7x Ceramide Formulated in Germany • Gentle care for sensitive skin, all ages

Baby Care8 menit2026-08-13

Morfea pada Anak: Bercak Kulit yang Mengeras dan Mengkilap, Bukan Bekas Luka

Morfea atau skleroderma lokalisata pada anak membuat kulit mengeras dan mengkilap. Kenali bedanya dari bekas luka dan kenapa diagnosis telat berisiko.

Morfea pada Anak: Bercak Kulit yang Mengeras dan Mengkilap, Bukan Bekas Luka

Bercak di kulit anak biasanya berhenti dikhawatirkan begitu warnanya memudar. Yang jarang diraba ulang adalah teksturnya.

Morfea, atau skleroderma lokalisata, termasuk sedikit kondisi kulit anak yang perubahannya lebih jelas terasa di jari daripada terlihat di foto. Kulitnya menebal, permukaannya jadi licin dan mengkilap, dan saat ditekan tidak lagi terasa lentur seperti kulit di sebelahnya. Banyak orang tua baru menyadarinya ketika bercak itu mulai terlihat cekung, atau ketika lengan baju anak tidak lagi jatuh simetris di satu sisi.

American College of Rheumatology memperkirakan kondisi ini dialami sekitar 50 dari 100.000 anak, dengan awitan tersering di rentang usia 6 sampai 10 tahun. Jarang, tapi tidak langka.

Berbagi Nama dengan Penyakit yang Jauh Lebih Berat

Kata "skleroderma" biasanya membawa ingatan orang ke penyakit yang menyerang paru, ginjal, dan pembuluh darah. Morfea memakai nama yang sama tanpa membawa perjalanan penyakit yang sama.

Pada morfea, pengerasan berhenti di kulit dan jaringan di bawahnya. Tidak ada fenomena Raynaud, yaitu jari yang berubah pucat lalu kebiruan saat kedinginan. Tidak ada penebalan merata di seluruh jari tangan, dan tidak ada keterlibatan organ dalam. Pembedaan itu yang pertama kali dipastikan dokter, karena arah penanganan kedua kondisi ini berbeda jauh.

Meski begitu, morfea tidak selalu berhenti di permukaan kulit. Studi internasional terhadap 750 anak melaporkan sekitar 22 persen di antaranya punya keluhan di luar kulit, dan hampir separuh dari kelompok itu mengalami keluhan sendi. Itulah alasan dokter biasanya memeriksa lebih dari sekadar bercaknya.

Yang Terjadi di Bawah Permukaan

Kolagen adalah protein yang menyusun kerangka kulit. Dalam kondisi normal jumlahnya terjaga, cukup untuk membuat kulit kuat sekaligus tetap lentur.

Pada morfea, ada peradangan yang memerintahkan sel-sel jaringan ikat memproduksi kolagen jauh melebihi kebutuhan. Kolagen berlebih itu menumpuk, memadat, dan mendesak struktur lain di sekitarnya: kelenjar keringat, folikel rambut, dan lemak di bawah kulit. Hasilnya kulit yang keras, kering, tidak berkeringat, dan sering kehilangan bulu halusnya.

Prosesnya berjalan dalam dua fase yang penampilannya sangat berbeda. Fase aktif menampilkan tepi kemerahan atau keunguan di sekeliling bercak, kadang disertai gatal atau nyeri ringan. Fase berikutnya menyisakan bagian tengah yang memutih seperti gading, mengkilap, dan lama-lama menipis serta cekung.

Tepi keunguan itu penanda yang paling berguna untuk orang tua. Selama tepinya masih berwarna, penyakitnya masih berjalan.

Bentuk yang Paling Sering Ditemukan pada Anak

Studi terhadap 750 anak dari 70 pusat layanan di Eropa, Amerika, Asia, dan Australia memetakan sebarannya seperti ini:

1. Linear (65 persen). Bentuk tersering pada anak. Bercaknya memanjang mengikuti garis, paling sering di satu tungkai, satu lengan, atau satu sisi wajah. Versi di dahi dan kulit kepala dikenal dengan istilah en coup de sabre, karena bentuknya seperti bekas sabetan pedang, dan di area itu rambut yang hilang biasanya tidak tumbuh kembali.

2. Plak atau sirkumskripta (26 persen). Bercak bulat atau lonjong berbatas tegas, umumnya di badan. Bentuk ini yang paling sering dikira bekas luka lama atau bercak eksim numular.

3. Generalisata (7 persen). Empat bercak atau lebih yang muncul di dua area tubuh berbeda dan cenderung menyatu.

4. Dalam atau deep (2 persen). Paling jarang, tapi pengerasannya menembus sampai lapisan lemak, fascia, bahkan otot.

Sebagian anak punya kombinasi lebih dari satu bentuk sekaligus.

