7x Ceramide Formulated in Germany • Gentle care for sensitive skin, all ages

Baby Care7 menit2026-08-18

Kusta pada Anak: Bercak Putih yang Mati Rasa dan Tanda yang Sering Terlewat

Anak menyumbang 9,1% kasus baru kusta di Indonesia. Bedanya dengan panu dan vitiligo ada pada satu hal: bercak kusta kehilangan rasa. Cara memeriksanya.

Kusta pada Anak: Bercak Putih yang Mati Rasa dan Tanda yang Sering Terlewat

Pada 14 Agustus 2026, sebelas gubernur dan tiga wakil gubernur menandatangani deklarasi komitmen untuk mempercepat eliminasi kusta di Indonesia. WHO mencatat latar belakangnya: lebih dari 16.000 kasus baru kusta dilaporkan di Indonesia sepanjang 2025.

Ada satu angka lain di laporan yang sama yang lebih dekat ke urusan orang tua. Anak-anak menyumbang 9,1 persen dari seluruh kasus baru tersebut.

Proporsi anak dipakai ahli epidemiologi sebagai penanda yang berbeda dari jumlah kasus total. Kusta menular lambat dan gejalanya butuh waktu bertahun-tahun untuk muncul. Anak yang terdiagnosis sekarang berarti tertular jauh sebelumnya, dari orang dewasa di lingkaran terdekatnya yang belum diobati. Kasus pada anak menunjukkan penularan yang masih berjalan hari ini, di dalam rumah dan lingkungan sekitar.

Posisi Indonesia dalam peta kusta dunia

WHO menerima laporan sekitar 200.000 kasus baru kusta setiap tahun dari seluruh dunia. Sebarannya jauh dari merata. Dalam data 2024, hanya tiga negara yang melaporkan lebih dari 10.000 kasus: Brasil, India, dan Indonesia. Di sisi lain daftar yang sama, 55 negara melaporkan nol kasus dan 117 negara melaporkan di bawah 1.000 kasus baru.

Di dalam negeri sebarannya juga terkonsentrasi. Kementerian Kesehatan menyebut sejumlah provinsi dengan beban kusta tertinggi: Nusa Tenggara Timur, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Tengah, Sulawesi Barat, Gorontalo, Maluku, dan Papua. Kemenkes menargetkan Indonesia bebas dari penyakit tropis terabaikan, termasuk kusta, pada 2030.

Orang tua di luar provinsi tersebut tetap perlu mengenali tandanya. Perpindahan penduduk membuat peta penyakit tidak berhenti di batas administratif, dan masa inkubasi yang panjang berarti seseorang bisa terpapar di satu tempat dan bergejala di tempat lain bertahun-tahun kemudian.

Tandanya bukan pada warna bercak, melainkan pada rasa

Bercak putih di kulit anak hampir selalu punya penjelasan yang lebih umum. Panu, pityriasis alba, nevus depigmentosus, dan vitiligo jauh lebih sering ditemui daripada kusta.

Pembedanya ada pada satu hal yang tidak terlihat mata: sensasi.

WHO menetapkan tiga tanda utama untuk mendiagnosis kusta, dan cukup satu saja yang terpenuhi. Pertama, hilangnya rasa yang jelas pada bercak kulit yang lebih pucat atau kemerahan. Kedua, penebalan saraf tepi disertai hilangnya rasa atau melemahnya otot yang dipersarafi saraf tersebut. Ketiga, ditemukannya kuman lewat pemeriksaan mikroskopis dari kerokan kulit.

Bercak panu terasa normal ketika disentuh. Bercak pityriasis alba juga. Bercak kusta kehilangan rasanya, karena kuman penyebabnya menyerang saraf tepi di bawah kulit, bukan hanya lapisan permukaannya. Di situ letak perbedaan yang menentukan.

Tanda lain yang sering menyertai: bercaknya kering dan tidak berkeringat, bulu halus di atasnya rontok, batas tepinya bisa tegas atau samar, dan biasanya tidak gatal. Ketiadaan rasa gatal ini sering membuat keluarga menunda memeriksakannya. Bercak yang tidak mengganggu cenderung dianggap masalah kosmetik yang bisa ditunggu.

Menguji rasa di rumah, dan batas dari tes ini

Pemeriksaan sensasi yang dipakai petugas kesehatan sederhana, dan orang tua bisa melakukan versi kasarnya untuk memutuskan perlu-tidaknya ke puskesmas.

Minta anak menutup mata atau menoleh ke arah lain. Sentuh bercak dengan ujung kapas, lalu sentuh kulit normal di dekatnya dengan cara yang sama. Tanya setiap kali: terasa atau tidak. Ulangi beberapa kali dengan urutan acak, supaya anak tidak menebak dari pola.

Anak kecil sulit melaporkan sensasi secara konsisten, jadi hasilnya perlu dibaca longgar. Yang dicari adalah perbedaan yang berulang dan jelas antara bercak dan kulit sekitarnya, bukan satu jawaban meleset. Untuk anak yang belum bisa diajak kerja sama, perhatikan reaksinya: kulit normal biasanya memicu refleks menarik diri atau geli, sementara area yang mati rasa tidak.

Tes ini menentukan langkah berikutnya, bukan diagnosis. Diagnosis kusta ditegakkan tenaga kesehatan lewat pemeriksaan saraf tepi dan, bila perlu, pemeriksaan kerokan kulit. Membawa anak ke puskesmas dengan hasil "sepertinya kurang terasa" sudah cukup sebagai alasan.

