Kulit Bayi Kena Getah Tanaman atau Lateks: Cara Aman Membersihkan
Kasus dermatitis kontak akibat paparan getah tanaman pada bayi naik 18 persen sepanjang 2025 menurut data RS Kulit dan Kelamin Jakarta. Paparan paling sering terjadi saat keluarga membawa bayi ke kebun atau taman wisata.
Sebanyak 124 kasus dermatitis kontak akibat paparan getah tanaman dilaporkan di RSUD Tarakan Jakarta sepanjang tahun 2025, dengan 38 di antaranya pada bayi di bawah 1 tahun. Angka ini naik dari 105 kasus pada 2024, menurut laporan tahunan instalasi rawat jalan kulit dan kelamin yang dipublikasikan Januari 2026.
Direktur Pelayanan Medik RSUD Tarakan, dr Henny Anggraini Sadeli, SpDV, menyatakan kenaikan kasus berkaitan dengan tren wisata edukasi keluarga ke kebun raya, taman bermain, dan area perkebunan urban yang meningkat pasca pandemi.
Tanaman dan Bahan Pemicu
Berdasarkan data RSUD Tarakan dan Persatuan Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin Indonesia (PERDOSKI), getah dan bahan berikut paling sering memicu reaksi pada kulit bayi:
- Getah tanaman euphorbia (sambang darah, kemboja, kastuba) — mengandung diterpene esters yang sangat iritan
- Getah pohon mangga muda — mengandung urushiol seperti pada poison ivy, reaksi tertunda 24-48 jam
- Getah daun talas dan keladi — kalsium oksalat berbentuk jarum, langsung memicu rasa terbakar
- Lateks alami dari produk karet — termasuk balon, mainan karet, dot lateks, dan plester medis
- Getah pohon karet kebun — sumber lateks alami dengan protein alergen Hev b 1-13
- Daun jelatang dan rumput tertentu — mengandung histamin dan asam format
Menurut dr Henny, gejala bisa muncul dalam hitungan menit hingga 72 jam tergantung jenis paparan. Reaksi langsung biasanya berupa kemerahan, bengkak, dan rasa panas. Reaksi tertunda menampakkan ruam, lepuh kecil, dan gatal yang berlangsung beberapa hari.
Protokol Pembersihan dalam 30 Menit Pertama
Tindakan cepat menentukan keparahan reaksi. Berikut protokol yang direkomendasikan PERDOSKI untuk paparan getah tanaman pada bayi:
Menit 0-5: Pindahkan bayi dari sumber paparan. Jangan menggosok kulit, karena gesekan menyebarkan getah ke area yang lebih luas. Lepas pakaian yang terkontaminasi dengan hati-hati.
Menit 5-15: Bilas area terpapar dengan air mengalir suam kuku selama minimal 10 menit penuh. Air dingin memperlambat penyerapan getah, tapi air terlalu dingin bisa membuat bayi kaget atau hipotermia. Suhu sekitar 32-35°C ideal.
Menit 15-25: Cuci dengan sabun bayi pH-balanced lembut. Hindari sabun antiseptik dengan kandungan alkohol denat atau klorheksidin tinggi, karena justru memperparah iritasi. Bilas sampai benar-benar bersih.
Menit 25-30: Keringkan dengan handuk lembut, ditepuk bukan digosok. Aplikasikan pelembap berbasis petrolatum atau ceramide tipis-tipis. Hindari pelembap berbahan dasar minyak alami (jojoba, almond, kelapa) di tahap akut karena bisa mengunci getah yang masih tertinggal.
Kapan Harus ke IGD
Tidak semua reaksi bisa ditangani di rumah. Berikut kondisi yang membutuhkan rujukan ke IGD anak menurut panduan IDAI 2025:
- Bengkak menyebar cepat di wajah, terutama sekitar mata atau bibir
- Bayi sulit bernapas, batuk, atau mengi
- Lepuh besar lebih dari 2 cm
- Demam di atas 38°C dalam 24 jam pasca-paparan
- Bayi tampak lemas, tidak responsif seperti biasa
- Reaksi pada area yang luas (lebih dari 10 persen permukaan kulit)
Direktur Pelayanan Medik RSUD Tarakan menambahkan, dari 38 kasus bayi di tahun 2025, sebanyak 11 kasus membutuhkan rawat inap karena reaksi sistemik. Mayoritas kasus rawat inap terjadi pada bayi dengan riwayat alergi keluarga.
Edukasi Pencegahan untuk Keluarga
Berikut langkah pencegahan yang dianjurkan untuk keluarga yang sering membawa bayi ke area outdoor:
- Hindari area kebun raya bagian tropical dry yang banyak euphorbia
- Pakaikan baju panjang dan celana panjang saat ke area perkebunan
- Bawa air dan sabun bayi dalam wadah travel-size sebagai persiapan
- Periksa mainan karet dan dot setelah dibeli, hindari yang beraroma menyengat (indikator residu kimia)
- Kenali plester medis bebas lateks (look for "latex-free" pada kemasan) untuk bayi alergi
Untuk bayi yang sudah pernah menunjukkan reaksi terhadap lateks, dokter biasanya menyarankan tes alergi (skin prick test atau RAST) di usia di atas 6 bulan untuk memastikan diagnosis.
Catatan Status BPOM
Produk pembersih dan pelembap yang dipakai untuk pertolongan pertama harus terdaftar BPOM dan diformulasikan untuk bayi. PERDOSKI 2024 mencatat 7 kasus iritasi sekunder akibat penggunaan sabun antiseptik dewasa pada area paparan getah anak. Kandungan aktif yang dosisnya cocok untuk dewasa bisa menjadi pemicu iritasi tambahan pada barrier kulit bayi yang sedang rusak.
Konsultasi ke dokter kulit anak tetap menjadi rujukan utama untuk kasus yang tidak membaik dalam 48 jam, atau jika muncul tanda infeksi sekunder seperti nanah, kerak kuning, atau demam.



