7x Ceramide Formulated in Germany • Gentle care for sensitive skin, all ages

Baby Care7 menit2026-07-28

Sariawan Berulang pada Anak: Kapan Ini Bukan Sekadar Kurang Vitamin C

Sariawan berulang pada anak sering dikira kurang vitamin C. Kenali pola stomatitis aftosa rekuren, pemicunya, dan tanda yang perlu diperiksa dokter.

Sariawan Berulang pada Anak: Kapan Ini Bukan Sekadar Kurang Vitamin C

Dinda (31) sudah hafal polanya. Setiap tiga sampai empat minggu, Arka yang berusia empat tahun mulai rewel saat makan, menolak nasi, dan cuma mau minum susu dingin. Kalau bibir bawahnya ditarik pelan, di sana ada satu atau dua luka bulat kecil berwarna putih kekuningan dengan pinggiran merah.

Setiap kali itu terjadi, jawaban yang Dinda terima selalu sama. Kurang vitamin C, kata ibunya. Kurang buah, kata tetangga. Maka Arka rutin diberi jeruk, jambu, dan sesekali suplemen vitamin C rasa jeruk yang dikunyah. Sariawannya tetap sembuh sendiri dalam seminggu, lalu datang lagi bulan berikutnya.

Kondisi yang dialami Arka punya nama medis: stomatitis aftosa rekuren, atau sariawan berulang. Ini luka dangkal di lapisan dalam mulut yang muncul, sembuh, lalu kambuh lagi dengan pola yang cenderung berulang. Angkanya tidak kecil. Literatur medis memperkirakan sampai 25 persen populasi dunia pernah mengalaminya, dan ini termasuk keluhan mulut yang paling sering ditemui.

Yang jarang dibahas, keyakinan soal vitamin C itu justru bagian paling lemah dari cerita ini.

Kekurangan yang Datanya Kuat Bukan Vitamin C

Kekurangan vitamin C berat memang punya gejala mulut, tapi bentuknya berbeda. Yang muncul adalah gusi bengkak, lunak, dan gampang berdarah, bukan luka bulat berulang di bibir dalam atau lidah.

Kekurangan gizi yang berulang kali muncul dalam penelitian sariawan berulang justru zat besi, vitamin B12, asam folat, dan zinc. Sebuah penelitian pada 108 anak dengan sariawan berulang yang dibandingkan dengan 57 anak sehat menemukan kelainan darah pada 32,4 persen kelompok sariawan, dibandingkan 10,5 persen pada kelompok pembanding. Anemia kekurangan zat besi tercatat lebih sering pada anak yang sariawannya berulang.

Penelitian yang sama menemukan hal lain yang menarik untuk orang tua seperti Dinda: riwayat keluarga. Sebanyak 34,2 persen anak dengan sariawan berulang punya anggota keluarga dengan keluhan serupa, dibandingkan 7 persen pada kelompok pembanding. Kalau salah satu orang tua dulu juga langganan sariawan, kemungkinan anaknya mengalami hal serupa memang lebih besar.

Menurut dokter spesialis anak, dr. Prita Anandika, kebiasaan langsung menambah vitamin C sering membuat penyebab yang sebenarnya terlewat.

"Yang saya tanyakan pertama biasanya bukan anaknya makan buah atau tidak, tapi bagaimana pola makannya secara keseluruhan, apakah anaknya pucat, dan apakah pertumbuhannya sesuai grafik. Sariawan yang datang terus itu petunjuk untuk melihat ke dalam, bukan untuk buru-buru dikasih suplemen," ujar dr. Prita Anandika.

Tiga Bentuk yang Perlu Dibedakan

Tidak semua sariawan berulang sama besarnya, dan ukurannya menentukan seberapa perlu dikhawatirkan.

Bentuk minor adalah yang paling umum, lebih dari 70 persen kasus. Ukurannya kecil, di bawah 5 milimeter, sembuh sekitar dua minggu, dan tidak meninggalkan bekas. Sariawan Arka termasuk tipe ini.

Bentuk mayor lebih jarang, sekitar 10 persen kasus. Lukanya lebih dari 10 milimeter, lebih dalam, butuh lima sampai sepuluh minggu untuk menutup, dan bisa meninggalkan jaringan parut. Anak dengan sariawan sebesar ini biasanya kesulitan makan cukup lama dan perlu diperiksa.

Bentuk herpetiform muncul sebagai banyak luka sangat kecil berukuran dua sampai tiga milimeter yang bergerombol. Namanya membingungkan karena terdengar seperti herpes, padahal penyebabnya bukan virus herpes sama sekali.

Sariawan Berulang Tidak Menular

Ini pembeda yang paling praktis di rumah, terutama untuk keluarga dengan lebih dari satu anak.

Stomatitis aftosa rekuren tidak menular. Anak lain yang minum dari gelas yang sama tidak akan tertular. Kalau luka di mulut anak menular ke saudaranya atau ke teman sekelasnya, penyebabnya kemungkinan besar bukan sariawan biasa melainkan infeksi.

Dua infeksi yang paling sering tertukar dengan sariawan adalah herpes gingivostomatitis, yang lukanya banyak sekaligus disertai demam tinggi dan gusi bengkak merah menyeluruh, serta flu Singapura atau HFMD, yang biasanya juga meninggalkan bintik di telapak tangan dan kaki. Lapisan putih yang bisa dikerok di lidah lebih mengarah ke kandidiasis oral, bukan luka terbuka.