Tanda yang Membedakannya dari Bekas Luka

Bekas luka punya riwayat. Ada kejadiannya, ada tanggalnya, dan orang tua hampir selalu ingat lecet, luka bakar, atau jahitan yang mendahuluinya. Ukurannya juga menetap setelah proses penyembuhan selesai, atau justru menonjol dan menebal seperti pada keloid.

Morfea muncul tanpa pendahuluan. Tidak ada luka yang diingat, dan bercaknya melebar perlahan selama berminggu-minggu.

Beberapa pegangan praktis saat membandingkan dengan kulit di sisi tubuh yang berlawanan:

  • Rabaan terasa lebih padat dan seperti menempel ke jaringan di bawahnya, tidak bisa dicubit terangkat selentur kulit normal.
  • Permukaannya mengkilap, kering, dan pori-porinya nyaris tidak terlihat.
  • Bulu halus di area itu hilang, dan area tersebut tidak ikut berkeringat saat anak kepanasan.
  • Ada tepi merah keunguan yang mengelilingi bercak, terutama di bulan-bulan awal.
  • Permukaannya lebih rendah dari kulit sekitar, terlihat paling jelas saat kena cahaya dari samping.

Satu pembanding yang gampang dipakai di rumah: minta anak berdiri di depan cermin dan bandingkan area yang sama di sisi kiri dan kanan tubuhnya. Morfea hampir selalu asimetris.

Bercak Putih yang Sering Tertukar

Fase akhir morfea meninggalkan bercak keputihan, dan di sinilah kesalahan penilaian paling sering terjadi. Ada beberapa kondisi lain yang juga meninggalkan bercak putih pada anak, tapi semuanya tidak mengubah tekstur kulit.

Pityriasis alba menyisakan bercak putih bersisik halus yang batasnya kabur, biasanya di pipi, dan kulitnya tetap selentur biasa. Vitiligo memberi bercak putih susu berbatas sangat tegas tanpa perubahan permukaan sama sekali. Nevus depigmentosus sudah ada sejak bayi dan ukurannya tumbuh mengikuti tubuh anak.

Yang paling mirip justru lichen sclerosus, karena sama-sama membuat kulit memutih, mengkilap, dan menipis. Pembedanya ada di lokasi dan kedalaman: lichen sclerosus pada anak paling sering muncul di area kelamin dan perubahannya sangat dangkal, sementara morfea bisa muncul di mana saja dan pengerasannya terasa sampai ke lapisan yang lebih dalam.

Bila lesinya berada di kulit kepala, kebotakan yang ditinggalkannya sering dikira alopecia areata. Perbedaannya bisa diraba: kulit kepala pada alopecia areata tetap halus dan normal, sedangkan pada morfea kulitnya mengeras dan sering ikut cekung.

Kenapa Menunggu Jadi Masalah Utama

Kebanyakan bercak kulit pada anak boleh diamati dulu. Morfea termasuk pengecualian, dan alasannya bukan karena kondisi ini berbahaya bagi nyawa.

Alasannya soal waktu. Peradangan yang aktif hari ini menentukan bentuk jaringan yang menetap bertahun-tahun kemudian, dan pengerasan yang sudah terbentuk tidak bisa dikembalikan. Yang bisa dihentikan hanya bagian yang belum terjadi.

Data soal keterlambatan cukup konsisten. Pada studi 750 anak tadi, rata-rata penyakitnya sudah berjalan 18 bulan saat diagnosis ditegakkan. Sebuah kohor yang lebih baru terhadap 101 anak mencatat median keterlambatan 10 bulan, dengan usia awitan tengah 7,5 tahun. Rentang itu bertepatan dengan masa anak masih bertumbuh cepat.

Konsekuensinya bergantung pada lokasi. Bercak linear yang melewati sendi bisa menarik jaringan sampai sendinya tidak bisa diluruskan penuh. Bercak yang menutupi lempeng pertumbuhan tulang bisa membuat satu tungkai tumbuh lebih pendek dari pasangannya. Di wajah, pengerasan yang berjalan lama menyebabkan asimetri yang menetap, dan bila mengenai area sekitar mata bisa disertai peradangan di dalam bola mata yang tidak selalu bergejala.

Semua itu bisa dicegah sebagian besar, asal peradangannya dikendalikan sebelum jaringannya terlanjur padat.

Penanganannya Ada di Ranah Dokter

Diagnosis morfea ditegakkan dokter kulit anak atau dokter reumatologi anak lewat pemeriksaan fisik, dan pada banyak kasus dipastikan dengan biopsi kulit. Pemeriksaan penunjang lain menyusul sesuai lokasi lesinya, termasuk pemeriksaan mata bila bercaknya ada di wajah.

