Bercak Putih di Area Kemaluan Anak Perempuan: Lichen Sclerosus yang Sering Disangka Iritasi Popok
Ratna (34) sudah tiga kali ganti krim untuk Kayla, anaknya yang berusia lima tahun. Keluhannya berulang sejak setahun terakhir: gatal di area kemaluan, paling parah menjelang tidur, sampai Kayla menggaruk lewat celananya. Dua kali ia disarankan memakai krim antijamur. Membaik beberapa hari, lalu gatalnya balik lagi.
Yang akhirnya membawa Ratna ke dokter bukan gatalnya. Suatu pagi ia melihat bintik keunguan seperti lebam kecil di sekitar lipatan kemaluan Kayla, dan kulit di sisi dalamnya tampak putih pucat, mengkilap, permukaannya berkerut halus seperti kertas tipis yang habis diremas. Tidak ada yang jatuh di rumah, tidak ada yang terbentur.
Kondisi yang dialami Kayla punya nama medis: lichen sclerosus vulva. Peradangan kronis yang menyerang kulit area kemaluan dan sekitar anus, dan pada anak perempuan sering berjalan bertahun-tahun sebelum ada yang menyebut namanya.
Kondisi yang Ada, tapi Jarang Disebut
Lichen sclerosus lebih sering dibicarakan pada perempuan dewasa, terutama menjelang menopause. Padahal kelompok anak punya porsinya sendiri. Sebuah kajian terhadap 327 pasien mencatat rata-rata usia awal munculnya keluhan pada anak perempuan ada di angka 5,4 tahun, jadi persis di rentang usia TK sampai awal SD.
Penyebab pastinya belum tuntas dijelaskan. Yang paling banyak didukung bukti adalah keterlibatan sistem imun yang keliru menyerang jaringan kulit sendiri, dengan faktor genetik ikut bermain. Artinya kondisi ini tidak menular, tidak datang dari kurang bersih, dan tidak muncul karena orang tua salah memandikan anak. Rasa bersalah yang tidak berdasar sering jadi alasan orang tua menunda periksa.
Kenapa Sering Dikira Jamur atau Iritasi Popok
Keluhan pertamanya nyaris selalu gatal. Gatal di area kemaluan anak adalah gejala yang pintu masuknya terlalu banyak, dan tiga tersangka utama biasanya sudah cukup memuaskan siapa pun yang menebak.
Yang pertama, infeksi jamur. Warnanya memang bisa keputihan, dan kandidiasis area popok memang lazim pada anak kecil. Yang kedua, kurap di selangkangan yang juga gatal dan juga berbatas tegas. Yang ketiga, ruam popok biasa pada anak yang belum sepenuhnya lepas popok.
Ketiganya punya krim yang mudah didapat tanpa perlu antre di poli anak. Di sinilah waktu terbuang. Literatur medis mencatat rata-rata satu sampai 1,6 tahun berlalu sejak keluhan muncul sampai diagnosis lichen sclerosus akhirnya ditegakkan.
Satu lagi yang sering tertukar: warna putihnya. Orang tua yang pernah membaca soal vitiligo pada anak kadang menyimpulkan sendiri kulit anaknya kehilangan pigmen. Bedanya, bercak vitiligo permukaannya tetap normal, cuma warnanya yang hilang. Pada lichen sclerosus, teksturnya ikut berubah: menipis, mengkilap, gampang lecet.
Tanda yang Membedakannya
Beberapa ciri yang jarang muncul pada iritasi biasa:
- Warna putih porselen yang mengkilap dengan permukaan berkerut halus, bukan sekadar kemerahan yang memudar
- Pola menyerupai angka delapan, melingkari area kemaluan dan berlanjut ke sekitar anus
- Bintik atau memar keunguan tanpa riwayat terbentur, yang dalam istilah medis disebut purpura dan jadi ciri khas kondisi ini
- Retakan halus di kulit yang membuat anak perih saat buang air kecil
- Gatal yang paling menonjol di malam hari dan berulang selama berbulan-bulan
- Anak mulai menahan buang air besar
Poin terakhir sering luput dihubungkan. Sembelit tercatat pada 67 persen anak perempuan dengan lichen sclerosus di area anogenital, dan mekanismenya masuk akal: kulit di sekitar anus lecet, buang air besar terasa perih, anak menahan, tinja mengeras, lecetnya bertambah. Banyak orang tua membawa anaknya berobat karena sembelitnya, bukan karena kulitnya.
Memar dan Lecet yang Bikin Panik Satu Rumah
Ada satu bagian dari kondisi ini yang perlu dibicarakan terbuka. Karena kulitnya menipis dan pembuluh darah kecil di bawahnya gampang pecah, lichen sclerosus bisa menimbulkan memar, lecet, bahkan bercak darah di celana dalam anak. Gambarannya di mata orang awam mirip bekas kekerasan.
Dalam literatur kedokteran, keluarga yang mengalami kondisi ini kerap lebih dulu menghadapi kecurigaan kekerasan seksual sebelum diagnosis kulitnya ditegakkan. Beberapa laporan kasus ditulis khusus untuk mengingatkan dokter umum agar mempertimbangkan lichen sclerosus saat menemukan gambaran seperti ini pada anak perempuan.
