7x Ceramide Formulated in Germany • Gentle care for sensitive skin, all ages

Baby Care8 menit2026-08-11

Skrofuloderma pada Anak: Benjolan Leher Tidak Nyeri yang Pecah Bernanah

Benjolan di leher anak yang tidak nyeri lalu pecah dan sulit menutup bisa jadi skrofuloderma, TBC di kulit. Kenali 5 bedanya dengan bisul biasa.

Skrofuloderma pada Anak: Benjolan Leher Tidak Nyeri yang Pecah Bernanah

Benjolan kecil di leher anak jarang membuat orang tua langsung ke dokter, apalagi kalau anaknya tetap main seperti biasa dan benjolan itu tidak terasa sakit saat dipegang. Di banyak rumah, benjolan seperti ini diperlakukan sebagai bisul: dikompres air hangat, diolesi salep, ditunggu sampai matang. Bedanya, benjolan yang satu ini tidak matang-matang. Ia membesar pelan selama berminggu-minggu, akhirnya pecah, lalu lukanya tidak mau menutup.

Pola itu punya nama: skrofuloderma, bentuk tuberkulosis yang muncul di kulit.

Konteksnya penting untuk keluarga Indonesia. Kementerian Kesehatan mencatat Indonesia berada di peringkat kedua kasus tuberkulosis terbanyak di dunia, dengan 889 ribu notifikasi kasus sepanjang 2024 dari estimasi 1.092.000 kasus. Dengan jumlah sebesar itu, TBC bukan penyakit yang hanya ada di buku pelajaran, dan salah satu pintu masuknya ke perhatian orang tua justru lewat kulit.

Skrofuloderma Bukan Infeksi Kulit dari Luar

Kebanyakan infeksi kulit pada anak datang dari luar ke dalam: bakteri masuk lewat lecet, folikel rambut, atau garukan. Skrofuloderma bergerak ke arah sebaliknya.

Bakteri penyebab tuberkulosis lebih dulu bersarang di jaringan di bawah kulit, paling sering di kelenjar getah bening leher, kadang di tulang atau sendi. Dari sana infeksinya menembus ke atas sampai merusak kulit di permukaannya. Referensi dermatologi klinis menggambarkannya sebagai invasi langsung ke kulit dari tuberkulosis di kelenjar getah bening atau tulang di bawahnya, dan sering menyertai TBC di paru.

Artinya, yang terlihat di kulit hanyalah ujung dari sesuatu yang sudah berjalan lebih dulu di dalam. Mengobati permukaannya saja tidak menyentuh sumbernya.

Perjalanan Lesinya, Tahap demi Tahap

Yang membuat skrofuloderma sering terlewat adalah kecepatannya. Semua terjadi terlalu lambat untuk terasa gawat.

Tahap pertama, muncul benjolan keras di bawah kulit yang tidak nyeri dan tidak berwarna merah. Anak biasanya tidak mengeluh apa pun. Pada satu laporan kasus anak di jurnal kedokteran Indonesia, benjolannya digambarkan sebesar telur puyuh, padat, tidak nyeri, dan menempel pada jaringan di bawahnya.

Tahap kedua, benjolan melunak di tengah. Kulit di atasnya berubah warna menjadi kemerahan sampai keunguan atau kebiruan.

Tahap ketiga, benjolan pecah dan meninggalkan luka terbuka yang mengeluarkan nanah. Tepi lukanya khas: menggaung, seolah kulit di pinggirnya menggantung dan terlepas dari dasar luka.

Tahap keempat, terbentuk saluran di bawah kulit yang menghubungkan luka dengan sumber infeksi di dalam. Saluran inilah yang membuat cairan terus keluar meski luka permukaannya sempat mengering. Beberapa lubang bisa muncul berdekatan dan tampak seperti bekas luka yang saling terhubung.

Satu hal yang perlu diketahui orang tua: luka ini bisa menutup sendiri tanpa pengobatan. Prosesnya memakan waktu bertahun-tahun dan meninggalkan bekas luka yang menarik kulit di sekitarnya. Luka yang mengering bukan tanda infeksinya selesai.

Lima Perbedaan dengan Bisul Biasa

1. Nyerinya

Bisul terasa nyeri, berdenyut, dan panas saat disentuh. Skrofuloderma umumnya tidak nyeri sejak tahap awal, dan itulah alasan utama kenapa ia dibiarkan lama.

2. Kecepatan tumbuhnya

Bisul matang dalam hitungan hari, biasanya kurang dari seminggu. Skrofuloderma membesar dalam hitungan minggu sampai bulan.

3. Lokasinya

Bisul bisa muncul di mana saja ada folikel rambut, sering di paha, bokong, atau ketiak. Skrofuloderma punya lokasi favorit: leher bagian samping dan bawah rahang, menyusul ketiak dan lipat paha, mengikuti letak kelenjar getah bening.

