Skorbut pada Anak: Bintik Merah di Kaki dan Anak yang Berhenti Mau Berjalan
Skorbut biasanya dibayangkan sebagai penyakit pelaut abad ke-18. Dalam dua dekade terakhir, laporan kasusnya justru kembali muncul di rumah sakit anak di negara-negara maju, dan pasiennya punya profil yang mirip satu sama lain: anak yang selama berbulan-bulan hanya mau makan segelintir jenis makanan.
Sebuah ulasan naratif yang menyisir literatur skorbut anak selama dua puluh tahun terakhir, terbit di jurnal Nutrients pada 2022, mencatat bahwa kekurangan vitamin C pada anak di negara maju hampir selalu berjalan bersama kondisi lain, terutama gangguan spektrum autisme, hambatan perkembangan, dan pola makan yang sangat terbatas. Pemicunya penolakan anak terhadap makanan, bukan ketidakmampuan keluarga menyediakannya.
Urutan gejalanya yang membuat kondisi ini berguna dikenali orang tua. Tanda pertamanya sering muncul di kulit, berminggu-minggu sebelum keluhan yang akhirnya membawa anak ke dokter.
Bintik Merah yang Duduk Persis di Pangkal Bulu
Tanda kulit khas skorbut disebut perdarahan perifolikular. Bintik merah keunguan sebesar ujung jarum muncul mengelilingi pangkal setiap folikel rambut, paling padat di tungkai bawah, paha, dan bokong, karena di situlah tekanan pembuluh darah paling tinggi ketika anak berdiri.
Bedanya dengan bintik merah lain ada pada letaknya. Bintik ini tidak tersebar acak. Kalau kulit betis anak diamati dari dekat, terlihat polanya mengikuti barisan bulu halus, satu bintik satu folikel.
Di area yang sama, folikelnya juga menebal dan terasa kasar saat diraba, mirip keratosis pilaris atau phrynoderma yang menandai kekurangan vitamin A. Yang membedakan skorbut adalah warna merah keunguan yang menyertainya, dan bintik itu tidak memudar saat kulit ditekan. Metode pemeriksaannya sama dengan yang dipakai untuk petechiae secara umum.
Rambut di area tersebut ikut berubah bentuk. Batangnya melingkar dan menggulung seperti per, istilahnya corkscrew hair. Sebagian rambut patah dan tertanam kembali ke dalam folikelnya sendiri. Ini tanda yang jarang dicari orang tua, tetapi cukup khas untuk membuat dokter kulit langsung memikirkan vitamin C.
Anak juga jadi mudah lebam di tempat yang tidak sepadan dengan benturannya. Memar pada anak aktif itu wajar, dan batas kewajarannya dibahas terpisah di artikel kulit bayi mudah lebam.
Vitamin C dan Kolagen yang Tidak Jadi
Alasan semua tanda itu terkumpul di satu penyakit ada di kolagen.
Kolagen adalah protein struktural yang menjadi kerangka kulit, dinding pembuluh darah, gusi, dan tulang. Tubuh merakitnya dari rantai asam amino, lalu rantai itu harus dipilin menjadi tiga sebelum bisa dipakai. Proses pemilinan itu membutuhkan dua enzim, dan kedua enzim tersebut tidak bisa bekerja tanpa vitamin C sebagai pendamping.
Tanpa vitamin C, rantainya tetap terbentuk tetapi tidak pernah terpilin dengan benar. Hasilnya kolagen yang rapuh. Peran vitamin C sebagai pendamping enzim inilah yang membedakannya dari suplemen lain, dan hubungannya dengan kulit diulas lebih jauh di artikel kolagen dan kulit bayi.
Dinding kapiler yang kolagennya rapuh akan bocor pada tekanan biasa. Karena kapiler paling padat mengelilingi folikel rambut, bocornya terlihat di situ lebih dulu. Gusi berdarah, memar, luka yang lama menutup, dan bintik perifolikular semuanya adalah gejala yang sama, hanya muncul di jaringan yang berbeda.
Manusia tidak bisa memproduksi vitamin C sendiri dan hampir tidak menyimpannya. Cadangan tubuh habis dalam hitungan minggu. Ulasan di Nutrients menyebut gejala pertama, berupa mudah lelah, rewel, dan hilang nafsu makan, muncul setelah satu sampai tiga bulan asupan vitamin C nyaris nol.
Anak yang Tiba-tiba Menolak Berjalan
Keluhan yang paling sering akhirnya membawa keluarga ke dokter bukan soal kulit.
Ketika kolagen tulang ikut terganggu, perdarahan terjadi di bawah selaput pembungkus tulang, terutama di tulang paha dan tulang kering. Rasanya nyeri hebat saat kaki menanggung beban. Anak lalu pincang, menolak berdiri, minta digendong terus, atau berbaring dengan kedua tungkai sedikit menekuk dan tidak mau digerakkan.
Gambaran terakhir itu kadang disalahartikan sebagai kelumpuhan, padahal kekuatan ototnya utuh. Anaknya bisa bergerak, hanya tidak mau karena sakit.
