7x Ceramide Formulated in Germany • Gentle care for sensitive skin, all ages

Baby Care6 menit2026-07-12

Pilis, Param, dan Bobok Bayi: Ramuan Tradisional pada Kulit Bayi, Amankah?

Pilis, param, dan bobok kerap dioleskan ke kulit bayi. Kenali kandungan, risiko iritasi, dan kapan sebaiknya berhenti serta memeriksakan ke dokter.

Pilis, Param, dan Bobok Bayi: Ramuan Tradisional pada Kulit Bayi, Amankah?

Ramuan yang dioles di dahi, dada, dan perut bayi ini ada di hampir setiap rumah di Indonesia. Dokter kulit anak justru rutin menerima kasus iritasi karenanya.

Di banyak rumah tangga Indonesia, seorang bayi baru lahir jarang pulang dari rumah nenek tanpa dahi yang ditempeli pilis atau perut yang diolesi bobok. Praktik ini menyebar lintas suku dan generasi, dari Jawa, Sunda, sampai kampung-kampung di luar pulau. Data pastinya sulit dihitung, tapi cukup melihat rak apotek dan warung yang selalu menyediakan param kocok dan pilis bulat untuk tahu seberapa luas kebiasaan ini.

Di sisi lain, klinik dermatologi anak dan poli tumbuh kembang cukup sering menerima bayi dengan ruam merah, bruntusan, atau kulit yang mengelupas di area bekas olesan ramuan. Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) berulang kali mengingatkan bahwa kulit bayi punya karakter berbeda dari kulit dewasa, dan tidak semua bahan yang aman untuk orang tua otomatis aman untuk si kecil. Pertanyaannya bukan soal percaya atau tidak pada tradisi, melainkan apa yang sebenarnya terjadi pada kulit bayi saat ramuan itu menempel berjam-jam.

Apa Itu Pilis, Param, dan Bobok

Ketiganya adalah ramuan tradisional berbentuk pasta atau bubuk yang dilarutkan, lalu dioleskan ke kulit. Posisi penempelannya berbeda-beda menurut kebiasaan daerah.

  • Pilis biasanya ditempel di dahi bayi, dipercaya menghangatkan dan menenangkan.
  • Param atau parem dioles di badan, tangan, dan kaki, sering dipakai saat bayi dianggap "masuk angin" atau rewel.
  • Bobok atau boreh mirip param, kerap dipakai untuk area yang lebih luas.
  • Tapel ditempel khusus di perut, banyak dipakai pada ibu nifas maupun bayi dengan harapan mengempiskan perut dan memberi rasa hangat.

Alasan keluarga memakainya hampir selalu sama: menghangatkan tubuh, meredakan rewel, meredakan gejala masuk angin, dan meneruskan kebiasaan yang sudah dijalankan nenek dan buyut. Bagi banyak orang tua, mengoleskan ramuan ini adalah bentuk merawat, bukan sekadar pengobatan.

Apa Saja Isi Ramuannya

Komposisi ramuan tradisional sangat bervariasi tergantung siapa yang membuat. Versi kemasan pabrik yang terdaftar di BPOM umumnya mencantumkan bahan pada label. Versi racikan rumahan atau buatan warung sering kali tidak.

Bahan yang lazim ditemukan meliputi tepung beras sebagai dasar, rimpang seperti kencur dan temulawak, kunyit, jahe, adas, serta bahan herbal lain. Sebagian formula ditambahi minyak atsiri atau minyak esensial untuk memberi aroma dan sensasi hangat. Pada racikan yang tidak diawasi, kadang ada bahan tambahan yang tidak jelas asal-usulnya, termasuk pewarna atau pengawet.

Persoalannya terletak pada dua hal. Pertama, sensasi "hangat" pada kulit sering berasal dari zat yang justru bersifat mengiritasi. Kedua, untuk racikan rumahan, tidak ada yang bisa memastikan bahan itu bersih dari kontaminasi mikroba selama proses pembuatan dan penyimpanan.

Kenapa Kulit Bayi Lebih Rentan

Kulit bayi bukan versi kecil dari kulit dewasa. Lapisan pelindungnya, yang disebut skin barrier, masih tipis dan belum matang sepenuhnya sampai usia sekitar dua tahun. Akibatnya, bahan yang dioleskan lebih mudah menembus dan lebih mudah memicu reaksi.

Dua reaksi yang paling sering muncul adalah dermatitis kontak iritan dan dermatitis kontak alergi. Yang pertama terjadi saat bahan secara langsung merusak permukaan kulit, misalnya karena sensasi hangat dari rimpang atau minyak atsiri. Yang kedua adalah respons sistem imun terhadap bahan tertentu, yang bisa muncul meski pemakaian pertama tampak aman. Pada kulit setipis milik bayi, keduanya bisa berkembang lebih cepat dibanding pada orang dewasa.

Risiko yang Sering Ditemui Dokter Kulit

Beberapa pola masalah muncul berulang di praktik dokter kulit anak.

Oklusi dan biang keringat di bawah tapel. Pasta yang menutup perut bayi dalam waktu lama menghalangi penguapan keringat. Di iklim tropis yang panas dan lembap, kondisi ini memerangkap panas dan memicu ruam biang keringat, apalagi jika ramuan dibiarkan menempel semalaman.

