Kulit Bayi Setelah Infus: Perawatan Bekas Plester dan Memar
Sebanyak 41 persen bayi yang dirawat di unit perinatologi RS Pemerintah di Indonesia mengalami perubahan kondisi kulit di area pemasangan infus, menurut audit Kemenkes 2025 atas 38 rumah sakit tipe B dan A. Bentuk paling umum adalah memar kebiruan, bekas plester berwarna gelap, dan kulit kering melingkar di sekitar bekas tusukan.
Direktur Pelayanan Kesehatan Rujukan Kemenkes RI dr. Yanti Herman, MH.Kes, dalam siaran pers tertanggal 8 April 2026 menyatakan: "Kondisi kulit pasca infus sebagian besar bersifat sementara dan akan membaik dalam 2-3 minggu pertama, asalkan perawatan rumah konsisten dan tidak ada komplikasi infeksi. Kami sudah membagikan panduan perawatan ke seluruh rumah sakit rujukan," ujar dr. Yanti.
Audit Kemenkes mencakup data dari Mei 2024 hingga Februari 2025 dan menemukan tiga kategori masalah kulit pasca infus yang sering tidak ditindaklanjuti di tingkat rumah:
- Memar kebiruan (ekimosis): terjadi pada 28 persen kasus, biasanya hilang dalam 7-14 hari
- Bekas plester gelap: terjadi pada 19 persen kasus, dapat bertahan 4-8 minggu
- Kulit kering melingkar: terjadi pada 11 persen kasus, biasanya pulih dalam 10-21 hari
Penyebab Bekas Plester Gelap
Pigmentasi gelap di bekas plester muncul dari kombinasi inflamasi pasca-trauma dan iritasi adhesive medis. Menurut Dr. Inne Arline Diana, SpKK(K), dari Departemen Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin FK Universitas Padjadjaran: "Bayi punya melanin yang reaktif terhadap inflamasi. Plester yang menempel berhari-hari, ditambah penarikan saat pelepasan, memicu post-inflammatory hyperpigmentation. Pada bayi dengan tipe kulit Fitzpatrick III atau IV, bekasnya bisa lebih jelas dan bertahan lebih lama," ujar dr. Inne.
Kemenkes lewat Direktorat Mutu Pelayanan Kesehatan menerbitkan rekomendasi teknik pelepasan plester yang disebut zero-degree removal — plester ditarik sejajar dengan permukaan kulit, bukan diangkat tegak lurus. Teknik ini menurunkan kerusakan stratum korneum hingga 60 persen menurut riset Stanford Children's Health 2023.
Perawatan di Rumah
Setelah bayi pulang dari rumah sakit, perawatan area bekas infus mengikuti tiga tahap berdasarkan kondisi kulit. Untuk memar segar tanpa luka terbuka, kompres dingin 10 menit dua kali sehari selama tiga hari pertama membantu menurunkan pembengkakan. Setelah hari ketiga, kompres berganti hangat untuk membantu reabsorpsi darah.
Untuk bekas plester, area bisa dibersihkan dengan larutan saline steril sekali sehari pada minggu pertama, lalu lanjut dengan emolien BPOM yang mengandung panthenol atau allantoin dua kali sehari. Hindari produk dengan parfum, pewarna, atau pengawet keras seperti methylisothiazolinone selama kulit masih dalam fase pemulihan.
Tanda yang membutuhkan kunjungan kembali ke rumah sakit dalam 24 jam:
- Pembengkakan yang membesar setelah hari ke-3
- Cairan kuning kehijauan keluar dari bekas tusukan
- Demam di atas 37,8 derajat Celsius bersama kemerahan menyebar
- Kulit teraba panas dan keras dengan radius lebih dari 3 cm
- Bayi rewel berkepanjangan dengan refusal feeding
Tindak Lanjut Kemenkes
Direktorat Mutu Pelayanan Kesehatan menyatakan akan menerbitkan Surat Edaran tahun 2026 yang mewajibkan setiap rumah sakit tipe B dan A memberi panduan tertulis perawatan kulit pasca infus kepada setiap orang tua sebelum bayi dipulangkan. Panduan ini juga akan disiapkan dalam Bahasa Indonesia, Jawa, Sunda, dan Bugis untuk memperluas jangkauan keluarga di luar Jabodetabek.
Dengan pendekatan rumah yang konsisten dan perhatian pada tanda komplikasi, sebagian besar bekas pasca infus akan pulih sepenuhnya dalam waktu kurang dari dua bulan tanpa meninggalkan jaringan parut permanen.