Pemicu yang Bisa Dikurangi di Rumah

Pemicu paling sepele dan paling sering adalah trauma kecil. Bibir tergigit saat makan, tersenggol sikat gigi berbulu keras, atau tergesek makanan bertekstur tajam seperti kerupuk. Luka mikro itu jadi titik awal.

Pemicu kedua yang punya bukti lumayan menarik adalah kandungan sodium lauryl sulfate atau SLS di pasta gigi, deterjen yang membuat busa melimpah. Sebuah tinjauan sistematis atas empat uji acak terkontrol dengan total 124 peserta menemukan pasta gigi tanpa SLS berkaitan dengan jumlah sariawan yang lebih sedikit, durasi lebih pendek, dan nyeri yang lebih ringan dibanding pasta gigi ber-SLS.

Angkanya perlu dibaca dengan kepala dingin. Total pesertanya kecil, hanya sekitar 132 orang di seluruh penelitian, jadi ini belum setara bukti kuat. Tapi mengganti pasta gigi anak ke varian tanpa SLS termasuk langkah murah dan berisiko rendah untuk dicoba selama dua sampai tiga bulan sambil mengamati polanya. Logika yang sama berlaku untuk sabun mandi, seperti dibahas di artikel tentang SLS di sabun bayi.

Stres dan kurang tidur juga tercatat sebagai pemicu, termasuk pada anak. Periode menjelang masuk sekolah baru atau saat rutinitas tidur berantakan sering bertepatan dengan kambuhnya sariawan.

Pola Demam yang Datang Seperti Jadwal

Ada satu pola yang layak dikenali orang tua karena sering butuh waktu bertahun-tahun sampai dikenali dokter: sindrom PFAPA.

Singkatannya berasal dari demam periodik, sariawan, radang tenggorokan, dan pembesaran kelenjar getah bening di leher. Ciri khasnya adalah keteraturan. Demam tinggi di atas 39 derajat datang selama tiga sampai enam hari, lalu hilang, lalu datang lagi setiap tiga sampai delapan minggu, seolah ada jadwalnya. Gejalanya biasanya mulai sebelum anak berusia lima tahun.

Yang membedakan PFAPA dari infeksi berulang biasa: di antara episode, anak benar-benar sehat, aktif, dan pertumbuhannya normal. Anak dengan infeksi berulang yang sesungguhnya jarang sesehat itu di sela-sela sakitnya.

Kalau orang tua bisa menunjukkan catatan tanggal demam anak dan polanya terlihat teratur, informasi itu sangat membantu dokter. Mencatat tanggal setiap kali sariawan atau demam muncul jauh lebih berguna daripada mengingat-ingat "kayaknya sering".

Kapan Perlu Diperiksa Lebih Jauh

Sariawan sesekali pada anak yang tumbuh normal umumnya cukup diamati. Yang perlu dibawa periksa:

  • Luka tidak menutup setelah dua minggu, atau ukurannya lebih dari 10 milimeter
  • Sariawan datang sangat sering, misalnya lebih dari enam episode dalam setahun
  • Anak terlihat pucat, lemas, atau berat badannya tidak naik
  • Ada diare berkepanjangan, sakit perut berulang, atau tinja berdarah
  • Muncul luka serupa di area kelamin
  • Demam yang berulang dengan pola teratur

Dua keluhan terakhir penting. Luka mulut yang muncul bersama luka di area kelamin mengarahkan dokter ke penyakit Behçet. Sariawan berulang bersama gangguan pencernaan bisa jadi petunjuk penyakit celiac atau radang usus, dan pada penelitian anak tadi, 2,7 persen anak dengan sariawan berulang ternyata terdiagnosis celiac, jauh lebih tinggi dibanding angka pada anak sehat.

Pemeriksaan yang biasanya diminta dokter sederhana: cek darah untuk melihat hemoglobin, ferritin sebagai cadangan zat besi, B12, dan folat.

Meredakan Nyerinya Sambil Menunggu Sembuh

Sariawan minor akan menutup sendiri. Yang bisa dilakukan orang tua adalah membuat anak tetap mau makan dan minum selama prosesnya.

Makanan dingin dan bertekstur lembut paling membantu: bubur, puding, yogurt, buah dingin yang dihaluskan. Hindari yang asam dan pedas untuk sementara, termasuk jeruk yang sering justru diberi dengan niat menambah vitamin C. Sedotan membantu anak minum tanpa cairan menyentuh lukanya. Sikat gigi tetap dilanjutkan dengan bulu paling lembut, karena berhenti menyikat gigi malah menambah masalah.

Kalau anak menolak minum sama sekali dan mulai tampak dehidrasi, itu alasan untuk ke dokter, terlepas dari seberapa kecil sariawannya. Untuk luka yang besar dan sangat nyeri, dokter bisa meresepkan sediaan topikal yang sesuai usia anak.

Bagi Dinda, yang akhirnya berubah bukan jumlah jeruk yang dimakan Arka, tapi catatan kecil di ponselnya berisi tanggal setiap kali sariawan itu muncul. Dari catatan itulah dokter punya bahan untuk melihat apakah polanya mengarah ke sesuatu yang perlu ditelusuri, atau memang sekadar bawaan keluarga yang akan berkurang seiring anak besar.

Butuh Rekomendasi Produk?

Tim kami bisa bantu cari produk NeoCare yang paling cocok untuk kulit keluarga Anda.

Konsultasi via WhatsApp

Produk Terkait

Artikel Terkait