Merkuri di Krim Bayi Abal-Abal: Bahaya Logam Berat dan Cara Cek Legalitas BPOM
Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) secara berkala menemukan dan menarik puluhan produk kosmetik ilegal yang mengandung bahan berbahaya, termasuk merkuri (raksa), dari peredaran. Daftar produk yang diumumkan lewat publik warning lembaga tersebut hampir selalu memuat krim pemutih tanpa nomor notifikasi resmi. Sebagian produk itu beredar bebas di lapak online dengan harga miring, dan sebagian dipasarkan sebagai krim perawatan yang aman dipakai sehari-hari.
Persoalan menjadi lebih serius ketika produk semacam itu dipakaikan ke bayi dan balita. Sejumlah orang tua mengoleskan krim pemutih dewasa atau krim racikan tanpa label ke kulit anak dengan harapan kulit tampak lebih cerah. Merkuri termasuk logam berat yang dilarang penggunaannya dalam kosmetik di hampir seluruh dunia, dan kulit bayi yang lebih tipis membuat dampaknya jauh lebih berat dibanding pada orang dewasa.
Alasan Merkuri Dipakai Ilegal
Merkuri dalam bentuk senyawa seperti merkuri klorida sempat dipakai produsen nakal karena efeknya yang cepat memudarkan warna kulit. Logam ini menghambat kerja enzim tirosinase, yaitu enzim yang memproduksi melanin atau pigmen pemberi warna pada kulit. Hasilnya kulit terlihat lebih putih dalam hitungan minggu, sebuah klaim yang menarik bagi pasar krim pemutih instan.
Efek cepat itulah yang menjadikan merkuri tetap muncul di produk ilegal meski sudah dilarang. Produsen tanpa izin edar memilih jalan pintas ini karena murah dan memberi hasil terlihat dengan segera, tanpa mempertimbangkan keracunan yang menumpuk di tubuh pemakai dalam jangka panjang.
Bahaya Merkuri untuk Bayi
Merkuri merupakan racun bagi sistem saraf, ginjal, dan kulit. Pada bayi, paparan logam ini berisiko mengganggu perkembangan saraf yang sedang berlangsung pesat pada tahun-tahun pertama kehidupan. Ginjal yang masih berkembang juga menjadi organ sasaran karena merkuri diekskresikan dan menumpuk di sana.
Pada kulit, pemakaian krim bermerkuri kerap menimbulkan ruam, iritasi, rasa terbakar, serta perubahan warna kulit yang justru menggelap atau berbercak setelah pemakaian berhenti. Reaksi ini muncul karena kulit bayi yang tipis menyerap zat aktif lebih banyak dibanding kulit dewasa.
Risiko lain datang dari kebiasaan bayi memasukkan tangan ke mulut. Krim yang menempel di tangan atau wajah dapat tertelan saat bayi mengisap jari, sehingga merkuri masuk lewat saluran cerna dan menambah jumlah paparan ke dalam tubuh.
Menurut dokter spesialis kulit dan kelamin konsultan dermatologi anak dr. Anindya Pramesti, SpKK, kulit bayi belum memiliki lapisan pelindung sematang orang dewasa:
Sawar kulit bayi masih dalam tahap pembentukan, sehingga zat yang dioleskan lebih mudah menembus dan masuk ke aliran darah. Untuk bahan beracun seperti merkuri, kondisi ini membuat dosis yang terserap menjadi jauh lebih besar secara proporsional dibanding pada orang dewasa, ujar Anindya.
Alasan Bayi Lebih Rentan
Tubuh bayi memiliki perbandingan luas permukaan kulit terhadap berat badan yang lebih besar daripada orang dewasa. Artinya, dengan jumlah krim yang sama, dosis racun per kilogram berat badan yang diterima bayi jauh lebih tinggi. Faktor ini memperberat efek toksik bahkan dari pemakaian yang tampak sedikit.