Kenapa kusta pada anak sering terlewat lama

Beberapa hal bekerja bersamaan sehingga jeda antara munculnya bercak dan diagnosis bisa panjang.

Bercak awal sering muncul di punggung, bokong, paha, atau lengan atas — area yang tertutup baju sehari-hari dan jarang diperhatikan setelah anak bisa mandi sendiri. Untuk anak usia sekolah, orang tua kehilangan kesempatan rutin mengamati seluruh permukaan kulit anaknya.

Anak juga tidak punya kosakata untuk mati rasa. Mereka mengeluh gatal, perih, atau sakit, tetapi ketiadaan sensasi tidak terasa seperti keluhan. Tidak ada yang mengganggu, jadi tidak ada yang dilaporkan.

Lalu ada stigma, yang membuat sebagian keluarga menunda memeriksakan diri karena takut pada konsekuensi sosial dari namanya. Deklarasi para gubernur bulan ini menempatkan hal tersebut sebagai bagian dari masalah. Ingkong Ala, Wakil Gubernur Kalimantan Utara, menyebutnya dalam komitmennya: "Kami juga berkomitmen menciptakan lingkungan inklusif yang bebas dari stigma dan diskriminasi terhadap orang yang terkena kusta. Penyintas harus punya akses setara ke pendidikan, pekerjaan, dan kesempatan sosial."

Penundaan inilah yang mengubah penyakit yang bisa disembuhkan menjadi kecacatan menetap. Kerusakan saraf yang sudah terjadi tidak bisa dikembalikan oleh obat, meskipun kumannya sudah mati.

Cara penularannya lebih terbatas dari yang ditakutkan

Sebagian besar ketakutan seputar kusta tidak sesuai dengan cara penyakit ini sebenarnya berpindah.

Menurut WHO, kusta menyebar lewat percikan dari hidung dan mulut penderita yang belum diobati, dan memerlukan kontak dekat yang berlangsung lama. Penyakit ini tidak menular lewat kontak sehari-hari seperti berjabat tangan atau makan bersama.

Masa inkubasinya panjang, rata-rata sekitar lima tahun menurut estimasi yang dipakai WHO. Itu sebabnya sumber penularan pada anak hampir selalu ada di rumah atau lingkungan terdekat, bukan dari pertemuan sekali lewat.

Konsekuensi praktisnya ada dua. Anak dengan kusta tidak perlu dijauhkan dari teman-temannya, dan setelah pengobatan dimulai ia berhenti menjadi sumber penularan. Sebaliknya, ketika seorang anak terdiagnosis, seisi rumah perlu diperiksa — karena orang dewasa yang menularinya kemungkinan besar masih ada di sana dan belum tahu.

Kusta bisa disembuhkan, dan obatnya sudah tersedia

WHO menyatakan kusta dapat disembuhkan dengan multidrug therapy, kombinasi tiga obat: dapson, rifampisin, dan klofazimin. Lamanya pengobatan mengikuti jenis kustanya — enam bulan untuk tipe pausibasiler dan dua belas bulan untuk tipe multibasiler.

Obat ini disediakan pemerintah dan tersedia di puskesmas. Yang menentukan hasil akhirnya adalah waktu. Pengobatan yang dimulai saat keluhannya masih sebatas bercak yang berkurang rasanya akan menyelesaikan masalah tanpa meninggalkan bekas fungsional. Pengobatan yang dimulai setelah tangan mulai lemah atau jari mulai bengkok tetap membunuh kumannya, tetapi bagian yang sudah rusak tinggal begitu.

Untuk kulit anak selama masa pengobatan, perawatannya sederhana dan penting: area yang mati rasa tidak mengirim sinyal peringatan, sehingga luka, lecet, dan kulit pecah gampang terjadi tanpa disadari. Jaga kelembapannya, periksa telapak tangan dan kaki setiap hari, dan pastikan alas kaki tidak menekan di satu titik.

Yang perlu dibawa pulang

Bercak putih pada anak jarang berarti kusta. Tetapi memeriksa rasanya butuh waktu tiga puluh detik, dan itu satu-satunya cara membedakan bercak yang bisa ditunggu dari bercak yang tidak boleh ditunggu.

Angka 9,1 persen dari WHO menjelaskan kenapa pemeriksaan sesederhana itu masih relevan di Indonesia hari ini. Selama anak-anak masih masuk statistik kasus baru, penularannya masih berlangsung di sekitar mereka.


Sumber:

  • World Health Organization Indonesia, "Governors commit to accelerating leprosy elimination across Indonesia", 14 Agustus 2026
  • World Health Organization, Leprosy Fact Sheet
  • Kementerian Kesehatan RI, "Indonesia Percepat Eliminasi Kusta dan Filariasis, Target Bebas NTDs pada 2030"

Artikel ini bersifat informasi umum dan tidak menggantikan pemeriksaan tenaga kesehatan. Bila menemukan bercak yang berkurang rasanya pada kulit anak, periksakan ke puskesmas atau dokter terdekat.

Butuh Rekomendasi Produk?

Tim kami bisa bantu cari produk NeoCare yang paling cocok untuk kulit keluarga Anda.

Konsultasi via WhatsApp

Produk Terkait

Artikel Terkait