Anak yang berhenti berjalan disertai bintik merah di tungkai adalah pasangan gejala yang paling layak diingat.
Gusi, dan Kenapa Bayi Kecil Jarang Menunjukkannya
Gusi bengkak, keunguan, dan mudah berdarah saat disikat adalah gambaran klasik skorbut. Ada satu syaratnya yang sering terlewat: tanda ini umumnya baru muncul pada anak yang giginya sudah tumbuh.
Peradangan itu terjadi di jaringan sekitar gigi. Pada bayi yang belum bergigi, gusinya bisa terlihat normal meski kadar vitamin C-nya sudah sangat rendah, sehingga penilaiannya harus bertumpu pada kulit dan tungkai.
Gusi berdarah pada anak juga jauh lebih sering disebabkan hal lain, mulai dari radang gusi karena kebersihan mulut yang kurang sampai gesekan sikat yang terlalu keras. Sariawan berulang pun bukan pertanda kekurangan vitamin C, seperti dibahas di artikel stomatitis aftosa rekuren. Yang mengarah ke skorbut adalah gusi berdarah yang datang bersama bintik perifolikular dan keluhan nyeri kaki.
Siapa Anak yang Berisiko
Gambaran risikonya cukup spesifik, dan sebagian besar tidak berkaitan dengan kemampuan ekonomi keluarga.
Kelompok terbesar adalah anak dengan pola makan yang sangat terbatas dalam waktu lama. Bukan pilih-pilih makanan yang biasa, melainkan anak yang menu hariannya menyusut ke tiga atau empat jenis makanan saja selama berbulan-bulan, dan buah maupun sayur sama sekali tidak masuk. Pada anak dengan autisme atau hambatan sensorik, pola ini sering bertahan bertahun-tahun karena penolakannya berkaitan dengan tekstur dan bau, bukan selera.
Kelompok berikutnya adalah anak yang sebagian besar asupannya berupa susu. Vitamin C rusak oleh panas, sehingga susu yang melewati pemanasan tinggi mengandung sangat sedikit vitamin C. Anak batita yang minum susu dalam jumlah besar sepanjang hari lalu makan sangat sedikit selain itu berada dalam risiko yang nyata. Susu formula bayi diperkaya vitamin C dan ASI mengandung cukup selama ibunya makan cukup, jadi masalahnya biasanya muncul setelah masa MPASI berjalan dan menunya tidak berkembang.
Sisanya adalah anak dengan penyakit menahun yang mengurangi asupan atau menambah kebutuhan, dan anak yang menjalani diet eliminasi ketat tanpa pendampingan tenaga gizi.
Angkanya Kecil, dan Itu yang Membuatnya Sering Terlewat
Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 28 Tahun 2019 tentang Angka Kecukupan Gizi menetapkan kebutuhan vitamin C harian sebesar 40 mg untuk bayi 0 sampai 5 bulan, 40 mg untuk anak 1 sampai 3 tahun, dan 45 mg untuk anak 4 sampai 6 tahun.
Empat puluh miligram adalah jumlah yang sangat mudah dipenuhi. Seiris jambu biji atau beberapa sendok pepaya sudah melampauinya, sering berkali-kali lipat. Bahkan literatur klinis menyebut asupan sekitar 10 mg per hari saja sudah cukup untuk mencegah skorbut, meski belum cukup untuk kesehatan optimal.
Karena ambangnya serendah itu, skorbut butuh kekosongan yang hampir total. Anak yang selama berbulan-bulan tidak menyentuh buah maupun sayur sama sekali berada di wilayah itu, sementara anak yang porsi buahnya sekadar kurang tidak.
Daftar Diagnosis yang Sering Dituju Lebih Dulu
Ulasan Nutrients 2022 mencatat bahwa pasien anak dengan skorbut umumnya menjalani pemeriksaan laboratorium dan pencitraan yang panjang lebih dulu, dan dugaan yang muncul sebelum diagnosis tegak meliputi infeksi tulang, radang sendi karena bakteri, keganasan darah, penyakit autoimun, gangguan pembekuan darah, sampai kecurigaan kekerasan pada anak.
Kemiripan yang paling menjebak adalah dengan Henoch-Schonlein purpura. Keduanya menampilkan bintik ungu di tungkai bawah disertai nyeri sendi pada anak, dan sudah ada laporan kasus skorbut yang awalnya ditangani sebagai HSP.
Pemeriksaannya sendiri sederhana. Kadar vitamin C dalam darah bisa diperiksa, dan riwayat makan yang digali dengan teliti sering sudah sangat mengarahkan. Yang menjadi kendala biasanya bukan alat, melainkan apakah kemungkinan ini terpikir sejak awal.
Pengobatannya Cepat, dan Bukan dari Skincare
Respons terhadap pengganti vitamin C tergolong dramatis. Nyeri dan rewelnya mereda dalam hitungan hari. Laporan kasus pada 2025 di jurnal Frontiers in Child and Adolescent Psychiatry, tentang seorang anak dengan autisme dan pola makan yang sangat terbatas, mencatat gusinya pulih sepenuhnya dan berat badannya naik dalam tiga minggu.
