writer: kiki
Trichotillomania pada Anak: Kebiasaan Menarik Rambut, Bukan Sekadar Iseng
Seorang ibu di Jakarta sempat bingung melihat bagian samping kepala anaknya yang berusia 7 tahun mulai menipis. Bukan botak rapi seperti koin, tapi bercak tidak beraturan dengan rambut yang panjangnya beda-beda. Sebagian sangat pendek, sebagian masih utuh. Ternyata sang anak punya kebiasaan menarik-narik rambutnya sendiri saat menonton TV atau saat dimarahi, tanpa ia sadari benar.
Kondisi ini punya nama: trichotillomania. Sederhananya, ini adalah dorongan berulang untuk mencabut rambut sendiri, entah dari kulit kepala, alis, atau bulu mata. Yang sering bikin orang tua salah paham, kebiasaan ini kerap dianggap kenakalan atau iseng belaka. Padahal mekanismenya jauh lebih dalam dari itu.
Seperti Apa Bentuknya di Kulit Kepala
Tanda khas trichotillomania ada pada pola kebotakannya. Bukan halus dan bersih, melainkan acak. Di area yang sama bisa ada rambut yang baru tumbuh pendek, rambut patah di tengah, dan rambut yang lolos sama sekali. Bentuknya kadang aneh, mengikuti area yang paling gampang dijangkau tangan anak. Anak yang kidal misalnya cenderung menarik dari sisi kiri kepala.
Membedakannya dari kondisi lain penting supaya penanganannya tidak salah arah:
- Alopecia areata memberi bercak botak yang halus, bulat, dan bersih. Tidak ada rambut patah-patah dengan panjang bervariasi di dalamnya.
- Tinea capitis (infeksi jamur kulit kepala) biasanya disertai sisik, kemerahan, kadang gatal, dan rambut yang rapuh karena jamurnya. Trichotillomania tidak menimbulkan sisik atau peradangan kulit.
- Traction alopecia muncul akibat tarikan dari luar, seperti kuncir atau jepit yang terlalu kencang, dan polanya mengikuti garis tarikan rambut. Sementara pada trichotillomania, tarikan datang dari anak itu sendiri.
Kadang trichotillomania tidak cuma di kepala. Alis yang menipis sebelah atau bulu mata yang hilang sebagian juga termasuk tanda yang sering luput diperhatikan. Orang tua biasanya baru ngeh setelah area itu jadi cukup mencolok, padahal kebiasaannya mungkin sudah berjalan berminggu-minggu.
Satu petunjuk lain yang membantu: pada trichotillomania, kulit di area botak biasanya terlihat normal dan sehat. Tidak ada peradangan, tidak ada sisik, tidak ada perubahan warna. Yang berubah hanya rambutnya. Ini berbeda jelas dengan kondisi botak yang berasal dari masalah kulit, di mana kulitnya sendiri ikut bermasalah.
Kenapa Anak Melakukannya
Trichotillomania masuk dalam kelompok perilaku berulang yang berpusat pada tubuh, atau dalam literatur disebut body-focused repetitive behavior. Bagi sebagian anak, mencabut rambut menjadi cara meredakan ketegangan. Mirip seperti orang lain yang menggigit kuku atau memilin ujung baju saat cemas.
Beberapa pemicu yang sering muncul:
- Stres atau kecemasan. Ujian, pindah sekolah, masalah di rumah, atau perubahan rutinitas bisa jadi pemantik.
- Bosan atau melamun. Banyak anak menarik rambut tanpa sadar saat menonton, membaca, atau menjelang tidur.
- Mencari rasa nyaman. Sensasi menarik rambut bisa terasa menenangkan untuk sebagian anak, dan itu yang membuatnya berulang.
Pada anak yang sangat kecil, sekitar usia balita, kebiasaan ini kadang muncul mirip kebiasaan mengisap jempol dan sering hilang sendiri. Tapi ketika kebiasaan menetap di usia sekolah atau makin sering, di situ biasanya orang tua mulai perlu lebih waspada.
Ini Bukan Soal Anak Nakal
Bagian yang paling perlu diluruskan: trichotillomania bukan kenakalan, bukan cari perhatian, dan bukan masalah kedisiplinan. Anak tidak melakukannya untuk menjengkelkan siapa pun. Banyak dari mereka bahkan tidak sadar sedang melakukannya, atau merasa malu setelah sadar.
Menghukum, memarahi, atau mempermalukan anak justru sering memperburuk keadaan. Kenapa? Karena akar perilakunya berkaitan dengan ketegangan emosi. Saat anak makin tertekan, dorongan untuk mencabut rambut bisa makin kuat. Reaksi yang membantu adalah ketenangan dan rasa aman, bukan ancaman.
