Ruam DBD pada Anak: Bintik Merah Saat Demam dan Ruam Gatal Saat Mulai Sembuh
Kementerian Kesehatan mencatat pola yang layak diperhatikan orang tua soal demam berdarah dengue di Indonesia. Kasus terbanyak dalam beberapa tahun terakhir ada di kelompok usia 15 sampai 44 tahun. Tapi kalau yang dihitung angka kematiannya, kelompok paling rentan selama tujuh tahun terakhir adalah anak usia 5 sampai 14 tahun.
Kasusnya menumpuk di kelompok dewasa muda, kematiannya paling banyak jatuh pada anak usia sekolah.
Di rumah, salah satu yang paling sering dipantau orang tua adalah kulit. Bintik merah dianggap penanda utama: kalau muncul berarti DBD, kalau sudah lewat berarti aman. Cara baca seperti ini yang sering membuat orang tua salah mengambil kesimpulan, karena pada DBD ada dua ruam berbeda yang muncul di dua waktu berbeda, dengan arti yang juga berbeda.
Kenapa Artikel Soal Ruam DBD Sering Saling Bertentangan
Coba cari sendiri di internet. Sebagian sumber menulis bintik merah DBD tidak gatal. Sebagian lain menulis ruamnya gatal sekali sampai anak susah tidur.
Keduanya tidak salah. Keduanya sedang membicarakan ruam yang berbeda.
Ruam pertama muncul saat anak masih demam. Ruam kedua muncul belakangan, justru ketika demamnya sudah turun. Bentuknya beda, rasanya beda, dan artinya beda.
Ruam Pertama: Muncul Bersamaan dengan Demam
Fase demam DBD biasanya berjalan 2 sampai 7 hari. Di fase ini kulit anak sering terlihat kemerahan menyeluruh, terutama di wajah. Wajahnya tampak seperti habis kepanasan atau habis menangis lama, padahal anaknya cuma berbaring saja.
Kemerahan ini datang dari pelebaran pembuluh darah kecil di kulit. Kalau ditekan dengan jari, warnanya memudar sebentar lalu kembali lagi.
Yang perlu dibedakan adalah bintik merah yang tidak memudar saat ditekan. Bintik kecil berwarna merah keunguan yang tetap terlihat walau ditekan disebut petechiae, dan itu tanda ada perdarahan halus di bawah kulit. Temuan seperti ini butuh penilaian dokter, bukan pengamatan lanjutan di rumah. Cara memeriksanya dibahas terpisah di artikel soal bintik merah keunguan dan tes gelas.
Ruam Kedua: Muncul Saat Demam Sudah Turun
Ruam kedua inilah yang paling sering mengagetkan orang tua, karena waktunya terasa tidak masuk akal. Demam anak sudah turun, nafsu makan mulai kembali, lalu kulitnya mendadak merah hampir di seluruh badan.
Ciri khasnya begini: kulit terlihat merah luas dan menyatu, tapi di tengah kemerahan itu ada bercak-bercak kecil yang warnanya tetap normal. Dalam literatur medis gambaran ini dijuluki white islands in a sea of red, pulau-pulau putih di tengah lautan merah. Bercak putih itu sebenarnya kulit sehat yang tidak ikut memerah.
Ruam ini muncul bersamaan dengan turunnya suhu tubuh dan memudar bertahap dalam waktu sekitar satu minggu. Laporan klinis menyebut ruam khas dengue terjadi pada kira-kira setengah dari total kasus, dan lebih sering pada infeksi dengue pertama dibanding infeksi berikutnya.
Dan ruam kedua ini gatal. Pada sebagian anak gatalnya cukup hebat sampai mengganggu tidur. Beberapa laporan kasus mencatat gatalnya muncul di sekitar hari kedelapan sejak demam pertama, bersamaan dengan kadar trombosit yang mulai membaik. Setelah kemerahannya turun, kulit bisa mengelupas halus selama beberapa hari.
Untuk orang tua, munculnya ruam ini umumnya kabar baik.
Demam Turun Bukan Berarti Bahayanya Sudah Lewat
Dua hal terjadi di jendela waktu yang sama, dan keduanya sering tertukar.
Fase paling berbahaya pada DBD dimulai tepat saat demam turun. Namanya fase kritis, biasanya jatuh di hari keempat atau kelima sakit dengan rentang hari ketiga sampai ketujuh, dan berjalan sekitar 24 sampai 48 jam. WHO mencatat gejala dengue berat justru sering datang setelah demamnya hilang.
Jadi di hari yang sama, seorang anak bisa mengalami dua hal sekaligus: ruam penyembuhan yang menenangkan, dan awal fase kritis yang berbahaya. Ruamnya tidak bisa dipakai sebagai izin untuk berhenti mengawasi.
Tanda bahaya yang disebut WHO dan perlu penanganan segera:
- Nyeri perut hebat atau perut sangat sakit saat disentuh
- Muntah terus-menerus
- Napas cepat
- Gusi atau hidung berdarah
- Ada darah pada muntahan atau tinja
- Anak sangat lemas, gelisah, atau sulit ditenangkan
- Kulit pucat dan dingin
- Anak terlihat sangat kehausan
Kalau salah satu muncul, anak perlu dibawa ke fasilitas kesehatan saat itu juga, tidak menunggu besok pagi.