4. Apa yang terjadi setelah pecah

Bisul yang sudah pecah dan keluar nanahnya biasanya mengempis dan sembuh. Luka skrofuloderma menetap, terus mengeluarkan cairan, dan tepinya menggaung.

5. Ada tidaknya gejala di luar kulit

Bisul tidak membuat anak demam berminggu-minggu. Pada skrofuloderma, sering ada demam ringan yang hilang timbul, keringat malam tanpa sebab, berat badan yang tidak naik atau malah turun, dan batuk yang tidak sembuh-sembuh. Gejala yang terakhir ini kadang ada pada orang dewasa di rumah, bukan pada anaknya.

Perbedaan bisul dengan kondisi kulit lain pada bayi dibahas terpisah di artikel bisul (furunkel) pada bayi.

Siapa yang Lebih Berisiko

Kemenkes menyebut empat kelompok anak yang lebih rentan tertular tuberkulosis: anak di bawah lima tahun karena sistem kekebalannya belum matang, anak dengan HIV, anak dengan gizi kurang, dan anak yang tinggal serumah dengan penderita TBC, terutama pengasuhnya.

Poin terakhir yang paling bisa ditindaklanjuti hari ini. Kalau ada benjolan mencurigakan di leher anak, pertanyaan berikutnya bukan hanya soal benjolannya, melainkan soal siapa di rumah yang batuk lebih dari dua minggu, sedang menurun berat badannya, atau berkeringat banyak di malam hari. Skrining orang dewasa di rumah sering menjelaskan asal-usulnya.

Perlu dicatat juga bahwa anak yang sudah mendapat imunisasi BCG tetap bisa terkena. BCG melindungi bayi dari bentuk TBC yang berat seperti TBC otak dan TBC yang menyebar, bukan menutup semua kemungkinan infeksi. Reaksi kulit di lokasi suntikan BCG sendiri punya pola tersendiri yang normal, dan itu dibahas di artikel kulit bayi setelah vaksin BCG.

Yang Sering Membuat Diagnosis Tertunda

Laporan kasus anak yang dimuat jurnal pediatri Indonesia menggambarkan situasi yang mungkin terdengar familier: seorang anak perempuan datang dengan benjolan di leher dan ketiak yang sudah berlangsung sekitar empat tahun, setelah berkali-kali berobat tanpa kejelasan diagnosis dan tanpa penjelasan yang cukup kepada orang tuanya.

Empat tahun bukan kelalaian satu pihak. Benjolan yang tidak nyeri jarang dianggap mendesak, dan tampilannya di awal memang mirip banyak hal lain.

Beberapa kebiasaan penanganan di rumah membuat keadaan lebih rumit:

Memencet atau menusuk benjolan supaya nanahnya keluar. Tindakan ini menambah kerusakan jaringan, membuka jalan infeksi bakteri lain, dan memperbesar bekas luka yang akan tertinggal.

Mengoleskan ramuan tradisional ke luka terbuka. Bahan seperti param, kapur sirih, atau tumbukan daun tidak menjangkau sumber infeksi di bawah kulit dan berisiko memicu iritasi. Ulasan tentang praktik ini ada di artikel pilis, param, dan bobok pada kulit bayi.

Memakai salep antibiotik berulang kali selama berbulan-bulan. Salep bisa mengurangi infeksi bakteri di permukaan, sehingga lukanya tampak membaik sebentar, tapi bakteri tuberkulosis di dalamnya tidak terpengaruh.

Pemeriksaan yang Biasanya Dilakukan Dokter

Diagnosis skrofuloderma tidak ditegakkan dari tampilan luka saja. Rangkaian pemeriksaan yang umum dilakukan meliputi uji tuberkulin atau tes Mantoux, rontgen dada untuk mencari TBC di paru, pengambilan sampel jaringan lewat biopsi atau jarum halus, serta pemeriksaan laboratorium terhadap cairan dan jaringannya, termasuk tes cepat molekuler.

Gambaran khas yang dicari pada pemeriksaan jaringan adalah granuloma dengan perkijuan, yaitu pola peradangan tertentu yang menjadi penanda infeksi tuberkulosis.

Pengobatannya memakai kombinasi obat antituberkulosis, umumnya isoniazid, rifampisin, pirazinamid, dan etambutol, dengan lama pengobatan standar enam bulan dan bisa lebih panjang tergantung penilaian dokter. Yang paling menentukan hasilnya adalah pengobatan dijalankan sampai tuntas. Berhenti di tengah jalan karena lukanya sudah terlihat menutup adalah penyebab kekambuhan dan resistensi obat yang paling sering.

Merawat Kulit Selama Masa Pengobatan

Perawatan kulit tidak menggantikan pengobatan, tapi ada peran yang jelas untuknya selama enam bulan atau lebih anak menjalani terapi.

