Kwashiorkor pada Anak: Kulit Mengelupas dan Kaki Bengkak Tanda Gizi Buruk
Angka gizi anak yang paling sering dikutip di Indonesia adalah stunting. Survei Status Gizi Indonesia 2024 yang dirilis Kementerian Kesehatan pada Mei 2025 mencatat prevalensi stunting nasional 19,8 persen, setara 4.482.340 balita, turun dari 21,5 persen pada 2023.
Stunting diukur dari tinggi badan dan menandai kekurangan gizi yang sudah berlangsung lama. Ada bentuk kekurangan gizi lain yang bergerak jauh lebih cepat, tidak terbaca dari tinggi badan, dan bahkan bisa membuat berat badan anak terlihat wajar. Nama klasiknya kwashiorkor. Dalam Pedoman Pencegahan dan Tatalaksana Gizi Buruk pada Balita yang diterbitkan Kementerian Kesehatan, kondisi ini masuk kategori gizi buruk lewat satu kriteria yang jarang diduga orang tua: bengkak.
Kenapa Bengkak Jadi Kriteria, Bukan Kurus
Pedoman Kemenkes mendefinisikan gizi buruk pada balita lewat tiga penanda, dan satu saja sudah cukup untuk menegakkan klasifikasinya:
- Edema, minimal pada kedua punggung kaki
- Berat badan menurut panjang atau tinggi badan (BB/PB atau BB/TB) kurang dari -3 standar deviasi
- Lingkar lengan atas (LiLA) di bawah 11,5 cm untuk balita usia 6 sampai 59 bulan
Perhatikan penanda pertama. Seorang anak bisa masuk kategori gizi buruk lewat bengkak saja, tanpa harus terlihat sangat kurus lebih dulu. Di situlah kwashiorkor sering lolos dari pengamatan keluarga. Cairan yang menumpuk mengisi bentuk tubuh anak, timbangan ikut naik, dan pipi yang membulat dibaca sebagai tanda anak makan cukup.
Pedoman yang sama menjelaskan asal bengkaknya: penimbunan cairan tubuh di bawah kulit akibat kekurangan protein, yang biasanya muncul lebih dulu di punggung kaki, lalu punggung tangan, dan pada kasus berat menyebar ke seluruh tubuh.
Bengkak pada kwashiorkor punya sifat khas yang disebut pitting. Mengacu pada kriteria WHO yang dipakai pedoman ini, kulit yang ditekan tidak langsung kembali ke bentuk semula, melainkan meninggalkan cekungan bekas jari selama beberapa saat. Sifatnya juga bilateral, artinya muncul di kedua sisi tubuh sekaligus, bukan hanya satu kaki.
Derajat Bengkak yang Dipakai Petugas Kesehatan
Petugas di puskesmas menilai beratnya edema dalam tiga derajat:
- +1 bengkak hanya di kedua punggung kaki
- +2 bengkak di kedua punggung kaki dan tungkai bawah, bisa disertai tangan atau lengan bawah
- +3 bengkak meluas ke seluruh bagian tubuh, disebut edema anasarka
Derajat ini menentukan tempat perawatan. Balita usia 6 sampai 59 bulan dengan edema +3, dengan komplikasi, atau dengan berat di bawah 4 kg harus dirawat inap. Semua bayi di bawah 6 bulan yang mengalami gizi buruk juga menjalani rawat inap, meski tidak ada komplikasi sama sekali.
Tanda di Kulit: Mengelupas Seperti Cat dari Dinding
Kulit adalah organ yang paling terlihat berubah pada kwashiorkor, dan gambarannya cukup khas sampai punya nama sendiri dalam literatur medis: flaky paint dermatosis, dermatosis cat mengelupas.
Prosesnya berjalan bertahap. Kulit mulai sangat kering, lalu menebal dan menggelap dalam bercak-bercak yang permukaannya tampak berkilau seperti dipernis. Bercak gelap itu kemudian terkelupas dalam lembaran tidak beraturan, dan di bawahnya muncul kulit yang jauh lebih pucat dari warna kulit anak. Kontras antara serpihan gelap yang mengelupas dan kulit pucat di bawahnya itulah yang membuatnya diibaratkan cat dinding yang mengelupas.
Lokasi yang paling sering terkena adalah bokong dan tungkai, terutama di titik-titik yang menanggung tekanan atau sering bergesekan. Pada kasus berat, sebarannya bisa lebih luas.
Kulit yang mengelupas seperti ini rapuh, mudah terbuka, dan kehilangan kemampuan menahan kuman dari luar. Pedoman Kemenkes memasukkan infeksi kulit sebagai salah satu hal yang wajib diperiksa dan dipantau pada setiap balita gizi buruk. Pedoman itu bahkan mengatur bahwa semua balita gizi buruk dianggap sedang mengalami infeksi saat pertama datang ke fasilitas kesehatan dan langsung diberi antibiotik, karena pada anak dengan gizi buruk tanda infeksi seperti demam sering tidak muncul.
Rambut Ikut Berubah Warna
Rambut memberi petunjuk tambahan yang cukup mudah dilihat. Pada kwashiorkor, rambut menjadi tipis, kering, dan gampang patah, dengan warna yang bergeser ke kemerahan atau kekuningan.
