Luka Robek pada Anak: Kapan Perlu Dijahit, Kapan Cukup Dilem
Kejadiannya sering sore hari, saat anak berlari di teras yang baru dipel. Kakinya tergelincir, dagunya menghantam lantai lebih dulu, lalu tangisnya pecah. Waktu tangan anak dipindahkan dari dagu, ada garis merah sepanjang satu ruas jari yang terbuka dan terus meneteskan darah ke baju.
Pertanyaan orang tua di detik itu hampir selalu sama: harus dijahit malam ini, atau cukup ditutup plester dan dilihat besok pagi.
Lokasi luka seperti itu termasuk yang paling umum. Penelitian Gao dan rekan di Frontiers in Public Health tahun 2024 mencatat 1.107 anak usia 0 sampai 12 tahun yang datang dengan luka robek di Tiongkok. Dahi menjadi lokasi terbanyak dengan 29,3 persen, disusul kulit kepala 27,4 persen dan rahang bawah, termasuk dagu, 20,9 persen. Pada kelompok balita dan anak prasekolah, ketiga titik itu juga yang paling sering robek.
Hentikan Darahnya Dulu, Baru Nilai Lukanya
Luka di wajah dan kulit kepala berdarah jauh lebih banyak dibanding luka sepanjang itu di lengan, karena pembuluh darah di area ini sangat rapat. Banyaknya darah belum tentu berarti lukanya dalam.
Tekan luka dengan kasa atau kain bersih secara terus-menerus selama sekitar 10 menit. Jangan diangkat berulang kali untuk mengintip, karena setiap kali tekanan dilepas, bekuan darah yang baru terbentuk ikut terlepas. Pada luka kulit kepala, tekanan yang mantap dengan telapak tangan biasanya lebih efektif daripada menempelkan tisu.
Setelah darah berhenti, bilas luka dengan air mengalir yang bersih. Tinjauan Cochrane yang disusun Fernandez dan rekan pada 2012 membandingkan air keran dengan cairan salin untuk membersihkan luka akut. Pada anak-anak, risiko infeksi kedua kelompok tidak berbeda bermakna.
Tinjauan klinis di American Family Physician tahun 2008 menyarankan povidone-iodine, hidrogen peroksida, dan sabun deterjen tidak dipakai untuk membilas bagian dalam luka. Pembahasan lebih lengkap soal antiseptik ada di artikel antiseptik untuk luka kecil.
Setelah luka bersih, barulah bentuknya bisa dinilai dengan cahaya yang cukup.
Ciri Luka yang Butuh Penutupan oleh Tenaga Kesehatan
Luka robek yang sebaiknya dibawa ke IGD, puskesmas, atau klinik pada hari yang sama:
- Tepi luka menganga dan tidak menempel kembali saat kulit di kedua sisinya didorong pelan
- Terlihat jaringan kekuningan seperti lemak, atau lapisan putih di dasar luka
- Darah tetap merembes setelah ditekan 10 menit tanpa jeda
- Ada pasir, serpihan kaca, kerikil, atau kotoran yang tertinggal di dalam luka
- Luka berada di atas sendi seperti lutut, siku, atau buku jari, sehingga terbuka setiap kali anak bergerak
- Luka akibat gigitan hewan
- Jari atau area di sekitar luka terasa kebas, atau anak tidak bisa menggerakkan jarinya
Beberapa lokasi punya pertimbangan khusus meski lukanya tampak kecil. American Family Physician memasukkan luka yang menembus seluruh ketebalan kelopak mata, bibir, atau telinga ke dalam kelompok yang perlu ditangani lebih lanjut.
Bibir punya alasan tersendiri. Garis tepi merah bibir, dalam istilah medis disebut vermilion border, harus dipertemukan dengan presisi. Tinjauan StatPearls tentang perbaikan luka wajah menyebut toleransi idealnya kurang dari 1 milimeter. Pergeseran sekecil itu sudah cukup membuat garis bibir tampak "bertangga" setelah sembuh, dan kesalahan seperti ini sulit diperbaiki belakangan.
Luka pada kelopak mata bagian dalam, dekat hidung, perlu diperiksa karena di area itu terdapat saluran air mata. Pada telinga, tulang rawannya rapuh dan penumpukan darah di bawah kulitnya perlu dicegah.
Dagu yang Robek Juga Menyimpan Pertanyaan Lain
Benturan keras di dagu menyalurkan tenaganya ke seluruh rahang bawah, sampai ke sendi rahang di depan telinga. Laporan di jurnal Pediatric Emergency Care tahun 1991 menyoroti bahwa patah tulang di kepala sendi rahang, yang disebut fraktur kondilus, sering terlewat pada anak yang datang dengan keluhan utama luka robek di dagu.