Dosis dan lamanya ditentukan dokter, dan untuk anak berada pada kisaran ratusan miligram per hari selama beberapa minggu, jauh di atas kebutuhan harian biasa. Karena itu pengobatannya tidak untuk diracik sendiri di rumah.
Vitamin C yang dioleskan ke kulit tidak menyelesaikan skorbut. Serum vitamin C bekerja pada lapisan kulit di tempat ia dioleskan dan tidak mengisi kadar vitamin C tubuh secara berarti. Pertimbangan pemakaiannya pada anak dibahas terpisah di artikel vitamin C untuk kulit anak.
Bagian yang justru paling menentukan hasil jangka panjang adalah memperbaiki pola makannya. Pada anak dengan penolakan makan yang berat, ini pekerjaan berbulan-bulan bersama dokter anak dan ahli gizi, kadang dengan terapi okupasi untuk masalah sensoriknya. Memberi suplemen tanpa menyentuh akar penolakannya hanya menunda kekambuhan.
Skorbut dalam Kelompok Kekurangan Gizi Mikro Lain
Kulit adalah tempat kekurangan zat gizi paling cepat terbaca, dan pola bintiknya berbeda-beda menurut zat yang kurang. Kulit kasar berbintik di lengan dan paha mengarah ke vitamin A. Ruam merah bersisik di sekitar mulut, popok, dan ujung jari yang tidak membaik dengan krim eksim mengarah ke kekurangan zinc. Kuku yang mencekung seperti sendok mengarah ke kekurangan zat besi. Kulit yang mengelupas berlembar disertai kaki bengkak dan rambut memerah mengarah ke kekurangan protein berat.
Pada semuanya berlaku prinsip yang sama. Pelembap dan krim merawat lapisan pelindung kulit dari luar, dan itu tetap berguna, tetapi tidak mengganti zat gizi yang tidak masuk lewat piring.
Pertanyaan yang Sering Diajukan
Anak saya susah makan sayur, apakah dia berisiko skorbut?
Sangat kecil selama masih ada buah, jus buah asli, atau sayur yang masuk sesekali dalam seminggu. Kebutuhan hariannya hanya sekitar 40 mg dan mudah terlampaui. Yang perlu diwaspadai adalah anak yang menunya benar-benar menyusut ke beberapa jenis makanan kering saja tanpa buah maupun sayur selama berbulan-bulan.
Apakah memasak menghilangkan vitamin C pada makanan anak?
Sebagian, karena vitamin C rusak oleh panas dan larut ke air rebusan. Merebus sayur terlalu lama memangkas kandungannya cukup banyak. Mengukus sebentar, menumis singkat, atau memberikan buah dalam keadaan segar mempertahankan lebih banyak.
Bintik merah di kaki anak saya hilang saat ditekan, apakah itu skorbut?
Kemungkinan besar bukan. Bintik perdarahan pada skorbut tidak memudar saat kulit ditekan dengan gelas bening. Bintik yang memudar lalu kembali biasanya berasal dari pelebaran pembuluh darah, dan penyebabnya jauh lebih sering ruam virus atau gigitan serangga.
Perlukah anak diberi suplemen vitamin C rutin untuk berjaga-jaga?
Untuk anak yang makannya bervariasi, tidak perlu, karena kelebihannya dibuang lewat urine dan dosis besar yang berkepanjangan punya risikonya sendiri. Suplemen tepat diberikan pada anak dengan pola makan sangat terbatas atau penyakit menahun, dan sebaiknya atas penilaian dokter anak.
Skorbut pada anak jarang, dan sebagian besar anak yang pilih-pilih makanan tidak akan mengalaminya. Nilainya ada pada jarak antara dua hal: pemulihannya butuh beberapa minggu vitamin C, sementara perjalanan menuju diagnosisnya bisa memakan berbulan-bulan pemeriksaan sebelum ada yang menanyakan apa saja yang masuk ke piring anak itu selama setengah tahun terakhir.
Referensi:
- Trapani S, Rubino C, Indolfi G, Lionetti P. A Narrative Review on Pediatric Scurvy: The Last Twenty Years. Nutrients, 2022;14(3):684.
- Agostoni C, dkk. Pediatric Scurvy: When Contemporary Eating Habits Bring Back the Past. Frontiers in Pediatrics / PMC5946015, 2018.
- Case Report: Autistic child with restrictive eating behaviour, limping gait and erythematous gingival mass, scurvy? Frontiers in Child and Adolescent Psychiatry, 2025.
- Scurvy masquerading as IgA vasculitis. Laporan kasus, PMC11102241, 2024.
- Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 28 Tahun 2019 tentang Angka Kecukupan Gizi yang Dianjurkan untuk Masyarakat Indonesia.
- Scurvy. Study Guide, Pediatric Orthopaedic Society of North America (POSNA).