Sawar kulit atau skin barrier bayi juga belum sempurna. Lapisan ini berfungsi menahan zat asing agar tidak masuk ke tubuh, dan pada bayi fungsinya masih lemah. Ditambah kebiasaan tangan ke mulut dan organ yang masih berkembang, bayi menanggung beban paparan yang lebih besar dari segala arah dibanding orang dewasa.
Tanda Produk Mencurigakan
BPOM secara berkala merilis daftar kosmetik ilegal yang mengandung bahan berbahaya. Beberapa ciri umum produk yang patut diwaspadai antara lain:
- Klaim memutihkan instan atau hasil terlihat dalam beberapa hari
- Tidak mencantumkan nomor notifikasi atau izin edar BPOM
- Kemasan tidak jelas, tanpa label komposisi dan tanpa identitas produsen yang lengkap
- Dijual online tanpa keterangan produk yang utuh
- Harga sangat murah dibanding produk perawatan kulit pada umumnya
- Tekstur krim lengket, berbau logam, atau warnanya cepat berubah
Satu ciri saja sudah cukup menjadi alasan untuk menunda pemakaian sampai legalitas produk dipastikan.
Cara Cek Legalitas BPOM
Setiap kosmetik yang sah beredar di Indonesia memiliki nomor notifikasi yang terdaftar di BPOM. Nomor ini dapat diperiksa secara mandiri melalui dua kanal resmi:
- Buka laman cekbpom.pom.go.id melalui peramban, atau unduh aplikasi BPOM Mobile di Play Store dan App Store
- Pilih kategori pencarian berdasarkan nomor registrasi, nama produk, atau nama produsen
- Masukkan data yang tertera pada kemasan, lalu cocokkan hasilnya
- Pastikan nama produk, nomor notifikasi, dan nama produsen yang muncul di sistem sama persis dengan label di kemasan
Bila produk tidak ditemukan di basis data tersebut, atau datanya tidak cocok dengan kemasan, produk itu patut dianggap tidak terdaftar dan sebaiknya tidak dipakai. Ketidakcocokan kecil pada nama produsen pun layak menjadi tanda peringatan.
Jika Terlanjur Memakai
Pemakaian krim mencurigakan yang sudah berlangsung sebaiknya segera dihentikan. Langkah pertama adalah membilas area kulit yang diolesi dengan air bersih dan sabun lembut untuk mengurangi sisa krim yang menempel.
Sisa produk dan kemasannya perlu disimpan sebagai bukti, bukan dibuang. Kemasan ini membantu tenaga medis mengenali kandungan yang mungkin terpapar dan memudahkan pelaporan ke BPOM. Masyarakat dapat melaporkan temuan produk ilegal melalui kanal pengaduan resmi BPOM agar produk tersebut bisa ditelusuri.
Kapan Harus ke Dokter
Bayi yang menunjukkan ruam meluas, kulit melepuh, perubahan warna kulit, rewel berkepanjangan, atau gejala yang tidak biasa setelah pemakaian krim perlu segera dibawa ke dokter. Pemeriksaan medis menjadi penting bila ada dugaan krim tertelan atau bila gejala muncul pada bayi yang masih sangat kecil. Dokter dapat menilai tingkat paparan dan menentukan langkah penanganan yang sesuai dengan kondisi anak.
NeoCare memilih jalur yang berbeda dari krim abal-abal. Seluruh rangkaiannya terdaftar resmi di BPOM, telah melalui uji dermatologis, dan dirumuskan bebas dari merkuri, hidrokinon (hydroquinone), serta bahan pemutih berbahaya lainnya. Fokusnya pada perawatan dasar yang lembut dengan kandungan seperti seramida (ceramide), gliserin (glycerin), dan pantenol (panthenol), aman dipakai dari bayi baru lahir sampai kulit sensitif orang dewasa. Jika ragu apakah sebuah produk benar terdaftar di BPOM, sapa tim NeoCare lewat WhatsApp untuk bantuan mengecek legalitasnya.