Perhatikan tanda-tanda ini dalam beberapa jam setelah jatuh:
- Nyeri atau bengkak di depan salah satu atau kedua telinga
- Anak enggan membuka mulut, atau mulutnya tidak bisa terbuka lebar saat menangis
- Gigi atas dan bawah tidak bertemu seperti biasa saat menggigit
- Rahang tampak miring ke satu sisi
- Keluar darah dari lubang telinga
- Gigi goyah, patah, atau gusi robek
Balita jarang bisa diminta membuka mulut, tapi hampir semua anak membuka mulutnya lebar-lebar saat menangis. Momen itu bisa dimanfaatkan untuk melihat apakah rahangnya membuka simetris.
Selain Jahitan: Lem Kulit, Menyatukan Rambut, dan Plester Strip
Banyak orang tua menunda ke dokter karena membayangkan anaknya harus dijahit sambil dipegangi beberapa orang. Jahitan bukan satu-satunya cara menutup luka robek.
Lem kulit medis. Lem khusus jaringan dari golongan cyanoacrylate dioleskan di permukaan luka setelah kedua tepinya dirapatkan. Tinjauan Cochrane yang disusun Farion dan rekan, terbit 2002 dan diperbarui 2007, menganalisis 13 penelitian pada anak dan dewasa. Untuk luka robek sederhana, hasil kosmetik lem kulit tidak berbeda bermakna dengan jahitan. Prosesnya rata-rata hampir 5 menit lebih cepat dan nyeri yang dilaporkan orang tua lebih rendah.
Ada harganya: luka yang ditutup lem sedikit lebih sering terbuka kembali. Dalam hitungan tinjauan tersebut, dari setiap 40 luka yang ditutup dengan lem, ada satu tambahan kasus luka terbuka dibanding penutupan standar. Lem kulit juga hanya cocok untuk luka dangkal di area yang tidak banyak tertarik, seperti dahi atau tulang kering, dan tidak dipakai di luka yang kotor, lembap, atau di bagian dalam mulut.
Lem serbaguna rumah tangga berbeda dari lem kulit medis. Produk seperti itu tidak dirancang dan tidak diuji untuk jaringan luka, sehingga tidak dipakai untuk menutup luka anak di rumah.
Teknik menyatukan rambut. Untuk luka kulit kepala, ada cara yang disebut hair apposition technique. Beberapa helai rambut di kedua sisi luka dipilin menyilang satu kali, lalu simpulnya dikunci dengan setetes lem kulit. Uji klinis Hock dan rekan di Annals of Emergency Medicine tahun 2002 memantau 188 pasien dengan luka robek lurus di kulit kepala yang panjangnya kurang dari 10 sentimeter dan rambutnya minimal 3 sentimeter. Dibanding kelompok yang dijahit, kelompok ini merasakan nyeri lebih ringan, prosedurnya lebih singkat, dan jaringan parut lebih jarang terbentuk. Keempat kasus luka yang terbuka kembali seluruhnya terjadi di kelompok jahitan.
Teknik ini tidak cocok untuk luka yang perdarahannya deras atau sangat kotor, dan tetap dikerjakan tenaga kesehatan setelah lukanya diperiksa.
Plester penutup luka. Plester tipis berbentuk strip dapat merapatkan luka kecil yang tepinya lurus dan mudah menempel. Kekurangannya pada anak jelas: strip mudah basah, mudah terkelupas, dan sering ditarik sendiri.
Lukanya sendiri yang menentukan cara penutupannya. Lokasi, kedalaman, kebersihan, dan seberapa sering area itu bergerak, semuanya ikut dihitung. Orang tua boleh bertanya kepada dokter apakah lem kulit atau teknik menyatukan rambut memungkinkan untuk luka anaknya.
Seberapa Lama Boleh Menunggu
American Family Physician mencatat luka yang tidak terkontaminasi berhasil ditutup hingga 12 jam setelah cedera. Luka di wajah dan kulit kepala, yang aliran darahnya lancar, bisa ditutup lebih lambat lagi pada anak yang sehat. StatPearls menambahkan bahwa luka wajah yang datang lebih dari 24 jam setelah kejadian tanpa dibersihkan dan ditangani dengan benar membawa risiko infeksi yang lebih tinggi.
Angka-angka itu tidak dimaksudkan sebagai izin untuk menunda sampai besok. Luka yang lebih cepat ditangani lebih mudah dibersihkan, dan anak juga tidak perlu melewati malam dengan luka menganga yang terus dijaga. Luka akibat gigitan, baik gigitan hewan maupun gigitan manusia, mengikuti pertimbangan yang berbeda.
