Kulit Sekitar Stoma Bayi Lecet: Ukuran Lubang Kantong yang Terlewat
Dinda (29) pulang dari rumah sakit dengan bayinya yang baru dipasang kolostomi karena penyakit Hirschsprung. Dua minggu pertama berjalan mulus. Masuk minggu ketiga, kulit di sekitar stoma anaknya berubah merah, basah, dan tampak perih setiap kantongnya dibuka.
Yang dia lakukan berikutnya masuk akal untuk siapa pun: membersihkan lebih sering, menggosok lebih teliti, dan memakai tisu basah bayi supaya tidak ada sisa kotoran yang tertinggal.
Kulitnya justru makin rusak.
Pola ini berulang di banyak keluarga, dan penyebabnya biasanya bukan kebersihan. Penyebabnya ukuran lubang yang digunting di perekat kantong, yang minggu lalu masih pas dan minggu ini sudah kebesaran.
Satu catatan soal sumber: acuan di bawah ini diambil dari pedoman perawatan stoma anak terbitan Wound, Ostomy and Continence Nurses Society (WOCN), organisasi perawat luka dan stoma di Amerika Serikat, karena Indonesia belum punya pedoman setara yang terbuka untuk umum. Perawatan stoma anak selalu berjalan di bawah tim bedah dan perawat stoma yang menangani, dan apa pun yang ditulis di sini tidak menggantikan instruksi mereka.
Lecet di Sekitar Stoma Hampir Selalu Soal Kebocoran
Kulit di sekitar stoma rusak karena satu hal: isi usus menempel di kulit dan dibiarkan di sana. Cairan yang keluar dari stoma membawa enzim pencernaan yang tugasnya memecah makanan, dan enzim itu tidak bisa membedakan makanan dengan kulit bayi. Beberapa jam kontak sudah cukup untuk membuat lapisan atas kulit terkikis.
Ulasan tentang komplikasi kulit peristoma yang terbit di jurnal International Journal of Environmental Research and Public Health pada Desember 2022 mencatat dermatitis kontak peristoma sebagai keluhan yang paling banyak dilaporkan, dengan angka kejadian yang sangat bervariasi antar penelitian, dari sekitar 17 persen sampai di atas 90 persen, tergantung cara tiap studi mendefinisikan dan mengukurnya. Angka itu dihimpun dari populasi pasien stoma secara umum yang mayoritasnya dewasa, jadi bacalah sebagai gambaran seberapa umum masalahnya, bukan sebagai angka khusus bayi.
Ulasan yang sama mencatat sesuatu yang lebih relevan untuk orang tua: banyak pasien tidak melapor ke tenaga kesehatan saat kulitnya bermasalah, dan memilih menanganinya sendiri.
Membersihkan lebih sering tidak menyentuh sumbernya. Yang bertambah justru gesekan dan frekuensi melepas perekat, dan keduanya merusak kulit bayi lebih cepat daripada kulit orang dewasa.
Stoma Menyusut Selama Enam Sampai Delapan Minggu Pertama
Saat baru dibuat, stoma masih bengkak. Pedoman WOCN mencatat bengkak itu berkurang bertahap dalam empat sampai enam minggu, dan ukuran stoma terus mengecil sepanjang enam sampai delapan minggu setelah operasi sampai akhirnya stabil.
Artinya lubang yang digunting di minggu pertama dibuat untuk stoma yang sedang bengkak. Di minggu ketiga stoma sudah lebih kecil, sementara lubangnya tetap selebar semula. Selisih itu menjadi cincin kulit telanjang yang mengelilingi stoma, dan cincin itu terendam isi usus sepanjang hari di bawah perekat yang tertutup rapat.
Untuk bayi Hirschsprung, selisihnya lebih besar lagi. Pedoman WOCN menyebut stoma yang dibuat pada kondisi dengan usus melebar, dan menyebut penyakit Hirschsprung sebagai contohnya, akan menyusut lebih banyak dibanding stoma lain seiring ususnya mengempis.
Karena itu ukuran stoma perlu diukur ulang setiap kali ganti kantong selama enam sampai delapan minggu pertama, bukan diukur sekali lalu polanya dipakai terus. Setelah ukurannya stabil pun pengukuran tetap diulang berkala, karena stoma ikut membesar seiring anak tumbuh.
Kotak kantong stoma biasanya menyertakan kartu pengukur berlubang. Kartu itu bukan pelengkap.
Batas Tiga Milimeter
Pedoman WOCN memberi angka yang bisa langsung dipakai: lubang pada perekat dibuat tidak lebih dari seperdelapan inci, sekitar tiga milimeter, lebih besar dari diameter stoma diukur di permukaan kulit, dan tidak boleh lebih kecil dari diameter stoma itu sendiri.
