7x Ceramide Formulated in Germany • Gentle care for sensitive skin, all ages

Baby Care13 menit2026-05-25

Wabah Skabies di Daycare Bayi Jakarta dan Tangerang 2026: Cara Mengenali Tanda dan Pencegahan

31 bayi terkena skabies di 4 daycare Tangsel dan Jaksel Februari-April 2026. Pola klinis bayi, investigasi sumber, dan pengobatan permethrin yang aman.

Wabah Skabies di Daycare Bayi Jakarta dan Tangerang 2026: Cara Mengenali Tanda dan Mencegah Penularan

Sebanyak 31 bayi dari empat fasilitas daycare di Tangerang Selatan dan Jakarta Selatan dilaporkan terkena skabies dalam wabah yang terdeteksi sepanjang Februari sampai April 2026. Dinas Kesehatan Provinsi Banten mencatat 19 kasus terkonfirmasi di Tangerang Selatan, sementara Dinas Kesehatan DKI Jakarta melaporkan 12 kasus dari dua daycare di kawasan Cilandak dan Cipete Selatan. Semua kasus muncul pada anak usia 6 sampai 24 bulan yang menghadiri daycare lima hari per minggu.

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan Provinsi Banten dr. Ati Pramudji Hastuti, MKM, menyampaikan keterangan resmi pada Rabu (15/4/2026):

"Wabah skabies di daycare kami identifikasi pertama kali pada akhir Februari 2026 setelah dua orangtua melaporkan anak mereka gatal-gatal hebat di malam hari. Setelah investigasi lapangan, kami temukan tungau Sarcoptes scabiei var. hominis di kulit dan mainan plastik yang dipakai bersama. Sumber penularan adalah seorang pengasuh dengan skabies tidak terdiagnosis selama tiga bulan sebelumnya. Tindakan kami meliputi pengobatan massal anak dan staf, dekontaminasi fasilitas, dan koordinasi dengan IDAI Jakarta untuk panduan klinis," ujar dr. Ati.

Apa Sebenarnya Skabies dan Kenapa Bayi Rentan?

Spesialis kulit dan kelamin Dr. Sandra Widaty, SpKK(K), dari Departemen Dermatovenereologi FKUI-RSCM Jakarta yang menjadi konsultan investigasi wabah ini menjelaskan dasar klinisnya:

"Skabies disebabkan oleh tungau mikroskopis Sarcoptes scabiei yang membuat terowongan di lapisan tanduk epidermis untuk bertelur. Bayi di bawah 2 tahun punya pola klinis yang berbeda dari anak besar atau dewasa, sering kali tungau menempati telapak tangan, telapak kaki, kulit kepala, dan wajah, area yang pada dewasa biasanya bebas dari skabies. Gatal hebat malam hari adalah keluhan klasik karena tungau aktif bergerak di hangatnya kulit tertutup selimut," ujar dr. Sandra.

Penularan terjadi melalui kontak kulit langsung berdurasi minimal 15 sampai 20 menit atau melalui benda yang baru saja dipakai penderita seperti selimut, handuk, atau mainan empuk. Tungau bertahan hidup di luar tubuh manusia selama 24 sampai 36 jam pada suhu ruangan, sehingga benda yang dipakai bersama di daycare menjadi vektor signifikan.

Pola Klinis pada Bayi yang Membedakan dari Eksim atau Biang Keringat

Beberapa karakteristik klinis yang dilaporkan tim investigasi pada 31 kasus wabah ini:

Distribusi Tidak Khas Dewasa

23 dari 31 bayi punya lesi di telapak tangan dan telapak kaki, area yang pada dewasa hampir tidak pernah terkena skabies. 18 bayi juga punya lesi di kulit kepala dan wajah. Pola ini menyebabkan beberapa kasus awalnya didiagnosis sebagai eksim atopik atau dermatitis kontak.

Burrow atau Terowongan Kecil

Pemeriksaan dengan dermoskopi mengidentifikasi terowongan kecil berkelok-kelok sepanjang 2 sampai 10 milimeter berwarna abu-abu pucat. Ujung terowongan kadang terlihat sebagai titik gelap (tungau betina). Burrow paling jelas di sela-sela jari tangan dan kaki, pergelangan tangan, dan sisi telapak tangan.

Papul, Pustul, dan Vesikel Kecil

Lesi sekunder berupa papul merah, pustul kecil, dan vesikel berisi cairan jernih tersebar di area yang sering digaruk. Bekas garukan yang terinfeksi sekunder Staphylococcus bisa berkembang menjadi impetigo, yang menambah lapisan diagnosis baru.

Gatal Hebat Malam Hari

26 dari 31 bayi terdokumentasi bangun menangis di tengah malam selama 2 minggu sampai 2 bulan sebelum diagnosis, dengan orangtua awalnya mengira tumbuh gigi atau kolik.

Riwayat Kontak di Daycare atau Keluarga

Semua 31 kasus punya riwayat kehadiran daycare minimal 4 hari per minggu. 14 dari 31 kasus juga punya anggota keluarga di rumah dengan gejala gatal yang sebelumnya tidak terdiagnosis.

Investigasi Sumber dan Tindakan Wabah

Dinas Kesehatan Provinsi Banten dan DKI Jakarta secara terpisah melakukan investigasi lapangan dengan koordinasi IDAI Jakarta. Beberapa temuan kunci:

Pengasuh utama di salah satu daycare Tangerang Selatan terbukti positif skabies pada pemeriksaan kerokan kulit, dengan gejala sudah berjalan tiga bulan tapi diabaikan sebagai "gatal biasa karena pakai sarung tangan plastik".

