7x Ceramide Formulated in Germany • Gentle care for sensitive skin, all ages

Baby Care7 menit2026-08-16

Mpox (Cacar Monyet) pada Anak: Bedanya dengan Cacar Air dan Perawatan Kulit

Kenali beda ruam mpox dan cacar air pada anak, dari pembengkakan kelenjar sampai lesi di telapak tangan, plus cara merawat kulitnya selama penyembuhan.

Mpox (Cacar Monyet) pada Anak: Bedanya dengan Cacar Air dan Cara Merawat Kulitnya

Setiap kali nama mpox muncul lagi di berita, grup WhatsApp orang tua ikut ramai. Foto lepuh beredar tanpa keterangan asalnya dari mana, lalu besoknya ada saja ibu yang buru-buru ke klinik karena bentol di lengan anaknya yang ternyata bekas gigitan nyamuk.

Kepanikannya bisa dimengerti, tapi arahnya sering meleset. Yang lebih berguna buat orang tua bukan menghafal nama penyakitnya, melainkan bisa membaca ruam anak dengan kepala dingin: sudah berapa lama muncul, bentuknya seperti apa, ada demam duluan atau tidak, dan ada pembengkakan di leher atau tidak. Empat hal itu yang biasanya ditanyakan dokter pertama kali.

Seberapa besar sebenarnya risikonya di Indonesia

Angkanya membantu menaruh kekhawatiran pada tempatnya.

Kementerian Kesehatan mencatat 88 kasus konfirmasi mpox di Indonesia sampai 4 Juni 2024, dan seluruh kasus konfirmasi tersebut sudah dinyatakan sembuh. Sebarannya ada di enam provinsi: DKI Jakarta, Jawa Barat, Banten, DI Yogyakarta, Jawa Timur, dan Kepulauan Riau. Kasus pertama masuk pada Agustus 2022 dan berasal dari luar negeri.

Bandingkan dengan gambaran globalnya. WHO melaporkan lebih dari 120 negara mencatat mpox sepanjang Januari 2022 sampai Agustus 2024, dengan lebih dari 100.000 kasus terkonfirmasi laboratorium dan lebih dari 220 kematian di antara kasus terkonfirmasi. Jadi secara dunia penyakit ini nyata dan besar, sementara di Indonesia jumlahnya masih sangat terbatas dan belum pernah menjadi wabah luas.

Artinya, kalau anak Anda tiba-tiba muncul lepuh, kemungkinan terbesarnya masih cacar air, flu Singapura, impetigo, atau reaksi gigitan serangga. Mpox ada di daftar, tapi jauh dari urutan pertama.

Perjalanan ruam mpox, dari bercak sampai keropeng lepas

Gejala mpox biasanya mulai dalam seminggu setelah paparan, meskipun WHO menyebut rentangnya bisa 1 sampai 21 hari. Yang muncul lebih dulu umumnya demam, sakit kepala, nyeri otot, nyeri punggung, badan lemas, dan pembengkakan kelenjar getah bening.

Menurut penjelasan Kemenkes, ruam atau lesi baru muncul sekitar 1 sampai 3 hari setelah demam. Dari situ perjalanannya cukup berurutan: bercak merah datar, lalu menonjol, lalu berisi cairan bening, berubah jadi berisi nanah, mengeras menjadi keropeng, dan akhirnya lepas sendiri.

WHO menggambarkan satu lesi mpox dimulai sebagai luka datar yang berkembang menjadi lepuh berisi cairan, bisa terasa gatal atau nyeri, lalu mengering, berkeropeng, dan rontok. Keseluruhan ruam berlangsung 2 sampai 4 minggu.

Lokasinya juga khas. Selain wajah dan badan, lesi mpox sering muncul di telapak tangan dan telapak kaki, di dalam mulut dan tenggorokan, serta di area selangkangan. Telapak tangan dan telapak kaki ini yang perlu dicatat, karena cacar air justru jarang mampir ke sana.