Coba bayangkan dari sisi anak. Ia punya kebiasaan yang sulit ia kendalikan, lalu setiap kali ketahuan ia dimarahi. Yang tertanam bukan motivasi berhenti, melainkan rasa bersalah. Pendekatan yang penuh pengertian jauh lebih efektif untuk jangka panjang.
Merawat Kulit Kepala Tanpa Menambah Masalah
Karena trichotillomania bukan penyakit kulit, perawatan kulit kepalanya cukup sederhana: jaga tetap lembut dan jangan diperlakukan kasar. Beberapa hal yang bisa diperhatikan orang tua:
- Pakai sampo yang ringan dan lembut untuk anak, hindari produk yang membuat kulit kepala kering atau perih.
- Jangan menggosok kulit kepala terlalu keras saat keramas atau mengeringkan rambut.
- Hindari menutup area botak dengan plester, topi ketat, atau apa pun yang justru menarik perhatian anak ke area itu.
- Kalau ada lecet ringan akibat tarikan, jaga area tetap bersih dan kering. Bila muncul kemerahan, bengkak, atau cairan, itu tanda perlu diperiksa dokter.
Yang sama pentingnya: jangan menjadikan rambut sebagai bahan komentar terus-menerus. Sorotan berlebihan ke area botak bisa menambah beban anak.
Penanganan Sebenarnya Bersifat Perilaku
Karena akarnya emosi dan kebiasaan, penanganan utama trichotillomania bukan dari salep atau obat oles. Pendekatan yang paling sering dibahas dalam literatur adalah terapi perilaku, khususnya yang dikenal sebagai habit reversal training.
Inti idenya: membantu anak mengenali kapan dorongan itu datang, lalu menggantinya dengan gerakan lain yang lebih aman. Misalnya meremas bola kecil, memegang mainan tekstur, atau mengepalkan tangan saat dorongan muncul. Mengelola stres dan kebosanan juga menjadi bagian penting, karena dua hal itu sering jadi pemicunya.
Peran orang tua di rumah cukup besar. Mengamati kapan dan di situasi apa anak biasa menarik rambut bisa membantu mengenali polanya. Catatan kecil soal waktu dan situasi sering berguna saat berkonsultasi dengan tenaga profesional. Misalnya, kalau ternyata anak paling sering menarik rambut menjelang tidur, rutinitas malam yang lebih menenangkan bisa jadi salah satu solusi yang diarahkan terapis.
Yang juga sering ditekankan adalah kesabaran. Perubahan perilaku jarang terjadi dalam semalam, dan ada kalanya kebiasaan sempat kembali saat anak menghadapi tekanan baru. Itu hal yang wajar dalam proses, bukan tanda kegagalan. Dukungan yang konsisten dari orang tua justru menjadi salah satu faktor yang paling menentukan.
Kapan Perlu ke Dokter
Tidak semua kebiasaan menarik rambut langsung butuh penanganan khusus, tapi ada beberapa kondisi yang sebaiknya membawa anak ke dokter anak atau psikolog anak:
- Kebotakan makin luas atau makin sering terjadi.
- Anak terlihat cemas, sedih, atau menarik diri dari pergaulan.
- Kebiasaan menetap melewati usia balita dan tidak berkurang.
- Ada tanda anak menelan rambut yang dicabut, karena dalam kasus tertentu ini bisa menimbulkan masalah pencernaan dan perlu perhatian medis.
- Muncul tanda infeksi pada kulit kepala seperti kemerahan, bengkak, nyeri, atau cairan.
Dokter anak bisa memastikan dulu bahwa kebotakan memang akibat tarikan, bukan kondisi kulit lain. Bila perlu, mereka dapat merujuk ke psikolog anak atau psikiater anak yang berpengalaman menangani perilaku berulang seperti ini. Organisasi seperti IDAI maupun rujukan dari American Academy of Dermatology juga menekankan bahwa pendekatan yang menggabungkan perawatan kulit lembut dan dukungan psikologis memberi hasil lebih baik daripada sekadar fokus pada rambutnya.
Yang Perlu Diingat
Trichotillomania pada anak adalah kebiasaan menarik rambut yang berakar pada ketegangan emosi, bukan kenakalan dan bukan masalah disiplin. Ciri khasnya di kulit kepala berupa bercak tidak beraturan dengan rambut yang panjangnya bervariasi, berbeda dari alopecia areata yang halus atau tinea capitis yang bersisik.
Reaksi paling membantu adalah menjaga ketenangan, merawat kulit kepala dengan lembut, dan menghindari hukuman atau rasa malu. Penanganan utamanya bersifat perilaku dan psikologis, dengan peran penting dari dokter anak serta psikolog anak. Yang anak butuhkan bukan teguran, melainkan rasa aman dan bantuan yang tepat untuk mengenali serta mengelola dorongannya.