Mainan empuk plastik dan selimut tidur siang yang dipakai bersama tanpa rotasi terbukti mengandung tungau pada uji laboratorium.

Tidak ada protokol skrining kesehatan rutin untuk staf daycare sebelum wabah teridentifikasi.

Empat dari empat daycare yang terlibat tidak punya panduan tertulis untuk isolasi dan penanganan anak dengan ruam kulit yang baru muncul.

Tindakan koreksi yang dilakukan berdasarkan koordinasi Dinas Kesehatan dan IDAI:

Pengobatan massal seluruh anak, staf, dan anggota keluarga inti dengan permethrin 5 persen krim aplikasi tunggal yang diulang 7 hari kemudian.

Dekontaminasi fasilitas dengan mencuci semua tekstil pada suhu di atas 60 derajat Celsius, dan barang yang tidak bisa dicuci dimasukkan kantong plastik tertutup selama 72 jam untuk memastikan tungau mati.

Penyusunan protokol skrining kesehatan staf 3 bulanan dan SOP isolasi anak dengan ruam baru sebagai bagian persyaratan operasional daycare.

Penambahan edukasi orangtua mengenai tanda awal skabies sebagai bagian orientasi pendaftaran daycare baru.

Apa yang Bisa Dilakukan Orangtua?

Beberapa langkah praktis yang direkomendasikan tim Dinas Kesehatan untuk keluarga yang menggunakan jasa daycare:

Tanyakan ke pengelola daycare apakah ada protokol skrining kesehatan rutin untuk staf dan SOP penanganan kasus ruam baru pada anak.

Periksa kulit bayi secara rutin setiap mandi, terutama telapak tangan, kaki, sela jari, pergelangan, dan kulit kepala. Cari garis kecil berkelok atau papul merah yang baru muncul.

Catat dan foto kalau bayi mulai bangun menangis di malam hari atau menggaruk-garuk lebih sering dari biasanya selama lebih dari 7 hari berturut-turut.

Hubungi dokter anak segera kalau menemukan ruam yang tidak menjawab pengobatan eksim biasa setelah 2 minggu, terutama kalau ada anggota keluarga lain dengan gejala serupa.

Cuci semua selimut, baju, dan boneka empuk anak dengan air panas minimal 60 derajat dan jemur di matahari kalau ada kasus di daycare yang dilaporkan.

Komunikasikan kasus skabies anak ke pengelola daycare segera setelah diagnosis untuk mencegah penyebaran lebih lanjut, dan jaga anak di rumah minimal 24 jam setelah perawatan pertama sebelum kembali ke daycare.

Pengobatan yang Aman untuk Bayi

Spesialis kulit anak Dr. Inne Arline Diana, SpKK(K), yang juga memberikan konsultasi pada beberapa kasus wabah ini menerangkan opsi terapi:

"Permethrin 5 persen krim adalah lini pertama untuk bayi di atas 2 bulan dan dianggap aman. Pemberian dilakukan dengan mengoleskan krim merata ke seluruh permukaan tubuh dari leher ke bawah, termasuk telapak tangan dan telapak kaki, lalu didiamkan 8 sampai 12 jam sebelum dibilas. Untuk bayi, permethrin juga dioleskan ke kulit kepala dan wajah karena distribusi tungau yang berbeda dari dewasa. Aplikasi diulang 7 hari kemudian untuk memastikan telur tungau yang menetas setelah aplikasi pertama juga ikut mati," ujar dr. Inne.

Bayi di bawah 2 bulan biasanya diobati dengan sulfur 6 persen dalam petrolatum atau crotamiton 10 persen di bawah pengawasan dokter, karena permethrin belum punya data keamanan yang cukup di kelompok usia ini.

Antihistamin oral seperti cetirizine bisa diberikan untuk meredakan gatal selama beberapa hari pertama pasca-pengobatan, karena reaksi imun terhadap fragmen tungau yang sudah mati masih bisa memicu gatal sampai 2 sampai 4 minggu walau tungau hidup sudah tidak ada.

Konteks Lebih Luas: Wabah Skabies di Indonesia

Data Kementerian Kesehatan dari laporan tahunan Sub Direktorat Pengendalian Penyakit Kulit dan Kelamin mencatat 47.892 kasus skabies dilaporkan dari seluruh provinsi sepanjang 2025, naik 18 persen dari 40.585 kasus di 2024. Mayoritas kasus terjadi di pesantren, asrama, fasilitas pengasuhan anak, dan rumah tahanan. Daycare bayi menjadi setting baru yang muncul dalam laporan dua tahun terakhir seiring meningkatnya partisipasi ibu bekerja di kota besar.

Direktorat Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kemenkes RI saat ini sedang menyusun panduan nasional untuk pengendalian skabies di fasilitas pengasuhan anak, yang diharapkan terbit pada kuartal ketiga 2026 dan akan mencakup standar skrining staf, protokol respon wabah, dan rekomendasi dekontaminasi fasilitas.

Butuh Rekomendasi Produk?

Tim kami bisa bantu cari produk NeoCare yang paling cocok untuk kulit keluarga Anda.

Konsultasi via WhatsApp

Produk Terkait

Artikel Terkait