Dua hal yang perlu dipegang bersamaan. Pertama, temuan kulit semacam ini bukan otomatis berarti terjadi sesuatu pada anak. Kedua, adanya lichen sclerosus juga tidak otomatis menutup kemungkinan lain, dan penilaian itu ada di tangan dokter, bukan di tangan tetangga atau grup WhatsApp keluarga. Yang paling merugikan anak adalah kesimpulan yang diambil buru-buru di kedua arah.
Yang Berubah Kalau Diagnosisnya Telat
Anggapan yang beredar cukup luas: kondisi ini akan hilang sendiri begitu anak pubertas. Datanya tidak sesederhana itu. Satu seri kasus mengikuti 12 anak perempuan dengan lichen sclerosus sampai mereka remaja. Sepuluh tahun kemudian, 25 persen benar-benar bebas keluhan, sementara 75 persen sisanya masih bergejala.
Peradangan yang dibiarkan berjalan lama juga bisa meninggalkan perubahan bentuk pada jaringan area kemaluan, misalnya bibir kemaluan yang menyatu atau menyusut. Salah satu bentuknya menyerupai sinekia labia, kondisi menempelnya bibir kemaluan yang pada bayi umumnya jinak dan bisa terbuka sendiri, tapi punya cerita berbeda kalau yang mendasarinya peradangan kronis.
Ada juga alasan yang lebih jauh ke depan, dan sebaiknya dibaca dengan tenang. Lichen sclerosus vulva dikaitkan dengan risiko kanker kulit sel skuamosa sekitar 5 persen seumur hidup. Angka itu berasal dari pasien dewasa yang sudah menyandang kondisinya bertahun-tahun, bukan gambaran risiko anak usia lima tahun. Itu sebabnya dokter tetap meminta kontrol berkala meskipun keluhannya sudah reda.
Penanganannya Ada di Ranah Dokter
Terapinya bukan krim yang bisa dipilih sendiri di apotek. Panduan dokter kulit di Eropa menempatkan salep kortikosteroid berpotensi sangat kuat, yaitu clobetasol propionat 0,05 persen, sebagai pilihan pertama untuk anak perempuan. Pada seri kasus anak, kortikosteroid poten dipakai dua kali sehari selama 6 sampai 8 minggu, lalu frekuensinya diturunkan bertahap ke pemakaian rumatan dengan potensi lebih rendah.
Pemakaian rumatan inilah yang menentukan hasil jangka panjangnya. Pada pemantauan jangka panjang, 71,3 persen pasien bertahan menjalani terapi rumatan, dan 93,3 persen dari kelompok itu penyakitnya tertekan sepenuhnya. Kambuh setelah terapi dihentikan sepenuhnya termasuk sering, jadi berhenti mengoles begitu gatalnya reda justru mengulang siklus dari awal.
Untuk anak yang tidak cocok dengan kortikosteroid atau butuh pemakaian panjang di kulit setipis itu, ada pilihan lain berupa tacrolimus atau pimecrolimus. Keduanya resep dokter, dengan pemantauan.
Yang Bisa Dilakukan Orang Tua di Rumah
Perawatan harian tidak menggantikan terapi dokter, tapi menentukan seberapa nyaman anak menjalani harinya dan seberapa cepat lecetnya menutup.
Kurangi gesekan dan bahan iritan. Celana dalam katun yang longgar, dicuci tanpa pewangi, dan dibilas sampai bersih. Hindari sabun antiseptik, sabun berparfum, tisu basah beralkohol, dan mandi rendam berbusa untuk area itu. Air biasa sudah cukup untuk membersihkan, dan pelembap tanpa pewangi membantu menjaga skin barrier di kulit yang sedang rapuh.
Ajari anak mengeringkan dengan menepuk, bukan menggosok. Kalau anak sudah menahan buang air besar, tangani sembelitnya bersamaan, karena selama tinja masih keras lecetnya akan terus terbuka.
Yang perlu dihentikan: memakai ulang krim antijamur atau salep sisa resep lama setiap kali gatalnya kambuh. Selain tidak menyasar penyebabnya, pemakaian steroid tanpa arahan di kulit setipis area itu punya efek sampingnya sendiri.
Kapan Harus Diperiksakan
Bawa anak ke dokter kalau muncul salah satu dari ini:
- Gatal di area kemaluan yang berlangsung lebih dari dua minggu atau kambuh berulang
- Kulit di area kemaluan berubah warna jadi putih pucat dan mengkilap
- Ada memar, bintik keunguan, atau bercak darah tanpa riwayat cedera
- Anak mengeluh perih setiap buang air kecil
- Anak mulai menahan buang air besar disertai keluhan di area kemaluan
- Krim yang diberikan sebelumnya tidak memberi perubahan setelah dua minggu
Kayla akhirnya menjalani terapi rutin, dan yang paling sulit buat Ratna bukan mengoleskan salepnya. Yang sulit adalah meneruskan pemakaian rumatan di minggu-minggu ketika anaknya sudah tidak mengeluh apa-apa lagi.