Merawat Kulit Anak Saat Ruam Gatalnya Muncul
Ruam penyembuhan DBD hilang sendiri tanpa perlu diapa-apakan. Yang bisa dibantu orang tua adalah rasa gatalnya, supaya anak tidak menggaruk sampai kulitnya lecet dan terbuka jalan untuk infeksi bakteri.
Beberapa hal yang membantu:
- Potong dan haluskan kuku anak. Pada anak yang lebih kecil, kaus tangan tipis saat tidur mengurangi garukan yang tidak disadari.
- Mandi dengan air hangat suam, jangan air panas. Air panas menambah rasa gatal.
- Pakai pembersih yang lembut dan tanpa pewangi kuat. Sabun dengan deterjen keras membuat kulit yang sedang sensitif makin kering.
- Oleskan pelembap tipis sesaat setelah mandi, saat kulit masih agak lembap. Pelembap membantu menjaga skin barrier yang sedang terganggu.
- Kompres dingin memakai kain bersih selama beberapa menit di area yang paling gatal.
- Pilih pakaian katun yang longgar dan menyerap keringat. Keringat yang terperangkap menambah gatal.
Yang sebaiknya dihindari selama masa ini: bedak tabur di kulit yang sedang meradang, minyak beraroma kuat, produk berbahan aktif seperti AHA atau retinol, dan ramuan oles yang belum jelas isinya. Kulit anak sedang dalam fase pemulihan dan gampang bereaksi.
Soal antihistamin atau krim kortikosteroid, keputusannya ada di dokter yang merawat anak, bukan di apotek atau kolom komentar. Pada anak yang baru melewati DBD, dokter juga menimbang kondisi trombosit dan obat lain yang sedang dipakai.
Bedanya dengan Campak, Roseola, dan Alergi Obat
| Kondisi | Kapan ruam muncul | Ciri yang membedakan |
|---|---|---|
| DBD fase penyembuhan | Saat demam turun, sekitar hari 5-7 | Merah luas menyatu dengan bercak kulit normal di tengahnya, gatal |
| Campak | Saat demam masih tinggi, sekitar hari 3-4 | Mulai dari belakang telinga dan garis rambut lalu turun ke badan, disertai mata merah dan batuk |
| Roseola | Setelah demam turun mendadak | Bintik merah kecil yang terpisah-pisah, mulai dari badan, biasanya tidak gatal |
| Alergi obat | Beberapa hari setelah obat baru dimulai | Bentol menonjol atau ruam merata, sering gatal, tidak mengikuti pola turunnya demam |
Roseola dan DBD sama-sama memunculkan ruam setelah demam turun. Yang membedakan biasanya usia dan kondisi umum anaknya: roseola paling sering di bawah usia dua tahun, dan anaknya relatif masih aktif. Gambaran lengkap keduanya ada di artikel roseola pada bayi dan campak pada anak.
Pemastian DBD tetap lewat pemeriksaan darah, bukan lewat pengamatan ruam. Tabel di atas untuk membantu orang tua bercerita lebih jelas ke dokter, bukan untuk menggantikan diagnosis.
Pertanyaan yang Sering Diajukan
Ruam anak saya gatal sekali. Apakah itu tanda kondisinya memburuk?
Gatal pada ruam yang muncul setelah demam turun umumnya menyertai fase penyembuhan. Tapi rasa gatal saja tidak cukup untuk menyimpulkan anak sudah aman. Yang menentukan adalah ada atau tidaknya tanda bahaya pada daftar di atas.
Berapa lama ruamnya hilang?
Umumnya memudar bertahap dalam waktu sekitar satu minggu, kadang diikuti pengelupasan halus beberapa hari sesudahnya.
Anak sudah sembuh DBD tapi kulitnya masih mengelupas. Perlu diobati?
Pengelupasan setelah ruam mereda termasuk hal yang biasa. Pelembap tanpa pewangi biasanya cukup untuk membantu kulit pulih. Kalau pengelupasannya luas, ada luka basah, atau anak demam lagi, bawa ke dokter.
Kalau tidak ada ruam sama sekali, berarti bukan DBD?
Bukan. Ruam khas dengue hanya muncul pada sebagian kasus, dan banyak anak melewati DBD tanpa ruam yang jelas. Diagnosis ditegakkan lewat gejala dan pemeriksaan darah, bukan dari ada tidaknya ruam.
Anak sudah pernah kena DBD, apakah bisa kena lagi?
Bisa. Ada empat tipe virus dengue, dan kekebalan setelah infeksi hanya kuat terhadap tipe yang sudah pernah menyerang.
Satu angka yang layak diingat: fase kritis DBD berjalan 24 sampai 48 jam setelah demam turun. Selama dua hari itu anak justru perlu diawasi lebih ketat dibanding saat demamnya masih tinggi, sekalipun kulitnya sudah menunjukkan ruam yang katanya tanda sembuh.