Sensitivitas terhadap minyak esensial. Minyak atsiri konsentrat, termasuk yang beraroma menthol atau eukaliptus, dikenal berpotensi mengiritasi kulit dan saluran napas bayi. Yang terasa hangat bagi orang dewasa bisa terasa panas dan perih bagi bayi.

Kontaminasi ramuan rumahan. Pasta yang dibuat manual, disimpan tanpa standar higienis, lalu dioleskan ke kulit yang mungkin punya luka kecil, membuka peluang infeksi. Tidak ada uji sterilitas pada racikan warung.

Bahan yang tidak diketahui asalnya. Saat komposisi tidak tercantum, orang tua dan dokter sama-sama kesulitan menelusuri pemicu jika terjadi reaksi. Ini menyulitkan penanganan dan pencegahan berulang.

BPOM secara umum mengingatkan konsumen untuk memeriksa nomor izin edar pada produk yang dioleskan ke kulit, dan lebih berhati-hati pada produk racikan tanpa registrasi. Prinsip ini berlaku ganda untuk produk yang dipakai pada bayi.

Kapan Harus Berhenti dan ke Dokter

Reaksi ringan kadang mereda sendiri setelah ramuan dibersihkan. Namun ada tanda yang menandakan orang tua sebaiknya menghentikan pemakaian dan mencari penilaian medis.

  • Kemerahan yang meluas dari hari ke hari, bukan menyusut
  • Muncul lenting atau bintik berisi cairan
  • Kulit basah, bernanah, atau berkerak kuning yang mengarah ke infeksi
  • Bayi rewel berat, sulit tidur, atau menolak menyusu
  • Tidak ada perbaikan setelah beberapa hari perawatan dasar

Bila salah satu tanda ini muncul, membersihkan area dengan air bersih dan menghentikan ramuan adalah langkah pertama. Untuk gejala yang menyebar atau disertai demam, kunjungan ke dokter anak atau dokter kulit pada hari itu juga lebih aman daripada menunggu.

Jalan Tengah yang Menghormati Tradisi

Menolak tradisi mentah-mentah jarang menyelesaikan apa pun, karena kebiasaan ini melekat pada rasa sayang keluarga besar. Yang lebih masuk akal adalah menjaga agar niat baik itu tidak berujung pada kulit yang rusak.

Beberapa langkah bisa membantu. Jaga rutinitas kulit bayi tetap sederhana, karena semakin sedikit bahan yang menempel, semakin kecil peluang reaksi. Jika keluarga tetap ingin mencoba ramuan, lakukan uji tempel di area kecil lebih dulu dan amati 24 jam sebelum pemakaian lebih luas. Hindari mengoleskan ramuan apa pun di kulit yang sedang luka, eksim, atau meradang. Untuk kebutuhan menenangkan kulit, pilih bahan yang sudah teruji lembut seperti pelembap berbasis ceramide atau colloidal oatmeal.

Bicara dengan orang tua atau mertua soal ini butuh cara yang hormat. Banyak keluarga akhirnya mau berkompromi ketika penjelasannya bertumpu pada keselamatan bayi, bukan pada anggapan bahwa tradisi mereka keliru.

Pertanyaan yang Sering Diajukan

Apakah semua pilis dan param berbahaya untuk bayi? Tidak semuanya. Produk bermerek yang terdaftar di BPOM mencantumkan komposisi dan lebih bisa ditelusuri. Yang paling berisiko adalah racikan rumahan atau warung tanpa label, tanpa izin edar, dan tanpa jaminan kebersihan.

Boreh bayi aman atau tidak untuk pemakaian rutin? Untuk bayi di bawah usia tertentu dengan kulit yang masih tipis, pemakaian rutin di area luas justru menambah peluang iritasi dan oklusi. Kalaupun dipakai, sebaiknya terbatas, tidak semalaman, dan dihentikan begitu muncul kemerahan.

Bayi saya rewel dan dianggap masuk angin. Apakah param bisa jadi solusi? Rewel pada bayi punya banyak sebab, mulai dari lapar, lelah, sampai tidak nyaman. Mengoleskan param tidak mengatasi akar penyebabnya dan berisiko menambah masalah kulit. Jika rewel berlanjut, penilaian dokter lebih membantu daripada ramuan.

Bagaimana cara menolak ramuan dari nenek tanpa menyinggung? Sampaikan bahwa keputusan ini soal kulit bayi yang masih sangat sensitif, bukan soal menolak kasih sayang beliau. Tawarkan alternatif yang aman sebagai jalan tengah, dan libatkan beliau dalam merawat dengan cara yang lain.


Punya pertanyaan soal kulit sensitif si kecil? Tim NeoCare siap bantu lewat WhatsApp untuk diskusi santai seputar perawatan kulit bayi sehari-hari.

Butuh Rekomendasi Produk?

Tim kami bisa bantu cari produk NeoCare yang paling cocok untuk kulit keluarga Anda.

Konsultasi via WhatsApp

Produk Terkait

Artikel Terkait