Dua batas itu mencegah dua kesalahan yang berbeda.
Lubang yang kebesaran meninggalkan kulit terbuka untuk kontak dengan isi usus, dan itulah yang menyebabkan lecet. Lubang yang kekecilan menekan dan melukai stoma, dan bisa menghambat jalan keluarnya kotoran. Stoma yang tergencet perekat juga mudah berdarah.
Pengukuran diambil di permukaan kulit, tepat di batas antara jaringan stoma dan kulit, bukan di bagian stoma yang menonjol paling lebar. Setelah digunting, tepi lubang diusap dengan jari sampai halus, karena tepi yang kasar menggores stoma setiap kali bayi bergerak.
Melepas Kantong: Dorong Kulitnya, Bukan Tarik Perekatnya
Pada orang dewasa, lapisan epidermis dan dermis menempel kuat satu sama lain, sehingga perekat yang dilepas jarang ikut mengangkat kulit. Pada bayi ikatan itu lemah. Pedoman WOCN menyebut kondisi ini sebagai penyebab terangkatnya lapisan epidermis saat perekat dilepas, dan penyebab lecet serta lepuh akibat gesekan.
Cara melepas yang dianjurkan berkebalikan dengan refleks kebanyakan orang. Basahi kain lembut bebas serat dengan air hangat. Angkat satu sisi tepi perekat dengan satu tangan, lalu gunakan kain basah atau jari tangan lain untuk mendorong kulitnya turun menjauhi perekat.
Sisa perekat yang masih menempel di kulit setelah kantong dilepas tidak perlu dikejar sampai bersih. Pedoman WOCN menyebut sisa itu umumnya tidak mengganggu daya rekat kantong baru, sementara upaya membersihkannya sampai habis justru merusak kulit.
Cairan pelepas perekat juga tidak dianjurkan sebagai kebiasaan rutin pada bayi, karena bahan kimianya terserap lewat kulit. Kalau memang terpaksa dipakai atas saran perawat stoma, sisanya harus segera dibersihkan dengan air. Prinsipnya sama dengan yang berlaku pada bekas plester infus di kulit bayi.
Air Hangat Saja, dan Kenapa Tisu Basah Bayi Menyulitkan
Untuk membersihkan kulit di sekitar stoma, pedoman WOCN menyebut sabun tidak diperlukan. Air hangat dan kain lembut sudah cukup. Kalau sabun dipakai, sabunnya harus bebas tambahan seperti pewangi, antimikroba, dan pelembap, lalu dibilas sampai benar-benar bersih sebelum kantong baru dipasang.
Yang mengejutkan banyak orang tua, tisu basah bayi justru tidak dianjurkan untuk area ini. Alasannya ada tiga. Banyak tisu basah mengandung lanolin atau pelembap lain yang menyisakan lapisan berminyak sehingga daya rekat kantong turun. Sebagian mengandung alkohol yang mengeringkan, mengiritasi, dan ikut terserap kulit. Sebagian besar mengandung pewangi yang bisa memicu sensitisasi di kulit yang tertutup rapat seharian, sekaligus menggeser pH kulit bayi.
Setelah dibersihkan, kulit harus kering betul sebelum kantong dipasang, karena perekat tidak menempel di kulit lembap. Mengeringkannya cukup dengan menepuk memakai kain. Pengering rambut tidak dianjurkan sekalipun disetel dingin, karena berisiko membuat luka bakar pada kulit bayi.
Satu hal yang perlu dikatakan terus terang: pelembap, minyak, dan losion tidak boleh dioleskan pada kulit yang akan tertutup perekat. Bahan yang membantu menjaga skin barrier di tempat lain justru membuat perekat terangkat di sini, dan perekat yang terangkat adalah awal dari kebocoran yang merusak kulit. Pelembap tetap boleh dipakai di kulit perut di luar area yang tertutup perekat.
Pasta stoma dan cairan pelapis kulit juga tidak dianjurkan sebagai kebiasaan rutin pada bayi menurut pedoman WOCN, terutama pada bayi prematur. Keduanya dipakai hanya bila perawat stoma menilai perlu, misalnya untuk meratakan lipatan kulit yang membuat kantong sulit menempel.
Ganti Terjadwal, Bukan Menunggu Bocor
Kantong stoma bayi idealnya bertahan minimal 24 jam dan bisa sampai empat hari, dengan rata-rata dua sampai tiga hari. Pada bayi prematur waktu pakainya lebih pendek, dan pedoman WOCN menyebut 12 sampai 24 jam sebagai angka yang masih wajar di awal. Kalaupun kantongnya awet, penggantian tetap dilakukan paling lama setiap tujuh hari supaya stoma dan kulitnya bisa diperiksa.