Rawat luka mengikuti instruksi dokter. Frekuensi ganti perban, cairan pembersih yang dipakai, dan penutup lukanya ditentukan oleh kondisi luka, bukan oleh produk yang kebetulan ada di rumah.

Jaga kulit sehat di sekeliling luka. Area yang berulang kali kena plester dan cairan luka mudah menjadi lecet dan meradang. Kulit utuh di sekitarnya, bukan lukanya, yang dilembapkan supaya tidak pecah-pecah. Prinsip menjaga lapisan pelindung kulit dibahas di artikel skin barrier bayi.

Hindari antiseptik keras untuk pemakaian harian jangka panjang di kulit sekitar luka. Pemakaian berulang bisa membuat kulit kering dan iritasi, yang justru memperlambat penutupan tepi luka.

Lindungi bekas lukanya dari matahari. Bekas luka yang baru terbentuk gampang menjadi lebih gelap kalau sering terpapar sinar matahari langsung. Menutup area itu dengan pakaian adalah cara paling sederhana untuk anak kecil.

Skrofuloderma memang cenderung meninggalkan bekas yang menarik kulit di sekitarnya, dan pada sebagian anak bekasnya menebal. Apa yang terjadi pada bekas luka anak dan pilihan penanganannya dibahas di artikel keloid dan bekas luka pada anak.

Kapan Harus ke Dokter

Bawa anak diperiksa bila ada benjolan di leher, ketiak, atau lipat paha yang bertahan lebih dari dua minggu, apalagi bila tidak nyeri dan makin membesar pelan-pelan. Alasan yang sama berlaku bila benjolan sudah pecah dan lukanya tidak menutup dalam dua minggu, bila cairan atau nanah terus keluar dari lubang kecil di kulit, atau bila luka lama muncul lagi di tempat yang sama.

Periksakan lebih cepat bila benjolan disertai demam yang hilang timbul, keringat malam, berat badan yang tidak naik, atau batuk lebih dari dua minggu pada anak maupun pada orang dewasa serumah.

Ceritakan riwayat kontaknya saat konsultasi. Informasi bahwa ada anggota keluarga atau pengasuh yang sedang batuk lama sangat membantu dokter mengarahkan pemeriksaan sejak awal.

Pertanyaan yang Sering Muncul

Apakah skrofuloderma menular lewat sentuhan kulit? Penularan tuberkulosis terjadi lewat percikan dahak di udara dari penderita TBC paru, bukan dari menyentuh kulit anak. Yang perlu ditelusuri adalah sumber penularannya di rumah, biasanya orang dewasa dengan TBC paru.

Anak saya sudah imunisasi BCG, apakah masih mungkin kena? Masih mungkin. BCG menurunkan risiko bentuk TBC berat pada bayi dan anak kecil, bukan menghapus semua kemungkinan infeksi.

Bisakah dibedakan dari bisul hanya dengan melihat? Tidak selalu, terutama di tahap awal. Yang membedakan lebih jelas adalah perjalanannya: tidak nyeri, tumbuh lambat, dan lukanya tidak menutup setelah pecah.

Berapa lama lukanya menutup setelah pengobatan dimulai? Bervariasi, tergantung ukuran luka dan lamanya berlangsung sebelum diobati. Yang perlu dipegang orang tua adalah pengobatan tetap dijalankan sampai jadwalnya selesai walaupun kulitnya sudah terlihat baik.

Apakah benjolan di leher anak selalu berarti TBC? Tidak. Pembesaran kelenjar getah bening leher pada anak paling sering disebabkan infeksi biasa seperti radang tenggorokan, dan mengecil sendiri dalam beberapa minggu. Benjolan yang menetap lebih dari dua minggu dan tidak nyeri adalah yang perlu diperiksa.

Posisi NeoCare dalam Kondisi Ini

Skrofuloderma adalah penyakit infeksi yang penanganannya ada di tangan dokter, dengan obat antituberkulosis dan pemantauan berkala. Tidak ada produk perawatan kulit yang bisa mengatasinya, termasuk produk NeoCare.

Perannya ada di sekitar luka, bukan di lukanya. Selama berbulan-bulan pengobatan, kulit anak berhadapan dengan plester, cairan luka, dan pembersihan berulang. Menjaga kulit di sekelilingnya tetap lembap dan utuh membantu anak lebih nyaman menjalani terapi yang panjang, dan itu bisa dikerjakan dengan pelembap lembut yang minim bahan iritan.

Kalau ada benjolan yang mengganjal di leher anak dan sudah lebih dari dua minggu belum juga hilang, langkah paling berguna hari ini adalah memeriksakannya, sekaligus mengecek kesehatan orang dewasa di rumah.

Butuh Rekomendasi Produk?

Tim kami bisa bantu cari produk NeoCare yang paling cocok untuk kulit keluarga Anda.

Konsultasi via WhatsApp

Produk Terkait

Artikel Terkait