Tanda yang paling sering dipakai untuk membedakannya dari cacar air

Pembesaran kelenjar getah bening adalah pembeda yang paling sering disebut dalam literatur. Merck Manual menuliskannya lugas: pembesaran kelenjar getah bening terjadi pada mpox tetapi tidak pada cacar (smallpox). Pada anak, pembengkakan ini bisa teraba di bawah rahang, di leher, di ketiak, atau di lipat paha, kadang hanya di satu sisi.

Ada satu patokan lama yang perlu dipakai dengan hati-hati sekarang. Dulu, lesi mpox digambarkan berkembang serempak: kalau satu bagian tubuh sedang di tahap lepuh berisi cairan, lesi lain di area yang sama juga di tahap yang sama. Cacar air sebaliknya, lesinya bercampur, ada yang masih bercak sementara di sebelahnya sudah berkeropeng.

Patokan itu melemah sejak wabah 2022. Merck Manual mencatat bahwa pada wabah yang sedang berjalan, lesi bisa ditemukan dalam tahap perkembangan berbeda di satu area anatomi yang sama, misalnya lepuh cairan dan lepuh nanah berdampingan. Jadi pola "serempak versus bercampur" masih berguna sebagai petunjuk, tapi tidak lagi bisa dijadikan penentu tunggal di rumah.

Perbedaan lain yang lebih mudah dilihat orang tua: lesi mpox cenderung terasa padat dan dalam saat disentuh, sering ada cekungan kecil di puncaknya, dan batasnya tegas. Lesi cacar air lebih dangkal, lebih tipis dindingnya, dan lebih cepat pecah.

Kenapa anak masuk kelompok yang perlu perhatian lebih

WHO menyebutkan bahwa anak-anak, ibu hamil, dan orang dengan sistem kekebalan lemah berisiko lebih tinggi mengalami penyakit berat dan kematian akibat mpox. Kemenkes memasukkan bayi baru lahir dan anak-anak ke dalam daftar kelompok rentan bersama ibu hamil, lansia, dan orang dengan gangguan kekebalan tubuh.

Ada alasan yang masuk akal dari sisi kulit. Kulit anak, apalagi bayi, punya lapisan pelindung yang lebih tipis dan skin barrier yang belum matang. Ketika permukaannya rusak oleh lesi yang pecah, pintu masuk bakteri jadi lebih lebar, sehingga infeksi bakteri sekunder lebih gampang menumpang.

Cara penularannya juga sangat cocok dengan kebiasaan hidup anak kecil. Kemenkes menyebut penularan antarmanusia terjadi lewat kontak langsung dengan lesi atau cairan tubuh orang yang terinfeksi, lewat sentuhan fisik, dan lewat menyentuh barang yang terkontaminasi seperti baju, handuk, dan sprei. Anak balita menempel ke pengasuhnya seharian, tidur berbagi kasur, dan pakai handuk yang sama dengan kakaknya.

Satu hal yang perlu diketahui soal masa menular: seseorang tetap bisa menularkan sejak gejala muncul sampai semua lesi berkeropeng dan keropengnya lepas memperlihatkan kulit baru, yang menurut Merck Manual biasanya memakan waktu 2 sampai 4 minggu. Anak yang demamnya sudah turun dan sudah kembali aktif belum tentu sudah aman untuk berbaur.

Merawat kulit anak selama masa penyembuhan

Tidak ada perawatan kulit yang mempercepat hilangnya lesi mpox. Yang bisa dikerjakan orang tua di rumah adalah membuat anak lebih nyaman, menjaga kulit di sekitar lesi tetap utuh, dan menekan risiko infeksi tambahan sambil pengobatan berjalan di bawah pengawasan dokter.

1. Mandikan seperti biasa, dengan air suam-suam kuku

Anak dengan ruam tetap perlu mandi. Air panas memperparah gatal dan bikin kulit makin kering, jadi pilih yang hangat suam-suam kuku. Pakai sabun lembut tanpa pewangi kuat, usap dengan telapak tangan, jangan digosok dengan spons atau waslap kasar.

2. Keringkan dengan cara ditepuk

Handuk yang digesekkan bisa merobek atap lepuh yang masih utuh. Tepuk-tepuk pelan sampai kulit setengah kering, lalu biarkan sisa lembapnya menguap sendiri.