Yang Sebaiknya Tidak Dilakukan di Rumah
- Menaburkan bubuk kopi, bubuk antibiotik, atau ramuan daun ke luka yang menganga
- Mencukur alis yang ikut robek. StatPearls mencatat alis bisa butuh sekitar enam bulan untuk tumbuh kembali, dan garis alis justru menjadi patokan dokter saat merapatkan tepi luka
- Menutup luka menganga rapat-rapat dengan plester biasa lalu menunggu beberapa hari
Status imunisasi tetanus anak juga layak dicek, terutama untuk luka yang kotor. Pembahasannya ada di artikel luka tertusuk paku.
Merawat Luka Setelah Ditutup
Jahitan di tiap bagian tubuh dilepas pada waktu yang berbeda. American Family Physician memberi rentang berikut:
| Lokasi | Perkiraan waktu lepas jahitan |
|---|---|
| Wajah | 3 sampai 5 hari |
| Kulit kepala | 7 sampai 10 hari |
| Lengan | 7 sampai 10 hari |
| Badan dan tungkai | 10 sampai 14 hari |
| Tangan dan kaki | 10 sampai 14 hari |
| Telapak tangan dan telapak kaki | 14 sampai 21 hari |
Jadwal pastinya tetap mengikuti anjuran dokter yang menjahit, termasuk bila benang yang dipakai jenis yang diserap sendiri oleh tubuh.
Masih dari tinjauan yang sama, luka yang dibiarkan terbuka dan terkena air setelah 12 jam tidak menunjukkan peningkatan infeksi. Artinya, anak umumnya boleh mandi seperti biasa setelah hari pertama, asalkan luka tidak direndam dan langsung dikeringkan dengan ditepuk pelan. Untuk luka jahitan, salep antibiotik dan petroleum jelly yang dioleskan tipis memberi hasil yang setara.
Luka yang ditutup lem kulit diperlakukan sedikit berbeda. Salep dan krim tidak dioleskan di atas lapisan lem karena bisa melunakkannya. Lapisan itu biasanya terkelupas sendiri dalam 5 sampai 10 hari, dan tidak perlu dikorek.
Bawa anak kembali ke dokter bila luka makin merah dan bengkak setelah hari kedua, keluar nanah atau bau, tepi luka kembali terbuka, atau anak demam.
Bekas Luka Masih Berubah Setahun ke Depan
Garis merah muda yang tersisa setelah jahitan dilepas belum bentuk akhirnya. StatPearls menyebut bekas luka terus matang selama kurang lebih 12 bulan, dan menghindari paparan matahari selama periode itu membantu mencegah bekas luka menggelap.
Pada anak yang aktif bermain di luar, topi dan tabir surya yang sesuai usia di atas bekas luka yang sudah menutup sempurna menjadi bagian dari perawatannya. Pelembap tanpa pewangi membantu kulit di sekitar bekas luka tidak kering dan gatal, sehingga anak tidak menggaruknya.
Sebagian anak memiliki kecenderungan bekas luka menebal. Tanda awalnya dan kapan perlu diperiksa dibahas di artikel keloid dan bekas luka pada anak. Untuk luka yang hanya berupa lecet di permukaan, panduannya ada di perawatan luka lecet.
Pertanyaan yang Sering Diajukan
Apakah luka robek kecil di dagu anak pasti harus dijahit? Tidak selalu. Luka dangkal yang tepinya menempel rapat saat didorong pelan kadang cukup ditutup lem kulit atau plester strip oleh tenaga kesehatan. Yang menentukan adalah kedalaman, lebar celah, dan kebersihan lukanya, bukan hanya panjangnya.
Kalau tidak dijahit, lukanya akan sembuh sendiri? Luka menganga tetap bisa menutup sendiri, tapi prosesnya lebih lama dan bekas lukanya cenderung lebih lebar. Penutupan yang dilakukan lebih awal memberi peluang bekas luka yang lebih tipis, terutama di wajah.
Apakah anak perlu dibius saat dijahit? Tenaga kesehatan biasanya memakai obat bius lokal, baik suntikan maupun krim atau cairan anestesi yang dioleskan. Pada lem kulit dan teknik menyatukan rambut, bius sering tidak diperlukan.
Bolehkah memakai lem biasa kalau jauh dari fasilitas kesehatan? Lem serbaguna rumah tangga tidak dirancang untuk luka. Selama menuju fasilitas kesehatan, tekan luka dengan kain bersih dan tutup dengan kasa.
Kapan luka di kepala anak menjadi tanda bahaya yang lain? Bila anak muntah berulang, tampak sangat mengantuk, bingung, kejang, pingsan, atau mengeluarkan cairan bening dari hidung atau telinga setelah benturan, pemeriksaan kepala menjadi prioritas di atas urusan lukanya.
Artikel ini bersifat informasi umum dan tidak menggantikan pemeriksaan tenaga kesehatan. Luka robek yang dalam, menganga, berada di bibir, kelopak mata, atau telinga, maupun disertai tanda cedera kepala perlu diperiksa langsung oleh dokter.



