writer: kiki
Keloid dan Bekas Luka pada Anak: Kenapa Luka Kecil Bisa Jadi Tonjolan
Reni, ibu dari anak berusia 7 tahun di Bekasi, awalnya tidak terlalu memikirkan luka kecil di bahu anaknya bekas terjatuh dari sepeda. Lukanya sudah menutup dalam dua minggu. Tapi beberapa bulan kemudian, bekas itu malah menebal, menonjol, dan melebar melewati batas luka aslinya. Warnanya merah keunguan dan kadang terasa gatal.
Yang dialami anak Reni adalah keloid, jaringan parut yang tumbuh berlebihan. Berbeda dengan bekas luka biasa yang lama-lama memudar dan rata, keloid terus menebal dan bisa jadi lebih besar daripada luka yang menyebabkannya. Pada anak, ini sering mengejutkan orang tua karena pemicunya kadang cuma goresan kecil.
Beda Bekas Luka Biasa dan Keloid
Menurut dokter spesialis kulit anak, dr. Felicia Hartanto, SpDVE, kunci membedakannya ada pada bagaimana bekas luka itu berkembang setelah kulit menutup.
"Bekas luka normal akan menipis dan memudar seiring waktu, tetap dalam batas luka semula. Keloid justru tumbuh keluar dari batas itu, menebal, dan bisa muncul berbulan-bulan setelah lukanya sembuh," ujar dr. Felicia.
Itulah yang membuat keloid sering terlambat disadari. Saat lukanya menutup, semuanya tampak baik-baik saja, dan tonjolannya baru muncul belakangan.
Kenapa Sebagian Anak Lebih Mudah Keloid
Tidak semua anak membentuk keloid. Ada beberapa faktor yang membuat risikonya lebih tinggi:
- Riwayat keluarga: anak dengan orang tua atau saudara yang punya keloid lebih berisiko.
- Warna kulit lebih gelap: keloid lebih sering muncul pada kulit dengan pigmen lebih banyak.
- Lokasi luka: dada, bahu, daun telinga, dan punggung atas adalah area yang paling rawan.
- Jenis luka: luka bakar, bekas cacar, tindik telinga, dan luka yang sembuhnya lama lebih mudah berkembang jadi keloid.
- Usia: keloid lebih sering terbentuk pada anak yang lebih besar dan remaja dibanding bayi.
Anak yang sudah pernah punya satu keloid cenderung lebih mudah membentuk yang berikutnya.
Mencegah Sebelum Terbentuk
Karena keloid sulit dihilangkan setelah terbentuk, pencegahan jadi langkah yang paling masuk akal, terutama pada anak yang punya riwayat keluarga. Beberapa hal yang membantu:
- Rawat luka dengan baik supaya cepat menutup dan tidak infeksi, karena luka yang sembuhnya lama lebih berisiko.
- Jaga luka tetap lembap dan terlindung selama masa penyembuhan.
- Tunda atau pertimbangkan ulang tindik telinga pada anak dengan riwayat keloid di keluarga.
- Hindari menggaruk atau mengelupas keropeng, biarkan menutup sendiri.
Pada anak berisiko tinggi, dokter kadang menyarankan lembaran silikon untuk membantu menekan pembentukan jaringan parut berlebih, tapi pemakaiannya sebaiknya atas saran dokter.
Kapan Perlu ke Dokter
Sebaiknya periksakan ke dokter bila bekas luka anak:
- Menebal dan menonjol, bukannya memudar, setelah beberapa minggu
- Melebar keluar dari batas luka asli
- Terasa gatal, nyeri, atau mengganggu gerakan, misalnya di dekat sendi
- Muncul di daun telinga setelah tindik
Penanganan keloid yang sudah terbentuk ada beberapa pilihan, dari suntikan sampai tindakan lain, dan semuanya ditentukan dokter sesuai ukuran dan lokasinya. Makin awal ditangani, makin baik hasilnya.
Merawat Kulit di Sekitar Bekas Luka
Selama masa penyembuhan, menjaga kulit di sekitar luka tetap lembap membantu proses pemulihan berjalan lebih nyaman dan mengurangi gesekan yang bisa mengganggu. Untuk menjaga kelembapan kulit di area sehat sekitar luka, pelembap lembut dari NeoCare bisa dipakai tipis, dengan menghindari luka yang masih terbuka. Pelembap ini bukan obat untuk keloid, jadi bila bekas luka mulai menebal dan menonjol, periksakan ke dokter untuk penanganan yang tepat.