Ada satu temuan yang lebih spesifik lagi, disebut flag sign atau tanda bendera: pita warna terang dan warna normal yang berselang-seling di sepanjang batang rambut. Setiap pita merekam periode gizi yang berbeda, sehingga rambut anak menyimpan riwayat naik-turunnya asupan makanan seperti lingkaran tahun pada batang pohon.
Rambut pada kondisi ini juga jauh lebih mudah tercabut dibanding rambut sehat, karena folikelnya ikut mengecil akibat kekurangan protein.
Bedanya dengan Kekurangan Zinc dan Vitamin A
Kekurangan gizi lain juga meninggalkan jejak di kulit anak, dan ketiganya kerap dikira sama.
Pada kekurangan zinc, gambarannya berupa ruam merah berbatas tegas di sekitar mulut, area popok, serta tangan dan kaki, kondisi yang dikenal sebagai acrodermatitis enteropathica dan sering disalahdiagnosis sebagai eksim. Kekurangan vitamin A memberi tekstur kasar berbintik di siku, lutut, bokong, dan sisi luar lengan, yang disebut phrynoderma.
Keduanya tidak menimbulkan edema. Bengkak bilateral yang pitting adalah pembeda utama kwashiorkor, dan bila muncul bersama kulit yang mengelupas berlapis serta perubahan warna rambut, kombinasinya sudah cukup untuk membawa anak ke fasilitas kesehatan hari itu juga.
Bentuk gizi buruk yang lain, marasmus, bergerak ke arah sebaliknya. Anak terlihat sangat kurus, tulang menonjol, dan tidak ada bengkak.
Pelembap Tidak Menyentuh Akar Persoalannya
Kulit yang mengelupas pada kwashiorkor rusak dari dalam, bukan dari permukaan. Penyebabnya ada di asupan dan metabolisme, bukan di skin barrier yang kurang dirawat.
Pelembap tetap punya peran, tapi perannya terbatas dan sifatnya membantu kenyamanan. Kulit yang sangat kering dan pecah terasa nyeri, dan melembapkan area yang belum terkelupas dengan produk sederhana tanpa pewangi bisa mengurangi keluhan itu. Selebihnya, kulit yang sudah mengelupas perlu diperlakukan sangat hati-hati: tidak digosok, tidak dikelupas paksa, tidak diberi ramuan atau bedak apa pun.
Tidak ada produk perawatan kulit yang memperbaiki status gizi anak. Yang memperbaikinya adalah terapi gizi di fasilitas kesehatan.
Yang Justru Berbahaya Bila Ditangani Sendiri di Rumah
Niat baik orang tua di bagian ini justru bisa berbalik arah.
Reaksi wajar saat mendengar kata kekurangan protein adalah memberi anak sebanyak mungkin telur, susu, dan daging. Pedoman Kemenkes justru mengatur yang sebaliknya di tahap awal. Pada Fase Stabilisasi, balita gizi buruk diberi formula terapeutik F-75, yang secara sengaja dibuat rendah protein. Alasannya dinyatakan lugas dalam pedoman: pada fase ini protein tinggi dapat meningkatkan risiko kematian. Barulah setelah kondisi anak stabil, terapi berpindah ke F-100 yang lebih padat energi.
Aturan serupa berlaku pada bengkaknya. Pedoman melarang mengobati edema dengan diuretik, dan menyebutkan bahwa pemberian natrium berlebihan dapat menyebabkan kematian pada balita gizi buruk. Tubuh anak dalam kondisi ini sudah kelebihan natrium total meski kadar natrium dalam darahnya bisa terbaca rendah.
Pemberian makan pun diatur ketat: porsi kecil tapi sering, minimal setiap tiga jam termasuk sepanjang malam, karena membiarkan anak terlalu lama tanpa makanan juga meningkatkan risiko kematian. Pada fase awal, asupan tidak boleh melewati 100 kkal per kilogram berat badan per hari.
Sedetail itu aturannya, dan itu yang membuat terapi kwashiorkor harus berjalan di bawah pengawasan tenaga kesehatan.
Kapan Harus Segera ke Puskesmas
Bawa anak ke puskesmas atau rumah sakit hari itu juga bila menemukan:
- Bengkak di kedua punggung kaki yang meninggalkan cekungan saat ditekan
- Bengkak yang merambat ke tungkai, tangan, wajah, atau perut
- Kulit menggelap lalu mengelupas berlapis di bokong, tungkai, atau area yang tertekan
- Rambut menipis, berubah kemerahan atau kekuningan, dan mudah dicabut
- Anak rewel terus atau justru sangat lemas dan kehilangan nafsu makan
- Lingkar lengan atas di bawah 11,5 cm pada anak usia 6 sampai 59 bulan
Pita LiLA tersedia gratis di posyandu dan pengukurannya berlangsung kurang dari satu menit. Penimbangan bulanan dan pengukuran LiLA di posyandu adalah cara paling murah menemukan kondisi ini sebelum sampai ke tahap bengkak seluruh tubuh, dan kehadiran rutin di posyandu setiap bulan mengubah banyak hal pada seberapa awal masalah gizi anak terbaca.
Kwashiorkor bisa ditangani, dan anak yang masuk terapi gizi lebih awal punya jalan pemulihan yang jauh lebih pendek. Bengkak yang mereda dan kulit yang berhenti mengelupas justru dipakai petugas kesehatan sebagai tanda bahwa terapinya bekerja.