3. Oleskan pelembap hanya di kulit yang masih utuh

Kulit di sekitar lesi biasanya ikut kering dan gatal. Pelembap hipoalergenik tanpa pewangi membantu di area itu. Jangan dioleskan ke atas luka terbuka atau lesi yang sudah pecah, kecuali dokter memberi instruksi berbeda.

4. Potong kuku anak sependek mungkin

Ini langkah paling murah yang dampaknya paling besar. Kuku panjang mengubah gatal biasa menjadi luka, dan luka itu yang nantinya meninggalkan bekas. Untuk bayi, sarung tangan katun tipis saat tidur bisa membantu.

5. Pilih baju katun longgar dan ganti setiap hari

Bahan yang menyerap keringat mengurangi gesekan pada lesi. Cuci baju, handuk, dan sprei anak terpisah dari anggota keluarga lain selama masa menular, dan hindari berbagi handuk.

6. Jaga anak tetap cukup minum

Kalau ada lesi di mulut atau tenggorokan, anak sering menolak makan dan minum karena perih. Tawarkan cairan sedikit-sedikit tapi sering, dan pilih makanan yang lembut serta tidak asam.

Yang sebaiknya tidak dilakukan

Godaan terbesar orang tua saat melihat lepuh adalah mengeringkannya cepat-cepat. Dari situ justru lahir masalah baru.

Jangan memecahkan lepuh dengan jarum atau memaksa mengelupas keropeng yang belum siap lepas. Keropeng adalah penutup luka alami, dan mencabutnya sebelum waktunya memperbesar peluang infeksi sekaligus bekas yang menetap.

Bedak tabur juga sebaiknya tidak ditaburkan ke atas lesi yang terbuka, karena bisa menggumpal di dalam luka. Bahan dapur dan ramuan tradisional seperti pasta gigi, kopi, atau air rendaman daun tertentu tidak punya dasar medis untuk kondisi ini dan berisiko menambah iritasi pada kulit yang sedang meradang.

Steroid oles tanpa resep juga bukan pilihan yang bijak di sini. Mpox adalah infeksi virus, dan menekan reaksi kulit dengan steroid sembarangan bisa mengaburkan gambaran penyakit sekaligus memperburuk keadaan.

Kapan harus segera ke dokter

Ruam yang belum jelas penyebabnya pantas diperiksakan, apalagi kalau anaknya masih bayi. Beberapa keadaan yang tidak perlu ditunggu:

  • Ruam berlepuh disertai demam dan pembengkakan kelenjar di leher, ketiak, atau lipat paha
  • Anak baru saja kontak erat dengan orang yang punya ruam serupa, atau ada riwayat perjalanan dari daerah dengan kasus aktif
  • Lesi muncul di telapak tangan, telapak kaki, di sekitar mata, atau di dalam mulut sampai anak menolak minum
  • Lesi berubah menjadi kemerahan meluas, bengkak, hangat saat disentuh, atau keluar nanah berbau, yang mengarah ke infeksi bakteri sekunder
  • Anak tampak lemas berlebihan, sesak, atau tanda dehidrasi seperti popok kering lebih dari enam jam

Diagnosis mpox tidak bisa ditegakkan dari foto atau dari mata telanjang saja. Konfirmasinya butuh pemeriksaan laboratorium dari sampel lesi, dan itu ranah fasilitas kesehatan.

Untuk sebagian besar keluarga di Indonesia, mpox kemungkinan besar akan berhenti sebagai berita yang lewat. Yang tetap berguna dari semua ini adalah kebiasaan yang sama untuk ruam apa pun: cuci tangan, jangan berbagi handuk, potong kuku anak, dan jangan menebak-nebak sendiri saat lepuh muncul bersama demam.

Butuh Rekomendasi Produk?

Tim kami bisa bantu cari produk NeoCare yang paling cocok untuk kulit keluarga Anda.

Konsultasi via WhatsApp

Produk Terkait

Artikel Terkait