan

Perlengkapan bayi di Indonesia banyak berpindah tangan. Baju, bedong, dan selimut diwariskan antar saudara, dipinjamkan antar tetangga, atau tersimpan bertahun-tahun di rumah nenek sebelum dipakai cucu berikutnya.

Barang-barang inilah yang paling lama bersinggungan dengan isi lemari orang lain, dan riwayat penyimpanannya tidak ikut berpindah bersama barangnya. Orang tua yang menerimanya tidak mengetahui apakah lemari asalnya memakai kapur barus, jenis apa, dan sejak kapan.

Perlakuannya sama dengan isi lemari sendiri: diangin-anginkan di luar ruangan lebih dulu, baru dicuci, sebelum menyentuh kulit bayi. Aroma yang masih tertinggal setelah pencucian pertama menandakan prosesnya perlu diulang, bukan ditutup dengan pewangi.

Bagi orang tua yang sedang menyiapkan perlengkapan bayi jauh-jauh hari, keputusannya diambil di awal: menyimpan tanpa kapur barus sejak hari pertama jauh lebih sederhana daripada memulihkan satu lemari penuh setelahnya.

Butuh Rekomendasi Produk?

Tim kami bisa bantu cari produk NeoCare yang paling cocok untuk kulit keluarga Anda.

Konsultasi via WhatsApp

Produk Terkait

Artikel Terkait