Pilihan terapinya ditentukan oleh kedalaman dan luas lesi. Untuk bercak dangkal dan terbatas, terapi biasanya dimulai dari sediaan oles yang diresepkan dokter. Untuk bentuk linear, dalam, generalisata, atau yang jelas masih melebar, panduan yang berlaku menempatkan metotreksat, bila perlu bersama kortikosteroid sistemik, sebagai terapi lini pertama. Fototerapi juga dipakai pada sebagian kasus.

Yang perlu diluruskan: pelembap, minyak, salep herbal, dan pijat tidak menghentikan proses pengerasan. Bercak yang sudah lunak kembali setelah dipijat berminggu-minggu hampir pasti bukan morfea sejak awal.

Yang Bisa Dilakukan Orang Tua di Rumah

Perawatan rumahan berperan sebagai pendukung, bukan pengganti terapi dokter. Yang membantu:

Memantau dengan bukti, bukan ingatan. Foto bercaknya sebulan sekali dari jarak dan pencahayaan yang sama, dengan penggaris kecil di sampingnya sebagai pembanding ukuran. Untuk lesi di lengan atau tungkai, catat juga lingkar anggota gerak kiri dan kanan. Catatan seperti ini jauh lebih berguna di ruang praktik daripada kesan "kayaknya agak melebar".

Menjaga kelembapan kulitnya. Kulit yang terkena kehilangan kelenjar keringat dan minyak alaminya, jadi cenderung kering, kaku, dan gatal. Pelembap tanpa pewangi yang dipakai rutin membantu kenyamanannya dan menjaga skin barrier di sekitarnya, meski tidak memengaruhi jalannya penyakit. Cara mengukur takarannya dibahas di panduan fingertip unit.

Melindunginya dari matahari. Area yang sudah menipis dan kehilangan pigmen lebih mudah terbakar, dan warnanya jadi makin kontras dengan kulit sekitar setelah terpapar.

Tidak menggosok atau mengeksfoliasi. Kulit di atas lesi lebih tipis dan lebih gampang lecet daripada penampakannya.

Meneruskan gerak sendinya. Bila lesinya melewati sendi, dokter biasanya melibatkan fisioterapis. Latihan peregangan yang diberikan perlu dijalankan konsisten di rumah, karena hasilnya bergantung pada rutinitas harian, bukan pada sesi terapinya saja.

Kapan Harus Diperiksakan

Bawa anak ke dokter kulit anak atau dokter reumatologi anak bila menemukan:

  • Bercak kulit yang terasa lebih keras atau lebih padat dibanding sisi tubuh sebelahnya, tanpa riwayat luka.
  • Bercak dengan tepi merah keunguan yang ukurannya bertambah dalam beberapa minggu.
  • Bercak memanjang di satu lengan, satu tungkai, atau satu sisi wajah, terutama yang melintasi sendi.
  • Garis atau cekungan di dahi dan kulit kepala, disertai rambut yang tidak tumbuh di jalurnya.
  • Perbedaan panjang atau besar antara lengan kiri dan kanan, atau tungkai kiri dan kanan.
  • Sendi yang tidak bisa diluruskan sepenuhnya di dekat area bercak.

Morfea jarang membuat anak merasa sakit, dan itu yang membuatnya gampang ditunda. Bercak yang teksturnya berubah tanpa sebab layak diraba ulang bulan depan, lalu dibawa ke dokter kalau areanya bertambah. Untuk keluhan kulit lain yang perlu penilaian tenaga medis, panduannya ada di kapan harus ke dokter kulit untuk anak.


Sumber rujukan:

  • American College of Rheumatology — Localized Scleroderma (Juvenile), patient information.
  • Zulian F, dkk. Juvenile localized scleroderma: clinical and epidemiological features in 750 children. An international study. Rheumatology (Oxford), 2006;45(5):614–620.
  • Zulian F, dkk. Localized scleroderma in childhood is not just a skin disease. Arthritis & Rheumatism, 2005;52(9):2873–2881.
  • Juvenile localized scleroderma: a large retrospective cohort study from a tertiary care center, 2025.
  • Morphea, StatPearls, National Center for Biotechnology Information.

Artikel ini bersifat edukatif dan tidak menggantikan pemeriksaan langsung oleh tenaga medis.

Butuh Rekomendasi Produk?

Tim kami bisa bantu cari produk NeoCare yang paling cocok untuk kulit keluarga Anda.

Konsultasi via WhatsApp

Produk Terkait

Artikel Terkait