Orang tua yang sudah beberapa minggu merawat biasanya hafal kantong anaknya bertahan berapa lama, lalu menjadwalkan penggantian sedikit lebih awal dari itu.
Ada beberapa tanda kantong akan bocor yang muncul sebelum bocornya terjadi. Bau dari arah stoma padahal kantong tertutup rapat. Perekat di sekeliling stoma yang terlihat mulai luruh atau mencair. Kotoran yang menempel di kulit, baju, atau seprai padahal bukan berasal dari ujung bawah kantong.
Kalau menemukan tanda itu, kantongnya diganti, bukan ditambal. Menambal kebocoran untuk memperpanjang usia pakai adalah cara tercepat merusak kulit, karena isi usus tetap merembes di bawah perekat sementara kerusakannya tidak terlihat.
Kalau kulit di sekitar stoma sudah terlanjur rusak, kantong justru diganti lebih sering, paling lama setiap dua hari, supaya kondisi kulitnya bisa dipantau dan ditangani.
Dua catatan praktis yang sering menolong. Kantong yang dipakai di dalam popok bisa membuat perekatnya terkikis kelembapan popok basah, dan pedoman WOCN menyebut membingkai tepi perekat dengan plester tahan air bisa memperpanjang usia pakainya. Lalu, perekat memang lebih lentur saat hangat, tapi menghangatkannya dengan alat pemanas berisiko membakar kulit bayi. Cukup digenggam di antara dua telapak tangan sebentar sebelum dipasang.
Kalau kantong yang biasanya awet tiba-tiba sering lepas tanpa sebab jelas, itu layak disampaikan ke dokter. Perubahan mendadak pada daya rekat bisa menandakan gangguan penyerapan atau infeksi saluran cerna, karena kotoran menjadi lebih cair dan komposisinya berubah sehingga mengikis perekat lebih cepat.
Warna Stoma dan Perdarahan: Mana yang Wajar
Stoma yang sehat berwarna merah muda terang sampai merah, lembap, dan mengkilap, mirip permukaan bagian dalam pipi. Warnanya bisa berubah pucat, keabuan, atau keputihan saat bayi menangis. Pedoman WOCN menyebut perubahan itu sementara dan warnanya kembali normal setelah tangisnya reda.
Stoma tidak punya ujung saraf yang mengirim sinyal nyeri. Bayi tidak akan menangis kalau stomanya diperlakukan terlalu kasar, jadi tangisan tidak bisa dipakai sebagai penanda batas aman. Di sisi lain jaringannya kaya pembuluh darah dan gampang berdarah. Rembesan darah sedikit saat dibersihkan masih wajar.
Yang tidak wajar dan harus segera dilaporkan ke dokter bedah: perdarahan yang terus-menerus, atau darah yang keluar dari lubang stomanya sendiri.
Perubahan warna stoma menjadi gelap, keunguan, atau kehitaman dan bertahan setelah bayi tenang juga bukan hal yang ditunggu di rumah.
Setelah Stoma Ditutup, Masalahnya Pindah Tempat
Banyak kolostomi pada bayi sifatnya sementara dan akan ditutup setelah operasi definitifnya selesai. Orang tua biasanya menghitung hari menuju momen itu, lalu terkejut karena masalah kulitnya tidak selesai, hanya pindah.
Pedoman WOCN menyebut kerusakan kulit di sekitar anus umum terjadi setelah stoma ditutup, dan perlindungan kulit sebaiknya dimulai segera setelah penutupan, bukan menunggu kulitnya memerah dulu. Masuk akal kalau dipikirkan: kulit di area itu selama berbulan-bulan tidak pernah bersentuhan dengan kotoran, lalu tiba-tiba harus menghadapinya beberapa kali sehari, sering kali dengan kotoran yang masih encer dan lebih mengiritasi.
Penanganannya mirip pencegahan ruam popok tapi dijalankan lebih rapat: popok diganti segera setiap kali kotor, kulit dibersihkan dengan air, lalu dilapisi krim pelindung berbahan zinc oxide atau petroleum jelly sebagai pembatas antara kulit dan kotoran. Kalau kemerahannya tidak membaik dan mulai muncul bintik-bintik kecil di tepinya, kemungkinan jamur perlu dipertimbangkan dan itu ranah dokter.
Untuk bayi yang stomanya dipasang di masa baru lahir, prinsip merawat kulit di sekitar sambungan alat juga beririsan dengan perawatan tali pusat di minggu-minggu awal, dan bayi prematur punya kerentanan kulit tersendiri yang dibahas terpisah di panduan kulit bayi prematur.
Ukur ulang stomanya setiap kali ganti kantong selama dua bulan pertama, dan gunting lubangnya mengikuti ukuran hari itu, bukan ukuran minggu lalu.



